Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Varo demam


__ADS_3

"Hey, Tuan Elvaroz Malik Tomlinson. Apa anda tidak sadar dengan ucapan anda ini? Aku ini kariawan biasa abang sayang, jadi aku harus bisa menempatkan diri didalam situasi yang memang seharusnya itu terjadi. Jadi jangan disamakan dengan pekerjaan anda yang seorang CEO besar ini" ucap Viera yang mengencangkan dasi Varo. Membuat Varo tercekik oleh dasinya sendiri.


"Kau sudah berani padaku hmm? Apa kau inginkan ku hukum" ucap Varo yang menahan tangan Viera.


"Tentu saja aku berani Tuan Elvaroz Malik Tomlinson. Lagian abang tidak akan berani macam-macam padaku, karena aku masih datang bulan. Wee" ucap Viera yang melepaskan tangan Varo dan menjulurkan lidahnya meledek Varo.


"Ini yang aku sukai dari kamu honey. Kau selalu bisa membuat aku semakin penasaran dan selalu merindukan kamu" gumam Varo sambil berjalan mengikuti Viera.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lantai bawah. Disana seluruh keluarganya masih berkumpul sebelum berangkat kerja. Semua mata tertuju pada Viera yang menggunakan seragam hotel milik Varo.


"Nak, apa kamu bekerja di hotel V.VILAGE?" tanya Oma Lulu pada Viera.


"Iya Oma, memangnya kenapa Oma. Apa ada yang salah?" tanya Viera setelah menjawab pertanyaan dari Oma Lulu.


"Va, kenapa kamu meminta Viera untuk bekerja disana? Apa tidak bisa dia dirumah saja bersama dengan kami?" tanya Oma Lulu pada Varo.


"Ini bukan perintah atau keinginan abang Oma. Ini semua keinginan aku, karena aku akan mudah bosan jika hanya berdiam diri saja dirumah. Makanya aku meminta abang untuk mengizinkan aku untuk bekerja kembali" bukan Varo yang menjawab. Melainkan Viera, membuat Varo menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis saat mendengar Viera membelanya.


"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong pada kami bukan? Jangan takut jika memang Varo yang meminta kamu bekerja kembali. Bilang saja pada Oma, Oma akan menarik telinganya" tanya Oma Lulu lagi memastikan.


"Iya Oma. Lagian aku sudah bekerja disana lama, makanya aku minta abang untuk mengizinkan aku kerja. Jadi Oma jangan memarahi apa lagi menarik telinga abang" jawab Viera dengan senyuman dibibirnya pada Oma Lulu.


"Ya sudah. Kalian berdua hati-hati dijalan, Va. Kamu harus selalu menjaganya dengan baik" ucap Oma Lulu pada Varo.


"Tentu Oma. Kami pamit dulu" ucap Varo yang menyalami tangan Oma Lulu, Opa Devon dan kedua orang tuanya yang ada disana.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada semua orang dan saudaranya yang lain juga akan pergi bekerja. Didalam perjalanan Varo selalu menggenggam tangan Viera dengan lembut dan menyandarkan kepalanya pada bahu Viera.


"Bang, apa abang sakit?" tanya Viera yang memegang kening Varo sedikit hangat tubuhnya.


"Aku baik-baik saja honey" jawab Varo yang memejamkan matanya merasakan kenyamanan saat berada didekat Viera.


"Tapi, badan abang panas loh. Abang yakin baik-baik saja?" tanya Viera lagi sambil menangkup wajah Varo.


"Hmm" jawab Varo dengan deheman saja karena entah kenapa tiba-tiba kepalanya sedikit pusing.


"Kita kedokter saja sekarang. Aku nggak mau abang kenapa-kenapa" ucap Viera yang langsung meminta Ferry mengantarkan mereka kerumah sakit saja. Bukan kantor.


"Aku baik-baik saja honey, aku sebentar lagi akan meeting penting. Kita kekantor saja" ucap Varo yang keras kepala tidak ingin kerumah sakit.


"Jika kau berani melakukan itu. Kau tidak akan ku biarkan keluar dari kamar barang sejengkal saja" jawab Varo dengan tatapan tajamnya menatap Viera.


