
...•OODEYE•...
"Bri-Brianna katakan apa yang harus kulakukan?" Ketakutan didalam nada Viviana menunjukkan seberapa rapuhnya dia.
Brianna tidak pernah melihat Viviana seperti ini sebelumnya. Ketakutan hingga merasa begitu lemah, seakan satu sentuhan akan menghancurkannya.
"Tolong jawab aku! Katakan sesuatu! Apa saja!" Viviana merasa sangat putus asa. Dia membutuhkan sesuatu, peringatan maupun motivasi. Hal yang selalu didengarnya. Bukankah Brianna selalu memberikan semua itu?
"Jangan diam saja! Katakan sesuatu padaku!" Viviana mengerang, begitu putus asa. Tangisannya tertahan didalam teriakan menciptakan pilu.
"Brianna ka-
"Apa anda menyesal?" Dibawah kaki Brianna serta tatapan dinginnya, sesuatu menancap dihatinya. Begitu menyakitkan.
Apa dia menyesal ? Apa Viviana menyesal ? Apa Hanaya menyesali semua yang dia lakukan ?
"Ak-aku tidak
"Bahkan jika anda menyesal tidak ada jalan mundur." suara dingin Brianna menamparnya keras, menyadarkan Hanaya. Fakta yang selalu dia lupakan bahwa selalu ada yang tidak terduga, bahwa tidak akan ada jalan mundur ketika Viviana mencapai posisi ini.
"Satu-satunya pilihan mundur adalah kematian " kalimat akhir yang menggetarkan seluruh tulangnya, melumpuhkan Hanaya dalam tangis panjang penuh penyesalan.
Kilatan jijik muncul dimata Brianna, emosi yang tidak pernah dia tujukan sebelumnya namun bagi Hanaya, dimatanya itu adalah kesedihan "Sungguh sebuah ironi Anda melangkah sejauh ini hanya untuk memohon di keluarkan seperti pengecut. Jika seperti bukankah seharusnya sedari awal anda mendengarkan saya?"
Bola mata Hanaya bergetar hebat. Peringatan-peringatan Brianna berputar di telinganya.
"Anda tidak cukup kuat" kalimat yang sangat menohok. Mungkin karena Brianna yang mengatakannya, rasa perihnya menguras hati Hanaya. Dia terbiasa dan sangat terbiasa mendapat dukungan dari Brianna dan meski selalu jujur, kejujurannya kali ini benar-benar fakta nyata yang sangat menyakitkan.
"Jika anda ingin memasuki istana maka pertahankan logika dan jangan membiarkan hati anda memimpin" kalimat itu punya arti yang sangat mendalam. Saat itu Hanaya merasa tidak nyaman namun sekarang, saat segalanya menjadi jelas karena situasi-itu adalah kebenarannya.
Dia mendasari segala ambisinya dengan perasaan. Karena perasaan ingin bahagia. Keinginan bertahan hidup miliknya tidak didasarkan pada dirinya sendiri. Egoisme yang dia bawa sejauh ini bukan berdasarkan naluri untuk bertahan hidup, semua demi meraih akhir bahagia. Terperangkap dalam kebahagiaan tak berujung dengan Javier sebagai porosnya.
Istana tidak seperti kelihatannya.
Kebenaran lain yang dia abaikan dengan pemikiran bahwa cukup dengan membuat Javier melihatnya saja, Hanaya akan memiliki semua kebahagiaan. Sayangnya itu semu.
"Terlalu lemah dan mudah goyah. Itu adalah kekurangan anda dan ketidakpantasan untuk berdiri di posisi ini"
Ketidakpantasan untuk berdiri di posisi ini. Hanaya tidak pantas. Kalimat itu begitu mencengkramnya, membuat Hanaya merasa bagaikan budak yang telah kotor.
Belum cukup semua itu, kalimat terakhir Brianna membuat segalanya terasa direnggut darinya "Saya kecewa, karena mendukung anda bertindak sejauh ini "
Pintu ruangan yang tertutup membuat Hanaya dicengkram sepi. Sepi yang sebelumnya terasa menakutkan sekarang berubah menjadi menyedihkan.
Brianna tidak punya alasan untuk tetap bertahan mengikuti nona yang lemah.
Tawa miris Hanaya keluar, ejekan yang dia denggungkan pada dirinya sendiri. Hanaya menganggap Brianna sebagai penopangnya, pemikiran ironis yang pernah dipikirkan seorang lady.
__ADS_1
Karena sejatinya, di zaman ini pelayan mengikuti seseorang yang berpengaruh, orang yang dapat membuat mereka naik lebih tinggi. Dan Hanaya malah menggantungkan harap pada Brianna? Lelucon paling lucu sepanjang hidupnya.
"Kau memang lemah Hanaya"
***
"Yang mulia" Suara Falentin begitu lirih, takut mengusik suasana hati nyonyanya.
