Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Masalalu


__ADS_3

Flashback On...


Belasan tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Varo masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dia adalah murid yang paling pintar dan bahkan terkenal culun juga tidak suka bergaul. Tapi ada seseorang yang selalu mendekatinya dan bahkan merubah Varo menjadi pria yang tampan dan bahkan bisa dekat dengan dirinya.


"Hai, aku Clara. Aku murid pindahan disini, aku tidak punya teman dan aku tidak kenal siapa-siapa disini. Bisa kita bertwman" ucap gadis cantik tersebut dan tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dari Varo.


"Oh, nama kamu Elvaroz. Boleh aku panggil Varo? Karena itu nama yang bagus" ucap gadis tersebut yang tidak menyerah dengan usahanya untuk bisa dekat dengan Varo.


"Hei, tunggu! Kenapa malah pergi? Apa kamu tidak ingin berteman dengan ku?" tanyanya lagi yang terus mengejar Varo hingga berada didepan kelas Varo mengatakan sesuatu padanya.


"Diam, dan jangan mengikuti ku" ucap Varo dengan suara yang membuat gadis tersebut diam dan tidak bergerak sama sekali.


"Suara itu, suaranya merdu banget dan juga tegas. Aku pasti akan bisa menaklukan nya" gumam gadis yang bernama Clara itu.


"Kamu kenapa berdiri disini dan didepan kelas anak kelas satu? Apa jangan-jangan kamu memang melakukan tantangan yang kita-kita berikan untuk kamu?" tanya salah seorang teman Clara.


"Iya, sepertinya ini memang sangat menarik. Karena hanya dia yang selalu diam dan berteman dengan buku-buku tebalnya itu" jawab Clara sambil berlalu dari sana dengan senyuman yang mengembang.


"Kamu harus hati-hati Cla, dia memiliki banyak bodyguard dan mereka adalah empat orang. Aku nggak jamin jika nanti kamu akan bisa dengan mudah mendekatinya" ucap salah seorang teman-temannya Clara.


"It's okay, kenapa memngnya? Aku hanya ingin bisa berteman dengan nya dan merubah dirinya yang cupu itu menjadi lebih baik lagi. Karena aku pernah liat jika dia itu memiliki kembaran yang sama sekali tidak seperti dirinya. Yang selalu menggunakan kacamata tebalnya itu" ucap Clara dengan sangat semangat dan dia tidak akan menyerah sampai kapanpun juga.


Sedangkan didalam kelas, Varo ternyata satu kelas dengan Varaz. Kakak kembarnya yang memiliki aura sangat mendominan dan lebih terlihat seperti Pipi David yang seorang playboy.


"Siapa dia? Kenapa aku lihat dia ngejar-ngejar kamu sampai kemari?" tanya Varaz dengan tatapan tajamnya pada Varo.


"I don't know" jawab Varo singkat jelas dan padat.


"Elvaroz Malik Tomlinson, jawab pertanyaan aku sekali lagi. Karena aku tidak ingin kamu dimanfaatkan oleh orang lain selain aku tentunya" ucap Varaz yang membuat Varo melirik sinis pada kakak kembarnya itu.


"Oke aku hanya bercanda. Aku tidak mau jika kamu merasakan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan. Karena semua gadis cantik dan sexy itu tidaklah baik dan tulus pada kita. Makanya aku tidak akan tertipu dengan apa yang mereka tampilkan nantinya. Kamu mengertikan apa yang aku maksudkan?" tanya Varaz yang menatap adik kembarnya itu.


"Iya" jawabnya singkat lagi. Bahkan dia tidak mengalihkan pandangan nya dari buku tebalnya itu. Entah apa yang sedang dia pelajari dari buku setebal itu.


"Syukurlah jika kamu mengerti. Karena walau kamu bukan bungsunya, tetap saja kami akan memperlakukan kamu bungsu. Karena Varuz tidak seperti kamu yang selalu sendiri dan tidak ingin gabung dengan kita" ucap Varaz yang menepuk lengan adik kembarnya.


"Thanks" jawab Varo yang selalu singkat. Saat akan berbicara lagi guru sudah datang dan membuat Varaz mengurungkan niatnya untuk berbicara lagi pada Varo.


Setelah mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru didepan nya. Varo kembali fokus pada buku-buku tebalnya lagi. Membuat guru didepan memanggilnya untuk bisa menjelaskan secara rinci pada semua teman sekelasnya.


