Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Ada yang terbakar


__ADS_3

"Maafkan aku" ucap Varo yang menggenggam tangan Viera dan mengusapnya perlahan.


"Kenapa abang minta maaf? Apa abang berbuat kesalahan?" tanya Viera sambil mengusap air matanya yang menetes dipipi dengan cepat.


"Aku minta maaf karena aku menyepelekan kenangan terindah kamu dengan almarhum kedua orang tua kamu. Maafkan aku" ucap Varo yang mengusap air mata Viera menggunakan ibujarinya sendiri. Lalu mengecup kedua pelupuk mata Viera dengan lembut.


"Terimakasih bang. Abang sudah mau menemani aku kemari, biasanya aku selalu sendiri dan juga menangis disini sendiri. Jangan katakan aku ini cengeng ya, aku hanya ingin menikmati ini semua dan mengenangnya saja. Xaqer selalu tidak mau jika aku ajak kemari, karena alasan yang memang masuk akal. Dia sering bilang jika kemari dia akan menjadi cengeng dan sulit melupakan Ibu dan Ayah. Dia memang benar, sekarang aku yang sering merasakan nya jika melewati jalan dan juga taman ini" ucap Viera yang jika sudah bicara akan sulit untuk berhenti.


Walau dia sedang menangis pun, dia akan terus berbicara hingga dia merasa jika bicaranya sudah selesai. Seperti sekarang ini, dia berbicara sambil menangis dan sesekali mengusap ingusnya menggunakan pakaian nya sendiri.


"Jika menangis sebaiknya jangan sambil bicara. Ini gunakan" ucap Varo yang menyodorkan saputangan pada Viera.


SROT...


SROT...


SROT...


"Terimakasih" ucap Viera yang mengusap ingusnya menggunkan saputangan yang Varo berikan.


"Sama-sama, buang saja" ucap Varo yang langsung membuang saputangan tersebut pada tempat sampah.


"Sultan mah bebas. Buang saputangan seharga ratusan juta saja seperti membuang pelastik bekas roti" gumam Viera masih mengusap air matanya yang masih mengalir dipipinya.

__ADS_1


"Apanya yang bebas hmm? Kamu ini ada-ada saja" tanya Varo dan dia mengusap kepala Viera dan mengacak rambutnya.


"Abang iiihh, sudah jelek begini malah diacak-acak. Makin jelek aja kan" ucap Viera yang mengusap-ngusap rambutnya yang berantakan dan memperbaikinya.


Varo malah tersenyum saat melihat Viera misuh-misuh seperti itu. Tapi ada seseorang yang merasa tidak suka akan hal itu. Siapa lagi jika bukan Anastasia Mendez. Wanita yang selalu mengejar-ngejar Varo hingga tidak punya rasa malu sama sekali.


'*Kenapa harus wanita tidak tahu diri itu yang berada didekat kamu E*L? Kenapa kamu malah memilihnya? Aku sangat mencintai kamu sejak dulu dan bahkan hingga nanti akan tetap sama. Kenapa kamu tidak bisa melihat semuanya' ucap Ana dalam hati sambil meremass daun yang tidak bersalah.


Dia semakin terbakar saat melihat kemesraan Varo dan Viera yang semakin diluar nalar. Bahkan Varo tidak kenal tempat jika ingin mencium bibir Viera. Viera merasa risih saat Varo berbuat seperti itu padanya.


"Dasar wanita murahan! Kenapa dia malah yang menikmatinya. Awas saja, aku akan menuntut perhitungan padamu wanita jallangg! Lihat saja, kau akan menyesal" ucapnya yang segera berlalu dari sana.


Karena sebenarnya dia tidak sengaja untuk datang kesana. Dia sebenarnya ingin menenangkan fikiran nya yang sedang kacau karena memikirkan Varo. Dan sekarang malah melihat Varo sedang bermesraan dengan wanita lain. Membuatnya semakin menjadi berang dan dipenuhi oleh api kemarahan dan kecemburuan yang berkobar begitu besar.


'Sepertinya ada yang mengawasi? Apa mungkin wanita gila itu yang ada disini juga? Jika iya, aku harus segera bertindak. Aku tidak ingin jika dia bertindak nekad pada Xaviera ku' ucap Varo dalam hati yang pandangan nya menyusuri taman tersebut.


