Odd Eye

Odd Eye
Part 7. Insiden


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Ada apa Xavier?" Javier bertanya, tatapan matanya menghunus tajam. Ekspresi ramah menguar entah kemana.


"Yang Mulia, daerah Dorth sepertinya dimasuki penyusup, ada beberapa tanda seseorang menyelundupkan budak" mata Javier berkilat.


"Apa ada yang mengetahui hal ini selain kau?"


Xavier menggeleng "Tidak Yang Mulia."


"Kalau begitu selidiki hingga tuntas, tanpa di ketahui seorang pun." Xavier mengangguk lalu segera keluar meninggalkan Javier yang memandangnya.


***


Yah, sedikit banyak hanya ini yang Hanaya lakukan. Dia merasa bosan, dan dari yang Hanaya dengar dari bangsawan lain, ada teater musikal di daerah Dorth. Dia juga mendapat undangan langsung. Katakanlah pengaruh pesta dansa itu melambungkan namanya.


"Nona, apa ingin jalan-jalan ke pasar sebentar? Ini bahkan belum waktunya pertunjukan." Hanaya tau Brianna menawarkan itu semata untuk mengusir kejenuhan akibat menunggu dan bukan murni karena keinginannya.


Seperti yang sudah di ketahui. Bagi Brianna, Viviana adalah yang utama. Apapun itu termasuk kebahagiannya. Tapi mengapa loyatitas ini membuat Hanaya tak nyaman? Seakan dia bergantung pada Brianna atau mungkin - karena dia masih belum dapat mengakrabkan diri dengan abdi setia itu? Opsi terakhir lebih masuk akal.


"Baiklah. Kudengar kau sering ke sini? Kau pasti tau banyak tempat makan yang bagus, kan?" Ya, setelah mengulik informasi dari ayahnya tentang Brianna, gadis itu asalnya dari daerah ini.


Brianna mengangguk "Benar nona, ini tempat tinggal saya dulu." Hanaya tersenyum kecil, senang Brianna merespon baik perbincangan ini.


"Lalu tempat apa yang kau sarankan?"


"Sebelum itu, katakan anda ingin makan atau melihat barang-barang antik? Ada pertunjukan dongeng di sekitar sini juga" jelas Brianna. Hanaya senang sebab ini pertama kalinya mereka berbicara senyaman ini-lebih tepatnya Hanaya yang merasa nyaman dan respon Brianna yang terhitung baik.


"Aku akan mengikuti saranmu saja." ujar Hanaya tak ingin membuang kesempatan baik ini.


"Saya menyarankan menonton pertunjukan dongeng lebih dulu, mari disebelah sini" ujar Brianna menuntun Hanaya yang mengamati sekelilingnya, suasana pasar cukup ramai. Masuk semakin dalam lalu berbelok, didepan sana ada keramaian.


Panggung boneka kecil, yang merupakan pusat pertunjukan boneka. Hanaya dapat mendengar dengan jelas suara pendongeng yang menjadi tanda dimulainya pertunjukan.


Kisah cinta sederhana yang ditulis dan diakhiri dengan indah. Sama seperti dunia novel ini, dimana Viviana yang ceroboh berakhir bahagia hingga sisa hidupnya.


Hanaya jadi berharap itu akan menjadi bagiannya juga.


Semua orang berlari tunggang-langgang dan teriakan terdengar seiras dengan suara tapak kuda yang menggelegar tiba-tiba. Beberapa stand jatuh begitu kuda berderap melewati dengan kecepatan tinggi.


"Nona!" Teriakan Brianna terdengar. Kejadiannya terlalu cepat hingga yang sekarang Hanaya cerna adalah penampakan kuda yang tengah mengangkat tinggi kakinya dihadapan Hanaya yang kini terjatuh.


Memejamkan mata dengan gestur perlindungan diri, Hanaya hanya berharap dalam hati bahwa ada yang menolongnya.


