Odd Eye

Odd Eye
Part 16. Seutas keraguan lainnya


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Tuan, tuan muda dan nona bisa menginap untuk malam ini." ujar Anne. Jamuan telah usai beberapa waktu lalu. Kini telah larut, tetapi ketiganya harus kembali.


"Maaf, Anne. Istriku akan mengamuk jika kami berada disini lebih lama." kelakar ayahnya. Anne dan semua orang tergelak.


Mungkin dengan pemimpin yang seperti ini, etiket antar bangsawan tak di berlakukan. Lihatlah ayahnya ini?


"Nyonya bukan pencemburu seperti itu mungkin hanya tuan yang merindukan nyonya." kini balik ayahnya yang tergelak.


"Kau memang sangat mengenali ku. Kami akan kembali nanti, dengan formasi lengkap."


"Lalu bagaimana dengan anda tuan muda Xavier?"


"Ada beberapa hal mendesak yang harus ku kerjakan. Maaf bibi." meski ekspresinya dingin, penyesalan ada dalam suara pria itu.


Anne menghela nafas, wajah-wajah lesu di belakangnya ikut merusak suasana hati Hanaya. Empat anak kecil itu merengsek, Hanaya menunduk lalu mendekap mereka.


"Kakak kau harus kembali lagi, nanti." ujar Digitha


"Tentu."


"An-anu. Lukisan ku juga harus kakak ambil." Hanaya tersenyum dengan sabar mendengarkan Allen kecil lalu mengangguk. Kesedihan mendominasi wajah gadis-gadis kecil itu. Lalu bergerak memberi salam perpisahan pada Xavier dan ayahnya.


"Kak Langit harus ingat, jangan suka perhatian pada orang lain. Cukup Fanesh saja" ucapan perpisahan Fanesh justru mengundang gelak tawa.


Xavier hanya mengangguk.


"Kalau begitu kami pergi."


"Sesekali berkunjung lagi, ya?"


"Sampai jumpa tuan-tuan dan nona."


"Semoga selamat sampai kediaman" di iringi teriakan, kereta kuda berpacu. Hanaya sebenarnya enggan hanya saja mau bagaimana lagi, dia punya agenda lusa untuk Podium Disscusion dan lamaran resmi Javier. Dalam waktu tiga hari kedepan dia akan sangat sibuk, belum lagi pesta teh bersama dua sahabatnya.


"Jika kau ingin berkunjung ke Vilanc datanglah kapan saja." ujar ayahnya.


Ada hal lain yang masih mengganjal. Bagaimana pertemuan ayahnya dan Xavier?


"Ayah, bagaimana ayah bertemu Xavier?" ada hening sesaat. Wajah sedih ayahnya nampak lalu nada penyesalan melayang "Kau sudah tau, ya?"


Masa lalu kelam daerah sederhana penuh kebahagiaan itu.


"Xavier datang lima tahun lalu. Menawarkan bantuan, bahkan memasukan beberapa budak ke Vilanc"


Lima tahun yang lalu, itu artinya tepat saat hari pelantikan Xavier menjadi jendral utama !

__ADS_1


Mengingat perbedaan tiga tahun antara Xavier dan Javier lantas, apa penyebabnya Xavier turun dari tahta? Dengan kelahiran lebih awal bukankah dia pantas berkuasa?


Ada yang terlewat. Sesuatu tentang Xavier yang tak di jelaskan. Awalnya Xavier bagai pion tak berguna yang keberadaannya akan menghilang kapan saja, tapi kini semakin mengenalnya semakin kuat pula keberadaannya.


Ada rahasia dibalik tahta milik Javier. Ada sesuatu yang tak sesederhana di dalam novel.


Sial !


Jangan pikirkan apapun Hanaya. Tutup mata, berpura-pura tak tahulah dengan begitu semua akan berakhir sama.


Sebab praduganya menggiring Hanaya pada sesuatu yang tak ingin dia ketahui- dunia ini mungkin tak sesederhana dalam angannya.


Ada sesuatu- sesuatu yang salah.


Seakan kisah ini, tidak akan berakhir bahagia.


Ketakutan bersarang di dada, setiap detakan merujuk pada ketakutan luar biasa menghantui Hanaya. Tiba-tiba saja, dia berharap tak pernah tau- atau pemikirannya tak bergerak sejauh ini. Lalu dengan menutup mata akankah semua berakhir seperti yang ia pikirkan?


"Viviana, ada sesuatu yang sakit?" Hanaya menatap ayahnya, seluruh darahnya terasa terhisap hanya dengan tebakan itu.


Dengan suara yang di paksakan Hanaya menjawab "Ak-aku baik-baik saja ayah. Hanya sedikit lelah"


Dan pelukan hangat Viscount Lances semakin menambah ketakutannya. Meski hangatnya menembus tubuh dan merengsek ke hati, tetap saja Hanaya masih merasakan ketakutan besar.


Bagaimana jika semuanya tak sesederhana yang ia pikirkan ? Bagaimana jika akhir kisah tak seindah ini ?


