Obsesi Gila Sang CEO

Obsesi Gila Sang CEO
Penyesalan


__ADS_3

Sudah tiga puluh menit setelah kepergian pelayan tadi. Tapi Viera belum juga bersiap dan belum beranjak juga dari duduknya. Sepertinya dia memang tidak ingin pergi dengan Varo, yang dia inginkan hanya pergi dari sini dan bertemu dengan adik satu-satunya.


"Kenapa kau belum siap?" tanya Varo yang melihat Viera masih berada disana dan tidak bergeming.


"Apa kau tuli? Apa kau kira ancaman ku sebelumnya adalah bohong? Baiklah" tanya Varo lagi sambil menggeretakan giginya, menahan marahnya pada Viera.


"Bawakan laptopnya kemari dan perlihatkan padanya" ucap Varo pada bodyguard yang selalu standby didepan apartment nya.


Bodyguard tersebut memberikan laptop itu pada Viera, dan memperlihatkan seseorang yang sudah terikat tangan juga kakinya. Mulutnya juga ditutup oleh kain dan membuat Viera marah dan menatap Varo tajam.


"Apa yang loe inginkan hah! Apa loe belum puas mengurung gue disini dan loe ngelakuin ini semua pada adik gue hah!" teriak Viera dengan kencang dan menarik kerah jas yang digunakan oleh Varo.


"Itulah akibatnya jika tidak mendengarkan apa yang ku katakan. Sekarang, bersiap dan jangan lama" ucap Varo dengan santainya dan melepaskan tangan Viera dari pakaian nya.


"Dasar ba*ingan, gue benci loe benci!!" teriak Viera yang menatap nyalang pada Varo.


"Aku tidak perduli, karena aku menginginkan mu. Segera bersiap, jika dalam waktu sepuluh menit tidak selesai, maka bukan kamu yang mendapatkan akibatnya. Tapi dia" ucap Varo yang menunjuk kearah laptopnya.


"Dasar ba*ingan, jangan apa-apakan dia dan lepaskan dia. Jika kau membuatnya terluka sedikit saja. Maka, loe akan gue bunuh!!" ucap Viera yang menunjuk wajah Varo dan matanya penuh dengan kilatan kebencian juga amarahnya.


"Kita lihat saja nanti. Waktu terus berjalan, sisa delapan menit lagi. Tik, tok, tik, tok, tik, tok" ucap Varo yang memperlihatkan wajah yang sangat membuat Viera sangat membencinya.


'Gue bersumpah. Gue akan membalasnya sama seperti apa yang dia lakukan sekarang. Gue bersumpah akan hal itu' ucap Viera dalam hati dan dia segera bersiap dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Varo untuknya.


"Dia ini sebenarnya siapa? Kenapa dia bisa melakukan ini semua? Gue harus bisa lepas darinya" gumam Viera yang langsung keluar dari kamar setelah selesai dan tidak menunggu waktu lama dan sebelum waktu yang ditentukan oleh Varo.


"Kita berangkat sekarang sweetie" ucap Varo yang mengulurkan lengan nya untuk Viera gandeng.


Viera mau tidak mau menuruti keinginan Varo dan dia menggandeng lengan Varo dan mereka berjalan dengan sangat pelan dan mereka sangat serasi.


"Terimakasih, karena kamu mau menuruti keinginan ku untuk makan malam bersama" ucap Varo yang sudah duduk didalam mobil dan disusul oleh Viera yang duduk disampingnya.


Viera hanya diam dan dia sedang memikirkan cara untuk bisa kabur dari Varo dan menyelamatkan adiknya. Dia tidak ingin Terkurung terus bersama dengan pria gila dan terobsesi padanya.


"Jangan pernah berfikir akan bisa lepas dari ku sweetie, karena jika kamu melakukan itu. Maka, adik kesayangan mu itu akan tinggal nama saja" ucap Varo seolah tahu isi fikiran nya dan juga hatinya yang ingin segera lari darinya.


"Sudah gue katakan, jika loe berani melakukan itu. Gue tidak perduli lagi jika gue bunuh loe sekarang juga" ucap Viera yang tidak mengalihkan pandangan nya dari jalanan disamping.


"Kenapa kau begitu manis sekali sweetie? Ini yang aku suka dari kamu, karena kamu tidak akan pernah menyerah dengan apa yang kau yakini. Aku semakin mencintaimu sweetie" ucap Varo yang menyandarkan kepalanya pada punggung Viera yang membelakanginya.


