
Mereka langsung bersiap-siap pergi dari rumah utama. Saat didalam perjalanan mereka saling diam satu sama lain, bahkan Varo terlihat jauh berbeda dari biasanya.
"Kenapa loe hanya diam saja? Apa ada sesuatu?" tanya Viera melihat kearah Varo yang sedang mengemudikan mobilnya.
Varo tidak mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Viera padanya. Dia hanya diam dan mencengkram erat stir mobil, hingga lukanya berdarah kembali. Membuat Viera merasa jika Varo sedang tidak baik-baik saja.
"Apa loe sudah gila hah! Loe melukai diri loe sendiri" ucap Viera yang terpaksa menggenggam tangan Varo yang menggenggam stir mobil.
Varo tidak bergeming dan terus saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hingga mereka sampai didalam parkiran pun Varo tidak mengatakan apa-apa.
Dia langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya dengan kencang.
BRAK...
Membuat Viera terjingkat kaget saat Varo keluar dari mobil sambil membanting pintu meninggalkan nya didalam sendirian.
"Dia ini kenapa? Semalam dia sendiri yang meminta gue buat nikah sama dia, dan sekarang wajahnya malah berubah" gumam Viera yang ikut keluar dari dalam mobil.
PRANG....
BRAK...
BRUK...
Viera segera berlari masuk kedalam unit apartment milik Varo saat mendengar barang-barang pecah dan dibanting. Dia melihat kearah ruangan yang sudah berantakan dan banyak darah berceceran dilantai sangat banyak.
"Va, loe dimana? Jawab gue" teriak Viera yang mencari Varo diseluruh ruangan dalam apartment tersebut.
"Astagfirullah Varo!!" teriak Viera saat melihat Varo sudah tergeletak bersimbah darah dimana-mana.
"Kenapa loe melakukan ini lagi? Bukankah loe sudah berjanji tidak akan melakukan ini lagi jika gue mau menikah dengan loe? Kenapa sekarang loe malah ingkar janji" ucap Viera yang membantu Varo untuk membersihkan lukanya dan mengobatinya.
"Apa yang mau loe buktikan hah! Apa dengan begini loe bisa membuat diri loe bahagia hah!" ucap Viera yang menatap Varo dengan tatapan berkaca-kaca.
Varo hanya diam saja dan malah menatap sinis pada Viera. Dia diam tapi tetap memperlihatkan wajah dingin dan bahkan lebih menyeramkan lagi saat Viera mengatakan itu padanya.
"Bukalah, aku akan menggantinya dan membersihkan semuanya" ucap Viera akan membuka pakaian Varo tidak jadi saat Varo mengatakan sesuatu padanya.
"Jangan kau perduli padaku, jika nyatanya kau tidak tulus. Aku bisa sendiri" ucap Varo yang langsung bangkit, lalu masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
"Apa maksudnya, kenapa dia mengatakan itu? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Tapi apa? Kenapa sikapnya begitu berbeda?" gumam Viera langsung membereskan kekacauan yang dibuat oleh Varo.
Setelah cukup lama dia membereskan semuanya. Dia melihat kearah kamar tidak ada tanda-tanda jika Varo akan keluar. Karena khawatir akan keadaan Varo Viera langsung masuk kedalam kamar lagi untuk mengobati luka Varo.
"Kenapa kosong? Apa jangan-jangan dia masih didalam?" gumam Viera yang langsung masuk kedalam kamar mandi dan melihat Varo yang malah berendam didalam bathtub tanpa melepaskan pakaian nya.
"Astagfirullah!!" teriak Viera saat melihat Varo sudah pucat pasi, dan dia sekarang membawa Varo untuk segera keluar dari bathtub.
"Kenapa loe lakukan ini? Apa yang loe sembunyikan? Kenapa loe seperti ini" tanya Viera yang menatap Varo dan dia menangup wajah Varo.
Varo hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, Viera membuka semua pakaian yang melekat pada Varo dan memakaikan bathrobe.
"Jika pakaian dalam, kamu saja yang membukanya sendiri" ucap Viera yang menuntun Varo masuk kedalam kamar.
"Sini, gue bantu" ucap Viera yang membantu Varo menggunakan pakaian nya dan membuka semua benang yang melekat pada Varo.
"Saya bisa sendiri. Kau keluar sekarang" ucap Varo yang mendorong Viera keluar dari kamarnya hingga terjatuh dilantai.
"Kenapa loe jadi kasar lagi? Apa sebenarnya yang loe inginkan dari gue? Apa salah gue" tanya Viera yang menatap bingung pada sikap Varo.
"Jangan bertanya lagi, lebih baik kau keluar saja" ucap Varo dengan tatapan tajam dan sinis pada Viera.
Viera hanya bisa diam dan dia membiarkan apa yang dilakukan oleh Varo padanya. Dia tidak ingin meladeni Varo yang sedang tidak baik-baik saja. Mungkin saja dia sedang banyak fikiran.
"Ya Allah, semoga hamba MU ini bisa kuat menghadapinya yang seperti memiliki kepribadian ganda. Hamba hanya ingin berbakti adanya, sebagai seorang istri. Dan ingin pernikahan ini bisa langgeng sampai ke Jannah MU" gumam Viera yang masuk kedalam kamar sebelah kamar Varo.
Sedangkan didalam kamar, Varo menyandarkan punggungnya pada pintu. Dia merasa sangat menyesal karena telah membuat wanita yang dia inginkan dan sekarang sudah dia miliki menjadi bersedih seperti itu.
