
...▪︎OODEYE▪︎...
Pembicaraannya dengan Madelin hanya seputar bunga. Dimana tersiratnya sindirian di dalamnya.
Kerajaan sibuk dengan pesta pernikahan keduanya.
Hanaya duduk di sini, membicarakan hiasan undangan untuk resepsinya dan berbagai macam hal lainnya.
"Sebaiknya, undangannya berwarna putih di tulis dengan tinta emas dan dengan hiasan lambang Utopia" warna emas dan putih akan selaras. Karena rakyat ikut andil dan di undang serta dalam resepsi maka pernikahan tak seharusnya menghabiskan banyak biaya untuk dekorasi. Ia tak berniat mengadakan pernikahan megah. Cukup berkesan saja.
Statusnya telah resmi. Dan ini merupakan bagiannya untuk mengurus pesta sendirian.
"Dan untuk dekorasinya, aku serahkan pada kalian. Pastikan jamuan makan untuk rakyat di letakkan di tempat terbuka"
"Tapi akan memakan banyak biaya untuk ini. Dan anggaran pribadi ratu 100.000 ruth. Sebab ini ide anda maka kita tak dapat meminta dana tambahan dari kerajaan" sahut pelayan istana sedikit cemas.
"Brianna akan membawa dana tambahan" Brianna paham maksud Hanaya. Gadis itu berencana menjual sepeti permata dari lamaran Javier untuk dana tambahannya.
"Untuk pembungkus undangan, gunakan sutra sebagai pembeda. Warna putih untuk pejabat kerajaan, merah untuk tamu kekaisaran, kuning untuk bangsawan dan biru untuk rakyat. Pastikan semua di kirim sesuai dengan warna, serta konfirmasi siapa saja yang menerima undangan, buat list nama untuk itu"
"Baik. Yang Mulia"
"Kepala pelayan, apa hall kerajaan bisa di buka untuk perayaan ini?" Kepala pelayan yang merupakan seorang pria parubaya mengangguk.
"Ya, ratu"
"Begitu, bagaimana jika jamuan rakyat di adakan di dalam hall istana, sementara bangsawan dan tamu lainnya bertempat di aula kerajaan? Bagaimana menurutmu?"
"Tentu bisa ratu"
Hanaya mengangguk "Lalu apa pesanan gandum sudah tiba?"
"Sudah Yang Mulia"
"Mereka sudah mulai mengolahnya?"
"Sudah Yang Mulia"
Karena ini acara gabungan antara bangsawan dan rakyat, tentu tak boleh ada diskriminasi. Maka Hanaya harus memastikan hall di buka untuk semua orang dan jamuan makan mencangkupi jumlah kapasitas.
"Bagaimana dengan anggur? Berapa banyak milik kita?"
"Dua puluh tong, Yang Mulia"
Dua puluh tong, tidak mungkin akan cukup.
"Kirim tambahan lima belas tong lagi dan masukan dalam anggaran pribadiku"
Kepala pelayan terkejut. Lima belas? Harga anggur meningkat akhir-akhir ini sebab kegagalan panen, memesan minuman anggur merah murni memakan banyak biaya. Belum lagi sutra, undangan, jamuan, biaya yang keluar sudah sangat banyak. Kerajaan memberi anggaran yang berbatas. Sebab Viviana memasukan rakyat, maka jamuan mereka, dan undangan sepenuhnya menjadi tanggungan pribadi.
Kepala pelayan khawatir ini akan menjadi pemborosan semata. 500.000 ruth milik Viviana mungkin akan habis. Lalu bagaimana jamuan lain kedepannnya?
"Yang Mulia-
"Tak perlu khawatir untuk dana. Aku punya banyak pemasukan untuk itu. Satu peti permata jika di uangkan cukup untuk semua biayanya bukan?"
__ADS_1
"Satu peti?" Gumam kepala pelayan mendadak pusing. Meski harta kerajaan sangat banyak tetapi permata murni sebanyak itu tentu akan membuat Viviana kaya dan punya banyak dana tambahan.