Helaan nafas pelan terdengar kala melihat sosok Viviana duduk menekuk disamping ranjang, tenggelam dalam gaunnya seolah mencoba sembunyi dari dunia.
Sekarang, apalagi yang harus dia katakan? Wanita ini sudah sangat terpuruk, bukankah akan semakin menyedihkan jika dia mendengar berita ini?
"Nyonya"
"Keluarlah, aku tidak ingin bicara" nada suaranya yang tenang namun sarat kepedihan membuat Falentin mengigit bibir. Pelayan itu berlutut.
"Anda boleh menghukum saya, tapi ada yang harus saya sampaikan"
Hah,
Udara panas keluar dari bibir Viviana. Netra violet yang kini sayu sebab tangis akhirnya terlihat.
"Apa yang ingin kau katakan?" Wajah nyonyanya membuat Falentin mengigit bibir, berusaha menahan gejolak di hatinya.
"Ayah anda, Viscount Lances meninggal" kalimat yang membekukan Hanaya.
"Anda boleh membunuh saya seandainya semua ini bohong. Tapi saya berani bersumpah demi hidup saya! Viscount Lances diserang dalam perjalanan oleh bandit, semua pelayan dan bahkan Viscount dibunuh. "
Tungkainya yang lemas tanpa sadar berpacu. Hanaya berlari seperti orang gila, berusaha memastikan kebenaran.
Ayahnya tidak akan pernah meninggalkannya. Bahkan dalam mimpi buruknya sekalipun!
Bukankah dia pernah berjanji menjadi sandaran Hanaya?
Itu semua bohong.
"Javier, Falentin- Falentin menyu-
Pelukan pria itu yang erat tanpa sadar menjawab keraguan Hanaya. Kepalan tangan perempuan itu mengerat.
"Javier, jangan coba bermain-main! Katakan padaku yang sebenarnya"
Ada hening disela pelukan. Sementara Hanaya mendesak dengan frustrasi "Katakan sesuatu! Aku benci di-
"Yang dikatakan Falentin benar, ayahmu sudah meninggal"
"Lelucon macam apa ini?" Seru Hanaya, melepas pelukan Javier. Terlihat jelas dimata perempuan itu ketidakterimaan yang nyata.
__ADS_1
"Apa kau melakukan ini agar aku datang padamu? Iya kan?"
"Aku minta maaf jika aku mengabaikan mu akhir-akhir ini. Tapi bukan berarti harus mempermainkan ku seperti ini!"
"Ayahku tidak mungkin meninggalkanku! Aku paling mengenalnya!"
"Viviana-
"Katakan padaku! Bilang padaku bahwa kau hanya bercanda!" Putus asa dimata Viviana begitu besar. Seakan akal sehatnya hilang dan dia mengingkan kepastian tentang kebenaran.
"Jangan hanya diam saja!" Viviana mengguncang tubuh Javier, mendesak afirmasi yang dia perlukan.
Xavier sudah cukup menjadi masalah baginya! Dia sudah cukup kehilangan Rozetta, Annette dan Brianna! Tidak pula ayahnya!
"Javier jawab-
"Yang Mulia, jenazahnya telah tiba di kediaman Viscount. Anda dan Ratu harus kesana" lutut Hanaya goyah, perempuan yang nyaris gila dalam putus asa kini kian rapuh.
"Viviana-
"Kenapa? Kenapa harus aku?" Pertanyaan yang terdengar seperti ironi. Seolah Hanaya menyesali semua yang dia buat untuk sampai disini.
Rozetta meninggalkannya dengan tanda tanya, dia masih belum selesai dengan perasaan bersalah terhadap Annette ketika Brianna meninggalkannya. Dan sekarang ayahnya meninggalkan Hanaya juga?
Bukankah ini adalah tempat dimana dia akan berakhir dalam kebahagiaan seumur hidup? Lantas mengapa tragedi terjadi tanpa henti?
"Dengar
"Kenapa harus aku? Aku berusaha semampu ku! Aku melakukan apa yang benar! Lalu kenapa aku harus kehilangan segalanya?"
Baik kehidupan dulu maupun sekarang semuanya menyeret Hanaya dalam duka!
Tawa ayahnya, semua janji yang mereka buat atau bayangan kebahagiaan yang sempurna semua hanyalah ilusi. Hayalan semata dari Hanaya.
Jika dia kehilangan segalanya untuk sampai disini lantas mengapa dia harus berusaha?
Menatap kedua telapak tangannya dalam keputusasaan, air mata beriringan senyum sinis muncul.
Dia adalah petaka bagi hidupnya sendiri. Jika tidak darimana datangnya semua kemalangan ini?
Tidak beruntung ataukah keberuntungan yang menyesatkan? Manapun itu dia menyesali semua mimpinya.
Mimpi yang membawanya pada rasa kehilangan yang teramat.
...•ODDEYE•...
Note:Update20230818CL
__ADS_1