
...▪︎OODEYE▪︎...
Jantung Hanaya berdebar. Matanya menilik sekeliling, berharap sosok yang dicari nampak. Mengabaikan tatapan kagum yang berpusat pada sosoknya kala menuruni tangga kediaman Viscount Lances.
Gaun merahnya sederhana, tetapi cantik dan elegan. Pita putih melingkari pinggang, kontras dengan warna merah itu sendiri. Surainya di kuncir satu berhiaskan permata. Tetapi alih-alih merasa bangga, Hanaya kini merasa cemas akan ketidakberadaan Putra Mahkota.
Apa mungkin dia tak datang ? Mungkinkah perubahan alur terjadi sebab Hanaya memilih mengubah kepribadian Viviana yang asli ?
Jantungnya berdebar kencang, rasa takut mendominasi. Tak sadar raut wajahnya yang kini memucat.
Berbagai spekulasi buruk menghantui.
Mungkinkah dia tak akan berakhir bahagia ?
Ataukah putra mahkota telah ditunangkan dengan yang lain sebab perubahan alur yang berasas darinya ?
"Ada sesuatu yang menganggu pikiran putriku?" Begitu mengangkat wajah, tatapan kekhawatiran yang menghujaminya membuat Hanaya bergetar.
"Kau merasa tak nyaman dengan gaunnya? Atau kau tak suka terlalu ada banyak orang yang menatapmu? Jika begitu ayah akan mengakhiri acara ini, lagi pula debutantemu sudah selesai. Bagaimana?"
Hanaya menggeleng haru. Bagaimana dia bisa lupa ? Bahwa bahkan jika alur berubah, Hanaya akan tetap menyandang nama Viviana-putri Viscount Lances. Bahkan jika Putra Mahkota tak dapat menjadi miliknya, seluruh hidup Hanaya juga akan dihabiskan dengan bahagia.
Viscount Lances akan mencarikan seseorang yang lebih baik untuk putrinya. Cinta orangtua dan nama Lances tak akan pernah direnggut darinya.
"Tidak, hanya senang berdansa dengan ayah." tukasnya jujur. Ada kelegaan di garis wajah tegas Viscount Lances yang berkeriput termakan usia.
"Pikir ayah kau tak nyaman. Jika kau merasa tak enak, sakit atau tak nyaman katakan pada ayah, oke? Ayah tak ingin hal buruk terjadi padamu"
Benar, inilah sosok ayah dalam bayangannya. Lembut tetapi tegas. Yang kepada Hanaya akan diberikannya dunia jika ia ingin, dan membelanya kala dunia menodong.
Netra lavender Hanaya beralih pada ibunya yang tengah tersenyum. Ingatlah ia bahwa keluarga sempurnanya akan terus mendukungnya. Cinta seorang ibu yang tak akan habis atau pudar selalu menyertai bahkan jika ia melakukan kesalahan- pada akhirnya cinta itu akan membawanya kembali.
Hanya karena Putra Mahkota, Hanaya lupa dunia bahagianya terdahulu. Itu akan selalu menjadi tempat dimana tawa mengaung dan tangis haru menetes, sebab begitu hangat dan melimpah kasih-sayang mereka.
Yah, dengan adanya Viscount dan Viscountess atau ayah dan ibunya, Hanaya masih akan tetap bahagia bahkan jika tak berakhir bersama sang pewaris tahta.
Dansa selesai dan keduanya membungkuk. Hanaya tersentak begitu menoleh, matanya bersibobrok dengan netra sepekat malam yang hangat. Garis wajah tegas serta aura keagungan yang membalut pekat.
-Putra Mahkota ada disini.
Mata Hanaya tak dapat lepas. Keterkaguman membuncah dihatinya. Pria tampan nan hangat ini akan menjadi miliknya.
Dengan jantung bertalu di penuhi kegugupan dan luapan kebahagiaan kala Viscount Lances menuntun Hanaya padanya.
"Sebuah kehormatan bagi saya jika Putra Mahkota berkenan berdansa dengan putri saya sebagai yang pertama" Viscount Lances mengucapkannya hikmat, penuh penghormatan.
