
...▪︎OODEYE▪︎...
"Ayah, ibu " Hanaya berusaha menahan tangis, sementara kedua orang tuanya memeluk gadis itu, Viviana.
"Yang Mulia, mohon jaga putri kami dengan baik"
Javier tersenyum, menggenggam tangan Viscountess lantas menepuknya pelan, memberi ketenangan "Tentu. Itu adalah tugas saya untuk menjaga wanita yang saya cintai. Jika Viscount dan Viscountess merindukannya datanglah ke istana. Disana akan selalu terbuka untuk anda berdua."
"Kalau begitu saya punya satu permintaan Yang Mulia."
"Apa itu?" Tanya Javier pada ayahnya.
Pria parubaya itu memberi kode, lalu Brianna maju dan membungkuk sopan "Izinkan pelayan ini ikut serta. Dia adalah pelayan terdekat putriku." ujar sang Viscount.
Benar, Brianna.
Hanaya belum bercengkrama, atau mengucapkan salam perpisahan dengannya sementara seluruh barang-barangnya telah di angkut di kereta.
Javier menatap Brianna sebentar, lantas menjawab "Istana tak kekurangan satu pelayan pun. Lagi pula akan lebih baik jika dia tinggal disini dan merawat anda berdua" tiba-tiba saja, tanpa sebab nada Javier mendingin.
Apa ia tak suka Brianna ikut?,
Mungkinkah Javier merasa tersinggung dengan hal ini?
Bisa saja pria itu mengira ayahnya meremehkan pelayanan di istana.
"Benar yang di katakan Javier, ayah. Lebih baik Brianna ada disini, menjaga ayah dan ibu" ucap Hanaya tak ingin terjadi pertentangan antara ayah dan suaminya.
"Lagi pula di istana aku dapat memilih satu untuk di jadikan pelayan pribadi. Tak perlu cemas." Tetapi kegelisahan masih saja nampak di wajah Viscount Lances.
Mungkin sebab dia tak akan bebas mengunjungi putrinya. Istana bukan tempat dimana seseorang dapat masuk seenaknya. Meski kaisar sendiri telah memberi izin, Viscount Lances tetap tau bahwa itu bukanlah hal yang baik dengan terus bertandang ke istana setiap hari. Dia hanya dapat datang ke sana saat terjadi masalah besar. Serta keberadaan Brianna, pelayan kepercayaannya yang di tolak menambah kekhawatirannya.
"Ayah..."
"Baiklah, jika itu maumu. Tapi Yang Mulia jika berkenan izinkan kami saling menyurati setiap hari, apa ini di perbolehkan?" Viscount Lances belum menyerah.
Bagaimana pun, dia merasa harus memantau kondisi putrinya selama disana. Meski istana kelihatan aman, Viscount tau serangan dari dalam dapat terjadi kapan saja.
"Tentu"
Di peluknya keduanya sebagai perpisahan terakhir.
Baru saja hendak pergi, Viscountess mendekat memberinya sebuah kalung ruby merah.
"Hadiah untukmu"
Hanaya mengangguk dengan senyum lebar.
Seluruh pelayan berkumpul di halaman memberi hormat.
Kereta kuda mulai bergerak.
Yah, dari sini kehidupan barunya akan di mulai.
***
__ADS_1
Mungkin, naiknya Viviana merupakan pembahasan paling sensasional di kalangan bangsawan dan rakyat. Ralat, sejak tumbuh dia memang menjadi fokus sensasional, hanya saja perhatian lebih terarah padanya sejak debutante.
Wanita yang dipilih oleh dewa.
Julukan terbaik yang di sematkan padanya, sesudah label-label negatif sebelumnya.
"Pesta semalam sangat meriah! Belum pernah ku lihat jamuan semewah itu!"
"Benar! Kita bahkan di izinkan membawa anggur merah yang mahal harganya !"
