
WARNING!!! Fahamkan jika ada tulisan segede ituπππ. Yuk, cekidot..
Varo mulai merambat pada bukit kembar seperti buah mangga yang masih mengkal, keras-keras tapi kenyal. Mirip permen yuppy, dia mulai mengexplor nya dengan bibirnya yang sexy.
Dia juga meninggalkan jejaknya disana, bahkan bukan hanya satu atau dua jejak saja. Lebih dari itu dia berikan pada Viera, Viera yang baru merasakan nya. Tubuhnya seperti terbakar dan bahkan dia mengeluarkan suara keramat yang membuat gairrah Varo semakin naik.
"Ah..." Viera benar-benar menikmati apa yang Varo berikan padanya sekarang.
"Keluarkan saja suara merdumu itu honey" ucap Varo yang terus melakukan apa yang membuatnya candu.
Varo sedang menghisap sumber makanan untuk anak-anaknya kelak dengan sangat rakkusnya, membuat Viera semakin menggelinjang tidak karuan dibuatnya.
"Abang mau apa?" tanya Viera yang mulai sadar saat Varo akan membuka penutup goa terakhirnya.
"Aku ingin melihatnya, apa tidak boleh?" jawab Varo sambil balik bertanya pada Viera. Tatapan nya sudah dipenuhi oleh kabut gairah yang sudah membumbung tinggi.
"Tapi aku malu" ucap Viera yang menahan tangan Varo untuk membukanya.
"Kenapa musti malu? Aku sudah menjadi suami kamu dan kamu adalah istriku yang sah, jadi jangan malu" tanya Varo yang mulai menaiki tubuh Viera lalu mellumaat bibir ranum milik Viera lagi.
Viera yang memang sudah terbuai, menjadi tidak sadar kembali saat sudah mendapatkan apa yang diberikan oleh Varo padanya.
Baru Varo akan mengarahkan senjatanya pada inti tubuh Viera, dia merasa kesulitan untuk memasukinya.
'Sial!! Kenapa sulit sekali' gumamnya yang terus berusaha untuk melakukan nya kembali.
Tapi tetap saja tidak bisa masuk juga. Yang ada dia malah turun kembali dan dia menatap kearah lubang belut milik Viera.
"Honey, kenapa lubangnya kecil sekali? Bagaimana bisa milik ku ini masuk?" tanya Varo dengan konyolnya pada Viera.
Viera yang ditanya langsung bangkit dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya. Lalu menatap Varo dengan tajam.
"Milik abang yang kebesaran. Milik ku ini memang segini! Awas!" jawab Viera dengan ketus. Lalu dia bangkit berdiri meninggalkan Varo sendiri didalam kamar.
"Kenapa dia marah? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku? Jika milik ku ini dikecilkan, apa bisa?" gumamnya yang melihat belutnya mulai mengkirut lagi karena tidak jadi masuk lubangnya.
Varo segera menggunakan pakaian nya lagi untuk mengejar Viera, yang tiba-tiba marah padanya. Dia juga akan bertanya pada Pipi David tentang hal ini.
Sedangkan didalam kamar sebelah, Viera sedang menggerutu dan juga misuh-misuh tidak jelas sambil menggunakan pakaian nya yang baru dari dalam lemari.
"Apa maksudnya coba. Dia kira lubang gue sebesar apa? Macem-macem aja, kalo ngomong juga asal nguap saja. Dasar tidak waras!" gerutu Viera yang sudah menggunakan pakaian nya dan membuang selimut yang tadi dia gunakan.
"Dasar gila! Kesel gue, mana semua badan gue merah-merah gini lagi. Lagian dia tadi ngapain sih main-main gitu? Heran juga. Tapi kenapa gue merasakan sesuatu yang aneh, saat dia mencium bibir gue?" gumamnya lagi sambil menyentuh bibirnya sendiri.
"Aaaa, bibir gue sudah tidak perawan lagi!!!" teriaknya yang mengusap-ngusap bibirnya sambil menatap cermin didepan nya.
Varo yang akan masuk menjadi tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan oleh Viera. Dia terus saja tersenyum, lalu dia tidak jadi masuk kedalam kamar Viera.
__ADS_1
"Jadi dia masih virgin? Pantas saja sulit untuk aku masuki" gumam Varo yang segera pergi dari apartment nya untuk bertemu dengan David.
Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena dia sedang sangat bahagia dan bisa melihat tubuh mulus tanpa cela milik Viera. Saat dalam perjalanan dia melihat ada sebuah mobil mengikutinya juga.
"Kau ini terlalu ikut campur urusan ku bang" gumam Varo yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh dan dia melakukan nya seperti sedang balapan.