"Sebelum abang melakukan itu. Aku sudah pergi dari abang, jika abang tidak mau aku tinggalkan. Makanya mau diperiksa dulu, karena kesehatan abang paling utama. Jika meeting itu penting, setidaknya jangan membantah" ucap Viera dengan berapi-api mengatakan nya dan dia sambil membentak Varo.


Varo hanya diam saja. Dia tidak mau berdebat dengan Viera yang tidak pernah main mengalah jika masalah perdebatan. Dia diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Viera padanya. Membuat Ferry hanya bisa tersenyum tipis saat melihat Tuan nya itu bungkam seribu bahasa didepan istrinya.


'Anda memang sangat hebat Nona, anda bisa menaklukan harimau jantan yang sangat ditakuti dalam segala hal' gumam Ferry menahan senyuman dibibirnya dengan sekuat tenaga suapaya tidak bisa dilihat oleh Tuan nya yang segala tahu.


"Kita sudah sampai Tuan Muda, Nona" ucap Ferry setelah menghentikan mobilnya.


"Terimakasih Ferry, kamu boleh pergi dan gantikan pekerjaan Tuan keras kepalamu ini untuk meeting" ucap Viera yang menggandeng tangan Varo keluar dari dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Ferry.

__ADS_1


"Baik Nona, saya permisi. Tuan Muda saya permisi" ucap Ferry dengan menunduk dan dia masih menahan senyuman nya sejak tadi. Apa lagi Viera menyebut Varo dengan Tuan keras kepala.


"Kenapa kau mengatakan itu padanya? Apa kau tidak mempercayai ku?" tanya Varo yang menatap kearah Viera sambil berjalan beriringan menuju ruangan dokter Aruna.


"Aku percaya jika abang bisa melakukan segalanya. Tapi abang juga seorang manusia yang bisa saja sakit dan terluka. Robot saja yang terbuat dari mesin bisa rusak. Apa lagi manusia yang buatan Allah dan memiliki batas lelah dan capenya" jawab Viera sambil menggelengkan kepalanya melihat Varo yang seperti anak kecil.


"Thank you honey" ucap Varo yang mengusap kepala Viera dan mereka sudah memasuki ruangan dokter Aruna.


"Tuan Muda, Nona. Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu Tuan Muda, Nona?" tanya Aruna saat Varo dan Viera sudah duduk dihadapan nya.


"Bang Varo sepertinya demam. Badan nya terasa hangat dan dia tidak mau dibawa kemari. Anda bisa memeriksanya dan memberikan obat?" jawab Viera sambil bertanya balik pada Aruna.


"Mari Tuan Muda, saya akan memeriksa anda" ucap Aruna yang meminta Varo untuk berbaring.


Setelah diperiksa dan ternyata Varo memang demam biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Aruna memberikan resep obat untuk Varo. Mereka berdua langsung pergi setelah menerima resep dan menebusnya sendiri. Viera yang sudah terbiasa sendiri melakukan nya dengan cekatan dan sangat cepat. Membuat Varo semakin mengaguminya.


Viera mengantarkan Varo menuju PENZ.DRC, karena Varo ngotot ingin tetap bekerja dan menghadiri meeting bulanan yang bisa melakukan perusahaan raksasa tersebut.


"Apa abang yakin akan tetap bekerja? Apa abang tidak mau istirahat dulu?" tanya Viera setelah masuk kedalam ruangan kerja Varo yang sangat luas dan megah itu.


"Disini ada kamu yang akan selalu menjaga ku. Jadi aku bisa beristirahat disini dengan mu" jawab Varo dengan santainya dan dia membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya diatas pangkuan Viera.


"Dasar bayi besar yang sangat manja" ucap Viera sambil mengusap rambut hitam dan tebal milik Varo.


Varo merasakan nyaman saat Viera melakukan itu pada kepalanya. Rasanya seperti dipijat dengan lembut oleh tangan halus Viera. Hingga tanpa terasa dia memejamkan matanya yang terasa berat dan sangat mengantuk sekali.

__ADS_1


__ADS_2