Tidak ! Jangan bayangkan apapun ! Lupakan semuanya Hanaya ! Kau akan baik-baik saja.


Opsi terbaik adalah menutup mata -berpura-pura tak tahu


***


"Nona, apa ada sesuatu yang menganggu anda?" Tanya Brianna sembari memijat tubuhnya.


Malam sudah larut. Tapi Hanaya butuh semacam ekstasi tempat pelarian untuk melupakan praduga yang kemungkinan besar-benar adanya.


Namun, aroma wangi ini tak mampu meredam kegelisahan yang muncul. Bahkan pijatan Brianna tak dapat merilekskan otot tubuhnya yang tegang sebab pemikiran ini.


"Menceritakan kegundahan akan mengurangi pemikiran." seperti biasa, Brianna terlalu peka untuknya.


Tapi apa yang dapat Hanaya katakan? Menceritakan kegelisahan ini pada Brianna memang tepat untuk mengurangi ketakutan, tetapi dia hanya akan memaparkan asal-usulnya.


Membenarkan praduga Brianna. Bahwa Hanaya bukanlah Viviana. Bahwa perubahan sikapnya adalah sebuah rancangan.


Bahwa dia, Hanaya, gadis kumuh nan egois yang menginginkan setiap kesempurnaan, mengubah Viviana dan menyesuaikan sikap dengan dunia kebahagiaan yang telah di tetapkan, semata demi sempurna dalam segala aspek. Tapi patah hati kini merudung, dan ketakutan menghantui akan pandangan kehidupan yang telah melenceng.


Takut bahwa ia adalah batu yang menyebabkan riak memenuhi kolam. Merebak hingga setiap sudut kolam, mengacaukan takdir indah yang di lukis. Bahwa kini penyesalan mendominasi asa.

__ADS_1


"Ti-tidak. Aku baik hanya sedikit lelah." Sadar Viviana tak ingin membuka diri, Brianna akhirnya mengangguk.


"Tapi, kapanpun anda butuh. Saya akan selalu ada disana." harusnya ia terharu, tetapi bibirnya malah mengukir senyum miris.


Andai Brianna tau siapa jiwa didalam tubuh ini serta percaya adanya perpindahan jiwa, akankah kata-kata itu dapat di utarakan?


Meski Brianna pernah menegaskan ketidakpedulian akan hal itu, tapi ini adalah jenis pengkhianatan.Hanaya merasa bersalah menipu semua orang. Ayahnya, Ibu, Brianna dan Javier. Dia hanya ingin bertahan dan hidup bahagia, itu tak salah bukan?


Senyum miris kian mengembang.


Kau hanya mencari pembelaan diri Hanaya ! Mengecam diri sendiri, itu yang Hanaya lakukan.


Sikap pengecut yang tak menghilang. Dia akan selalu melarikan diri jika kenyataan tak sesuai yang ia inginkan. Seperti bunuh diri di kehidupan lampau, Hanaya terlalu mengenal dirinya sendiri. Jika batas bertahannya goyah- maka Hanaya akan melarikan diri sekali lagi.


Pengecut merupakan bagian dari dirinya. Tak akan pernah menghilang. Hanaya tertawa keras dalam hati, melayangkan penghinaan atas diri sendiri.


"Kalau semua tak sejalan dengan yang kau inginkan, apa kau akan melarikan diri?" Sentuhan Brianna mengerat. Tak perlu melihat wajah untuk tau emosi sesaat tadi.


Brianna marah.


"Jika nona berpikir lari akan menyelesaikan segalanya, maka anda salah. Dengan pemikiran sempit seperti itu, nona tak dapat bertahan hidup," Brianna mengecamnya secara langsung.


"Dibandingkan lari, jauh lebih baik jika anda berusaha bertahan sekuat tenaga mempertahankan kehadiran anda. Dunia itu kejam, seperti yang anda ketahui yang kuat adalah pemenang, dan yang kalah ada bidak. "


Meski kecaman Brianna tepat menohok egoisme Hanaya pemikiran untuk melarikan diri tetap mendominasi.


Dia tak sekuat itu !


Kala semua tak sejalan dengan yang di pikirkannya, Hanaya pasti akan melarikan diri lagi.


Tekad untuk menyempurnakan kehidupan Viviana yang kini miliknya, lenyap tak bersisa.


"Tapi, jika aku melupakan semuanya dan berbohong baik-baik saja, aku akan tetap hidup bukan?"


Benar. Itu pilihan tepat. Dia akan melupakan semuanya. Bertingkah seakan tak ada yang pernah mengusik pikirannya dan terus hidup dengan keyakinan pada takdir tertulis.


Di novel ini, novel yang telah beredar ini kisah Viviana akan tetap bahagia.


Hanaya akan berpegang pada seutas tali harapan itu. Mengabaikan segala kenyataan dan hidup dalam kepura-puraan jika ini dapat menciptakan cerminan ilusi dari dunia impiannya.


Egois sekali. Dia ingin melindungi dirinya sendiri, memasang pertahanan bagai duri mawar agar tetap tumbuh.


Hanaya memang egois.


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Reupload230804CL

__ADS_1


__ADS_2