Odd Eye

Odd Eye
Part 52. Posisi yang goyah


__ADS_3

...▪︎ODDEYE▪︎...


"Bukti kuat keaslian stampel tak dapat di sangkal. Dan sebagai kaisar saya membebaskan Jendral Javier atas tuduhan ini"


"Hanya itu?"


Hanaya akhirnya tersadar. Kilatan kebencian nampak di netranya. Tidak hanya menjadi ancaman, pria itu kini merebut hampir seluruh alasan mengapa Hanaya ada disini.


Tidak ada alasan untuk mengalah. Cukup sekali dimasa lalu. Tidak lagi untuk sekarang.


"Tidakkah Yang Mulia ingin menuntaskan hal ini? Siapa pelakunya terlalu abu-abu untuk diketahui, namun kebenaran dibalik kejadian ini jelas ada." Imbuh Xavier dingin.


"Mengenai pelakunya akan diadakan penyelidikan ulang. Tapi kebenaran apa yang kau maksud?" Balas Javier.


"Bahwa Earl memang melakukan hal tabu pada putrinya." suara Xavier memicu riuh yang sempat padam. Jelas kecurigaan pada sosoknya tetap ada, menjadi keraguan yang mengakari. Penghianatan masa lalunya jelas membuat semua orang sulit percaya. Itu kian sulit dipercaya sebab sifat Earl yang sangat amat baik.


"Dan lagi, jelas adanya kecerobohan dalam insiden ini. Jika saya adalah pelakunya untuk apa saya memakai stampel jendral dan membeberkan status saya semudah itu ? " suara Xavier yang terjatuh bagaikan cekikan sesaat di leher Hanaya, memaksa jantungnya terhenti sesaat.


Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Itulah sebabnya dia tidak berhasil!


Seharusnya Hanaya memperhatikan hal-hal sesederhana itu!


"Jika saya adalah pelakunya, saya akan melakukan hal yang sebaliknya, memanipulasi bukti" Kata-kata Xavier memicu keheningan, sementara Hanaya menatap pria itu dengan horor. Jika Xavier adalah pelakunya, dia tidak akan berbuat seceroboh itu. Posisinya jauh lebih menguntungkan untuk melenyapkan Javier lantas untuk apa dia mengekspos diri terang-terangan?


Gelayar dingin merambati tulang punggung Hanaya kala matanya bertemu dengan seringai pria itu.


Jadi, ini kekuatan sebenarnya Xavier ?


Pria ini bukan hanya keindahan yang bercela. Dia adalah sosok yang tenang dengan keanggunan namun disaat yang sama berkilat penuh waspada, menyimpan kecurigaan di sekitarnya. Kecerdikan, kekuatan dan ketelitian Xavier memiliki semua itu.


Hanaya tiba-tiba merasa seluruh persendiannya melemah, seakan sesuatu menancap di jantungnya, menarik seluruh kekuatannya.


Di depan Xavier, Hanaya bagaikan semut. Gigitan yang dia anggap menyakitkan sebagai bentuk perlawanan, nyatanya bagaikan debu yang dapat di singkirkan dalam sekali tebas.


Hanaya bukan tandingan pria itu. Bahkan bukan pula Javier. Netra lavender wanita itu menyorot suaminya penuh rasa miris. Javier jelas memiliki tahta, namun tidak peduli seberapa banyak dukungannya, dia  tidak akan pernah sesempurna Xavier dengan segala celanya.


Mengapa Xavier yang berdosa memiliki begitu banyak kesempurnaan? Tidakkah sebagai penjahat dia patut berkekurangan ? Mengapa dia sedemikiannya sempurna ?


Karakter awal yang tak jelas berangsur-angsur nampak begitu jelas, bagaikan bayangan dalam kolam beriak yang kian tenang, begitulah Xavier. Dia adalah karakter awal yang tak pernah terpikirkan oleh Hanaya akan turut andil dalam seluruh kehidupannya. Menggerogoti dan membayangi sebagai wujud ketakutan terbesar Hanaya.