"Kau menantangku rupanya Va" gumam pria yang sedang mengikuti Varo dan dia adalah Varez yang memang sedang mengikuti Varo untuk bisa tahu akan kemana dia pergi.
Varez menghubungkan ponselnya pada mobil yng sedang dia gunakan untuk menghubungi Varo.
Varo juga melakukan hal yang sama. Karena dia ingin tahu apa yang diinginkan oleh Varez padanya.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Varo langsung to the point pada Varez.
"Karena aku menjalankan amanat dari Mimi untuk memantau terus pergerakan mu dan bisa melindungi mu. Jika kau tidak suka, protes saja pada Mimi" jawab Varez dengan santainya dan mobilnya sudah berada disamping mobil Varo.
Dengan tengilnya Varez memberikan senyuman termanis dibibirnya saat membuka kaca mobilnya dan Varo juga melakukan nya sejak saat dia bertanya pada Varez.
"Aku akan melakukan nya. Karena aku tidak butuh prince Mafia seperti mu" ucap Varo yang menutup kaca mobilnya dan dia menginjak pedal gas hingga full dan melesat sangat cepat.
"Kau ini selalu saja seperti itu. Apa kau tidak tahu, jika aku ini adalah prince yang sangat hebat, juga sangat ditakuti? Kau selalu saja meremehkan diriku" ucap Varez yang masih mengejar Varo untuk bisa tahu apa dan kemana dia pergi.
"Apa kau kemarin tahu? Jika semalaman berada dalam bahaya karena ulahmu itu" ucap Varo yang membuat Varez segera mengejar dan menyalip didepan nya.
"Apa yang kau lakukan!?" tanya Varo saat sudah berhenti dan membuka pintu mobilnya. Dimana Varez sudah ada didepan nya.
"Aku menggunakan mobil milikmu dan dikejar oleh klan-klan mu itu. Hampir saja aku mati oleh ulah mu itu, kenapa kau tidak datang saat aku pergi? Kenapa sekarang saat aku tidak ingin diikuti oleh mu?" jawab Varo dan dia bertanya balik pada Varez.
"Jadi kau keluar menggunakan mobil ku yang biasa aku gunakan untuk bertarung? Apa kau sudah tidak waras hah! Kau bukan hanya membahayakan nyawamu sendiri, kau juga membahayakan nyawa semua orang jika mereka salah sasaran. Apa lagi jika mereka tahu apa yang aku sembunyikan dalam mobil itu" ucap Varez yang bertanya pada Varo dan dia sambil menarik kerah baju Varo.
"Apa yang kau sembunyikan? Apa barang terlarang? Ck, kau gila" tanya Varo dengan santainya dan dia akan masuk kedalam mobilnya, tapi ditahan oleh Varez.
"Bukan itu bodoh! Disana banyak barang bukti kejahatan mereka semua yang belum sempat aku pindahkan dan juga diskusikan dengan Opa Zayn dan Mimi. Jika mereka bisa mendapatkan nya, mampus semua yang ada disini. Baik klan maupun anggota kita sendiri" jawab Varez yang menghela nafasnya kasar.
Varo hanya mengernyitkan keningnya menatap kearah Varez yang mengatakan semuanya pada dirinya. Padahal dia tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Varez.
"Aku sendiri sih yang salah. Karena menyamarkan mobil itu mirip dengan mobilmu itu. Sekarang mobilnya dimana? Apa masih aman? Aku tidak mau jika apa yang aku takutkan terjadi karena kecerobohan mu dan keteledoran ku" tanya Varez menatap kearah Varo yang malah tersenyum sinis kearahnya.
"Lalu apa yang harus melakukan dengan mobil ini? Apa kau akan menghancurkan nya?" tanya Varo yang membuat Varez membolakan matanya pada Varo.
"Jadi, ini adalah mobil..." tanya Varez, yang membuat Varo mengedikan bahunya saja lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan Varez yang hanya diam mematung.
"Sial! Dia sudah mengelabuiku lagi" gumam Varez yang segera masuk juga ke dalam mobilnya untuk mengejar Varo.
"Dia itu terlalu bodoh sekali" gumam Varo melihat kearah berkas-berkas milik Varaz yang tadi dia bicarakan dengan Varez.
Varo mengemudikan mobilnya menuju mainson Opa Zayn. Dia melihat jika disana sepertinya sedang banyak orang, dan banyak tamu didalam mainson Opa Zayn.
__ADS_1
"Kenapa banyak sekali mobil disini?" gumam Varo yang segera masuk menggunakan jalan belakang dan melihat, jika itu bukan siapa-siapa disana.
