Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Khawatir


__ADS_3

Semalaman Varo tidak bisa tidur dan dia malah meninggalkan Viera sendiri didalam apartment miliknya. Dia tidak ingin jika Viera beranggapan jika dia adalah pria yang buruk dan bejad.


"Va, kamu dari mana? Kenapa jam segini baru pulang sayang?" tanya Oma Lulu yang ternyata ada diruang keluarga bersama dengan Opa Devon.


"Aku sedang banyak pekerjaan Oma, maaf aku harus kekamar dulu" jawab Varo yang langsung naik menuju kamarnya dilantai dua.


"Dia itu kenapa Mas? Kenapa sekapnya aneh sekali?" tanya Oma Lulu menatap kearah punggung Varo yang menjauh dan tidak terlihat lagi.


"Entahlah, jika kamu bertanya padaku? Aku bertanya pada siapa sayang?" jawab Opa Devon yang balik bertanya pada Oma Lulu.


"Iya juga, sebaiknya kita istirahat saja Mas. Biarkan saja dia istirahat juga, dia sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupnya sendiri" ucap Oma Lulu yang mengajak Opa Devon untuk istirahat.


.


Sedangkan didalam kamar, Varo sedang merendam dirinya didalam air dingin dan dia tidak melepaskan pakaian nya sama sekali. Dia benar-benar merasa sangat bersalah dan juga sudah berbuat dosa pada Viera.


"Kau memang harus seperti ini Elvaroz, kau hampir saja membuatnya merasa dirugikan olehmu" gumamnya sambil menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam bathtub hingga beberapa menit lamanya.


Varo terus melakukan itu berulang-ulang dan membuat badan nya terasa panas dan sepertinya dia demam, juga berulang kali bersin-bersin. Varo segera membuka pakaian nya dan dia segera masuk kedalam kamarnya.


Setelah selesai berpakaian Varo membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan mencoba untuk terpejam. Apa lagi ini sudah hampir dinihari, membuatnya menjadi sulit memejamkan matanya dan dia tidak bisa tertidur saat badan nya menggigil kedinginan.


"Mi, Varo demam Mi" gumam Varo dengan suara yang teramat pelan, hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.


Varo benar-benar tidak bisa apa-apa hingga pagi menjelang siang ini. Hingga Zahiya memasuki kamarnya melihat keadaan Varo yang masih bergelut dengan selimut tebalnya.


"Va, apa kamu sedang sakit?" tanya Zahiya saat membuka tirai dikamar Varo. Tapi tidak ada jawaban dan pergerakan sama sekali dari Varo.


"Boy, kenapa?" belum sempat melanjutkan ucapan nya Zahiya langsung berteriak saat melihat Varo sudah tidak sadarkan diri dengan wajah pucat dan badan yang sangat panas.


"Varo! Bangun nak, kamu dengan Mimi kan? Varo" teriak Zahiya membuat semua orang berlari kearahnya untuk melihat kondisinya.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu teriak?" tanya David yang dianggiki oleh semua anak-anaknya.


"Pi, pamggilkan uncle Aaron sekarang. Varo demam tinggi" ucap Zahiya yang langsung membuat semua orang panik.


"Iya sayang" jawab David yang langsung menghubungi Aaron.


Semua orang panik dan khawatir akan keadaan Varo. Berbeda dengan Viera yang juga baru bangun dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Kamvret! Badan gue sudah mirip macan tutul dibuatnya. Tapi, untung saja dia tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi. Jika tidak, gue bakalan hancur dan bisa terjebak dengan nya seumur hidup gue" ucap Viera yang menggerutu tapi bersyukur juga.


"Kenapa sepi banget? Kemana tuh orang?" gumamnya lagi sambil terus menari keberadaan Varo.


Viera mencari-cari Varo keseluruh ruangan dan hasilnya tidak ada. Dia masih menggunakan kemeja kebesaran milik Varo yang ada disana. Viera merasa bingung, saat melihat semua ruangan kosong tidak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri.


"Apa dia sudah pergi? Jika iya, kenapa dia yang pergi? Bukankah seharusnya gue yang pergi ya? Ah, bodo amat lah. Siamat saja kagak ngomong apa-apa" gumamnya yang langsung keluar dengan pakaian Varo.


"Kenapa semua orang liatin gue? Apa ada yang salah dengan pakaian gue?" gumamnya yang baru sadar, jika dia menggunakan pakaian olahraga milik Varo yang kebesaran.


"Ah, gue tahu. Mereka liatin gue karena pakaian ini, mereka faham bener pakaian yang gue gunakan ini adalah pakaian mahal" ucap Viera yang segera keluar dari lobby apartment mewah tersebut.


Viera tidak sadar, jika setiap gerak geriknya diawasi oleh seseorang dan orang itu adalah anggotanya Varo dan Varez. Dia ingin jika wanita incaran Varo.