"Sepertinya Ratu memiliki sesuatu untuk di katakan" suara Xavier yang terdengar jelas bagaikan bisikan kematian membuat Hanaya mengangkat wajah dengan ketakutan.


Apa yang sebenarnya dia inginkan darinya?


"Apa Ratu tak ingin memberi pembelaan?"  Saat itu pula sesuatu seakan memukul telak jantungnya.

__ADS_1


Dia orang yang memberikan semua bukti itu. Hanayalah orang yang meninggalkan noda dalam telapak tangan Viviana.


Walaupun Alexander adalah pemberi sebenarnya, Hanaya sejak awal menjadi tangan yang menyampaikan secara langsung tanpa perantara. Dia bahkan mendesak Javier melakukan semua tindakan-tindakan itu. Semua mata didalam sini mengetahui siapa pahlawan yang mengekspos pelanggaran Xavier, Viviana de Lances sang Ratu dan bukan Alexander pemimpin sebuah faksi.


Sesuatu seakan mencekik tenggorokannya, tatapan merendahkan yang berkilat dalam netra Xavier mencekik Hanaya hingga sulit berkata. Ruangan yang hening di penuhi armosfer keingintahuan, penuh tuntutan- Viviana harus memberikan pembelaannya.


Posisi tertinggi yang semula nampak sulit di sentuh sekarang terlihat goyah di bawah penghakiman. Hanaya mengetahui- bahwa dia belum melampaui sesuatu. Bahwa dia masih sama, perempuan naif tak berdaya yang berharap hidupnya diakhiri bahagia.


Hanaya tak tau bahwa berada di posisi tertinggi dengan seluruh tatapan yang menghujam akan begitu menakutkan dan mengerikan, ibaratkan berhadapan dengan monster sejuta mata. Dia yang sekarang adalah seorang Ratu berbeda dengan tatapan yang dihujamkan padanya dahulu. Rasanya seolah-olah setiap pergerakan kecilnya akan menjadi akhir hidupnya.


Sejak kapan psikisnya menjadi begitu lemah ? Ralat, bukankah sejak awal dia memang begitu lemah?


Semua tatapan penuh tuntutan ini terasa begitu mengekang, merantainya bagaikan pidana dalam kematian terakhir.


Hanaya tak ingin berada disini. Dia ingin kembali, kemanapun !


Kesombongan yang di mutlakan hilang tak bersisa. Ambisi yang menghitam untuk menyingkirkan Xavier kini bagaikan titik dalam lukisan yang tak berarti sebab tertutupi pulasan warna.


Fakta bahwa Xavier jauh lebih kuat adalah kebenaran yang sejak awal Hanaya berusaha tutupi.


Dia bagaikan anjing ketakutan yang menyalak keras di depan singa hanya untuk menggertak. Bagaikan pula seekor gagak yang mematuk puncak kepala elang. Hanya karena dia bertumbuh Hanaya merasa mampu menyingkirkan Xavier, sebuah presensi awal yang kokoh bagaikan piramid dalam sejarah.


Bagaimana mungkin kemunculan sosok yang lemah berusaha menghapus keberadaan mutlak Xavier?


"Viviana?" Bahkan suara Javier tak sanggup menerobos lingkaran ketakutan yang Xavier tanamkan di sekeliling Hanaya. Wanita itu terisolasi dibawah penghujaman tuntutan dengan Xavier sebagai kepala utama.


"A-a-


"Tuan, kami menemukan pelakunya." Suara Amos yang datang membuat semua fokus terarah pada Xavier. Namun intimidasi yang tertanam pada Hanaya begitu hebat hingga memenjarakan pikiran dan jiwanya.