"Ternyata grandma Zoya, apa dia kemari untuk bertemu dengan Opa saja atau ada urusan lain?" gumam Varo yang masuk dengan perlahan lalu ingin mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Masuk saja Va, jangan berdiri disana" ucap Opa Zayn saat merasakan jika ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka berdua.
"Jadi dia cucumu Z?" tanya grandma Zoya saat melihat Varo yang sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan Zahiya maupun David. Apa lagi Zayn yang Opa nya sendiri.
"Hmm" jawab Opa Zayn pada Zoya.
"Apa kabar boy? Kenapa masih berdiri disana?" tanya grandma Zoya pada Varo.
"Baik grandma, grandma sendiri?" Varo balik bertanya setelah menjawab pertanyaan dari grandma Zoya.
"Seperti yang kau lihat boy. Grandma kemari ingin menjenguk Mommy grandma disini, sekalian juga ingin mengantarkan seseorang untuk bertemu dengan mu" jawab grandma Zoya pada Varo.
Sedangkan Opa Zayn dan Varo hanya saling pandang dan mengedikan bahunya saja merasa bingung. Karena setahu Zayn, kakaknya itu tidak membawa ikut serta anak-anak dan cucu-cucunya.
"Grandma hanya bercanda, grandma hanya ingin berkunjung pada adik grandma yang nakal ini. Sekalian mau menjenguk Mommy grandma" ucap grandma Zoya.
Mereka terlibat obrolan serius, membuat Oma Azalya hanya menghela nafasnya saat mendengarkan apa yang mereka bertiga bicarakan. Karena mereka satu frekuensi, dan itu membuat Oma Azalya kesal juga.
Tidak lama kemudian Varez datang dengan tergesa-gesa, apa lagi melihat mobil yang digunakan oleh Varo sudah kosong dan tidak ada apa-apa lagi didalamnya.
"Kamu kenapa nak, kenapa lari-lari seperti itu?" tanya Oma Azalya pada Varez.
"Apa Varo ada didalam Oma?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Oma Azalya, Varez balik bertanya pada Oma Azalya.
"Mereka sedang berbicara didalam. Disana juga sedang ada grandma Zoya" jawab Oma Azalya yang menghela nafasnya menjawabnya juga.
"Makasih Oma sayang" ucap Varez yang segera berlari menuju ruangan kerja Opa Zayn.
"Dasar, mereka itu kenapa sikapnya sekali berbicara tentang rahasia-rahasiaan sejak dulu" gumam Oma Azalya yang menatap punggung Varez.
Sedangkan didalam ruangan hanya saling diam dan melakukan apa yang ada didalam berkas yang dibawa oleh Varo. Mereka bertiga mulai tahu apa yang terjadi semuanya dan akan menentukan apa jalan selanjutnya. Karena walau mereka tidak tahu jika mereka sudah tahu segalanya.
"Va, kenapa kau bawa semuanya dan memberitahukan semuanya pada Opa? Aku yang ingin melakukan nya sendiri. Kau ini selalu saja melakukan apapun tanpa memberitahukan ku dulu" gerutu Varez yang sudah tahu apa saja yang dilakukan oleh Varo sejak dulu. Karena memang dia sendiri yang suka lama untuk memberitahukan semuanya sebelum Varo.
"Kerja bagus boy, kau sudah melakukan yang terbaik. Lakukan semuanya seperti fikiran mu, jangan dengarkan yang tidak baik dari orang lain. Karena kau yang paling mampu dalam hal ini, jika saudaramu yang lain tidak ada yang mampu melakukan nya sebaik kamu. Good boy" ucap Opa Zayn yang selalu memuji cara kerja Varez yang memang selalu bisa diandalkan.
"Thank you Opa, aku akan selalu berusaha yang terbaik. Tolong bimbing aku yang belum bisa melakukan nya dengan sempurna" ucap Varez yang membuat Varo hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Mereka berbicara kembali dan mereka memutuskan untuk menjenguk makam Mommy Vita, karena mereka sudah sangat lama tidak berkunjung kesana. Maka dari itu saat sedang seperti ini adalah waktu yang sangat pas melakukan nya.
Mereka berada dalam satu mobil yang sama. Karena mereka berempat tidak ingin menggunakan mobil terpisah. Saat dalam perjalanan menuju makam, ponsel Varo berdering. Menampilkan nama Xa dilayar ponselnya.
"Angkat saja, siapa tahu penting" ucap Opa Zayn pada Varo.
__ADS_1
Varo hanya mengangguk dan meletakan ponselnya ditelinganya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Viera. Ya, siapa lagi jika bukan Viera yang menghubunginya.