Tangan Putra Mahkota terulur menyambut tangannya, melayangkan kecupan ringan yang meruntuhkan pusat dunia Hanaya, mengobrak-abrik isi hatinya.
Menuntun Hanaya menuju tengah, tangannya bertengger di pinggang lalu aromanya terasa begitu memabukan. Keduanya memulai dansa dengan lembut. Dengan ini terwujudlah scene didalam novel, meski berbeda awalan.
__ADS_1
Dimana Putra Mahkota seharusnya menghampiri Viviana, mengecup punggung tangannya lalu mengajaknya berdansa.
Ballroom itu cukup hening. Kedua sejoli berbeda usia itu saling menautkan mata seolah enggan lepas dari penyelaman keindahan netra masing-masing.
"Anda sangat cantik, Viviana ah haruskah saya menyebut anda lady ? " Bisikannya menggetarkan tubuh Hanaya. Posisi keduanya begitu intens saat candaan itu dilayangkan.
Pipi Hanaya merona.
"Terimakasih atas pujian anda, Putra Mahkota"
"Saya akan senang jika anda menjadi pendamping saya" Hanaya harusnya terkejut, tetapi fokusnya jatuh pada seseorang, entah terhipnotis atau apa hingga abai akan ucapan menyanjung Putra Mahkota.
Pria bersurai pirang di kerumunan sana-menjulang tinggi, sangat indah dan tak tersentuh. Meski tenggelam dalam kerumunan sosoknya tetap sangat menonjol. Tatapan keduanya bertaut, safir biru penuh intimidasi sedingin es membekukan seluruh peredaran darah Hanaya.
Sangat indah, tetapi suram.
"Fokus pada saya lady " Hanaya tersentak, menoleh, refleks mundur kala puncuk hidung keduanya bersentuhan. Bersyukur penolakannya tepat dengan usainya musik. Perempuan itu menatap Putra Mahkota yang nampak terkejut.
Alih-alih marah, ia tersenyum meraih tangan Hanaya dan mengecupnya
"Maafkan sikap saya, lady. "
Lalu keheningan berkepanjangan berkesudahan. Gaungan bisikan menggema. Tak ada yang menyadari penolakan kecil Hanaya, selain Putra Mahkota, atau keindahan suram yang tak terdistori keramaian.
***
Menggeleng, segera dienyahkan pemikiran itu.
Bagaimana pun dia tak harus mengaitkan segalanya dengan tulisan penulis asli novel ini. Dia telah memutuskan akan menjalani kehidupannya maka dia akan menjalaninya tanpa mengaitkan dengan tulisan takdir lagi.
Benar! Meski Hanaya akan memanfaatkan ingatannya, sesekali jika di perlukan.
"Ada sesuatu yang menganggu anda, nona?" Hanaya menggeleng, mengulas senyum.
"Hanya berpikir kenapa kau tak merecokiku dengan pertanyaan heboh. Pelayan pribadi orang lain kan, seperti itu."
Tanpa menghentikan tangannya, Brianna menatap mata Hanaya melalui refleksi cermin "Itu adalah privasi anda. Saya hanya melayani nona sebisa saya"
Hanaya mengangguk, larut dalam pemikirannya sebelum melayangkan pertanyaan
"Pria berambut pirang dengan mata biru, dan sebelah mata yang ditutup, nampak sangat dingin. Kau tau siapa dia?" Hanaya mendeskripsikannya dengan baik hingga Brianna langsung paham siapa maksudnya.
"Jendral Xavier. Dia panglima kerajaan sekarang."
Xavier, mengapa namanya sangat tak asing?
Pemikirannya buyar begitu celotehan Brianna jatuh seperti bom waktu yang membekukan pergerakan "Sangat aneh jika anda tak tau seperti apa beliau. Ada banyak rumor mengenainya.
Para pelayan di kediaman ini juga selalu membicarakannya."
__ADS_1
Hanaya tertawa kaku mendengar itu "Mu-mungkin aku melupakannya"
Tangan Brianna berhasil menyelesaikan rambut Hanaya yang kini telah rapi, tetapi intimidasinya melalui refleksi di cermin membuat Hanaya berdebar setengah mati.