"Jangan lupakan undangan yang kita terima bertinta emas! Benar-benar sosok ratu yang hebat !"
"Ku dengar ini keinginan ratu sendiri untuk mengundang kita. Jamuan dan undangan semuanya menggunakan dana pribadi"
Seruan itu membuat semua orang kaget "Benarkah ?"
"Kau jangan menipu ?"
"Tolong jangan bohong, hey !"
"Sungguh ! Kakakku pelayan di istana dan dia mengatakan hal ini. Ratu mengurus semua mengenai jamuan kita !"
"Hebat! Kita sangat di berkati dewa !"
"Ah, pantas saja Yang Mulia jatuh hati padanya! Belum pernah ada ratu yang seperti itu. Apalagi saat dia membungkuk pada kita, itu membuatku terenyuh"
"Ya, kaisar benar-benar menemukan ratu yang tepat! Dia benar-benar merakyat. Rendah hati dan sangat cantik. Di bawah pimpinannya kita pasti akan semakin sukses !"
"Tapi dari mana asal dana pribadi itu ? Ku dengar seluruh pesta memakan dua juta ruth mungkin lebih. Itu sangat banyak, belum ada ratu yang menghabiskan dana sebanyak itu. Ratu dengan biaya paling mahal hanya satu juta ruth, orang tua kaisar terdahulu"
"Itu memang benar. Meski ayahnya, Viscount Lances punya Vilanc sebagai daerah yang sukses, pengeluaran sebanyak itu sangat merugikan bukan? Apalagi dengan survenir yang katanya ukiran dari permata"
"Mahar ?!" Seru semua orang serempak. Terkejut tentunya.
"Ya. Satu peti permata di uangkan dan satunya lagi di serahkan untuk pembuatan ukiran" terang si gadis.
"Beliau sangatlah baik. Sangat menyedihkan saat tau kita merupakan bagian dari penolakan terhadapnya"
"Itu benar. Belum pernah kita di perlakukan seistimewa ini. Bahkan jika ratu mengundang untuk pesta itu hanya dalam bentuk lisan. Tapi ratu Viviana bahkan mengirim undangan? Kita sepertinya sangat istimewa baginya. Aku menyesal menolaknya dulu"
"Benar, bahkan saat kita memberi hadiah beliau dengan bijak menyarankan untuk bantuan bagi utusan dewa lainnya. Kita sejak awal salah menilai ratu"
Segera, topik yang berhembus memunculkan penyesalan sekaligus rasa kagum pada sosok Viviana. Mungkin sebab caranya memperlakukan mereka dengan sangat terhormat.
Sementara pembahasan mengenai seberapa loyalnya sosok Viviana, pertemuan faksi diadakan.
"Ini saatnya memberi dukungan pada ratu!"
Faksi rasialis.
Faksi yang terdiri dari kumpulan bangsawan yang memiliki satu tujuan, perbedaan antara bangsawan dan rakyat.
Faksi ini menuai banyak penolakan. Segelintir bangsawan yang mempertahankan perbedaan derajat atau martabat menurut status sosial. Faksi ini terbentuk sejak kaisar terdahulu meresmikan persamaan derajat antara bangsawan dan rakyat biasa.
Di perbolehkan saling menghormati, tetapi untuk melayangkan bullian secara martabat sepenuhnya di larang. Mirisnya, Vilanc daerah budak yang masuk dalam pusat ekonomi Utopia mengalami kesenjangan sosial ini.
__ADS_1
Rasialisme berdasarkan martabat oleh rakyat Utopia sebab hanya satu masalah, status budak seluruh penduduk di sana.
"Tidak! Mendukung ratu akan sangat bertentangan dengan tujuan faksi ini!" Lady Adelle menyela. Menolak rencana itu.
"Kita telah mengamatinya. Ratu yang membungkuk pada rakyat adalah sebuah penghinaan! Bagaimana mungkin kita mendukungnya?"
Saran Baron Alex jelas sangat tidak sesuai tujuan pembentukan faksi ini.