Varo yang mendengar itu segera maju dan menjelaskan semuanya dengan rinci dan bahkan bisa langsung dimengerti oleh teman sekelasnya. Dibandingkan dengan penjelajahan dari guru yang membuat mereka suka pusing dan tidak menyangkut satupun mata pelajaran.


Bahkan guru yang mengajar mereka merasa bingung dengan apa yang Varo jelaskan. Semuanya benar dan bahkan dia menjelaskan nya seperti sedang menjelaskan soalan kelas satu sekolah dasar saja yang 1+1.


"Elvaroz, nanti setelah selesai kamu keruangan guru segera" ucap guru tersebut yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Varo saja.


Sedangkan Varaz menepuk keningnya, karena ini pasti akan membuat semua sekolah heboh akan ulah adik kembarnya ini. Bagaimana tidak, karena dia ini sudah bisa mengerjakan pelajaran seorang mahasiswa tingkat tiga atau empat. Sedangkan dia ini masih berusia 12tahun dan masih duduk dibangku sekolah menengah pertama.


Varaz segera memberikan kabar ini pada Mimi mereka yang nanti akan membuat bungkam semua guru yang ada. Karena jika tidak dia akan membuat para guru untuk segera menaikan nya menjadi kelas 3. Atau bisa ikut lulus sekarang juga.


Setelah selesai Varo benar-benar masuk kedalam ruangan guru. Tapi dia heran akan keberadaan Mimi Zahiya yang sudah duduk disana dan sedang berbicara pada kepala sekolah juga para guru yang lainnya.


"Silahkan duduk Elvaroz, Bapak sedang berbicara dengan Ibu kamu dulu. Apa kamu bisa menunggu dulu" ucap Pak kepala sekolah yang meminta Varo untuknya duduk disamping Zahiya.


Varo hanya mengangguk dan dia segera duduk disamping Zahiya, lalu dia salim dan cium tangan Zahiya dihadapan mereka semua. Membuat mereka semua sangat bangga bisa memiliki murid berprestasi disekolahnya.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya minta anda semua merahasiakan ini semua. Karena saya tidak ingin jika dia menjadi pusat perhatian dan membuatnya merasa terganggu dengan semua itu. Karena saya sebagai Ibunya sama sekali tidak setuju jika putra saya ini menjadi yang anda inginkan. Maaf, maksud saya sekolah inginkan" ucap Zahiya dengan tegas dan seperti biasa tanpa ekspresi sedikit pun juga diwajahnya.


"Apa Ibu yakin dengan semua ini? Karena banyak para walimurid yang menginginkan anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan, tapi kenapa anda malah sebaliknya? Saya pribadi menjadi heran" tanya Pak kepala sekolah pada Zahiya yang hanya diam dan menggenggam tangan Varo.


"Karena saya Ibunya, jadi saya tahu seperti apa putra saya. Tapi jika Bapak masih tetap bersikeras melakukan itu semua, saya dengan senang hati mencabut semua apa yang sudah saya berikan untuk sekolah ini sehingga bisa menjadi sekolah paforit. Jadi saya ingin seperti yang saya katakan sebelumnya pada anda-anda semua, terutama pada anda Pak" ucap Zahiya yang selalu saja mendominasi jika berbicara.


"Baiklah Bu Zahiya. Kami akan merahasiakan ini semua, terimakasih sudah menyekolahkan putra-putranya disekolah kami dan memberikan donasi yang sangat berarti bagi sekolah kami ini. Sekali lagi maafkan kami yang terkesan memaksakan" ucap Pak kepala sekolah tersebut pada Zahiya sambil mengatupkan kedua tangan nya didepan dada.


"Baik Pak, saya pegang kata-kata Bapak. Saya permisi, ayo boy" ucap Zahiya yang menggandeng tangan Varo untuk keluar setelah berpamitan pada semua guru-gurunya.


"Sayang sekali, jika saja mau. Bukan hanya sekolah yang bangga, mereka juga pasti akan bangga. Tapi ya sudahlah, untuk semuanya jangan membahas ini lagi. Karena kalian semua sudah mendengarnya lagsung walimurid berbicara seperti itu" ucap Pak kepala sekolah pada guru-guru yang lain.


"Baik Pak" jawab mereka semua mengangguk setuju.


Sedangkan diluar, Zahiya dan Varo sedang duduk dibelakang ruang guru. Zahiya menasehati putranya yang satu ini untuk tidak terlalu memperlihatkan kemampuan nya itu pada semua orang. Karena akan sangat berbahaya untuk dirinya sendiri nanti.