Tak seberapa lama tubuhnya terasa mengawang diudara, sepasang lengan mengukung kokoh pinggangnya, mata Hanaya melotot begitu tubuhnya diangkat diatas kuda secara tiba-tiba. Degup jantungnya meletup, sementara tubuhnya terkukung diantara sepasang lengan kekar.

__ADS_1


Lalu teriakan Xavier terdengar "KEJAR PENYUSUPNYA"


Demi Tuhan! Dibawah sinar matahari, rambut pirangnya berkilauan sementara mata yang biasanya nampak suram kini berkilat emosional. Jakunnya nampak sangat menggoda dan untuk pertama kalinya Hanaya menyadari Xavier menggoda dengan raut wajah ini.


Hanaya membeku begitu tatapan mata dingin mengarah padanya lalu suara yang jatuh menjadi awal debaran jantungnya "Pegangan." dan kuda melaju secepat kilat beriringan dengan teriakan Hanaya.


"KYAAAA"


Hanaya tak ingin membuka mata, terlalu takut. Kedua tangannya menyusup di pinggang pria itu, memeluk Xavier. Sementara satu tangan pria itu melingkar di pinggangnya.


Seseorang selamatkan Hanaya !


Tapak kuda terdengar memekakkan telinga disahut teriakan keramaian pasar yang kacau akibat perburuan tiga kuda itu.


Mata Xavier menatap tajam pada penunggang kuda di depan dengan pakaian hitam dan masker yang menutup wajah.


Hanaya bergidik begitu nafas pria itu menyapa telinganya lalu suara Xavier terdengar "Ambil panahku!" dengan bergetar hebat, dan di bawah intimidasi suara Xavier, tangan Hanaya bergerak dengan gementaran meraih busur dan panah dari punggung pemuda itu.


"Lihat ke depan- lihat kedepan Nona Lances!" Suara tegas itu membuat Hanaya menatap kedepan, pusing terasa di kepala kala kuda melaju dengan kencang, sementara orang-orang disampingnya nampak buram sebab lajunya pacuan kuda.


"Arahkan tepat pada kaki kuda" titah Xavier, Hanaya menurut lagi dengan tangan gementaran. Kuda itu jelas bergerak terlalu cepat, ditambah lagi gerakkan kuda Xavier yang sama lajunya mempengaruhi fokusnya melepas panah. Dan lagi Hanaya tak terbiasa dengan senjata seperti ini!


"Tembak!"


"Tap-tapi-


Teriakan Hanaya mengaung begitu kuda milik mereka memberontak entah sebab apa, memeluk erat Xavier. Beruntung refleks Xavier lebih cepat. Pria itu meraih tali kekang kuda lantas mengendalikannya tak mengindahkan tangis Hanaya yang pecah akibat ketakutan.


Keduanya turun sementara Brianna menghampirinya dengan khawatir, Xavier berlalu begitu saja meringkus pria yang tadi menjadi targetnya.


Hanaya menatap Brianna lantas terjatuh lemas di pundak gadis yang tengah khawatir itu sementara matanya melirik Xavier tajam.


Benar-benar berhati dingin !


"Nona, sebaiknya kita kembali." Hanaya mengangguk, teaser musikal akan ia saksikan lain kali. Dia terlalu terguncang dengan serangkaian kejadian tadi.


Jika Hanaya memaksa dia pasti akan berakhir pingsan begitu tiba disana.


***


Kediaman Viscount Lances dilanda kehebohan. Para pelayan berjejer di depan pintu kamar Hanaya, sementara didalamnya Viscountess menatap putrinya khawatir


Hanaya tersenyum lembut, menenangkan ibunya. Kata dokter dia hanya perlu istirahat tidak ada yang lebih. Hanya terguncang.


"Kenapa bisa seperti ini?" Hangatnya genggaman tangan Viscountess serta usapan suaminya di kepala Hanaya membuatnya merasa damai.

