
Viera benar-benar sangat panik saat melihat keadaan Varo yang terluka sangat parah. Bahkan bodyguard yang bertugas menjaganya tidak membawa mereka ke rumah sakit umum.
Melainkan ke rumah sakit keluarganya sendiri yang sudah disterilkan dari para orang-orang yang bisa saja melihat keadaan Varo sekarang.
"Abang kenapa melakukan ini semua? Apa abang tidak berfikir, jika yang abang lakukan ini membuat aku bersedih dan panik seperti ini" gumam Viera saat menunggu didepan ruangan UGD.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Mimi Zahiya menatap kearah Viera yang sedang menangis.
"Sayang, jangan membuatnya semakin panik dan takut" ucap Pipi David yang menenangkan Zahiya supaya tidak marah pada menantunya.
"Nak, jawab dengan jujur. Jika kamu ingin mengatakan nya, jika tidak juga nggak apa-apa" ucap Pipi David bertanya pada Viera.
Saat akan menjawab pertanyaan dari Pipi David, dokter Aruna datang untuk memberitahukan keadaan Varo sekarang.
"Tuan, Queen dan Nona. Tuan Muda kondisinya sangat kritis, dan membututuhkan donor darah yang banyak. Kami sudah melakukan nya hingga habis beberapa kantung darah. Tapi karena banyak keluar darah, jadi masih membutuhkan donor darah lagi" jelas dokter Aruna pada mereka bertiga.
"Memangnya apa golongan darah abang?" tanya Viera memberanikan diri untuk bertanya pada dokter Aruna.
"O resus negative Nona" jawab dokter Aruna pada Viera.
"Kebetulan, golongan darah saya juga O resus negative. Apa saya bisa mendapatkan nya?" tanya Viera yang sudah mulai bersemangat kembali untuk bisa melihat Varo sembuh lagi.
"Kalau begitu, kita periksa dulu Nona. Karena kami tidak ingin melakukan kesalahan seperti sebelumnya. Mari Nona" ucap dokter Aruna mengajak Viera untuk masuk kedalam ruangan periksa.
Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan, Viera dibawa masuk kedalam ruangan UGD. Tempat Varo mendapatkan perawatan. Viera menatap sedih pada Varo yang terbaring lemah dengan berbagai kabel dan selang.
'Bang, maafkan aku. Aku sudah membuat abang seperti ini, aku akan memberikan sebagian darah aku untuk kamu bang' gumam Viera yang sudah berbaring disamping Varo dengan menerima suntukan dan juga berbagai macam jarum terpasang di kedua tangan nya.
__ADS_1
Viera menggenggam tangan Varo yang berada didekatnya. Dia merasa sedikit pusing saat darahnya diambil dan Viera masih bersemangat untuk bisa membuat Varo sehat kembali dengan darahnya.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Apa anda yakin masih kuat dan melanjutkan pendonoran nya?" tanya dokter Aruna pada Viera.
"Saya baik-baik saja. Apa suami saya sudah lebih baik? Apa tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan keadaan nya?" jawab Viera sambil bertanya balik pada dokter Aruna.
"Tuan Muda baik-baik saja Nona, hanya nunggu pemulihan saja" jawab dokter Aruna pada Viera.
"Terimakasih" ucap Viera sebelum dia memejamkan matanya.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Nona" tanya dokter Aruna yang mencoba membangunkan Viera.
"Sus, tolong segera berikan penolongan pertama. Ini diluar dugaan dan perkiraan, cepat" ucap dokter Aruna yang meminta seorang suster membantunya.
"Baik dokter" jawab suster tersebut.
"Dok, kondisinya semakin melemah dan mungkin saja dia koma" ucap salah seorang yang membantu dokter Aruna memeriksa Viera.
'Jangan, jangan lagi. Jangan seperti dulu lagi, Tuhan tolong aku, jangan biarkan dia kenapa-kenapa dan membuat semuanya terlambat. Tolong selamatkan dia Tuhan' ucap dokter Aruna yang terus bergumam dan memeriksa. Memberikan yang terbaik untuk Viera.
Dokter Aruna benar-benar sangat berusaha keras. Bahkan dia meminta bantuan pada Ayah nya yang sudah pensiun dari jabatan dokternya. Dia terus saja melakukan yang terbaik untuk Viera.
Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Ayah nya, dokter Aruna yang tidak lain adalah anak dari dokter Aaron Ryan. Dokter pribadi King Zayn Malik sendiri.
Bukan Viera yang tersadar duluan. Walau keadaan nya sudah melewati masa keritisnya, tapi dia belum membuka matanya. Yang terbangun lebih dulu malah Varo, membuat dokter Aruna dan para perawat hanya bisa menunggu. Dan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian tegang?" tanya Varo yang menatap kearah dokter Aruna yang menunduk.
__ADS_1
Varo merasakan tangan nya digenggam dari samping. Saat menoleh, dia melihat Viera yang terlihat pucat dan seperti tidak ada darahnya diwajahnya.
Varo langsung bangkit dan menatapi Viera yang tertidur sangat lelap. Tanpa terusik sama sekali, matanya langsung memerah dan rahangnya mengeras. Menahan marah yang siap meledak.
"Ap yang kau lakukan padanya? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Varo tanpa mengalihkan pandangan nya dari Viera dan menggenggam tangan nya.
"Maafkan saya Tuan Muda. Nona mendonorkan darahnya pada anda, tapi sebelumnya saya sudah memeriksanya dan memastikan keadaan nya. Karena semuanya baik-baik saja, maka saya berani melakukan pendonoran darahnya pada anda. Maafkan saya Tuan Muda" jawab dokter Aruna sambil menunduk.
"Lalu, bagaimana keadaan nya?" tanya Varo lagi sambil terus menggenggam tangan Viera dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Nona, Nona sudah lebih baik dan sudah melewati masa keritisnya. Hanya menunggu Nona sadar saja" jawab dokter Aruna yang sedikit tergagap menjawab pertanyaan dari Varo.
"Jika sampai terjadi sesuatu padanya karena ulahmu. Bersiaplah, karena aku tidak perduli kau anak siapa!" ucap Varo dengan penuh penekanan disetiap katanya.
"Iya Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi dulu, saya mau menemui Ayah saya dulu" ucap dokter Aruna yang izin pamit pada Varo.
Varo hanya diam saja dan masih menatap kearah Viera. Dia terus menggenggam dan mengusap-ngusap kepalanya, lalu mengecupi punggung tangan Viera dengan lembut dan dia menangis.
"Kenapa kamu melakukan ini? Apa kamu tidak tahu, jika melihat kamu seperti ini membuat aku semakin ingin melukai diriku ini. Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa honey?" tanya Varo yang menggenggam tangan Viera dan mengusap pipi Viera.
"Maafkan aku, maafkan semua kesalahan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi, asalkan kamu mau bangun. Jangan seperti ini, jangan membuat aku semakin bersalah padamu honey. Maaf" ucap Varo yang memeluk Viera dan dia ikut berbaring disamping Viera sambil memeluknya.
.
Sedangkan diluar ruangan UGD Zahiya dan David sedang berbicara dengan Aaron yang sengaja dipanggil oleh dokter Aruna, anaknya sendiri.
"Bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Zahiya menatap kearah dokter Aruna yang baru keluar dari ruangan UGD.
__ADS_1
"Sudah melewati masa keritisnya Queen, Tuan Muda sudah sadar dan sedang menemani Nona" jawab dokter Aruna yang menunduk takut pada Zahiya.