"Adelle, itulah sebabnya kau tak pernah menjadi ketua faksi. Kau bodoh" desisnya dingin.
"Ratu, seperti yang di ketahui adalah orang yang sangat kaisar cintai, orang yang dengan mudah mempengaruhi kaisar. Jika kita memiliki dukungan ratu, dampak besar tentu akan terjadi"
"Aku mengumpulkan kalian semua disini bukan tanpa tujuan. Ratu adalah pijakan terhebat. Kita bisa menjadi pendukungnya lalu mempengaruhi pemikirannya. Meski Ratu di puji oleh rakyat, tanpa dukungan faksi kekuatan Ratu sendiri seperti pasir yang tersapu air laut."
"Secara perlahan, kita bisa mempengaruhi Ratu. Dan beliau bisa mempengaruhi kaisar, lalu tujuan faksi dapat tercapai"
"Apa kau pikir semudah itu? Faksi kita telah terkenal luas karena cara pandangnya, kau berpikir ratu tak akan waspada?" Adelle menyela sinis.
Dia benci Viviana setelah melihatnya membungkuk. Sungguh mencemarkan figur Ratu yang anggun. Bagaimana mungkin pemimpin negeri matahari harus tunduk di bawah rakyat yang rendah?
Itulah sebabnya parlemen membencinya dan mendukung Madelin.
"Justru dengan mengajukan kesepakatan, kita bisa membuat citra ratu tercemar. Banyak rakyat yang akan memusuhinya. Dia tak akan punya pilihan lain selain menerima kita"
"Kaisar mendukungnya. Jika terjadi sesuatu dengannya kita semua akan mati" suara Adelle tak lantas membuat Alex takut, pemuda itu malah terkekeh.
"Kaisar hanya satu, tetapi faksi kita memiliki ribuan bangsawan sebagai penyokong. Itulah cara kita bertahan selama ini." benar, dibawah kekuasaan Kaisar, faksi ini seharusnya telah di musnahkan. Sayangnya hampir keseluruhan bangsawan Utopia memiliki pemikiran yang sama. Jika menumpas hingga akarnya, tentu akan memberi dampak di segala bidang. Bangsawan punya andil dalam setiap bagian kecil Utopia. Mereka adalah pilar. Seperti rantai makanan, sederhananya. Saling membutuhkan.
Kesamaan derajat? Lelucon yang sangat menghibur! Bagaimana mungkin rakyat yang berkekurangan setara dengan bangsawan yang melimpah hartanya?
Bagai menyandingkan kuda dengan katak.
Tak peduli sesejahtera apapun Utopia perbedaan kekuasaan haruslah ada. Begitulah anggapan mereka.
"Ratu pasti akan menerima kita. Siapa yang dapat menolak dukungan hampir seluruh bangsawan?"
"Meski Ratu mempunyai dukungan rakyat, dia tetap membutuhkan penyokong dalam pemerintahan. Dan ini saatnya bagi kita untuk maju" imbuhnya lagi
Viviana adalah tangkapan yang besar. Mereka harus bergerak cepat.
"Jika kalian setuju dengan usulan ku angkat tangan kalian"
Seluruh bangsawan yang tergabung dalam inti faksi saling berdiskusi, cukup lama, hingga mencapai satu kesepakatan.
"Semuanya setuju"
Adelle mengepalkan tangan melihat itu. Jadi, untuk kedepannya mereka akan menjadi kaki tangan Ratu dungu itu ?
Kekalahan jumlah suara jelas membuat Adelle tak mampu menyuarakan penolakan. Dia dengan sangat tak suka terseret di dalam hal ini.
"Adelle, lihatlah bagaimana aku mencapai tujuan faksi kita"
Adelle mendengus mendengar deklarasi sombong itu.
"Ya, akan sangat ku nantikan, kegagalanmu,kak "
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
*Note: Reupload052305CL*