Odd Eye

Odd Eye
Part 40. Identitas sang penulis surat


__ADS_3

...Part 40. Identitas sang penulis Surat...


...▪︎OODEYE▪︎...


Kereta tiba saat hari masih gelap. Kira-kira subuh. Duke Nestra menyambut di depan gerbang "Kapan Kaisar Welsey datang?" Tanya Javier.


"Sore menjelang malam Yang Mulia. Beliau ingin bertemu dengan anda, ingin membicarakan kesepakatan beraliansi."


Hanaya terkejut, begitu pun Javier yang dengan cepat mengendalikan ekspresinya.


"Kalau begitu siapkan jamuan pagi untuk menyambut Kaisar" titah Javier.


"Saya sudah memerintahkan kepala pelayan menyiapkan segalanya. Pakaian anda juga telah disiapkan."


"Pastikan semua hal sesuai untuk menjamu Kaisar Welsey"


"Baik, Yang Mulia"


Karena kedatangan ini begitu tiba-tiba tanpa pemberitahuan Javier pasti kelimpungan, bersyukurlah Duke Nestra sigap.


Hanaya memutuskan untuk melakukan pengajuan diri "Kalau begitu, biarkan saya mengurus jamuan ini Yang Mulia"


Langkah Javier terhenti. Pria itu memerintahkan Duke Nestra berlalu lebih dulu mereka punya sesuatu untuk di bicarakan.


"Istirahatlah, kau pasti lelah. Dan lagi Duke Nestra telah mengurus semua hal. Tak usah kau khawatirkan"


"Tapi Yang Mulia, itu sudah menjadi tugas saya dan lagi saya harus mendampingi anda dalam jamuan ini. Kaisar Welsey pasti akan tersinggung jik-


"Istirahatlah Viviana, aku tak akan senang jika kau sakit. Kali ini tolong dengarkan aku." kecupan lembut dan nada memohon itu meluluhkan Hanaya.


"Tapi jika aku tak ada saat sarapan pagi bukankah itu sangat tidak sopan?"


"Kau pulihkan saja tenagamu. Kau bisa membantu mengurus yang lainnya jika kita telah bersepakat."


"Tapi-


"Ya atau tidak sama sekali" kalimat itu jelas mengakhiri diskusi dengan satu jawaban 'Ya'


***


Mentari telah terbit, meski terhitung baru dua hari bersalju, udara begitu dingin seakan memasuki pertengahan bulan. Sementara itu kepala pelayan menyambut Kaisar Welsey, di meja makan.


"Selamat pagi Yang Mulia, bagaimana perasaan anda?"


"Sangat baik. Pelayanan Utopia memang sangat memuaskan. Maskernya terutama." kekehnya bersahabat.


Kepala pelayan tersenyum senang mendengar itu "Kalau begitu  izinkan saya mengawal anda ke ruang jamuan"


"Sarapan, ya? Baiklah."


Kaisar Welsey mengikuti langkah kepala pelayan menuju ruang makan.


"Selamat datang Kaisar Welsey."


"Terima kasih atas sambutan Kaisar. Tidak ku sangka sarapan paginya semewah ini." ujarnya. Berbanding dengan perawakannya yang mengintimidasi, sikap Kaisar Welsey sangat bersahabat.


Meski begitu senyumnya palsu.


"Tidak, ini sudah sepatutnya bagi kami. Kaisar jauh-jauh datang sendiri ke sini untuk membawa perdamaian tentu hidangan ini sama sekali tak setimpal"

__ADS_1


Kilatan aneh muncul di mata pria itu "Ah, saya dengar beberapa hari lalu anda menikah, dimanakah sang ratu?"


"Mohon maafkan ketidaksopanan ini, ratu sedang beristirahat, perjalanan yang kami tempuh sangat jauh, harap di maklumi."


Kaisar Welsey tertawa


"Itu sebenarnya salah saya. Muncul mendadak dan menciptakan semua masalah ini. Maaf menganggu waktu pribadi anda, saya dengar ini bulan madu anda?"


Apa yang di dapat dengan memaparkan semua ini? Javier merasa Kaisar Welsey memiliki niat lain. Ucapannya memang terdengar seharusnya, namun caranya menggiring pembicaraan sangat mencurigakan.


Jika dia ada disini untuk aliansi, percakapan ini terlalu bertele-tele untuk di ungkapkan.


"Tidak masalah" putus Javier mengabaikan pertanyaan pria itu.


