Odd Eye

Odd Eye
Part 1. Kehidupan Hanaya


__ADS_3

...Kapan penderitaan ini akan berakhir?...


...__Oddeye__...


"Hanaya!"


Byur ! Kesadaran Hanaya ditarik paksa begitu air dingin menguyur tubuhnya.


Nafas perempuan itu menderu, menatap Saudari tiri yang tengah menatapnya nyalang "Jangan malas-malasan! Bangun, pergi kerja dan beri kami makan! Jika kau tak bekerja siapa yang akan memberi kami makan?"


Hanaya memilin jemarinya gugup


"Itu, Kira kakak merasa sakit. Mungkin demam"


Perempuan itu terkejut begitu adiknya menariknya, menyeretnya kedalam kamar mandi "Aku tak peduli! Cepat bersihkan dirimu, lalu masakan sesuatu untuk kami, cepat! Aku dan ibu lapar!"


Debuman pintu membuat Hanaya menangis, sementara matanya menatap nanar memar di lengan. Bahkan semalam ibunya memukuli Hanaya dan memaksanya berendam di air dingin, itu sebabnya Hanaya demam pagi ini. Ia pikir mereka akan sedikit peduli, namun nyatanya tidak. Hanaya adalah budak dirumah milik ayahnya sendiri.


"Hanaya cepatlah!"


Buru-buru menghapus air mata, lantas berdiri meski gementaran dan dingin, Hanaya bergegas berganti pakaian lalu turun ke bawah.


"Ib-ibu maaf-


PLAK ! Jejak panas menimbulkan perih di pipi Hanaya. Ibu menamparnya.


Senyum sinis tersungging di bibir Kira lantas mengadu bohong "Ibu bahkan ketika aku membangunkannya dia masih tertidur dan malah memarahiku"


Hanaya meringsut mundur begitu tubuh ibu tirinya mendekat. Perempuan itu meringis kala rambutnya dijambak, lantas mengantukan wajahnya pada meja.


"Berani sekali, ya? Kau anak pertama! Harusnya bangun lebih dulu dan menyiapkan segalanya untuk kami! Bukan bersikap seperti nyonya besar dan harus dibangunkan putriku!"


"Pergi dan masak untuk kami, sebelum kesabaranku habis dan menamparmu lagi!" maka, meski kepalanya berdengung hebat dan segalanya nampak buram, Hanaya berusaha bangkit. Melaksanakan perintah ibunya.


***


"Hanaya sebaiknya kau istirahat saja, wajahmu pucat sekali" ujar Ina khawatir. Yang dibalas gelengan Hanaya. Perempuan itu tetap berdiri di meja mengabaikan ucapan Ina.


Dia bekerja disini. Di toko buku milik sahabatnya ini.


"Hanaya, ayo" Ina menyeretnya, sementara Hanaya tak punya tenaga lagi untuk melawan.


Keduanya menuju kamar kecil tempat Ina biasanya tidur, saat perempuan itu tak ingin pulang.

__ADS_1


"Akan ku bawakan makanan dan obat penurun demam. Tunggu sebentar, ya?"


Hanaya mengedarkan pandang, kamar ini minimalis dan tak terlalu kecil, di jendela ada tiga pot bunga. Lalu disebelah jendela ada rak kecil berisi buku. Ina pecinta bunga dan buku, jadi melihat kamar gadis itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya tentang kesukaan Ina.


Mata Hanaya menatap lekat satu buku tebal disana bertuliskan 'Odd eye' buku kuno yang menarik. lantas bergerak dengan lemas, Hanaya mengambilnya. Begitu halaman pertama terbuka dan dibaca olehnya Hanaya sadar ini adalah sebuah cerita.


"Itu milik nenek ku" suara Ina membuat Hanaya menoleh. Perempuan itu meletakan nampan pada meja kecil disamping tempat tidur, menarik buku dari tangan Hanaya "Bacanya nanti saja, untuk saat ini kau harus istirahat"


"Tap-


"Hanaya, kesehatan jauh lebih utama dari apapun. Sekarang makan. Aku menutup toko sebentar, jadi tak perlu khawatir"


"Ma-maaf, merepotkan mu"


Ina menggeleng "Akan lebih merepotkan lagi kalau kau sampai sakit parah. Sekarang, makan"


"Tunggu, kenapa ada lebam dan luka gores di dahimu?" Ina mengangkat poninya untuk menempelkan plester penurun demam namun tak sengaja menangkap lebam disana.