"Gue nggak peduli!" jawab Viera ketus menyingkirkan kepala Varo yang menyandar padanya.


Akhirnya mereka berdua saling diam hingga sampai disebuah restaurant yang sangat bagus tapi sangat sepi. Membuat Viera merasa heran, masa restaurant sebagus dan semewah ini tidak laku dan tidak ada pengunjung seorang pun. Hanya ada mereka berdua saja.


"Apa restaurant ini tidak laku? Kenapa sangat sepi?" gumam Viera yang membuat Varo mengernyitkan keningnya mendengar ucapan dari Viera.


"Ini sengaja ku booking untuk kita berdua, jadi tidak akan ada pengunjung yang datang" jawab Varo yang memberikan minum pada Viera.

__ADS_1


"Gue heran saja, kenapa orang-orang kaya malah ribet. Pengen makan saja sampe nyewa satu restaurant segala" ucap Viera mengambil minuman yang disodorkan oleh Varo.


"Kenapa memangnya? Apa ada yang salah dengan semua itu? Menutut ku biasa saja" tanya Varo yang mulai makan dengan sangat elegant nya dan dia pasti menggunakan table manners saat makan seperti ini.


"Tidak ada" jawab Viera dengan ketus dan mengunyah makanan nya dengan sangat kesal dan entah apa yang sedang dia fikirkan.


"Makanlah yang banyak, karena kamu belum makan sejak pagi hingga sekarang" ucap Varo yang mengusap pipi Viera yang duduk disebrang meja.


Viera hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa pada Varo. Entah kenapa perasaan nya campur aduk tidak karuan, bahkan dia merasa bingung bercampur kesal akan sikap Varo yang selalu berubah-ubah disetiap saat.


"Gue bisa sendiri" ucap Viera menepis tangan Varo yang menyentuh ujung bibirnya.


"Baiklah, setelah ini kita jalan-jalan berdua" ucap Varo yang sudah selesai makan dan dia sedang menikmati makanan penutupnya juga dia sangat perlahan dan santai saat menikmati makanan nya.


"Apa gue bisa menolaknya? Kenapa harus bertanya dulu" jawab Viera dengan ketus dan dia tidak ingin berdebat lagi dengan Varo yang akan membuatnya semakin emosi.


"Aku tidak bertanya, karena aku memberitahu mu supaya tidak menolaknya" jawab Varo yang mengelap mulutnya dengan kain yang sudah disediakan disana.


Viera tidak mengatakan apapun pada Varo. Dia hanya makan dan menghabiskan makanan didepan nya. Karena berdebat juga butuh tenaga bukan? Jadi dia memutuskan untuk makan banyak dan tidak memperdulikan ucapan Varo sementara.


Setelah selesai, Varo mengajaknya entah kemana. Tapi jalanan yang dilewati oleh mobil mereka sepertinya tidak asing lagi dimata Viera. Dia ingat, jika ini adalah jalanan menuju kearah kontrakan nya dengan adik satu-satunya.


"Apa loe nganterin pulang gue? Makasih yah" tanya Viera yang langsung memeluk Varo dan dia tidak sadar akan itu.


"Siapa yang mangantarkan kamu pulang. Aku hnya ingin memberikan makan malam untuk seseorang, itu saja" jawab Varo yang membuat Viera merasa kesal dan tanpa aba-aba lagi dia memukul perut Varo lumayan kencang dan bisa membuat Varo mulas, apa lagi dia habis makan malam belum lama ini.


'Kenapa dia ini sangat bar-bar? Aku bahkan sudah lebih dekat dengan adiknya, kenapa dengan nya sangat berbeda' ucap Varo dalam hati dan dia sedang mengendalikan emosinya supaya tidak meluap.


"Assalamualaikum" ucap keduanya yang membuat Viera merasa heran akan sikap Varo yang ternyata memiliki adab dalam bertamu.


"Wa'allaikumsalam, eh abang. Silahkan masuk bang" jawab pria yang sangat Viera rindukan, siapa lagi jika bukan adiknya.


"Loe kagak nyambut gue? Yang kakak loe sendiri" ucap Viera yang menggerutu dan langsung masuk tanpa disuruh oleh adiknya.


"Siapa lu, lagian gue nggak perduli. Loe mau balik atau kagak, karena loe saja sudah kagak perduli ke gue juga" jawab Xaqer yang malah mempersilahkan Varo untuknya duduk.


"Maaf ya bang, dia memang bar-bar dan ngeselin" ucap Xaqer yang menistakan kakaknya sendiri didepan Varo.