"Ya. Itu mahar Yang Mulia"
Mahar? Kepala pelayan menatap sosok Viviana takjub. Rupanya rumor mengenai betapa fantastisnya mahar Javier memang bukan bualan belaka.
Sutra, permata, emas batangan dan bahkan burung emas Archy yang langka diberikan sebagai mahar sepertinya memang benar adanya.
Kaisar sepertinya tergila-gila pada wanita muda ini. Gadis ini, Viviana jelas menunjukan sosok ratu dengan kecemerlangan masa depan.
Jika rakyat tau seluruh jamuan mereka di siapkan oleh Viviana dengan anggaran pribadinya, mungkin Viviana akan semakin diagungkan.
"Te-tentu, itu lebih dari cukup Yang Mulia"
"Kalau begitu, rincian keuangan aku serahkan padamu"
"Atas kebaikan hati anda, saya akan menanggungnya"
***
Hanaya menarik nafas, menyandarkan punggung di kursi dalam kamarnya. Dia hanya bermalam di kamar tamu kerajaan, mengingat belum adanya pernikahan resmi, Hanaya belum bertandang kesini secara resmi.
Brianna sendiri sedang di utus untuk menguangkan sepeti permata miliknya.
Ketukan di pintu membuat Hanaya mengernyit, siapa yang mengganggunya selarut ini ?
Dalam satu minggu segala persiapan harus selesai. Dalam sehari, pembuatan undangan telah selesai.
Hanaya bersyukur parlemen menerima permintaannya untuk mengundur waktu pernikahan dalam seminggu. Setidaknya mereka tak membuat masalah dengannya. Mungkin sebab opini rakyat yang membaik tentangnya juga memperngaruhi. Jika tidak Hanaya mungkin akan kelimpungan dan melewatkan banyak bagian dalam dua hari persiapan pesta pernikahan.
"Salam Yang Mulia" di lihat dari lencananya, sepertinya pria ini pengawal pribadi Javier.
"Nathan, kau pengawal pribadi Yang Mulia bukan?"
Nathan dalam keterkejutannya, ia mengangguk "Ya. Benar itu saya Yang Mulia."
"Ada hal penting apa yang harus di sampaikkan hingga selarut ini datang ke sini?"
Hanaya mengerjab melihat tingkah Nathan yang sepertinya malu.
Apa ada kalimatnya yang di tujukan untuk mempermalukan pria ini? Sepertinya tidak.
"Hamba di utus untuk membawakan ini Yang Mulia. Bawa masuk"
Hanaya terkejut begitu dua pelayan wanita muncul membawa wewangian, teh yang menguap, dan berbagai perawatan pribadi.
Apa istana memiliki relaksasi sebagai kompensasi atas kerja kerasnya?
"Ini, Yang Mulia kaisar mengirim semua ini untuk anda. Dan ini adalah surat untuk Yang Mulia" Sudut bibir Hanaya berkedut. Di raihnya surat dari tangan Nathan yang menegadah sambil bertekuk lutut.
"Kau boleh pergi. Katakan pada Yang Mulia untuk memberiku kompensasi lain atas kerja kerasku dilain waktu" Nathan membungkuk lantas berlalu. Sementara kedua pelayan itu tanpa di perintahkan menyiapkan air mandinya.
Hanaya membuka surat itu.
Tulisan pertama adalah sebuah permintaan maaf.
__ADS_1
Maaf, seharusnya aku membantumu. Jika kau kesulitan katakan saja aku akan mengirim bantuan. Ku harap dengan sedikit yang ku kirimkan akan membantu meredakan lelahmu.
Ah, Javier khawatir.
Sebenarnya, persiapan pernikahan yang di lakukan olehnya memiliki penilaian lain. Anggap saja ini soal tambahan dengan tambahan nilai pula.
Ini di tujukan untuk melihat seberapa bijak ratu mengelola keuangannya serta seberapa efesien dan efektif hasil kerjanya. Sebab itu Kaisar tak turut membantu. Ini sepenuhnya untuk ratu.
