Odd Eye

Odd Eye
Part 5. Pesta minum teh pertama


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Ini pertama kalinya pesta minum teh diadakan sebab itu Hanaya di liputi kegugupan.


"Semua akan baik-baik saja nona. Jika terlalu memikirkan penampilan anda akan kurang fokus. Cukup fokus pada pembicaraan dengan para lady saja" saran Brianna berhasil membuat Hanaya tenang.


Ia duduk dengan tenang dan anggun, sementara Brianna sendiri telah undur diri.


Mereka memulai dengan perkenalan singkat secara formal.


"Nona Viviana anda hebat sekali! Putra Mahkota sepertinya menyukai anda!" Seru lady Annette riang. Sudut bibir Hanaya mengulas senyum. Seperti namanya, Annette sangat riang dan menyenangkan.


Dilihatnya gadis itu meralat ucapannya dengan etiket begitu seseorang mengode.


"Ah, maafkan saya yang terlalu berlebihan. Maksud saya anda dan Putra Mahkota sangat cocok"


"Saya tak mempermasalahkan sikap lady, justru saya senang lady Annette merasa bebas" rona merah diwajahnya membuat Hanaya mengernyit geli- gadis polos rupanya.


"Te-terima kasih"


"Akan tetapi yang membuat saya bertanya adalah ketidakhadiran lady Madelin. Seluruh Utopia tau seberapa dekat mereka" perkataan Rozetta membuat dada Hanaya terasa sesak. Dia merasakan adanya tekanan dengan keberadaan Madelin ini.


Siapa dia ? Tidak pernah ada nama Madelin didalam novel. Hanaya membaca itu berulang. Untaian katanya cukup pendek dengan 59 halaman, tetapi seberapa keras dia mengais ingatan, tidak ada nama itu.


Apa dia akan menjadi penghalang bersatunya mereka ? Hanaya mengepalkan tangan, harusnya dia sadar tak akan ada 'happy ending' tanpa konflik. Betapa bodohnya Hanaya terbuai dalam tulisan si penulis. Dia merasa dongkol pada dirinya sendiri.


"Lady Madelin? Siapa dia?"


"Ah, lady Viviana tak mendengar banyak tentangnya, ya? Dia putri duke Nestra, penasihat pribadi Kaisar yang sekarang menempati posisi sebagai pengurus kerajaan sampai Putra Mahkota resmi memimpin kerajaan, Duke Nestra mengurus segalanya" jelas Annette.


Dengan posisi seperti itu dan kedekatan keduanya, bukan tak mungkin jika Madelin bisa naik tahta. Hanaya merasa kian terancam dan semakin tertekan.


"Seperti apa dia?"


Hanaya harus memastikan dia jauh lebih layak dibanding Madelin. Dengan begitu ada sedikit kesenjangan dan Hanaya bisa menganggap dirinya jauh lebih pantas. Sebenarnya bisa dikatakan Hanaya hanya sedang mencari kepastian- bahwa Madelin bukan sesuatu yang mengancam posisinya.


Sangat kekanak-kanakan !


"Dia sangat cantik dan pandai. Mereka berdua kerap membicarakan permasalahan kerajaan. Maksudku Putra Mahkota dan lady Madelin, itu yang ku dengar. Sebab setiap kali lady Madelin berkunjung ke istana, kehebohan selalu terjadi" sahut Rozetta.


Jadi mereka sering bertemu?


"Bahkan ada rumor beredar jika Putra Mahkota belum mendapat calon yang pantas, maka lady Madelin adalah kandidat terkuat untuk pemilihan calon ratu. Dia sangat cerdas, dan memiliki banyak pengikut, banyak lady menjadikannya contoh untuk di ikuti. Walau sebenarnya mereka semua hanya peniru" terang Annette yang mencibir diakhir.


Tetapi itu tak menjadi fokus Hanaya. Dia justru merasa sangat pundung sebab tau Madelin jauh lebih berpotensial dibandingkan dirinya.