Pria itu duduk, tetapi wajahnya seperti dibuat-buat murung "Sayang sekali, padahal saya ingin melihat ratu yang di katakan sangat cantik. Saya mendengar banyak ucapan rakyat bahwa beliau adalah wanita pilihan dewa. Mungkin saya juga akan di berkati jika bertemu. Sayangnya pertemuan itu mungkin terjadi lain kali."


"Permisi, maaf saya terlambat" suara lembut nan sopan yang mengalun membuat keduanya menoleh.


Viviana nampak di depan pintu dalam balutan gaun merah polos yang kerahnya dibalut bordiran mawar emas, bordiran yang sama yang membalut pinggang rampingnya. Rambutnya di sanggul samping, dihiasi jepit permata merah sederhana.


"Maaf atas ketidaksopanan ini tamu terhormat kerajaan, Kaisar Welsey"


"Ah,  saya pikir anda sedang beristirahat" dalam langkah besar menghampiri Viviana.


"Maaf, itu karena Kaisar takut saya kelelahan"


"Kaisar rupanya sangat mencintai ratunya" Hanaya membeku mendengar itu, refleks melirik Javier.


Baru sesaat tatapan keduanya bertaut, ucapan Kaisar Welsey memutus kontak mata keduanya "Perkenalkan, saya Frederick kaisar Welsey. Senang bertemu dengan anda, Yang Mulia ratu" pria itu mengecup tangannya sebagai bentuk sapaan.


Hanaya meneliti sosoknya.


Rambut hitam lurus panjang, berkulit putih serta mata amber yang menyerupai emas berkilat menggoda dengan senyum menawan. Bisa di katakan tipe pria cantik, jika saja garis rahang dan hidungnya tak tegas.


Menarik senyum kikuk Hanaya membalas salamnya "Senang bertemu anda juga, jika di perkenankan izinkan kami menjamu anda di pagi ini"


"Dengan senang hati" balasnya ringan, menuntun Viviana hingga mengambil tempat dalam jamuan pagi "Kaisar tidak cemburu atas perilaku saya bukan? Saya harap anda memaklumi, setiap pria pasti ingin memperlakukan wanita cantik dengan lembut" tukasnya.


Ucapan yang memprovokasi.


Hanaya tak tau apa tujuannya, tetapi pria bermata amber ini sepertinya ingin menyulut api.


Senyumnya palsu. Hanaya dapat menebak itu dengan mudah. Sementara matanya berkilat dan cara pengucapan serta gestur tubuhnya bertujuan menggoda. Tindakannya benar-benar mengingatkan Hanaya akan gigolo di kehidupan sebelumnya.


Rasanya sangat tak terduga begitu mengetahui bahwa Kaisar Welsey adalah tipekal seperti ini.


Sarapan dilanjutkan dalam keadaan hening, Hanaya pikir hanya sampai di situ saja tetapi rupanya masih ada pula hal lain.


"Jika Kaisar berkenan bisakah ratu melakukan tur istana untuk saya? Saya juga ingin menikmati keindahan Utopia"


Ucapannya memang benar dan sudah seharusnya di lakukan, tetapi Hanaya merasa pria ini hendak mencari waktu pribadi dengannya.


Apa sebenarnya yang di inginkannya ? Hanaya tak dapat menebak itu.


"Tentu. Ratu akan melakukan tur kerajaan untuk anda"


Hanaya menatap Javier, entah mengapa dia memiliki firasat buruk berada di dekat pria bermata amber ini.


Sayangnya etiket melarangnya untuk lari.

__ADS_1


"Kalau begitu bisakah tur di laksanakan sekarang ratu?" Hanaya menatap Javier sesaat lalu mengonfirmasi permintaan itu.


Frederick kembali mengecup tangannya "Terima kasih telah mempertimbangkan ucapan saya. Kaisar kami permisi"


Keduanya melewati lorong, sementara Hanaya menunjukan setiap bagian istana, memperlihatkannya pada Frederick. Meski baru di istana, dia secara bertahap mengambil kesempatan dalam sela-sela waktu saat mengurus pesta pernikahan untuk mengetahui bagian-bagian istana dan kepala pelayan jelas sangat membantunya.


"Semua bagiannya sama seperti Welsey, hanya saja di Welsey jauh lebih indah"  untuk ke dua puluh tiga kalinya Hanaya mendengar kalimat yang sama.