"Saya sudah tahu" jawab Varo dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Bang, makasih yah. Karena abang sudah bantuin aku kemarin, jika tidak ada abang entah apa yang terjadi padaku" ucap Xaqer yang mengucapkan terimakasih pada Varo, membuat Viera mengernyitkan keningnya mendengar ucapan dari adiknya.


"Sama-sama, jangan sungkan jika membutuhkan bantuan. Bila perlu abang akan membuat mereka bertekuk lutut dihadapan mu" jawab Varo yang membuat Xaqer merasa sangat bersyukur juga merasa bingung dengan orang kaya sepertinya malah membantunya dan melawan orang-orang yang akan mencelakainya.


"Tidak perlu bang, aku senang sudah abang tolong juga. Karena orang-orang disini tidak ada yang berani melawan mereka semua, selain abang. Walau abang sendiri, sampai abang terluka gara-gara nolongin aku" ucap Xaqer yang membuat Viera merasa jika apa yang dia dengar tidang benar dan orang sekejam dan sekaku dia menolong adiknya.


"Tunggu-tunggu, sebenarnya yang sedang kalian bahas itu apa? Kenapa serangan terluka? Maksudnya apa Xaqer? Jelasin ke gue sekarang" ucap Viera yang mentap tajam pada adiknya.

__ADS_1


"Loe inget juragan Rasyid? Dia yang ingin loe jadi bini ke limanya, dan kebetulan gue ketemu dia dan dia nggak percaya jika loe udah kawin dan gue malah disekap juga digebukin oleh anak buahnya dia. Untung saja ada bang Varo yang nolongin gue dan membuat mereka kapok, bahkan juragan Rasyid langsung masuk penjara tanpa ba bi bu lagi" jelas Xaqer yang membuat dia membolakan matanya dan ini bukan rahasia umum lagi. Jika juragan itu memang mengincarnya untuk dijadikan istri ke limanya.


"Apa loe bilang tadi? Kapan gue kawin dodol, loe kalo ngomong asal jeplak dan kagak pake Bismilah dulu" ucap Viera yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Xaqer padanya tadi.


"Eh, gue kira loe udah kawin. Soalnya udah beberapa hari loe kagak balik, terus tiba-tiba ada abang ganteng ini yang datang dan nyari-nyari loe juga" jawab Xaqer tanpa beban sedikit pun saat mengatakan nya pada Viera.


"Eh kamvret, loe kira kawin mudah kek balikin telapak tangan. Yang ada kalo gue kawin, loe juga yang bakalan jadi wali gue. Ngadi-ngadi aja loe" ucap Viera yang menggelepak kepala adiknya dengan kencang.


"Ya!!! Loe fikir ini kelapa apa main gelepak-gelepak sesuka hati loe. Gimana gue kagak kepikiran kesana dan ngomong sama juragan bangkotan itu, jika loe udah kawin. Bahkan Bos loe dihotel sampe nyari loe kesini, karena beberapa hari ini loe kagak masuk kerja dan tanpa kabar. Makanya gue ngomong loe udah kawin, emang salah gue ngomong gitu? Aneh loe! Sebenernya loe kemana sih?" teriak Xaqer yang tidak memperdulikan Varo yang hanya diam dan menatap keduanya yang sedang adu argument.


'Si alan nih manusia, dia yang nyekap gue dan dia juga yang datang kemari buat nyari-nyari gue? Gue sumpahin, bakalan jadi perjaka tua sekalian dan kagak ada yang mau sama loe' ucap Viera dalam hati yang melirik Varo dengan sinis.


"Gue ada urusan dan kagak mungkin bolak balik kesini. Karena jaraknya lumayan jauh" jawab Viera yang membuat Varo menarik sudut bibirnya tipis saat mendengar Viera malah membuat alasan pada adiknya.


"Gue kagak perduli jika loe ada urusan. Setidaknya loe kabari gue dan bilang kagak pulang. Biar gue kagak kepikiran dan khawatir akan keadaan loe, biar loe udah gede dan dewasa. Tetep saja loe itu cewek. Dan tanggung jawab gue gede ke loe" ucap Xaqer yang membuat Varo salut akan ucapan dari anak yang baru berusia 16tahun ini. Rasa empati dan juga perduli pada saudaranya itu tinggi.


"Maaf saya menyela pembicaraan dari kalian berdua. Ini sudah malam dan saya harus pulang sekarang. Untuk kamu, jangan bolos kerja lagi jika masih ingin bekerja dihotel itu" ucap Varo yang mengatakan nya penuh dengan karisma yang beluber saat mengatakan nya.