__ADS_1


"Tapi, meski begitu jika Putra Mahkota tak menaruh hati padanya bukankah itu semua akan sia-sia? Mereka mungkin akan menikah secara politik, tetapi membayangkan istri tanpa cinta seorang suami itu menyedihkan. Dia mungkin hanya akan menjadi pion dan tersiksa seumur hidup dengan menahan hati atas perselingkuhan suaminya." itu-mengerikan, baik Rozetta dan Annette sama-sama bergidik ngeri.


Benar, wajah Hanaya kini cerah. Kalimat tadi menjadi harapan baru baginya. Jika Putra Mahkota mencintainya maka itu sudah lebih dari cukup. Hanaya yakin dari tatapannya, pemuda itu memiliki rasa padanya.


***


"Bagaimana lady yang saya sarankan?"


"Mereka sangat jujur dan ramah" jawab Hanaya jujur. Pembicaraan mereka sangat alami, tak ada canggung sebab tekanan etiket yang berlebihan.


"Senang mendengarnya" memang benar, Brianna yang meminta agar Hanaya mengizinkannya mengirim surat undangan pada lady lain.


"Terima kasih"


Brianna mengangguk "Itu adalah tugas saya. Maaf saya tak mencarikan anda lady dengan status sosial tinggi, saya hanya merasa anda memerlukan teman yang dapat diajak bicara dari hati. Memang benar anda memerlukan penyokong untuk reputasi anda, tapi menemukan orang yang tepat untuk dijadikan sandaran jauh lebih penting. Dunia sosialita itu seperti dua sisi koin yang berlawanan "


Sedikit banyak, Hanaya paham maksud Brianna.


Didalam dunia sosialita, saling menusuk adalah sebuah seni. Mereka tersenyum tetapi mencela dibelakang. Bersekutu tapi mengkhianati jika orang lain berkekurangan, dan saling memanfaatkan. Brianna hanya ingin dia menemukan yang tepat dan yang tulus agar dapat dijadikan teman sejati.


Kepedulian ini menggetarkan hatinya "Darimana kau tau mereka pantas?"


"Saudari dan teman saya merupakan pelayan pribadi keduanya. Jadi saya tau sedikit banyak tentang mereka"


"Itu tugas saya untuk selalu memastikan anda aman." Hanaya bertanya, dimana Viscount Lances menemukan seseorang dengan loyalitas setinggi ini? Hanaya berani bertaruh, Brianna bahkan bersedia mati baginya, jika itu harus.


Brianna menegang begitu Hanaya memeluknya "Terima kasih, sudah peduli padaku" Hanaya senang- bahkan di kediaman ini ada begitu banyak kepedulian padanya.


"Saya hanya menjalankan tugas saya" lagi, Brianna menjawab formal meruntuhkan suasana hati Hanaya. Keadaan berubah canggung.


Hanaya kembali duduk di depan cermin membiarkan Brianna melanjutkan merapikan rambutnya.


"Apa kau masih ragu padaku? Maksudku kepribadianku?"


"Tak ada alasan bagi saya untuk larut dalam hal itu. Bagaimana pun keraguan itu harus dihilangkan karena saya akan melayani anda selama sisa hidup saya" Hanaya menatap Brianna terharu.


Oh Tuhan, sebegitu beruntungnya dirinya? Hanaya rasa dia memang ditakdirkan berakhir bahagia disini.


"Nona, jangan memasang wajah seperti itu di depan publik, anda akan di olok" Hanaya mengangguk, sebab sadar seberapa jelek ekspresi wajahnya sekarang ini.


"Ada undangan resmi dari istana"  raut wajah Hanaya kian di liputi kebahagiaan.


"Anda di undang secara resmi oleh Putra Mahkota untuk berbicara"


"Bantu aku memilihkan gaun yang tepat" Brianna membiarkan Hanaya menyeretnya. Nonanya itu nampak sangat antusias sementara Brianna menatapnya lekat.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Bagaimana dengan gaun ini? Aku belum pernah memakainya atau haruskah aku memesan yang baru? Tidak gaunku masih banyak, cukup bijak jika memilih salah satu. Undangannya masih satu minggu lagi bukan? Ad-


"Anda menyukai Putra Mahkota," Pergerakan Hanaya membeku. Seluruh tubuhnya kaku mendengar pernyataan Brianna.


