
...▪︎OODEYE▪︎...
"Lalu bagaimana dengan kemarin? Apa lady di perebutkan Putra Mahkota dan Jendral Xavier? Ada drama romansa seperti apa? Aku penasaran!" Tanya Annette antusias. Kesedihan tadi menguar bagikan uap di udara. Menghilang tanpa jejak.
Matanya yang berbinar menatap Hanaya yang tersenyum kikuk. Pikirnya keduanya sudah lupa, sayangnya tidak. Rozetta bahkan kini menatapnya menuntut.
Menarik nafas, Hanaya berujar "Kedatangan Putra Mahkota memang untuk memberitahukan perihal lamaran resmi yang akan duke Nestra kirim dalam-
"Sudah kuduga! Itu artinya kau akan menikah? Hebat!" Sela Annette antusias.
Rozetta kemudian menegurnya membiarkan Hanaya melanjutkan ceritanya "Sementara jendral Xavier hanya datang untuk meminta maaf sekaligus berterima kasih"
Hembusan nafas lesu Annette menarik perhatian keduanya "Ada apa?"
"Hanya itu?" Hanaya mengangguk dengan ragu. Memang hanya itu kejadiannya bukan ? Lalu Annette ingin apa lagi?
"Sangat tak seru! Tidak ada adegan romantis, ku pikir akan ada perkelahian atau sahutan nada tajam dari dua pria gagah yang memperebutkan satu wanita" keluhnya. Gadis itu memekik kecil kala Rozetta menyentil keningnya.
"Berhenti membaca novel romansa. Imajinasimu terlalu berlebihan! Kau sepertinya terlalu terkontaminasi!" Teguran itu membuat Annette cemberut, menatap Hanaya meminta pembelaan.
"Ku rasa tidak begitu. Iya kan, lady?"
Tersenyum kecil Hanaya lantas menjawab "Lady Rozetta memang benar. Ada baiknya jika anda menyeimbangkannya dengan bacaan lain yang bermanfaat. Saran saya itu"
Bahu gadis itu mengendur. Viviana rupanya mendukung Rozetta.
"Dengar? Kau juga harus menyeimbangkan dengan bacaan lain! Kau itu jauh lebih dewasa dari kami, maka itu bertindaklah selayaknya orang dewasa, walaupun sedikit" Hanaya terkekeh menyaksikan omelan Rozetta. Mereka rupanya sudah sangat dekat. Rozetta juga mulai menunjukan sisi lainnya.
"Aku kan, hanya ingin suasana romantis di dunia nyata. Mengapa sangat sulit?" Gumaman Annette menyentil Hanaya.
Seperti halnya Annette, Hanaya terlalu mendamba akhir bahagia seperti didalam novel aslinya. Itu sebabnya dia di rundung kesedihan begitu menyadari- tak semua seindah yang tertulis. Terkadang kesulitan jauh melebihi ekspetasi.
"Lady Viviana ini," Hanaya menatap undangan yang di berikan Rozetta bingung.
Menyadari raut wajah bingung Viviana, Rozetta menjelaskan "Ada rapat bangsawan yang di gelar Duke Nestra setiap bulan. Ajang itu mengumpulkan banyak bangsawan berpotensial untuk dijadikan dewan kerajaan. Jika anda ingin menjadi Ratu, disini tempat terbaik untuk meraih popularitas. Meskipun Putra Mahkota mencintai anda, tanpa pondasi sosial dan citra yang baik, akan sulit menjadi Ratu"
"Orang yang harus anda waspadai adalah lady Madelin, belum ada yang mengalahkannya dalam debat. Lalu saya sendiri, Rozetta jika topik yang diangkat bahasa asing atau daerah luar. Lalu sir Marcus, dia yang sangat harus anda waspadai, pria itu menyusahkan! Dia selalu mencari celah dalam opini seseorang" terang Rozetta serius. Kepeduliannya membuat Hanaya membuncah.
Tak menyangka ada yang peduli sebegitunya.
"Tapi kenapa kau juga masuk?" Annette berujar bingung.
