
"Kenapa dia tidak ada? Kemana dia pergi? Apa dia meninggalkan ku seperti sebelumnya?" gumam Varo sambil mencari-cari keberadaan Viera.
Varo mencari-cari Viera dengan perasaan tidak karuan. Dia sudah berfikiran buruk akan ditinggal oleh Viera.
.
Sedangkan masih ditempat yang sama, Viera sedang menikmati makanan yang dia pesan dari penjual gerobakan.
"Akhirnya gue bisa sedikit tenang dan lepas dari bayi besar itu. Gue bisa-bisa kurus krempeng jika dia bersikap sangat manis seperti itu, karena gue diabet" gumamnya sambil menghabiskan satu porsi siomay.
"Ah, gue berasa jadi emak-emak yang bisa lepas dari anaknya yang bandel dan selalu membuat ulah. Walau hanya sekejap dan menenangkan fikiran yang kacau" gumamnya lagi sambil minum.
"Berapa bang?" tanya Viera padanya abang penjual siomay.
"Limabelas ribu saja Non" jawabnya sambil tersenyum dan itu semua membuat seseorang yang baru melihat itu kesal dan hampir saja akan membuat penjual siomay itu mendapatkan hukuman.
"Makasih bang" ucap Viera yang menyadari jika ada yang memperhatikan nya dari dekat.
"Abang, abang sudah kembali?" tanya Viera saat menemukan keberadaan Varo yang sedang memperhatikan nya.
"Siapa dia dan kenapa memanggilnya dengan panggilan seperti itu? Aku akan memberikan nya pelajaran yang akan membuatnya menyesal seumur hidupnya" tanya Varo dengan wajah yang sudah mengeras menahan amarahnya.
"Ya Allah abanggg... Dia itu abang jualan, dan aku habis beli dagabgan nya. Nih, abang lihat sendirikan? Abang jangan apa-apakan dia, dia hanya berjualan saja. Siapa tahu dia memiliki anak dan istri. Mungkin juga sedang membiayai keluarganya supaya bisa makan dan tidak kelaparan. Abang tidak tahu saja jika orang seperti kami ini sangat sulit untuk mencari uang" ucap Viera panjang lebar dan dia menampilkan wajah sedihnya.
'Gue kerjain saja nih kanebo kering. Abisnya main nuduh saja, kasihan juga kalo tuh akang siomay kenapa-kenapa karena kecemburuan nya yang diluar nalar' ucap Viera dalam hati sambil terus menampilkan wajah sesedih mungkin.
__ADS_1
Benar saja, Varo tidak tega melihat Viera yang bersedih. Dia langsung memeluk Viera dengan erat dan dia minta maaf padanya.
"Maafkan aku honey, aku sudah mencurigaimu dan aku sangat mempercayai kamu. Maafkan aku" ucap Varo yang membuat Viera tersenyum senang akan rencananya berhasil untuk membuat Varo tidak marah dan menyakiti dirinya dan orang lain.
"Tapi aku tidak percaya padanya. Jadi aku akan tetap memberikan nya pelajaran yang akan membuatnya jera" ucap Varo, membuat Viera mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan dari Varo.
"Eh, kenapa begitu? Aku sudah menjelaskan semua pada abang, kenapa malah nggak percaya? Jika abang berbuat macam-macam pada akang siomay itu, aku nggak mau ketemu abang dan nggak mau deket-deket abang lagi. TITIK" ucap Viera yang melepaskan pelukan Varo dan dia melipat kedua tangan nya didepan dada sambil memalingkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kenapa kamu malah membelanya? Apa kau sudah tidak mau bersama dengan ku lagi hmm?" tanya Varo yang memegang bahu Viera dan mencengkramnya.
"Abang, sakit. Kenapa abang malah menyakiti aku? Aku hanya tidak ingin abang melakukan kesalahan dengan menyakiti orang lain yang tidak bersalah. Aku sayang sama abang dan tidak ingin kehilangan abang. Kenapa nggak ngerti juga sih bang? Aku harus jelasin gimana lagi suapaya abang percaya pada aku?" tanya Viera yang menatap manik mata Varo dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca.