"Ah iya bang, maaf ya. Sudah membuat abang mendengarkan pembicaraan unfaedah antara kamu berdua. Dan terimakasih banyak sudah nganterin pulang kakak aku" ucap Xaqer yang berbicara dengan lemah lembut pada Varo. Sedangkan pada Viera malah sebaliknya, bahasanya juga loe gue.


"Iya Tuan Muda, saya akan masuk kerja lagi besok dan tidak akan terlambat. Terimakasih sudah mengantarkan saya pulang" ucap Viera yang menyindir Varo mengatakan itu semua.


"Assalamualaikum" ucap Varo yang masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari sana.


'Kenapa aku malah melepaskan nya? Bukankah aku akan mengurungnya hingga dia mencintaiku? Tapi aku merasa kasihan juga padanya yang terlihat tidak bahagia dan malah seperti tersiksa akan semua itu. Ya Allah, tolong buatlah dia memiliki perasaan juga padaku. Entah kenapa jika aku memperlakukan nya dengan kasar, aku sendiri yang merasakan sakitnya' ucap Varo dalam hati dan dia menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil lalu memejamkan matanya sejenak untuk bisa meringankan beban dalam fikiran nya yang entah kenapa selalu tertuju pada Viera dan saat dia menangis.


Tangisan nya membuat dia merasakan kesedihan yang sama dengan nya, bahkan dia sampai menyakiti dirinya sendiri saat dia berlaku kasar pada Viera. Saat melihat siapa menangis dan memakinya, bukan kemarahan atau ingin membalasnya dengan berkali-kali lipat pada Viera. Yang ada dia tidak bisa melakukan nya.


"Tuan Muda, kita sudah sampai" ucap supir yang mengantarkan Varo pulang.


Varo langsung keluar dari mobil dan segera masuk kedalam rumah. Dia seperti biasa, jika dia pulang malam. Zahiya akan selalu ada disana untuk menunggunya pulang.


"Mi, sudah aku katakan. Mimi tidak perlu menunggu ku pulang, Mimi harus banyak istirahat. Kesehatan Mimi sering turun beberapa hari ini" ucap Varo setelah mengucapkan salam pada Zahiya.


"Mimi tidak akan tenang jika anak-anak Mimi belum pulang semua. Kenapa kamu pulang terlambat? Apa pekerjaan kamu sangat banyak dikantor?" jawab Zahiya yang bertanya juga pada Varo yang hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Maaf, aku habis pergi dengan seseorang dan baru selesai mengantarkan nya pulang. Maaf, sudah membuat Mimi khawatir. Sekarang aku sudah pulang, Mimi istirahatlah. Karena aku yakin, jika bayi besar Mimi sedang misuh-misuh nungguin Mimi masuk kamar" ucap Varo yang membuat Zahiya merasa lebih tenang dan merasa jika Varo tidak terobsesi lagi akan sesuatu.


Dia sudah lebih dewasa dan memiliki perasaan juga. Dia harus berterimakasih pada gadis yang sudah membuat putranya ini berubah menjadi lebih baik dan tidak melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.


"Baiklah, Mimi akan istirahat. Kamu juga dan jangan pernah begadang untuk mengerjakan pekerjaan mu terus" ucap Zahiya yang memperingatkan putranya yang satu ini untuk tidak selalu begadang.


"Iya Mi, aku duluan masuk kamar. Good night Mi" ucap Varo sebelum meninggalkan Zahiya yang masih berdiri menatap punggung Varo yang berjalan menuju tangga.


"Good night boy" ucap Zahiya yang masih memperlakukan Varo seperti anak kecil. Walau dia sudah dewasa, Zahiya tidak pernah bisa menganggap Varo dewasa. Karena dia memiliki trauma tersendiri dalam hidupnya yang membuat Varo berbeda dari saudara kembarnya yang lain.


"Maafkan Varo Mi, Varo hampir saja melakukan kesalahan yang akan membuat Varo menyesal seumur hidup Varo" gumamnya saat sudah masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Varo hanya bersandar pada pintu dan dia mengingat kejadian belasan tahun silam. Dimana dia pernah merasa kehilangan yang teramat sangat dalam hidupnya. Bahkan dia sampai terobsesi pada suatu benda dan membuat keluarganya yang lain bersedih juga sering menasehatinya untuk tidak seperti itu. Tapi tidak pernah dia dengarkan.


__ADS_2