"Karena semua orang dalam Podium Discussion tau orang-orang yang menonjol seperti kami"
"Dan dalam debat nanti, saya tak akan mengalah dari lady hanya karena kita dekat. Karena itu mari bersaing suportif lady " Hanaya menyambut jabatan tangan Rozetta dengan senyum percaya diri.
"Baiklah. Mari bersaing suportif" Hanaya tak pernah menyangka akan di pertemukan dengan teman sekaligus rival seperti Rozetta.
"Lalu bagaimana dengan ku? Aku tak kau ajak juga Rozetta?" Tanya Annette mengabaikan formalitas, dia dan Rozetta sudah sangat dekat. Kini Viviana sudah terhitung masuk dalam lingkup mereka. Jadi formalitas panggilan tak di perlukan.
Menyentil pelan kening Annette, Rozetta berkata "Kau hanya akan pusing mendengarkan debat yang rumit. Akan menyusahkan jika kau pingsan"
__ADS_1
Sekali lagi, Annette cemberut dibuatnya.
"Jika lady ingin bergabung belajarlah lebih banyak, dengan begitu anda akan ikut disana suatu hari nanti bersama kami"
Annette mengangguk mengiyakan. "Baiklah aku akan belajar!"
"Semangat!" Ujar Hanaya menyalurkan semangat. Rozetta hanya menggeleng kepala melihat keduanya. Dalam hati berharap Viviana tak ketularan sifat Annette. Akan sangat memusingkan terjebak diantara dua orang kekanak-kanakan.
***
Suasana hati Hanaya membaik. Dia akan melakukan persiapan dengan baik.
Benar yang Rozetta katakan, teringat lagi percakapan semalam dengan Viscount Lances, jika ingin bertahan Hanaya tak bisa hanya mengandalkan cinta Javier. Itu akan berakhir atau hilang kapan saja. Karena itu, Hanaya butuh pondasi kuat untuk mengokohkan posisinya, ini hanya sebagai persiapan- jika saja Javier berkhianat.
Hanaya mulai menyadari perubahan alur di dalam novel ini bergerak menuju realitas kehidupan nyata di zaman ini. Artinya, Hanaya dan sosok Viviana hidup. Perubahan alur ini menandakan kenyataannya.
Maka di kehidupan ini, Hanaya akan memastikan semuanya sempurna. Jadi debat hari esok haruslah ia menangkan. Hanaya akan terus hidup sebagai sosok Viviana. Di kehidupan kedua ini tak akan ada yang gagal.
Dia harus tetap berakhir bahagia!
"Nona, air mandinya sudah siap" Hanaya melangkah, Brianna melepas gaunnya lantas Hanaya menenggelamkan diri dalam bak berisi air hangat dan wewangian.
"Apa ayah sudah kembali, Brianna?"
"Sudah nona. Viscount telah kembali, beliau sedang istirahat"
"Apa tadi pagi kau sudah mengirimkan yang ku pesankan?"
"Teh jahe dan madu? Tentu sudah nona. Tuan bahkan mengatakan terima kasih pada anda, maaf saya terlambat menyampaikan itu"
"Brianna, bisa siapkan satu gaun untuk ku?" Gerakan Brianna yang menambah wewangian pada air mandi terhenti.
Perempuan itu menatap Hanaya serius.
"Apa anda yakin akan mengikuti Podium Discussion ?"
Menyadari keraguan yang menghantui Brianna, Hanaya berujar tegas "Yakin, ini adalah langkah awal. Jika aku ingin menjadi Ratu maka ini adalah langkah terbaik"
Helaan nafas Brianna membuat Hanaya terkekeh "Melelahkan memiliki nona sekeras kepala diriku bukan? Tapi jika ingin bertahan hidup, hanya itu pilihanku" kali ini, Hanaya ingin mendapatkan semuanya. Dengan memperkuat pesonanya, dia akan mengikat Javier lebih dalam. Dengan begitu tak akan ada rasa sakit, akhir cerita akan sama.
Viviana, akan bahagia hingga akhir hidupnya !
