
...▪︎OODEYE▪︎...
Hanaya menarik nafas gugup, memandang sekelilingnya. Kerumunan bangsawan dan rakyat duduk di kedua sisi pengadilan dalam kelompok.
Tak seberapa lama, sosok Xavier di giring masuk dengan kedua tangan terantai besi. Pria itu tak berekspresi apapun, seperti biasanya dingin.
Mata keduanya bertubrukan memicu debaran aneh. Rasa takut dan sesuatu yang tak dapat Hanaya defenisikan.
Hanaya dan Javier sendiri memiliki tempat paling atas, di samping kanan tempat Javier terdapat meja tempat hakim, lalu di seberangnya tempat untuk saksi. Xavier sendiri sebagai tersangka mengambil posisi tengah membuat setiap pasang mata menghujam sosoknya.
Bunyi gong yang mengaung menandakan di mulainya persidangan.
"Jendral Xavier dalam tugas kenegaraannya di tetapkan sebagai bagian retoris atas penyalahgunaan hak kepenulisan, serta mengubah fakta dan kebenaran riwayat hidup seseorang. Lampiran bukti berupa naskah asli yang di temukan pada tempat tersembunyi di beri cap resmi jendral utama dan buku cetak yang di edarkan. Serta saksi hidup lady Penelope dan putri Earl Noir di harapkan memberi kesaksian." Hanaya terkejut mendengar hal itu. Bagaimana tidak ? Inti persidangan di lewatkan begitu saja. Xavier seharusnya ada dalam penyelidikan verbal, untuk mendapat kejelasan sebelum masuk dalam bagian kesaksian.
Namun melihat bagaimana mereka memandang pria itu sangat memungkinkan untuk mempercepat persidangan ini. Hanaya lupa bahwa Xavier bukan hanya ancaman baginya, tapi juga ancaman bagi seluruh penghuni istana.
Ini adalah kesempatan bagus untuk menyingkirkan Xavier yang berada di posisi tersangka. Dukungan rakyat tentu membuat hakim leluasa mendorong gejolak publik yang dapat menuntun Xavier pada posisi tersangka tetap dengan mudah.
Mata Hanaya melirik Javier. Pria itu tak berekspresi. Mungkinkah Javier terlalu syok hingga tak menyadari penyelewengan kecil ini? Ataukah pria itu masih larut dalam perasaan terkhianati? Manapun itu kelengahan ini dapat Hanaya anggap keberuntungan.
Namun melihat bagaimana fluktuasi ketenangan masih tetap di wajah Xavier membangkitkan kecemasan tersembunyinya.
Pria itu terlihat siap.
Seakan ini memang telah di rencanakan.
Pemikiran kolot yang sangat tak masuk akal! Untuk apa Xavier menempatkan diri dalam posisi tak menguntungkan seperti ini alih-alih memanfaatkan fakta pertemuan tak sengaja keduanya di Vilanc untuk meruntuhkan Viviana bersamanya?
Dosis ketakutan yang membludak membuat Hanaya berhalusinasi sejauh ini. Mencanangkan praduga-praduga yang sama sekali tak masuk akal.
Siapa tau jika itu hanyalah topeng?
Tenanglah, Hanaya. Tidak ada yang dapat lolos setelah terperangkap. Tidak ada. Dan Xavier telah terperangkap. Kalau memang ini rencananya sendiri, dia menggali kuburannya sendiri Hanaya.
"Earl Noir hanyalah pria biasa. Dia bahkan tak memiliki skandal apapun, tetapi cerita yang di buat memuat kekejaman yang jelas bukan miliknya. Hanya latar tempat dan ciri-ciri yang sama persis, selebihnya di ubah secara kejam. Mohon keadilannya Yang Mulia! Bagaimana mungkin seorang jendral utama membuat hal semengerikan itu? Ketika saya membaca hal itu hati saya bagaikan di cambuk. Semua orang tau seperti apa sang Earl. Dan yang terburuk adalah jendral memuat sesuatu yang tak pantas. Bahwa-bahwa Earl melecehkan putrinya sendiri "
Ruangan di penuhi cercaan. Jelas kalimat itu menuai simpati bagi korban, sementara cercaan bagi pelaku. Bahasa tubuh, nada bicara serta ekspresi yang tepat membuat Penelope menuai lebih banyak simpati.