"Boleh saya mengutarakan pendapat pribadi saya tentang anda?" Hanaya mengangguk gugup
"Si-silahkan"
"Ini hanya sudut pandang saya. Tapi saya merasa aneh dengan perubahan anda yang terlalu cepat. Memang benar semua orang akan berubah, hanya saja saya merasa anda seperti orang lain. Maaf atas kelancangan saya nona" lihat ? Brianna terlalu realistis untuk tokoh novel dengan deskripsi bawel. Sebab ia membuat Hanaya merasa terancam.
***
Hanaya tak menduga akan ada banyak ungkapan kebahagiaan. Memang benar bahwa dia akan menjadi Putri Mahkota, tetapi bukanlah sekarang.
Ada banyak desas-desus tentang Javier yang dingin. Ada pula rumor bahwa seksualitas pria itu melenceng. Tetapi melihat hangatnya dia pada Hanaya kemarin malam, membuat keraguan semua orang sirna. Sebab selama ini tak ada wanita yang di perlakukannya begitu, bahkan sahabatnya.
Hanaya bahkan disebut sebagai penyelamat kehidupan Utopia.
Hanaya tak tahu siapa sahabat Putra Mahkota ini. Mungkinkah karakter sampingan didalam novel?
Lamunannya buyar kala mendengar teguran Brianna "Jangan mengucapkan hal-hal aneh! Nona pusing mendengarnya!" Sedikit banyak Hanaya bersyukur memiliki Brianna yang sigap.
"Nona, sebaiknya kita ke taman belakang, saya akan menyiapkan teh herbal." Hanaya menurut. Aroma teh cukup menenangkan pikirannya.
"Kemana ayah dan ibu?" Tanya Hanaya.
"Tuan dan Nyonya pergi menghadiri undangan Baron Saith. Nona jika anda merasa terganggu dengan apapun katakan pada saya. Tuan dan Nyonya tak ingin anda merasa tak nyaman" Hanaya terdiam mendengarnya.
Kasih-sayang dan dunia yang indah ini... Hanaya tak ingin meninggalkannya dia ingin terjebak semakin dalam.
Di kehidupan lampau, ketika ayah dan ibunya masih bersama, Hanaya menjadi yang paling bahagia. Pikirnya kebahagiaan itu akan terus bertahan.
Hanaya suka mendengar dongeng. Karena itu dia berharap kehidupannya akan sesulit didalam dongeng lalu bertemu cinta sejati. Waktu itu ia terlalu dini untuk menginginkan cinta sejati, tanpa disangka impiannya terwujud.
Ibunya meninggal. Hanaya masih terlalu kecil untuk di urus sendirian oleh seorang duda berstatus manager. Sulit untuk merawat anak 6 tahun tanpa adanya kerabat. Ayahnya selalu diliputi kekhawatiran hingga akhirnya menikah dengan ibu tirinya yang manis diawal. Hidup Hanaya berubah 180 derajat.
Mulanya dia senang. Pikirnya, ini awal dari kesedihan yang akan berakhir bahagia. Tak disangka ayahnya meninggal, menambah luka hati Hanaya. Dia bekerja dari umur 10 tahun hingga 25 tahun. Mengurus rumah, mengurus makanan dan lainnya. Saat itu Hanaya sadar, buntut impiannya adalah kehancuran. Dia kehilangan segalanya, sebelum memutuskan mati.
Mulai dari terbukanya mata, Hanaya sadar dunia indah ini adalah dunia impian semua orang. Kemewahan, kebahagiaan dan cinta, terikat erat.
Lalu, di dunia penuh keindahan ini, kebahagiaan tak berujung menantinya- di ambang kesadaran yang nyata seberkas ke khawatiran menyelinap- akankah ia bahagia hingga akhir? Atau ini hanyalah fatamorgana yang ia kejar?
Di titik ini, Hanaya merasa ragu.
Sebuah ilusi yang indah di moment yang tepat? Hanaya harap-tidak.
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload230324CL
__ADS_1