Dimasa depan akan ada banyak acara delegasi atau yang lainnya yang harus Hanaya tangani. Awalnya dia sedikit kelimpungan, tapi berkat Brianna segalanya menjadi mudah.
Gadis itu telah di peringati oleh ayahnya untuk membantu Viviana sebab Viscount Lances tak dapat ikut campur.
Ini adalah tanggung jawab ratu dan bukan putri dari keluarga Lances.
Namun, lima ratus ribu ruth untuk dana adalah sebuah jebakan. Dekorasi, jamuan, undangan dan persiapan tambahan membutuhkan biaya lebih dari 100.000 ruth. Akan mustahil tanpa tambahan dana pribadi. Dan lagi tujuan Hanaya adalah untuk mendapatkan dukungan rakyat sebanyak mungkin serta menunjukkan seberapa mampu Utopia. Jadi kehilangan lebih dari dua juta ruth bukanlah masalah. Semuanya seimbang. Dia telah memikirkan ini lebih dahulu.
"Yang Mulia air mandinya sudah siap"
Hanaya mengangguk, memasuki kamar mandi. Aroma lavender menguar. Lilin aroma terapi ada disana sementara air hangat yang di taburi kelopak bunga membuai untuk tenggelam.
"Kami akan melepaskan jubah anda" sedikit kikuk sebab ada yang menatap tubuhnya selain Brianna. Tapi rupanya kedua pelayan itu sangat terlatih. Mereka tak berekspresi apapun selain formal untuk membuatnya merasa tenang.
Aroma yang menangkan, suhu air yang merelaksasi otot tubuhnya membuat Hanaya memejamkan mata. Belum lagi pijatan dengan fluktuasi kecil di bahu dan lengan membuai Hanaya untuk semakin terpejam.
"Sepertinya Yang Mulia Kaisar sangat mencintai anda hingga mengirim perawatan ini secara diam-diam" kesadaran yang hampir menghilang tertarik seketika.
Benar. Javier sepertinya sangat tergila-gila padanya.
"Saya dengar mahar anda adalah yang termewah dari seluruh ratu yang pernah ada. Yang Mulia bahkan mengirim satu-satunya burung emas Archy yang merupakan peninggalan kaisar sebelumnya pada anda. Tak ada yang dapat mengukur seberapa besar cinta Yang Mulia pada anda. Banyak gadis di luar sana mungkin iri pada anda."
Benar. Burung emas itu adalah mahar terakhir yang di kirim sebelum dia memasuki kontes. Burung emas yang di menangkan kaisar sebelumnya pada perang pertamanya.
Burung yang merupakan lambang dari kemegahan tak terhingga.
Dan kemegahan cinta yang tak terbatas ini membuat Hanaya merasakan sensasi yang aneh. Bukan kebahagiaan, bukan pula eurofia tak berujung, melainkan rasa takut-
Suatu saat, jika Javier tak mencintainya lagi akankah segalanya di renggut hingga tak tersisa darinya?
Sebab terkadang ada titik dimana Hanaya di hantui ketakutan dengan satu persepsi.
Kelak, Jika Javier tak lagi mencintainya seberapa besar pengaruhnya bagi Hanaya ?
Akankah dia di singkirkan dengan mudah? Lenyap tak bersisa bagai debu yang kehadirannya terlupakan ?
Hanaya harap tidak.
Cukup Utopia saja yang tak sesuai bayangannya, jangan Javier, Brianna atau kedua orangtuanya.
Hanaya benar-benar akan terjebak dalam lubang keputusasaan jika mereka tak sesuai angannya.
Bisakah seseorang menyingkirkan ketakutan tak berasas ini? Hanaya lelah dengan semua praduga dan pemikiran buruk ini.
Lelah meragukan cinta tak terbatas Javier.
...▪︎OODEYE▪︎...
__ADS_1
Note: Reupload232904CL