"Bahkan putrinya yang sedang sakit di pergunakan sebagai bahan cerita. Sangat menyakitkan! Saya mohon hukuman yang sepatutnya Yang Mulia! Persidangan ini seharusnya tidak di perlukan, semua bukti telah terkumpul mengapa pelaku tak langsung di jatuhi hukuman mati? Hanya karena darah kerajaan bukan berarti kejahatannya di benarkan bukan? Jika begini sama saja dengan memalsukan segala hal! Keadilan bukan milik kebenaran melainkan yang berkuasa ! " Penelope kian menggebu-gebu, air matanya memicu lebih banyak persetujuan orang. Sementara kalangan bangsawan saling berbisik.
Xavier hanya diam disana.
Tidak memberi bantahan bahkan bergemingpun tidak.
Seharusnya Hanaya senang, senang karena Xavier terlihat terpojok namun mengapa jantungnya berdebar di penuhi ketakutan dan matanya menjadi begitu awas?
__ADS_1
Tumpah riuh bising memenuhi ruang persidangan. Lebih banyak persetujuan untuk mengeksekusi sosok Xavier melayang. Ada senyum tajam di wajah para hakim, menandakan kemenangan mutlak.
Jadi ini akhir dari Xavier ?
Hanaya berusaha meyakinkan diri bahwa ini akan menjadi akhir dari pria itu. Namun mata dingin tanpa emosi, sikap tak tersentuh dan kegentaran yang tak nampak sedikitpun berbalik mencengkram Hanaya, membuatnya merasa tertekan. Seharusnya Xavierlah orang yang merasa tertekan dan terancam bukannya Hanaya.
Dia tak berada dalam posisi penjahat untuk merasakan atmosfer gila ini.
"Hakim memutuskan jendral Xavier dinyatakan bersalah dan di jatuhi hukuman gantung"
Javier tersenyum ?
Apa Hanaya baru saja melihat Javier tersenyum tadi? Perempuan itu menajamkan pandangannya. Tidak ada sedikit pun perubahan pada raut wajah Javier namun mengapa Hanaya merasa melihatnya tersenyum tadi?
Semalam lepas sibuk mengurus delusinya membuat Hanaya lupa pada Javier yang jauh lebih tertekan darinya. Mereka baru bertemu tadi saat memasuki ruang persidangan bersama. Dan penampilan pria itu benar-benar menunjukkan perasaannya. Kantung mata yang menghitam serta netra yang memerah dan wajah lesu seakan hilang harapan. Tidak mungkin Javier tersenyum sedangkan dia adalah orang yang paling melindungi Xavier. Hanaya mungkin berhalusinasi tadi.
"Heh?" Xavier menyeringai, untuk pertama Kalinya menoleh menatap hakim dengan kernyitan.
"Apa ini yang di sebut di adili?" Nada dingin Xavier membuat Hanaya bergidik. Luar biasa untuk menyaksikan bagaimana pria itu mengintimidasi hanya melalui geraman serta ketidakpuasan dalam nadanya.
Suasana di ruang persidangan dalam sekejap senyap, seakan semua orang menghilang begitu saja.
"Saya menolak hukuman ini."
"Kau tidak berhak menolak Jendral!" Decitan kursi dan suara kebencian Hanaya menarik perhatian semua orang. Hanaya mematung, mengerjab begitu sadar dia terpancing akan hasratnya sendiri. Menetralkan ekspresi, Hanaya menarik senyum.
Xavier menyeringai.
Dia menunjukkan taringnya.