"Maafkan aku, aku juga tidak ingin membuat kamu bersedih. Tapi aku tidak ingin jika kamu kasihani, aku paling tidak suka jika ada yang memperlakukan ku seperti pada orang tidak berdaya. Aku tidak suka, aku akan terus menyakiti diriku sendiri, aku ingin melihat apa yang akan kamu lakukan jika aku terluka seperti ini setiap hari" gumam Varo yang mana hanya menatap lukanya yang sangat parah dan terlihat menganga pada kedua telapak tangan dan punggung tangan nya.
Baik Varo maupun Viera, keduanya saling bergumam dan tidak ada yang menyadari. Jika diantara keduanya memang sudah memiliki perasaan satu sama lain.
Yang satunya hanya ingin jika pernikahan ini satu kali seumur hidupnya. Jika yang satunya lagi, ingin membuktikan apa yang ingin dia ketahui Dari seorang Viera.
Setelah keduanya mengurung diri mereka didalam kamar, Viera sudah menyiapkan makanan untuk mereka makan siang. Dia berhadapan jika Varo maupun dia ajak untuk makan bersama dengan nya. Tapi saat dia sudah mempersiapkan semuanya, dia melihat Varo sudah rapih dengan pakaian nya.
"Kau tandatangani ini semua dan setelah itu, kau tidak boleh melakukan apapun selama masih terikat dengan ku" ucap Varo dengan melemparkan sebuah berkas dan itu membuat Viera merasa heran akan apa yang Varo lakukan padanya.
"Maksudnya gimana? Kenapa gue harus tandatangani? Apa ada yang salah dengan gue?" tanya Viera dengan tatapan bingungnya saat melihat berkas tersebut.
__ADS_1
"Baca dan tandatangani sekarang juga. Karena saya tidak ada waktu untuk menunggu mu lama" jawab Varo yang menatap sinis dan juga dengan tatapan datarnya.
...PERJANJIAN PRANIKAH:...
Dengan ini saya Elvaroz Malik Tomlinson menyatakan jika surat ini Sah dan tidak bisa diganggu gugat dengan apapun. Pihak pertama, atau orang yang membuat Perjanjian ini juga orang yang tidak pernah salah.
Dengan Pihak kedua adalah Xaviera Purnama selaku istri saya, Elvaroz Malik Tomlinson tidak akan pernah membantah setiap ucapan dan perkataan yang suami saya berikan pada saya. Juga tidak akan pernah bisa menuntut cerai, apa lagi menuntut sesuatu yang membuatnya rugi.
Jika saya melanggarnya, saya akan langsung mendapatkan hukuman dan juga sangsi yang sudah ditentukan oleh Pihak pertama, atau suami saya sendiri.
1- Jika pihak pertama selalu benar dan setiap keputusan nya sudah mutlak.
2- Jika Pihak pertama salah, lihatlah peraturan pertama.
Jadi semuanya sudah selesai. Surat Perjanjian ini dibuat dengan sangat sadar dan tidak ada paksaan sama sekali.
Bertandatangan disini :
Xaviera Purnama & Elvaroz Malik Tomlinson.
"Apa loe sudah gila! Ini sangat enak pada loe dan menjerat gue. Mau loe sebenarnya apa sih?" tanya Viera yang sudah tidak bisa berfikir lagi akan semua ini.
"Tandatangani sekarang, atau dengan cara paksa" ucap Varo tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Viera.
"Kalo gue nggak mau, loe mau apa?" tanya Viera dengan sangat berani ada Varo.
"Saya akan membuat kamu tidak bisa hidup tenang dan bisa kamu tebak buka, jika aku bisa melakukan apa saja untuk membuatmu melakukan itu semua dengan senang hati.
"Dasar gila. Loe itu memang benar-benar gila" ucap Viera yang sudah sangat marah juga kesal pada Varo.
"Jika sudah tahu aku ini gila. Kenapa tidak melakukan apa yang aku inginkan, kau sudah tahu bukan. Jika aku ini bahkan bisa membuat adik kamu satu-satunya itu hilang, bagai buih dilautan" ucap Varo yang baru kali ini mengatakan panjang lebar pada Viera.
"Gue nggak mau, jika loe mau, tandatangani saja sendiri" ucap Viera yang melemparkan berkas tersebut kearah Varo kembali.
"Berarti kau sudah siap untuk melihat adik kamu kenapa-kenapa. Karena kau sudah memilih jalan nya" ucap Varo dengan santainya dan dia segera menghubungi seseorang yang sudah bersiap untuk membuat Viera mau bertekuk lutut padanya.
"Jangan loe apa-apakan adik gue. Oke, gue akan tandatangani perjanjian ini. Tapi loe jangan apa-apakan dia" ucap Viera yang langsung menandatangani berkas tersebut dihadapan Varo.
"Good girl. Jika kau langsung melakukan nya sejak tadi, aku tidak akan melakukan ancaman ku dulu" ucap Varo yang segera mengambil berkas tersebut, lalu pergi dari hadapan Viera, entah pergi kemana.
__ADS_1
"Ya Allah, siapa sebenarnya pria yang hamba nikahi ini? Kenapa dia bersikap sangat kasar dan dia memberikan perjanjian ini? Tolong kuatkan hamba menghadapi ini semua Ya Robb, hamba hanya ingin adik saya selalu selamat dan sehat. Tanpa adanya ancaman yang membahayakan dirinya" gumam Viera yang langsung luruh diatas lantai sambil meneteskan air matanya kembali.
Viera masih terus menangis dan dia bahkan tidak bisa berfikir jernih. Bahkan dia melupakan makan siangnya, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Serasa dunianya hancur dan bumi yang sedang dia pijak menelan nya hidup-hidup. Ini adalah hal yang sangat membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain hanya pasrah akan ketentuan takdirnya.