Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Terpuruk


__ADS_3

Masih Flashback...


Varo akan menemui Clara dan akan memberikan apa rasanya sakit. Bahkan saudaranya yang lain menasehati tidak dia dengarkan, yang ada dia semakin membuat mereka heran dan merasa jika Varo memang sangat berubah.


Jangankan mereka yang masih sama anak-anak dengan dirinya. Zahiya dan David saja selaku orang tuanya tidak dia dengarkan sama sekali. Membuat semua orang bingung dan ketar ketir menghadapi Varo yang sudah seperti sekarang.


Hingga Zayn sendiri yang turun tangan menghadapi Varo dan menasehatinya supaya mengerti akan yang dia lakukan itu salah. Bisa saja akan menciptakan sebuah permusuhan yang lebih besar lagi.


"Maaf Opa, aku tidak bisa melakukan apa yang Opa katakan" ucap Varo saat Zayn menasehatinya dan memberikan masukan padanya.


"Lalu, apa kamu akan melakukan apa yang menurut kamu benar? Jika iya, lakukan lah. Jika kamu terbukti salah dan tidak bisa menyelesaikan nya sendiri, kau bersiap untuk terjun langsung pada PENZ.DRC dari sekarang. Bagaimana, apa kamu setuju?" tanya Opa Zayn yang menatap Varo yang hanya diam saja dan tidak menagatakan apa-apa.


"Opa berikan kami waktu untuk berfikir. Jika dalam waktu dua puluh empat jam kamu tidak bisa memutuskan nya, maka Opa sendiri yang akan mendidik kamu dan menjauhkan kamu dari keluarga kamu. Terutama Mimi kamu, apa kamu setuju Elvaroz Malik Tomlinson?" tanya Opa Zayn yang menatap datar pada Varo.


"Aku akan tetap melakukan apa yang menurut ku benar Opa, jadi aku tidak perlu memikirkan waktu sebanyak itu. Jadi Opa sudah tahu apa jawaban nya, maka aku akan pergi dari sini" ucap Varo yang segera bangkit dari sana dan dia tidak ingin terlalu lama dengan Opa Zayn.


"Dia memang sama seperti ku dulu. Tapi dia lebih sulit diatur dalam masalah pribadinya, apa yang harus kami lakukan Ya Allah. Semoga saja apa yang dia lakukan tidak membahayakan dirinya sendiri" gumam Zayn yang sendirian didalam ruangan kerjanya.


.


Varo benar-benar melakukan apa yang menurutnya benar. Sekarang dia sedang bersama dengan Clara didalam ruangan yang membuat Clara sangat ketakutan padanya.


"Va, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu seperti ini, aku hanya melakukan apa yang menurut aku benar Va. Please, lepaskan aku. Aku tidak mau seperti ini Va" ucap Clara yang sudah menangis ketakutan karena Varo sekarang sedang memegang sesuatu yang membuat Clara semakin ketakutan.


"Kenapa Cla? Apa kamu takut dengan aku yang seperti ini? Atau kamu baru tahu jika aku seperti ini? Aku sudah sangat tulus menerima kamu sebagai teman dekat dan bahkan sudah tahu segalanya tentang diriku. Tapi ini balasan kamu, aku bukan hanya kecewa pada kamu. Tapi kamu dengan teganya membuat aku menjadi monster Clara Delwyn" ucap Varo dengan sangat sinis dan dia mencengkram bahu Clara sangat kencang membuat Clara menangis sesegukan dan juga ketakutan.


"Maaf, aku... Aku minta maaf, tolong jangan seperti ini. Aku ketakutan" ucap Clara yang terus saja minta maaf pada Varo yang masih mencengkramnya.


"Kamu sudah membuat aku seperti sekarang ini Clara, jadi jangan pernah bilang jika kamu ini meminta maaf padaku. Karena semua yang kamu katakan ini tidak akan aku percayai. Jadi, bersiaplah untuk bisa membuat kamu menyesal" ucap Varo dengan tawa yang menggelegar dan membuat Clara semakin takut dan berjalan mundur.


"Jangan, apa yang ingin kamu lakukan padaku Va? Jangan Va, jangan lakukan apapun. Aku bicara benar dan jujur, jika aku memang benar-benar tulus pada kamu dan ingin berteman saja. Tidak lebih dan tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Please, jangan seperti ini Va" ucap Clara yang sudah membentur tembok belakangnya dan dia tidak bisa kemana-mana lagi.