Hanaya akan memanfaatkan ketertarikan pria itu, mengubahnya menjadi cinta lalu memperkuat aksistensinya. Dengan begitu, hanya Hanaya seorang yang terlihat menonjol dimata pria itu.
Bukankah dizaman ini, wanita cerdas menarik dari segala sisi ?
"Apa ada pesan dari ibu?"
"Viscountess akan kembali sore ini untuk makan malam bersama nona dan Viscount"
Hanaya tersenyum senang.
__ADS_1
"Baiklah"
***
"Bagaimana kunjunganmu ke kediaman lady Annette? Menyenangkan?" Viscount bertanya.
Hanaya mengangguk dengan senyum lebar "Menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal dan juga semakin dekat"
"Ada yang ingin ku sampaikan"
"Katakanlah, nak"
"Lady Rozetta mengundangku untuk menghadiri Podium Discussion bersama dan aku menerimanya" air muka Viscount dan istrinya berubah terkejut.
Hanaya sendiri bertanya, apa Podium Discussion seburuk itu hingga semua orang nampak sangat terkejut.
"Kau-kau akan mengikutinya?" Hanaya mengangguki pertanyaan Viscountess.
Sepasang suami istri itu melempar tatapan seakan mengirim telepati melalui kontak mata.
Viscount Lances akhirnya berkata "Viviana, Podium Discussion tak seperti yang kau pikirkan-
"Ayah, maaf aku mencela. Tapi aku sudah dewasa, setelah debutante ini harusnya adalah langkah yang sudah ku ambil. Aku paham ke khawatiran ayah dan ibu, tapi aku juga telah banyak belajar. Sebab itu aku menerima undangan lady Rozetta. Aku tau sampai mana batasku. Jika aku tak sanggup, takkan kuterima" sela Hanaya tegas.
"Apalagi dengan lamaran Putra Mahkota kemarin. Aku tak bisa menjadi Ratu hanya dengan berlindung dari nama keluargaku. Posisi itu butuh status sosial yang jelas. Dan ayah tak perlu khawatir akan apapun, aku akan bertahan dengan status dan dukungan sosialku. Aku harap ayah dan ibu mengerti"
Viscount sadar itu adalah kebenarannya. Tetapi membiarkan Viviana memasuki dunia politik adalah hal yang tak ingin ia akui.
"Apa kau sebegitu inginnya menjadi Ratu?" Viscountess bertanya. Dia telah merasakan ambisi putrinya ini sejak awal.
"Sebagai gadis biasa, aku hanya ingin terlihat pantas beriringan dengan seseorang yang ku cintai" sayangnya kebenaran yang sebenarnya adalah, Hanaya ingin segalanya berakhir bahagia. Keegoisannya mengikat kalbu, tak ingin kembali merasakan racun hati yang menyakitkan!
Cukup sekali! Dan tidak lagi!
Maka itu, karakter yang sempurna adalah targetnya!
Adanya keengganan dari mata ayahnya membuat hati Hanaya teriris. Tetapi ego yang melambung tinggi menutupi realitas. Hanaya masih bergantung dan menjunjung tinggi akhir bahagia yang tertancap dalam di hati. Sebab itu, di kehidupan ini dia harus membuat segalanya sempurna!
"Percayalah padaku. Aku tak akan bisa melangkah jika ayah dan ibu tak mendukungku. Biarkan aku membuktikan bahwasanya aku pantas" dan dengan rayuan itu, Viscount dan istrinya tak dapat lagi melarang.
Viviana tak ingin berhenti. Dan sebagai orang tua, tugas keduanya adalah mendukung setiap keputusan putrinya.
"Ayah dan ibu setuju. Tapi, jangan paksakan dirimu, mengerti?"
"Aku mengerti. Terima kasih atas pengertiannya"
Seperti apapun, tak ada waktu untuk mundur! Dia harus melangkah maju, mempertahankan kebahagiaan yang menjadi alur dari kehidupannya!
Apapun yang terjadi dia harus berhasil !
...▪︎ OODEYE▪︎...
__ADS_1
*Podium Disscusion "Ajang debat antar bangsawan dalam beropini"
Note: Reupload230331CL*