"Maaf, maafkan aku. Apa sangat sakit?" tanya Varo yang sudah panik melihat Viera akan menangis saat dia mencengkram bahunya.
"Huh, aku berjanji. Jadi, jangan pernah berdekatan dengan pria manapun dan siapapun itu, tanpa terkecuali" ucap Varo langsung memeluk kembali Viera dan mengecup bahu Viera yang dia cebgkram tadi bergantian.
"His, mana bisa begitu. Bagaimana jika aku ingin bertemu dengan Xaqer? Dia adik kandung aku satu-satunya dan juga keluargaku satu-satunya. Masa tidak boleh bertemu dengan nya? Yang benar saja" protes Viera yang tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Varo padanya.
"Jika tidak bersama dengan ku. Kamu bisa menemuinya jika bersama dengan ku, jika tidak. Tetap tidak boleh" ucap Varo yang mengusap pipi Viera dengan lembut dan memeluknya kembali.
"Hmm, bisa diatur itu. Tapi, apa abang tidak sibuk?" tanya Viera lagi menatap Varo dengan lekat.
"Tidak" jawabnya singkat, jelas dan padat.
"Baiklah. Oh iya bang, aku mau bertanya. Seluruh kariawan hotel tidak ada yang tahu jika aku dan abang sudah menikah. Apa aku masih boleh bekerja disana lagi seperti sebelumnya? Aku jenuh jika harus didalam apartment terus dan sendirian. Aku ingin ada kegiatan yang membuat aku bisa seperti biasanya" tanya Viera dengan hati-hati saat mengatakan nya pada Varo dan mereka sudah berada didalam ruangan rawat didalam rumah sakit keluarga Varo.
__ADS_1
"Kita akan pindah kedalam rumah utama lagi. Karena aku yakin kamu akan jenuh sendirian didalam apartment. Disana ada semua orang dan kamu tidak akan jenuh, apa lagi kesepian jika \ku tidak ada" Varo yang memeluk Viera sambil merebahkan dirinya diatas ranjang pasien.
"Apa abang sudah yakin? Apa aku bisa beradaptasi dengan semua orang yang ada disana? Apa Mimi abang tidak keberatan dengan adanya aku disana? Maaf, aku tidak bermaksud menjelek-jelekan orang tua abang didepan abang sendiri. Hanya saja aku melihat, jika Mimi abang tidak menyukai aku" tanya Viera panjang lebar dan dia menunduk takut saat mengatakan nya pada Varo.
Viera takut jika Varo akan salah faham dengan perkataan nya tentang orang tuanya yang sangat dia sayangi. Viera juga mencengkram pakaian Varo saat mengatakan nya.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu? Apa Mimi pernah mengatakan sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman? Atau memang hanya perasaan kamu saja akan sikap Mimi yang berbeda dari wanita-wanita lainnya?" bukan nya menjawab pertanyaan Viera, Varo malah balik bertanya pada Viera dan mendongakan wajah Viera supaya menatapnya.
"Itu tahu semua jawaban nya, kenapa malah bertanya lagi padaku? Aku merasa tidak nyaman saja akan itu semua. Jika bersama Oma Lulu dan Opa Devon, juga Pipi David. Mereka biasa-biasa saja, tapi... Ah, tau ah. Bingung aku jelasin nya gimana" jawab Viera dengan melepaskan pelukan nya dan dia tidur dengan posisi terlentang menatap langit-langit ruangan rawat.
"Jika Mimi itu sangat mirip dengan Opa Zayn, dia irit bicara dan banyak bertindak. Jika Pipi, Oma dan Opa. Mereka sama, yaitu banyak bicara dan berinteraksi. Sebenarnya Mimi sangat baik, hanya tidak banyak bicara saja. Lebih ke tindakan dari pada membual seperti Pipi" jawab Varo yang memeluk Viera dari samping.
.
.
.
Assalamualaikum semuanya....
Maaf ya, akhir-akhir ini Othor jarang up. Karena Othor sedang sibuk di real dan tidak bisa up dengan teratur...
Insya Allah, setelah ini Othor akan selalu up setiap hari dan tidak akan bolong-bolong lagi....
Terimakasih untuk yang sudah setia menunggu dan membaca karya Othor 🤗🤗🤗
__ADS_1