"Apa kamu memang tulus? Jika iya, tatap aku dan diam! Jangan mengatakan apapun dan jangan menangis lagi" ucap Varo yang membuat Clara mengangguk dan dia menatap wajah Varo dengan air mata yang dia hentikan walau pandangan nya masih berkaca-kaca.


"Apa kamu sudah bisa melihat ketulusan aku Va? Bahkan aku meninggalkan teman-teman aku yang lain hanya demi kamu dan pertemanan kita berdua" ucap Clara yang memegang lengan Varo dan dia masih mendongak menatap Varo yang lebih tinggi darinya.


"Maaf, maafkan aku Cla" ucap Varo yang bisa melihat ketulusan didalam mata Clara dan dia langsung memeluk Clara.


"Aku juga minta maaf. Kita teman?" tanya Clara setelah mereka mengurai pelukan mereka.


"Teman" ucap Varo yang mengangguk.


"Kamu harus selalu bersama denganku dan jangan pernah dengan siapa-siapa lagi selain aku. Aku tidak suka jika kamu bersama dengan orang lain selain aku" ucap Varo yang mengatakan nya dengan penuh penekanan disetiap katanya.


"Aku berjanji" ucap Clara yang mengulurkan jari kelingkingnya, lalu disambut oleh Varo. Mereka berdua kembali berteman dan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya nanti seperti apa.


'Maafkan aku Dad, aku tidak bisa membantu Daddy. Aku hanya ingin teman yang tulus dan tidak memanfaatkan aku saja sebagai orang berada dan anak Daddy. Aku melanggar janjiku pada Daddy' ucap Clara dalam hati yang tersenyum pada Varo dengan sangat tulus.


"Kita keluar dari sini" ucap Clara yang diangguki oleh Varo dan mereka berjalan beriringan menuju taman belakang sekolah.


"Boleh aku meminta sesuatu pada kamu Va?" tanya Clara yang menatap kearah Varo.


"Apa?" tanya Varo yang menghentikan langkahnya.


"Aku lebih suka kamu yang sebelumnya, tapi jika kamu nyaman seperti ini lebih bagus" ucap Clara yang tersenyum sangat manis pada Varo.


"Aku akan seperti ini terus. Tapi nanti mungkin kita akan jarang bertemu lagi, aku sudah ditugaskan untuk mengelola perusahaan Opa dari sekarang. Aku sudah berjanji pada beliau" ucap Varo yang membuat Clara merasa sedih dan takut tidak akan bisa bertemu lagi dengan Varo.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam dan sedih? Jika weekend, kita bisa bertemu dan jalan-jalan. Apa kamu setuju? Anggap saja aku saudara kamu yang akan menjaga kamu" ucap Varo yang menatap wajah Clara yang sendu.


"Makasih, selama ini belum pernah ada orang yang berbicara seperti itu pada aku. Bahkan saudara-saudara aku saja tidak pernah seperhatian itu pada aku, tapi aku tidak bisa keluar dengan bebas dan diperbolehkan oleh Daddy dan Mommy. Mereka pasti akan melakukan sesuatu pada kamu jika diluar bersama dengan ku. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa karena aku" jawab Clara sambil menunduk dan dia terlihat sangat sedih saat mengatakan nya.


"Memangnya apa yang akan mereka lakukan padaku? Apa mereka akan mencelakakan aku?" tanya Varo dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Salah satunya itu, dan aku tidak ingin orang baik seperti kamu kenapa-kenapa karena aku. Aku hanya ingin memiliki teman yang tulus dan baik seperti kamu" jawab Clara yang masih menunduk dan me*emas kedua tangan nya sendiri.


"Jika seperti itu, kita akan tetap berteman kan. Walau tidak bertemu?" tanya Varo lagi dan dia sudah mengepalkan tangan nya.


"Tentu saja, kita akan tetap berteman. Bukankah kita akan ulang tahun pertemanan sepentar lagi? Jadi kita usahakan untuk bertemu disini dan ditempat ini. Janji" ucap Clara yang mengulurkan jari kelingkingnya lagi pada Varo.


"Janji. Kamu harus menepati janji kamu" ucap Varo menatap kearah Clara yang tersenyum dan mengangguk.


Mereka memang benar-benar selalu bersama dan tidak pernah berjauhan satu sama lain suatu saat mereka sedang jalan bersama dan tiba-tiba ada seseorang yang entah dari mana datangnya menyerang mereka berdua. Lebih tepatnya menyerang Varo.


"Apa kamu baik-baik saja Va?" tanya Clara yang melihat Varo tersungkur dan terjadilah perkelahian antara anggota Zahiya dengan orang sedang menyerang mereka berdua.