Pelayannya itu menghela nafas lalu berkata "Saya harap anda mau mendengar saran pelayan rendah ini, jika anda ingin memasuki istana maka pertahankan logika dan jangan biarkan hati anda memimpin."


"Brianna keluarlah, saya ingin berbicara dengan Viviana" Brianna membungkuk lalu berlalu meninggalkan Hanaya yang bertanya. Terkadang sulit bagi Hanaya untuk paham pemikiran Brianna, sebab dinilainya sebegitu rumitnya.


Padahal selisih usia keduanya hanya beberapa bulan, mengapa Brianna terasa begitu dewasa?


"Putriku terlihat senang sekali? Apa ini mengenai undangan dari Putra Mahkota?" Hanaya merona mendengar itu. Dalam sekejab nada penuh peringatan nan misterius Brianna, terlupakan.


"Lalu bagaimana dengan gaunnya? Sudah kau temukan yang tepat?" Hanaya menggeleng "Aku baru saja mencarinya bersama Brianna saat ibu masuk"


"Bagaimana jika kita ke kota lagi dan meminta rancangan baru?" Hanaya sebenarnya sangat ingin, akan tetapi banyaknya gaun indah di lemari ini akan sangat disayangkan jika tak terpakai. Di kehidupan sebelumnya sangat sulit baginya mendapat pakaian bagus, maka Hanaya tanpa sadar enggan membuang lebih banyak uang. Meski Viscount Lances, ayahnya termasuk kaya.


"Banyak gaunku yang belum terpakai, ibu bantu pilihkan saja untukku" Viscountess mengelus rambut putrinya "Baiklah, sesuai permintaan anak ibu"


"Apa ayah sedang sibuk?"


"Tidak" sahutan datang dari ambang pintu, rupanya itu Viscount Lances, ayahnya.


"Kau ingin ayah bantu memilihkan mu gaun? Selera ibumu sedikit jelek" bisiknya pada Hanaya. Viscountess hanya menggeleng, tak ingin memperpanjang sifat kekanak-kanakkan suaminya itu.


"Ayo ibu bantu pilihkan" Hanaya menurut sedang ayahnya juga ikut  serta. Alasan mengapa rumah ini sangat tenang adalah bahwa tak adanya etiket yang terlalu menekan. Bisa dikatakan kediaman Viscount Lances tak mempertegas etiket, ada banyak kelonggaran disini.


"Bagaimana dengan pesta minum tehnya tadi?"


"Berjalan lancar"


"Kau mengundang banyak lady ?"


"Tidak. Brianna yang mengaturnya untuk ku. Mereka sangat menyenangkan, tak ada terlalu banyak formalitas jadi pembicaraan kami mengalir begitu saja" jelas Hanaya singkat.


"Sudah ayah duga, kedepannya kau harus percaya pada Brianna. Dia itu sangat mengutamakan kenyamananmu" Hanaya juga menyadari itu, seolah Brianna bersedia menanggung apapun untuknya.


"Tapi, terkadang aku merasa Brianna tak merasa bebas ayah, ibu" Viscount Lances menghela nafas. Membenarkan ucapan putrinya "Akan ayah bicarakan dengan Brianna nanti. Seperti apapun, dia juga harus merasa nyaman di dekatmu"


Hanaya mengangguk,mengiyakan. Sebab Brianna terlalu abu-abu untuk dibacanya, ada beberapa saat dimana Hanaya salah mengartikan tindak-tanduk dan bahasa gadis itu. Kebanyakan kali- Hanaya sering merasa Brianna tak nyaman dengannya.


Padahal gadis itu sangat mengutamakan Hanaya.


...▪︎ OODEYE▪︎...


Note: Reupload230325CL

__ADS_1


__ADS_2