__ADS_1


Kasih-sayang seperti ini tak lagi ia dapatkan di kehidupan lampau. Sementara disini? Hanaya sekali lagi bersyukur dia dapat berpindah jiwa ke dimensi ini, dunia sempurna didalam bayangannya, cinta dan kasih sayang serta- pasangan hidup yang penuh cinta.


Dunia sempurna hasil imajinasi seseorang kini telah menjadi dunianya. Matanya menatap lekat cincin bertahtakan amethys- dengan syukur yang membuncah.


Lantas beralih menenangkan kedua orang tuanya "Aku baik ibu. Sudah dokter katakan, aku hanya perlu istirahat. Ibu dan ayah tak perlu khawatir."


Viscount Lances menghela nafas, lantas berkata "Sebaiknya kita tinggalkan Viviana, dia perlu istirahat sayang. Dan Brianna, ikut dengan ku ada yang harus kau jelaskan bukan?" Ucap Viscount Lances tegas pada Brianna yang mengangguk.


Ketiganya segera berlalu, meninggalkan Hanaya sendirian. Pikirannya mengawang, memutar lagi kilasan tadi. Di lihat dari sisi manapun, Xavier tetaplah dingin. Meski Hanaya sendiri sedikit terkejut ada kilatan emosional dimata pria itu-lalu pesonanya yang kuat.


Meneguk ludah, Hanaya menepuk pipi menyadarkan diri sendiri kau sudah bertunangan, meski belum dilamar secara resmi.


Beralih keluar, Brianna membuka pembicaraan dengan penuh penyesalan dibawah ketegasan sepasang suami istri Lances.


"Maaf atas kelalaian saya, tuan dan nyonya. Silahkan hukum saya yang gagal menjaga nona."


Viscount menghela nafas, sisi Brianna yang seperti ini yang mengukung kedekatannya dengan Viviana, sang putri. Dia senang mengetahui adanya  seseorang seloyal ini disamping putrinya, tetapi terlalu formal pun rasanya berlebihan.


"Brianna, kami tidak menyalahkanmu. Saya dan Viscoutess hanya ingin kau menceritakan yang sebenarnya, siapa yang menyebabkan putri kami seperti ini."


"Baiklah akan saya jelaskan. Saya dan nona Viviana singgah sebentar dipasar, mengisi waktu luang sebelum mengikuti teater musikal. Tapi ada insiden pengejaran di pasar saat saya dan nona sedang menyaksikan dongeng boneka, saya melarikan diri tanpa sempat menolong nona yang terjatuh dan hampir saja terinjak kuda-


"Hampir terinjak?" Seru Viscountess syok.


Brianna mengangguk "Itu kelalaian saya, sebab itu saya patut dihukum." sepasang suami istri itu bertatapan lalu menghela nafas lagi.


"Brianna, itu wajar. Kami sama sekali tak menyalahkanmu, apalagi Viviana tak akan senang jika kau dihukum- saya hanya terkejut mendengar itu." kata Viscount Lances.


"Tapi beruntung, jendral Xavier menyelamatkan nona tepat sebelum itu terjadi. Dan setelah itu membawa nona ikut serta mengejar penyusup." akhirnya dengan jelas dan padat.


Viscount Lances menghela nafas, tak ada yang dapat dia salahkan. Jendral juga murni menolong putrinya dan Brianna juga tak lalai, kejadiannya hanya terjadi terlalu tiba-tiba. Ini insiden murni tanpa disengajai.


"Baiklah aku mengerti. Sekarang kembalilah, kau perlu istirahat"


Brianna membungkuk


"Terima kasih atas perhatiannya, tapi saya akan menjaga nona."


"Bria-


Viscount Lances menahan istrinya tau seperti apa kekeraskepalaan Brianna, gadis itu tak akan menurut.


"Kalau begitu kami titipkan Viviana padamu"


"Baik"

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Reupload230327CL


__ADS_2