"Aku baik-baik saja" jawab Varo yang melihat Leonard dan Alvarez menghampirinya.


"Tuan Muda, apa anda baik-baik saja?" tanya Leonard dan juga Alvarez yang berada dibelakangnya langsung memeluk Varo.


"Hmm" jawab Varo dengan deheman saja.


"Kalian diam disini dan jangan kemana-mana" ucap Alvarez yang meminta keduanya untuk duduk disana saja.


"Ia, makasih kak" ucap Clara yang mengangguk dan dia terlihat sangat takut.


"Cla, kamu kenapa tegang begini?" tanya Varo yang melihat wajah Clara yang memucat dan terlihat sangat tegang.


"Aku, aku baik-baik saja" jawabnya memaksakan dirinya tersenyum.


"Cla, Clara!!!" teriak Varo yang melihat Clara yang ambruk tidak sadarkan diri lagi.


"Cla, buka mata kamu. Kamu sudah berjanji akan terus menemani aku kan, Cla" ucap Varo yang menepuk-nepuk pipi Clara supaya bangun.


"Apa yang terjadi?" tanya Varez yang menghampiri keduanya.


"Entahlah bang, kita bawa kerumah sakit sekarang" jawab Varo yang segera mengangkat Clara yang semakin terlihat kurus dan pucat.


"Cepat" ucap Varez yang mengajak adiknya untuk masuk kedalam mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang menuju rumah sakit. Merek sudah sampai dan dibantu oleh para perawat untuk memeriksa keadaan Clara.


Varo hanya diam dan dia terus berdo'a supaya Clara baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi akan keadaan nya. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari utang UGD setelah memeriksa Clara.


"Keluarga pasien?" tanya dokter tersebut yang menatap kearah dua anak muda langsung menghampirinya.


"Bukan dok, dia adalah teman kami. Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Varez yang melihat Varo hanya diam saja dengan wajah datarnya.


"Saya ingin berbicara langsung dengan kedua orang tuanya, minimal keluarga dekatnya" jawab dokter tersebut yang menatap kedua anak muda dihadapan nya.


"Apa tidak bisa kamu tahu dulu keadaan nya dok? Keluarganya sedang dalam perjalanan kemari" jawab Varez yang membuat Varo hanya mengangguk saja.


"Maaf, saya tidak bisa menyampaikan nya pada kalian berdua nak. Karena ini adalah masalah serius, saya ingin menyampaikan nya langsung pada kedua orang tuanya" ucap dokter tersebut yang mengatakan nya dengan perlahan pada kedua anak muda dihadapan nya.


Tapi Varo langsung marah dan dia menarik kerah jas dokter tersebut.

__ADS_1


"Katakan atau saya akan membuat anda menyesal" ucap Varo yang memang sudah sama tingginya degan dokter tersebut dan dia sudah terlihat ketakutan saat melihat sikap dan aura yang ditunjukan oleh Varo.


"Va, lepaskan" ucap Varez yang memegang tangan Varo untuknya melepaskan tangan nya dari jas dokter tersebut.


"Katakan dulu, baru akan aku lepaskan" ucap Varo yang tidak mendengarkan ucapan dari Varez.


"Baiklah akan saya katakan. Sebaiknya kalian berdua ikut saya" ucap dokter tersebut yang sudah ketakutan dan dia tidak ingin jika pemuda didepan nya semakin marah dan berbuat keributan.


"Sejak tadi" ucap Varo yang membuat Varez hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap adiknya yang satu ini.


"Jelaskan" ucap Varo saat sudah duduk didalam ruangan dokter yang memeriksa keadaan Clara.


"Begini. Sebenarnya pasien mengalami cidera pada tulang belakangnya, akibat benturan yang lumayan keras pada bagian belakang pinggangnya. Dan ini berakibat sangat fatal, jika tidak segera mendapatkan tindakan operasi. Akan terjadi masalah yang serius pada pasien" jelas dokter tersebut pada kedua pemuda dihadapan nya.


"Apa sebegitu parahnya dok? Apa ada jalan untuk bisa menyembuhkan nya?" tanya Varez yang menggenggam tangan Varo untuk diam dan jangan mengatakan yang membuat dokter tersebut ketakutan.


"Jalan satu-satunya hanya operasi. Dan kami akan melakukan tindakan jika anggota keluarganya sudah datang dan bersedia untuk melakukan operasi. Makanya saya bertanya dimana keluarganya? Hanya keluarganya yang bisa memuaskan tindakan dan paling berhak atas pasien" jawab dokter tersebut yang menjelaskan semuanya pada Varo dan Varez.