"Boy, Mimi hanya mengingatkan kamu untuk tetap menjadi anak yang seusia kamu. Mimi tidak ingin jika kamu seperti ini terus, kamu boleh melakukan apapun. Tapi saat diluar sekolah atau lingkungan umum seperti ini, ini semua kebaikan kamu sendiri boy" ucap Zahiya yang menggenggam tangan Varo dan mengusapnya dengan lembut.


"Iya Mi, maaf" ucap Varo dengan datar dan singkat jika berbicara.


"Ya sudah, Mimi akan pulang sekarang. Kamu jaga diri baik-baik dan jangan pernah jauh dari saudara-saudara kamu yang lain" ucap Zahiya yang menasehati Varo dengan sangat lembut.


"Iya Mi" jawab Varo yang ikut bangkit juga dari duduknya.


"See you soon" ucap Zahiya yang segera pergi setelah mengatakan itu pada Varo dan mengusap lengan nya.


"See you Mi" jawabnya dengan pelan lalu pergi juga dari sana untuk menuju kantin sekolah.


Dan ternyata saudaranya yang lain juga berada disana, termasuk Clara yang menatap kearahnya dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Kamu sudah bertemu dengan Mimi?" tanya Varaz menatap kearah Varo.


"Hmm" jawab Varo dengan deheman saja lalu dia tetap menikmati minuman nya dengan santai.


"Kenapa kamu selalu memperlihatkan kemampuan kamu Va? Kamu kan tahu, Mimi sangat tidak suka akan hal itu. Sebaiknya kamu biasa saja dan jangan terlalu mencolok didepan umum" ucap Variz yang paling bijaksana dan sangat pengertian.


"Iya" jawab Varo yang langsung bangkit dari duduknya menuju tempat makanan sehat dan hanya sayur yang dia ambil dengan daging ayam yang dikukus.


"Dia memang selalu seperti itu" ucap Varuz yang paling iseng tapi jika wajah dan ekspresi tidak jauh berbeda dengan Varo yang dingin dan datar.


Clara mengikuti Varo yang mengambil makanan hingga membuat Varo tidak nyaman dan segera pergi walau belum mengambil air mineralnya.


"Kenapa kamu? Seperti dikejar hantu saja" ucap saudaranya yang lain dan membuat Varo hanya diam saja sambil memakan salad buah dan sayur yang dia bilang barusan.


"Dia sedang dikejar oleh titisan Nyi Blorong" ucap Varuz yang melihat kearah gadis cantik yang selalu tersenyum kearah mereka semua.


"Kau ini, mentang-mentang menyukai sejarah. Tahu yang begituan" ucap Varaz yang melemparkan sedotan bekasnya pakai.


"Kenapa memangnya? Ada yang salah?" tanya Varuz.


"Iya, kamu ini sudah seperti sejarawan saja" ucap Varaz yang menatap jengah pada Varuz.


Saat mereka berdua sedang berdebat masalah sejarah. Varo malah tersedak makanan yang sedang dia makan, saat akan minum sudah ada yang menyodorkan satu botol air mineral padanya.


"Makasih, saya bisa mengambilnya sendiri" ucap Varo yang beranjak dari duduknya untuk mengambil air mineralnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah untuk bisa dekat dan menjadi teman mu" ucap Clara yang terus mengikuti Varo.


"Diam dan jangan bergerak" ucap Varo yang segera pergi dari sana setelah melihat Clara hanya diam saja disana mematung.


"Ternyata dia sudah seperti gula yang dikerubungi semut" ucap Varuz yang mengatakan dengan wajah datarnya.


"Kau ini selalu banyak bicara dan jahil. Tapi wajahmu itu tidak sesuai dengan setingan kamu" ucap Varaz yang menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa dia mengganggu mu?" tanya Variz yang melihat Varo hanya diam saja seperti biasa dan dia menghabisakan makanan dan minuman nya.


"Jika dia mengganggu bilang saja, nanti kami yang akan berbicara padanya" ucap Varaz yang menatap adik kembarnya yang memang selalu diam dan tidak mau mengatakan apa-apa.


"Biarkan saja" jawabnya singkat dan segera pergi dari sana.


Varo seperti biasa menghabisakan waktu istirahatnya ditaman belakang sekolah. Dia selalu membaca dan membaca, bahkan yang dia baca bukan hanya tentang pelajaran. Melainkan tentang manajemen dan bisnis, karena dia sudah sangat menyukai kedua bidang itu. Jangan lupakan juga, jika dia juga seorang hackers yang handal.