"Ti-tidak apa-apa, hanya terantuk" jelas Hanaya sedikit berbohong.


Menghela nafas pelan Ina sadar Hanaya menyembunyikan banyak hal. Namun sekali lagi dia tak dapat memaksa, itu privasi Hanaya


"Ceroboh, Sekarang makan dan biarkan aku mengobatinya bisa infeksi jika begini."


"Maaf-


"Maaf-


"Makanlah dan berhentilah minta maaf. Akan ku katakan pada ibumu bahwa kau menginap dirumahku, ada pekerjaan tambahan."


Ina beranjak pergi, sementara Hanaya menatap punggung gadis itu lekat "Terima kasih Ina" setidaknya Hanaya masih punya Ina yang sangat baik padanya.


***


"Syukurlah sudah membaik" gumam Hanaya begitu suhu tubuhnya berkurang begitu pun dengan pening di kepalanya.


Matanya melirik jam di tangannya "Baru pukul satu. Itu artinya aku tidur dari pagi hingga malam, Ina pasti kerepotan. Kau pembawa masalah Hanaya" rutuknya pada diri sendiri.


"Esok setelah terima gaji aku harus membayar semua ini, makanan dan tempat istirahat juga karena absen bekerja selama sehari ini" ujarnya.


Mata Hanaya bergulir menangkap buku di meja, meraihnya lalu mulai larut dalam membaca. Tak banyak konflik disana, hanya menceritakan kenakalan putri tunggal Viscount Lances.


Menghembuskan nafas Hanaya menerawang "Andai saja hidupku seperti itu" gumamnya merasa iri.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya itu aku. Semua tokoh utama wanita punya kesulitan, lalu datang pangeran dan hidup mereka berubah. Seharusnya aku mengalami yang seperti itu bukan Viviana" tangan Hanaya tanpa sadar mengepal, muncul pembandingan diri.


Setelahnya perempuan itu menghela nafas pelan, sadar bahwa dia berlebihan "Kau mulai membandingkan dirimu sendiri, lupakan soal itu Hanaya. Mari tidur"


Lantas mulai membaringkan diri, yah esok dia harus mulai bekerja. Hanaya harap saat pulang dia tak akan ditendang dari rumah seperti sebelumnya. Beginilah kehidupannya, sangat menyedihkan.


***


"PERGI!" Hanaya menangis begitu melihat ibu tirinya membuang semua barang-barangnya, dia memang sering di usir begini.


"KAU MENGADU PADA SAHABATMU ITU KAN?!" Hanaya menggeleng dengan tangisan kian deras "Tidak, ibu"


"LALU KENAPA INA DATANG, MEMAKI KU DAN PUTRIKU?!" Hanaya tak tau mengenai itu. Apa Ina datang ke sini saat Hanaya terlelap ? Lalu dari mana dia tau Hanaya punya masalah ?


"Tid-


"Kau itu pembohong! Aku tak ingin menampungmu lagi! Pembawa sial! Suamiku meninggal karenamu dan sekarang kau menyebarkan fitnah tentangku! Sialan!" Hanaya menahan sakit begitu ibu tirinya menendang perutnya. Namun dengan kekeh perempuan itu meringsut, memeluk kuat kedua kaki ibunya, menangis keras disana.


"Ibu- ak-aku akan tinggal dimana?"


"Apa aku terlihat peduli?" Ibu tirinya mencengkram pipinya kuat "Pergilah sebelum aku memukulmu hingga kau mati"


Akhirnya, terpaksa Hanaya menyeret langkahnya terlalu takut di pukuli lagi. Tubuhnya selalu terasa sakit.


Hujan turun, dan Hanaya menangis menyeret tas dengan memeluk buku cerita milik Ina. Kemana lagi dia harus pergi ?


Ayahnya telah berpulang, begitu pula dengan ibu kandungnya. Lantas kemana Hanaya pergi? Dan pada siapa dia mengadu?


Entahlah.


Lebih baik jika mengakhiri hidup sekarang juga bukan?


Hanaya tak punya apapun lagi, lantas untuk apa bertahan ?


Berdiri diatas pembatas jalan, perempuan itu menatap ke bawah. Jika terjatuh dari sini maka ia akan mati bukan?


Baiklah, ini akhirnya.


Menutup mata, lantas menerjunkan tubuh ke bawah.


Hanaya menyerah, selamat tinggal dunia.


...__ODDEYE__...

__ADS_1


...Lihatlah kebenaran melalui mata ganjil ini dan jatuhlah semakin dalam....


Note: Reupload230321CL


__ADS_2