"Kenapa loe pake pakaian kebesaran gitu kak? Apa loe habis nyuri dirumah orang? Mana semaleman kagak pulang lagi loe. Kemana aja loe?" tanya Xaqer yang melihat penampilan Viera dan menatapnya dengan tatapan menelisik.


"Kamvret loe. Enak saja cewek secakep dan secantik ini nyolong, ngadi-ngadi aja loe. Tuh mulut gue sekolahin buat ngomong bener, bukan ngasal nguap saja" ucap Viera yang malah misuh-misuh saat adiknya malah bicara macam-macam padanya.


"Sorry kak, abis loe itu aneh dan bikin gue bingung juga berfikiran buruk pada loe. Tapi loe kagak kenapa-kenapa kan? Terus loe habis bareng cowok kan?" ucap Xaqer yang menatap tajam pada kakak perempuan satu-satunya itu.


PLAK...


Viera menggelepak kepala Xaqer saat mendengar pertanyaan dari Xaqer. Dan dia mengakui juga pada Xaqer, karena dia memang tidak bisa menyembunyikan apa-apa darinya. Begitu juga sebaiknya, Xaqer juga selalu seperti itu padanya.

__ADS_1


"Loe kalo ngomong suka bener. Gue emang sama cowok, dan cowok itu cowok yang nolongin loe waktu itu. Kenapa emangnya? Dari mana loe tahu, gue bareng cowok?" tanya Viera yang masih belum sadar akan pertanyaan yang dia lontarkan pada Xaqer.


"Ini, loe nggak liat. Ini semua perbuatan bang Varo? Jawab kak. Atau loe udah ngelakuin hal lebih? Jika iya, gue bakalan datengin dia dan minta pertanggung jawaban darinya" ucap Xaqer yang mengatakan nya dengan sangat tegas dan dia menuntut penjelasan dari Viera.


"Kagak, kagak kayak gitu. Gue kagak ngelakuin hal yang loe katakan, gue..." Viera menceritakan semuanya pada Xaqer dan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Karena Viera percaya, jika adiknya bisa mengambil sikap dewasa.


"Huh, untung saja bang Varo kagak nagapa-ngapain loe kak. Jika tidak, gue yakin, jika loe akan menyesal seumur hidup loe. Lebih baik kakak tutupi semua tanda itu, apa loe mau dicap sebagai cewek kagak bener?" ucap Xaqer yang segera menggunakan seragam sekolahnya.


"Iya, gue tahu. Pantas saja pas gue keluar dari unit apartment miliknya gue diliatin kayak tersangka saja, ternyata ini asal dan penyebabnya" ucap Viera yang nyengir memperlihatkan gigi putihnya.


Xaqer hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah absurd kakaknya yang satunya ini. Dia sudah dewasa dan juga bar-bar, tapi juga konyol itu selalu saja tidak menyadari apa yang dilakukan olehnya maupun orang lain.


.


Setelah kehadiran itu, baik Varo maupun Viera tidak pernah bertemu lagi. Viera merasa sedikit aneh dengan semua ini, rasanya ada seauatu yang hilang dari dirinya. Tapi dia tidak tahu apa yang hilang.


"Kenapa loe? Lemes amat" tanya salah seorang teman Viera didalam hotel tempat mereka bekerja.


"Kagak, kagak kenapa-kenapa. Agak sedikit pusing saja, loe kenapa ada disini?" tanya Viera setelah menjawab pertanyaan dari teman nya.


"Gue mau ngasih tahu loe, jika kita harus bersiap. Karena si Bos bakalan datengin kemari dengan orang penting katanya, makanya gue ngasih tamu loe supaya bersiap" ucap teman nya yang bernama Lina.


'Sudah sebulan ini dia tidak pernah mengganggu hidup gue dan sekarang dia akan datang kemari dengan seseorang? His, kenapa dengan gue? Kenapa gue kayak kesel dan marah padanya, padahal gue seharusnya senang kan. Karena gue kagak digangguin dia lagi' ucap Viera dalam hati dan dia beberapa kali menghela nafasnya.


"Loe kenapa sih, kenapa loe diem mulu. Malah ngelamun lagi" ucap Lina yang menepuk bahu Viera.


"Ah, apa?" tanya Viera yang membuat Lina menepuk keningnya sendiri.


"Sudahlah, lebih baik kita bersiap saja. Jangan membuat big Bos marah" ucap Lina yang mengajak Viera segera bersiap.


"Oke, loe duluan saja. Gue nyusul" ucap Viera yang meminta Lina duluan kedepan dan dia akan bersiap.

__ADS_1


"Kenapa dengan gue? Kenapa parasaan gue kagak tenang gini sih?" Gumamnya yang langsung bersiap.


Semua sudah bersiap didepan lobby, semua orang sudah berbaris dengan rapih menyambut kedatangan Varo yang sudah satu bukan lebih tidak berkunjung kehotel. Viera semakin tidak karuan saat mendengar deru suara mobil yang berhenti didepan lobby.


__ADS_2