"Sepertinya anda sudah ada di Utopia cukup lama" Ujar Hanaya tiba-tiba. Reaksi tertegun sesaat Frederick membenarkan ucapannya.


"Bagaimana ratu bisa berprasangka seperti itu?"


"Jarak tempuh dari Utopia ke Welsey adalah dua minggu jika dengan berkuda. Butuh satu bulan penuh dengan berjalan kaki. Sangat tidak mungkin jika anda baru saja tiba disini. Awalnya saya pikir itu sangat mungkin, tetapi sutra kuning yang anda ikat di lengan kiri anda membuat saya yakin, Kaisar Welsey sudah ada disini sejak lama. Sutra itu merupakan pembungkus undangan pernikahan Kaisar. Seolah anda sengaja menunjukkan itu" Hanaya menukas tajam.


"Bukan kebetulan seorang Kaisar datang tanpa pengamanan dan tak di ketahui, itu artinya anda punya alasan rahasia. Jika saya benar, anda pasti berniat mengintai Utopia"


Sangat Aneh jika Kaisar ada di sini tanpa pengamanan ataupun mengutus orang. Sutra kuning itu sengaja di pakai untuk menguatkan opini Viviana mengenai niat Frederick. Pria itu berniat mengekspos diri padanya.


Kecupan ditangannya membuat Hanaya mengernyit "Tidak hanya teliti, anda juga sangat pandai"


"Ratu benar, tujuan awal saya menyelinap ke Utopia adalah untuk mengintai, dan menunggu kesempatan menyerang. Saya berencana menyerang saat malam pesta pernikahan anda sebab peluang yang Ratu berikan. Sayangnya saat melihat ratu di balkon, saya berubah pikiran. Sungguh ironi jika harus menjadi musuh wanita cantik" ekspresinya benar-benar menyebalkan bagi Hanaya!


Tak di sangkanya bahwa pengintaian di rancang sejauh itu. Ini berarti pasukan Welsey ada di sekitar Utopia, berbaur dan menyamarkan diri. Jika malam itu, penyerangan di lakukan, Utopia akan roboh.


Ceroboh! Hanaya terlalu ceroboh!


Seluruh rakyat di undang, dan saat pesta berlangsung formasi militer merenggang sebab perayaan itu.


Betapa bodohnya Hanaya !


"Entah apa yang merasuki hingga saya mengajukan kesepakatan aliansi" suara Frederick terdengar lagi.


Utopia selamat atas sebuah keberuntungan. Hanya itu yang dapat Hanaya pikirkan.


"Tidak! Saya merasa ada alasan lain dari itu." selak Hanaya. Yakin ada alasan lain. Terlalu klise membatalkan perang untuk seorang wanita! Jika mau Frederick bisa menyerbu dan menang lalu menyeretnya secara paksa! -Alasan itu sangat tidak meyakinkan.


Frederick menyeringai menggoda


"Rupanya anda sangat peka. Sebenarnya alasan lainnya adalah surat yang tak berbalas. Speedo tak berhasil menemukan teman berbalas surat ku"


Hanaya membeku, jantungnya yang sedari tadi  berdebar kencang kini terasa hampir meledak.


"Saat itulah balkon menunjukkan teman berbalas surat saya, lady Viviana, Istri Kaisar"


Kecupan lembut mendarat di tangan, disusul ucapan lembut sarat ancaman "Terima kasih atas turnya Ratu, pertemuan selanjutnya di aula pertemuan kerajaan. Sebaiknya ratu mempersiapkan jawaban yang masuk akal dan, saya harus menjemput utusan saya"


Ancaman ? Dia baru saja di ancam ?


Lalu dari mana Frederick tau dia orang yang membalas pesannya? Apa Hanaya di intai? Apa burung itu di ikuti olehnya?


Itu Artinya Frederick telah di sini sejak lama! Lalu siapa yang menyembunyikan keberadaannya?


Bagaimana mungkin dia juga di undang dalam pesta pernikahan? Bukankah hanya warga legal yang namanya tercatat di buku besar bangsa Utopia yang diundang?


Semua masalah ini membuat kepalanya terasa berputar.


Hanaya melakukan kesalahan besar! Bagaimana jika Frederick menggunakan ini untuk menyerangnya? Lalu kenapa diantara banyaknya warga Welsey harus Frederick yang ia balas pesannya?


Disaat ini, Hanaya benar-benar membutuhkan Brianna dan nasihat ajaibnya.

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Update052309


__ADS_2