"Lady Rozetta"


"Tu-tunggu! Ada sesuatu yang salah!" Hanaya menyelak. Nama Rozetta entah mengapa berhasil menorobos penjara intimidasinya. Menarik Hanaya yang masih terguncang.


"Maaf Yang Mulia, kami memiliki buktinya"


Tapi bagaimana itu mungkin ? Bagaimana mungkin Rozetta adalah dalang dibalik semua ini ?


"Perlihatkan padaku!" Seru Hanaya menderu, jelas kehilangan ketenangan. Semua intimidasi dari tatapan mata mengurung akal sehatnya dan begitu kesadarannya kembali, hal yang di dengar adalah ketakutan lain milik Hanaya.


Rozetta adalah bagian dari kelompok yang mencemarkan nama kaisar.


"Bawa dia masuk." Dan begitu sosok itu nampak, aliran panas memenuhi matanya.


Rozetta nampak begitu lusuh. Surainya acak-acakkan, gaun indahnya penuh sobekan dengan kotoran yang membekas.

__ADS_1


"Kami menemukannya berusaha membakar seluruh bukti perbuatannya, Yang Mulia!" Tumpukan kertas atas tulisan yang sangat Hanaya kenali nampak dimatanya, mengoyahkan seluruh kepercayaan tersisa yang Hanaya miliki. Rozetta terlibat.


"Kami sudah mengidentifikasinya dan lady Rozetta bahkan telah mengakuinya."


"Rozetta katakan itu tidak benar?" Mata Rozetta yang menatapnya seperti biasa memperlihatkan keteguhan. Senyum tipis nampak di bibirnya, senyum sama yang di beri sebagai sapaan. Tulus dan lembut.


Tolong, katakan pada Hanaya bahwa kecurigaannya di awal tidaklah benar. Bahwa semua yang nampak hari ini tidaklah benar.


Viviana terlihat terguncang. Sangat.


"Lady Rozetta apa anda mengakui itu?"


Mata Rozetta menatap Javier yang duduk di singgasana dalam keagungan. Lalu helaan nafas pelan terdengar di susul pengakuan kokoh.


"Ya"


"Apa kau tidak memiliki pembelaan?" Javier bertanya, seakan ingin memberi kesempatan bagi Viviana, harapan terakhir bagi wanita itu.


Mata Rozetta menatap Viviana, senyum lembut yang terukir disana seakan memperlihatkan bahwa semua baik-baik saja.


"Tidak ada pembelaan. Saya tidak dapat menyangkali bukti, bukan?" Dan begitu pengakuan terakhir itu terjatuh Hanaya tau tidak ada lagi harapan yang tersisa.


Rozetta tegas dalam apapun. Dan keteguhannya adalah hal yang paling Hanaya kagumi. Sekarang keteguhan yang sama juga menghancurkannya.


"Kenapa?" Suara pelan Hanaya terdengar jelas di telinga Rozetta. Perempuan itu menarik nafas dengan senyum memaklumi.  Viviana pasti terkejut dan merasa terkhianati.


Mengangkat wajah, mata abu-abunya menatap tepat di netra lavender Viviana yang terdistori emosi


"Karena kita semua adalah pion. Dan aku hanya melakukan tugasku."


"Rozetta apa yang kau-


"Lakukan sesuai prosedur" putusan akhir Javier yang tanpa mengindahkan Viviana sedikitpun membuat Hanaya tercengang.


Sebelum protesnya dapat sampai, arak-arakan besar-besaran di lakukan- menuntun Rozetta pada tempat terakhirnya, tempat eksekusi.


"Javier apa yang kau lakukan?" Tanya Hanaya tak berdaya.


Mata dingin Javier menatapnya "Itu adalah hukumnya dan aku tak dapat mengubah apapun, Viviana." Rentetan kata yang jatuh berhasil memukul telak Hanaya.


Tidak ada yang bisa dia lakukan.


...▪︎ODDEYE▪︎...


Note: Update230602CL

__ADS_1


__ADS_2