"Kenapa kamu selalu sendiri disini? Aku tidak ingin apa-apa dari kamu. Aku hanya ingin berteman dengan mu itu saja, tidak ada yang lain" ucapnya yang mengatakan hal sama setiap mendekati Varo.


"Aku tidak berminat" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan nya dari buku-buku tebalnya.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai pertemanan? Aku hanya ingin berteman saja tidak lebih. Bagaimana jika kita buat kesepakatan, jika kamu bisa menerima pertemanan ku. Kita akan berteman selamanya, tapi jika sebaliknya. Maka, aku akan pergi selamanya dari hidup kamu. Bagaimana, apa kamu setuju?" ucap Clara yang memberikan penawaran pada Varo.


"Setuju. Tapi jangan pernah mengganggu ku" ucap Varo yang yakin jika dia tidak mungkin mererima pertemanan itu.


"Baiklah, tapi kamu jangan pernah menolak jika aku memberikan sesuatu padamu. Karena itu adalah bentuk usaha dariku untuk bisa dekat dan berteman dengan mu, oke" ucap Clara yang mengulurkan tangan nya untuk mereka bersalaman berdua.


"Hmm" ucap Varo yang mengangguk saja tanpa menyambut uluran tangan Clara.


"Baiklah, dengan begini berarti kita sepakat ya? Jadi jangan menolaknya" ucap Clara yang tetap berusaha untuk mengajak Varo terus berbicara.


Clara terus berbicara kesana kemari hingga membuat Varo menghela nafasnya berulangkali sambil dia mamakai erpone nya supaya tidak mendengarkan semua celotehan Clara yang memekakan telinganya.


Clara masih belum menyadari jika Varo menggunakan erpone miliknya. Karena saking fokusnya bercerita dan berbicara membuat Clara tidak sadar. Setelah dia lelah berbicara dan mendengar lonceng masuk berbunyi, baru dia sadar jika Varo sudah tidak ada lagi disana.


"Iihhh, Varo... Kenapa malah ninggalin aku" teriak Clara yang mengejar langkah lebar Varo.


"Apa kamu tidak lelah terus berbicara sejak tadi?" tanya Varo untuknya pertama kalinya dia mengatakan itu pada Clara.


"Tidak, eh. Kamu menagatakan sesuatu padaku? Wah... Sebuah peningkatan yang besar, makasih. Aku duluan, bye" ucap Clara yang segera berlari menjauh dari Varo.


"Dasar aneh" gumam Varo yang langsung masuk kedalam kelas dan duduk dibangku paling belakang.


Setelah kejadian itu, baik Varo maupun Clara sudah sering jalan berdua dan menghabiskan waktu mereka berdua. Hingga membuat tiga saudaranya yang lain merasa bingung dan juga takut akan Varo yang kenapa-kenapa.


Mereka juga memantau terus kedekatan mereka berdua yang memang biasa-biasa saja dan tidak ada yang mencurigakan selain hubungan pertemanan.


Varaz juga memberitahukan masalah ini pada Mimi Zahiya dan Pipi David. Mereka hanya berpesan supaya saling menjaga dan jangan sampai kejadian yang tidak-tidak pada salah satu saudara mereka.


"Va, apa Mimi boleh bertanya sesuatu?" tanya Zahiya yang sudah duduk disamping Varo.


"Tanya saja Mi" jawabnya meletakan buku yang sedang dia pegang.


"Apa benar kamu sedang dekat dengan seorang anak perempuan? Apa kamu juga berteman dengan nya? Maaf jika Mimi ikut campur dalam urusan pertemanan kalian berdua" ucap Zahiya dengan sangat perlahan pada Varo.


"Iya Mi, aku memang ingin membuka diri dengan orang lain juga. Apa aku salah Mi?" jawab Varo yang juga bertanya kembali pada Zahiya.

__ADS_1


"Tentu saja sangat boleh sayang. Mimi akan selalu mendukung semua keinginan dan niat baik kamu ini sayang. Tapi kamu juga harus bisa menjaga diri kamu dari orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kamu saja. Karena baik lali atau perempuan, jika memang berhati tulus dan tidak ada niatan buruk. Maka Allah akan selalu melindungimu dan kamu harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya itu pesan dari Mimi" ucap Zahiya yang memeluk tubuh Varo dengan lembut.


__ADS_2