"Apa kami tidak bisa mewakilinya dok? Karena kedua orang tuanya sedang berada ditempat yang jauh dan akan membutuhkan waktu lama untuk sampai kemari. Jika keluaga terdekatnya, ya hanya kamu saja disini" tanya Varez yang ingin membuat hati adiknya tenang dan bisa meredam emosinya.


"Baiklah, kalian bisa ikut saya untuk menandatangani berkas untuk persetujuan operasi. Karena ini sudah sangat mendesak, apa lagi pasien juga memiliki penyakit bawaan sejak lahir, jika terlambat sedikit saja. Saya selaku tim dokter tidak tahu apa yang akan terjadi" jawab dokter tersebut yang membawa Varez dan Varo menuju ruang administrasi dan persetujuan operasi sudah ditandatangani.


Biayanya juga sudah dibayar oleh Varez dan saat akan menuju ruang operasi. Ada sekelompok orang yang menerobos masuk dan membuat keributan didalam rumah sakit, membuat semua orang panik dan Varez dan Varo saling pandang juga menatap kearah dua orang yang berjalan kearah mereka berdua.


PLAK...


Sebuah tamparan menggema diseluruh ruangan rumah sakit tersebut.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik dan juga sombong.


"Nyonya, sebaiknya anda bertanya dengan pelan-pelan dan tidak menggunakan kekerasan" ucap Varez yang menahan amarahnya melihat adik kesayangan nya ditampar tanpa sebab.


"Kenapa, apa ada masalah? Apa kau adalah pengasuhnya yang menolong pemuda berandalan ini? Pemuda yang sudah membuat putriku terluka?" tanya wanita yang dipanggil Nyonya oleh Varez.


"Jika iya memangnya kenapa? Apa anda keberatan? Sekarang putri anda sedang dalam bahaya. Jika tidak ditangani dengan serius, maka akan berakibat fatal padanya. Sebaiknya anda jangan menahan kami dengan mengajak kami berdebat disini" ucap Varez yang bertanya pada Nyonya tersebut.


"Pantas saja tidak peretika. Hanya seorang kacung" ucapnya dengan nada sinis dan dia meninggalkan kedua anak muda itu.


"Kenapa abang mengatakan seperti itu? Abang bukan pengasuh, abang adalah abang aku" tanya Varo yang berani bertanya saat wanita tersebut sudah menuju ruangan dokter.


"Bairkan saja orang menilai apa. Sekarang kita lihat bagaimana keadaan nya, jangan sampai kita ketinggalan informasi" jawab Varez yang menggenggam tangan Varo menuju ruang operasi.


Baru mereka sampai didepan ruang operasi malah terjadi keributan disana. Saat wanita tersebut mengamuk tidak jelas, Varez dan Varo menghampiri dokter yang tadi terlihat sangat tegang dan sangat ketakutan melihat kedatangan keduanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Varez dan Varo pada dokter tersebut.


"Maaf, ternyata pasien tidak bisa kamu selamatkan. Dia sudah tiada saat akan masuk kedalam ruang operasi" jawabnya menunduk dan membuat Varo diam dan...


BRUK...


Varo ambruk dilantai dengan wajah menunduk, dia tidak tahu harus berbuat apa saat mendengar kabar buruk ini. Baru saja dia bisa menerima dan dekat dengan Clara, sudah direnggut begitu saja darinya.


Varez membantu Varo untuknya bangkit dari duduknya dan menuju kursi yang tidak jauh dari mereka.


"Va, kamu harus kuat. Jangan sampai kamu menjadi lemah dan membuat kamu yang akan tersiksa" ucap Varez yang menenangkan Varo.


"Apa aku bisa bang? Dia sudah berjanji akan selalu bersama dengan ku sampai kapanpun. Kenapa dia malah pergi meninggalkan aku?" tanya Varo yang langsung memeluk Varez dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

__ADS_1


"Kamu bisa, janji bisa saja diingkari oleh Allah Va, walau kalian sudah saling berjanji. Jika Allah berkehendak, kita bisa apa? Sebaiknya kamu jangan memperlihatkan keterpurukan kamu pada orang lain. Jangan sampai mereka tahu kelemahan dan kesedihan kamu, jangan sampai ada yang tahu" ucap Varez yang membuat Varo semakin dingin dan dia terlihat menakutkan dengan auranya yang sangat mencekam.


__ADS_2