"Abang kenapa? Apa abang melihat sesuatu yang mencurigakan?" tanya Viera yang menyadari sikap Varo yang sedikit berubah menjadi lebih dingin lagi.


"Tidak apa-apa. Hanya tadi sepertinya melihat sesuatu" jawab Varo yang meminta para anggotanya yang selalu menjaganya dari jarak yang lumayan jauh darinya untuk bertindak lebih cepat dan tidak membuat curiga orang lain.


"Apa kita pulang saja bang? Jika abang merasa tidak nyaman, kita pulang saja. Aku nggak mau jika abang tidak nyaman akan hal ini" tanya Viera yang merasa jika Varo tidak nyaman akan keberadaan mereka ditaman umum tersebut.


"Tidak apa-apa. Aku malah senang, karena kamu mau mengajak aku kemari dan aku berarti sudah menjadi orang yang sangat spesial untuk kamu dan hati kamu" ucap Varo yang malah mencolek hidung mungil Viera.

__ADS_1


"His, nggak gitu juga. Aku hanya ingin kesini dan abang juga mau kan? Jadi itu tidak benar" ucap Viera yang tidak mengakui jika dia memang sudah sangat nyaman dan mungkin saja dia memang sudah menerima Varo sebagai suaminya dan cintanya.


"Benarkah? Kenapa aku merasa jika kamu berbohong tentang itu?" tanya Varo yang memicingkan matanya menatap mata Viera.


"Apaan sih" ucap Viera yang mengalihkan pandangan nya kearah lain untuk memutuskan pandangan nya dari Varo yang membuatnya merasa ketar ketir.


"Jujur saja, aku malah sangat senang jika kamu mau mengakuinya sekarang dan aku akan melakukan apapun untuk kamu" ucap Varo yang memegang dagu Viera untuk menatap kearahnya kembali.


"Abang janji? Abang akan melakukan apapun untuk aku? Janji?" tanya Viera yang meminta Varo untuk berjanji padanya.


"I'm promise you honey" jawab Varo dengan yakin dan tatapan penuh cinta pada Viera.


"Abang jangan marah jika aku mengatakan keinginan aku" ucap Viera yang merasa tidak berani mengatakan nya pada Varo.


"Katakanlah. Aku tidak akan marah. Tapi aku tidak akan mengabulkan jika keinginan kamu ingin lepas dariku" ucap Varo penuh penekanan disetiap katanya.


"Tuh kan, baru saja ingin mengatakan nya abang sudah memberikan ancaman nya. Nggak jadi saja lah, aku nggak mau melihat abang marah dan malah melukai diri sendiri lagi" ucap Viera yang malah melipat kedua tangan nya didepan dada.


"Itu pengecualian tentang keinginan kamu honey. Selain itu, kamu katakan saja. Aku akan mengabulkan nya untuk kamu dan apapun itu. Terkecuali lepas dari aku dan pergi dariku" ucap Varo yang memegang bahu Viera dan menatap wajah Viera dengan lekat.


Viera menghembuskan nafasnya saat akan mengatakan apa yang dia inginkan pada Varo. Dia menatap Varo dan memberanikan diri untuk mengatakan nya pada Varo.


"Huh, baiklah. Aku ingin tetap bekerja di hotel. Karena aku akan merasa sangat jenuh jika terus berada didalam rumah. Apa lagi jika didalam apartment, aku ingin mengisi hari-hari aku dengan bekerja. Karena aku tidak bisa hanya duduk-duduk saja seharian" ucap Viera yang membuat Varo mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Apa tidak boleh bang? Jika tidak boleh, tidak masalah juga sih. Aku akan tetap diam dan menunggu abang pulang kerja saja" tanya Viera yang terlihat tidak bersemangat saat mengatakan nya pada Varo.


"Hei, siapa yang tidak suka? Aku malah bingung dengan keinginan kamu ini. Apa tidak ada keinginan yang lain? Kenapa malah ingin bekerja kembali, dibandingkan hanya diam dan menerima saja semuanya dari aku? Apa semuanya yang aku berikan tidak cukup?" tanya Varo yang menangkup wajah Viera dan mengusap pipi Viera dengan lembut.


__ADS_2