"Kenapa tidak? Saya berhak menolak sebab persidangan tidak di jalankan sesuai dengan prosedur. Saya yakin ratu tau itu. Anda mungkin sengaja diam agar saya di lenyapkan lebih cepat bukan?" Hanaya membeku. Tidak percaya Xavier mengintimidasinya secara terang-terangan ralat mengecamnya.
"Jendral jangan menggiring opini!" Selak hakim utama.
"Menggiring opini? Bukankah begitu kenyataannya. Saya bahkan tidak di beri kesempatan membela diri. Sebagai hakim kalian tidak hanya mengabaikan kebenaran tapi juga melewatkan prosedur yang ada"
"Keadilan hanya untuk orang berkuasa. Lalu bagaimana dengan ketidakadilan yang terjadi sekarang ini? Semua orang menutup mata hanya untuk menyingkirkan orang yang mereka anggap ancaman, menutup mata dari kebenaran, bukankah kita semua sama
? "
"Jendral mohon ikuti arahan!"
Selak hakim utama lagi.
"Arahan. Berarti perintah dan saya di bungkam paksa. Apa hakim sedang memaksa menutup mulut saya?" Hakim utama membeku.
__ADS_1
"Saya tidak memaksa anda, saya hanya ingin persidangan di laksanakan sesuai prosedur"
Xavier tersenyum kecil
"Jika begitu bukankah saya memiliki waktu untuk pembelaan diri? Bagaimana jika itu bukan saya ? Bagaimana jika saya di jebak ? Jika saya memberikan satu bukti bahwa naskah itu palsu apa saya bisa di bebaskan?"
Xavier, pria itu!
Bukan hanya memanfaatkan intimidasinya, Xavier sekarang menggunakan kecerobohan hakim untuk menyelamatkan diri?
Ketakutan Hanaya terealisasikan.
Dia harus melakukan sesuatu !
Tapi apa yang dapat ia lakukan ?
Hanaya berada di posisi dimana dia tak dapat melakukan apapun. Hasratnya telah terekspos sekali, jika dia bersih keras maka dia hanya akan mempertontonkan obsesinya.
Sekarang satu-satunya harapan terakhir adalah lady Penelope. Tetapi wanita 35 tahun itu terlihat pucat. Wajah sedih menghilang, ekspresi puas seusai menekan sosok Xavier lenyap.
"Yang Mulia?" Hanaya menatap Javier berharap penolakan yang Xavier dapatkan. Tetapi mengingat kenyataan bahwa Javier begitu ingin menyelamatkan Xavier sudah pasti ini, adalah sebuah kesempatan baginya.
"Silahkan" pupus sudah harapan Hanaya. Seringai yang Xavier tunjukkan padanya adalah seringai kemenangan.
Obsesi untuk melenyapkan Xavier sepenuhnya gagal.
"Tapi Yang Mulia-
"Hentikan! Tidak hanya melewatkan prosedur Hakim utama bahkan melakukan pelanggaran dengan mencemarkan status tinggi hukum Utopia dengan menyalahgunakan kekuasaannya"
"Yang Mulia ini adalah kesalahpahaman"
"Tidak ada kesalahpahaman apapun. Semua yang terjadi di persidangan ini adalah buktinya! Aku melihat dan mendengar semuanya. Hakim utama di berhentikan secara tidak terhormat semua hartanya akan menjadi milik kerajaan" putusan akhir Javier terdengar.
Raungan permintaan maaf sang hakim dan pengakuannya tak lagi di dengar.
Hanaya kalah. Dia benar-benar kalah.
Kecerobohan itu mengacaukan segalanya. Dan keterdiaman Javier bukanlah keberuntungan. Kelengahan itu sama sekali tak mempengaruhi hasil apapun.
Hanaya dan obsesi menggebu-gebunya sudah pasti di kalahkan.
Di tengah keputusasaan yang memenuhi netranya terlukis dalam genangan air mata, senyum miring Xavier tertangkap.
Kau menyukainya ?
__ADS_1
...▪︎ODDEYE▪︎...
Note: Update052330CL