
...▪︎OODEYE▪︎...
Kereta kuda mulai bergerak, di sepanjang jalan besar Utopia teriakan menggaung. Sebagian besar di isi dengan doa mengenai penerus. Seperti biasa, berita mengenai kaisar dan ratu selalu menyebar dengan cepat.
Salju mulai turun secara perlahan. Musim dingin telah tiba.
Kira-kira tempat seperti apa yang hendak mereka tuju? Tempat seperti apa yang Javier sebut tempat mencari ketenangan?
Hanaya penasaran.
Kereta kuda tak di kawal penjaga. Mungkin tempat ini spesial.
Duduk disini selama pagi hingga petang, mereka akhirnya tiba.
Viviana secara anggun memperbaiki postur tubuhnya yang terasa kaku sebab duduk terlalu lama.
Mungkin tempat yang mereka tuju letaknya terpencil dari Utopia.
Ah, rupanya hanya sebuah desa kecil yang di kelilingi hutan. Tetesan salju yang hinggap, berceceran di tanah dan pohon menciptakan ilusi indah kala sinar keemasan matahari terbenam, memantulkan refleksi beku
Mereka masuk. Daerah ini dapat Viviana simpulkan kecil, mungkin dua atau tiga kali kecilnya dibanding Vilanc, sebab jarak antara perumahan yang berjauhan, tak sepadat jalanan Utopia atau Vilanc.
Kesamaan yang di miliki dengan Vilanc adalah pakaian yang kusam dan sederhana sementara perumahan kayu mereka tidak di cat.
Dugh.
Viviana terkejut, matanya beralih menatap anak kecil yang menabraknya. Anak itu menatapnya gementaran, tanpa di duga seorang bocah lelaki lima atau sepuluh inci lebih tinggi dari sang gadis berlari, lantas bersimpuh di kakinya dan meminta maaf.
"Maafkan saya nyonya, ini salah saya. Hukum saja saya jangan adik ku. Saya lalai menjaganya." ujarnya terbata.
Merasa iba, Hanaya menunduk, menyentuh bahu anak lelaki itu yang refleks berjengit lalu gementaran.
Tertegun, Hanaya berkata menenangkan.
"Tidak masalah. Adikmu tak sengaja, itu bukan kesalahanmu atau adikmu"
Tetapi anak lelaki itu masih bersih keras, bahkan hendak mencium sepatunya. Hanaya tentu terkejut.
"Berdirilah, jika kau tak bangun aku akan menghukum adikmu" dan seperti dugaannya ancaman itu berhasil membuat bocah itu berdiri.
Tingginya kira-kira diatas dadanya, sementara bocah perempuan itu sedikit lebih pendek dari bocah lelaki itu.
"Siapa namamu?"
"E-Evan nyonya. Saya bisa bekerja apa saja, apapun yang nyonya suruh jika nyonya berkenan melepas adik saya."
"Ada apa Viviana?" Tanya Javier, pria itu kembali ke belakang, kala tak merasakan presensi Viviana yang mengikuti langkahnya.
"Kembalilah." satu kata itu membuat anak lelaki itu menunduk dalam-dalam, menyeret adik perempuannya lantas berlalu setelah mengucap terima kasih.
Hanaya menatap keduanya keheranan dan kasihan, suhu kini dingin tetapi keduanya tak menggunakan mantel atau baju hangat, bahkan bertelanjang kaki. Semiskin apa daerah disini ? Ataukah mungkin mereka telah terbiasa berkeliaran tanpa alas kaki ? Terbiasa berkeliaran tanpa alas kaki bahkan di saat musim dingin seperti ini ?
"Ayo"
"Tapi...
"Udara dingin, kita bicarakan di penginapan"
__ADS_1
Lalu ia di tuntun Javier, berjalan melewati rumah-rumah kecil hingga tiba pada penginapan dengan interior kayu, warnanya kecoklatan. Kayu dengan kualitas tinggi dan di cat dengan warna yang indah. Mungkin hanya ini satu-satunya tempat dengan paling baik disini.
"Selamat datang Yang Mulia, Ratu. Saya ucapkan selamat atas pernikahan anda, dewa memberkahi Utopia. Saya George, selamat datang di Luded" pria gendut dengan baju hangat dan mantel domba putih, berkasut mewah menyambut ramah. Tampilannya begitu kontras dengan dua bocah tadi.
Apa ada daerah miskin di Utopia ?
Sepertinya tidak. Namun ada apa dengan daerah ini?
"Siapkan jamuan dan air hangat untuk kaisar dan ratu." katanya pada pelayan lelaki di sisinya yang kemudian menuntun keduanya.
"Mari Yang Mulia"
Luded. Itukah nama desa kecil ini?,
Nama yang aneh dari semua desa di Utopia.
Sama seperti penginapan lainnya, tempat ini memiliki banyak kamar yang berjejer dengan ukuran yang sama, setiap lentera kaca terpasang di setiap dinding disamping pintu kamar.
Sepi, mungkin sebab Javier telah memberi kabar soal kedatangan mereka.
Keduanya di tuntun menuju kamar. Jamuan makan dan pelayan telah tersedia disana.
"Selamat menikmati" ujar George lantas berlalu meninggalkan keduanya.
Viviana bergerak menuju balkon, meneliti pemandangan.
Dari sini, desa ini terlihat kecil, perumahan berjejer rapi lentera kaca mulai menyala di depan rumah, mungkin sebab udara yang mulai dingin tak ada satupun yang keluar.
Sepi, tetapi indah.
Diantara tetesan salju, bintang nampak berkilauan di langit. Kamar ini merupakan tempat tertinggi disini. Ada pegunungan tinggi di sebelah selatan. Sementara warna hijau bercampur putihnya salju, begitu sinar bulan mengenainya cahaya menyebar, berkilauan. Seperti permata di kegelapan.
"Cantik bukan?"
"Ya, sangat cantik tapi terlihat suram. Pepohonan yang mengelilingi desa ini- membuatnya terlihat menyeramkan" Hanaya mendeskripsikan itu sambil mengingat sosok Xavier.
Ini mirip dengan Xavier.
Indah tetapi suram.
Menggelengkan kepala, Hanaya menepis bayangan Xavier. Pria itu adalah musuh !
Keduanya larut dalam pemandangan. Cukup lama hingga Hanaya menyadari sesuatu. Refleks di renggangnya jarak tubuh keduanya, berbalik menatap Javier.
"Kita harus membangun tembok pembatas. Sekarang adalah musim dingin, hewan buas seperti serigala atau harimau mungkin akan menyerang desa"
Saat musim dingin, sumber makanan binatang buas menurun. Saat itulah hewan buas menyerbu kawasan atau daerah terdekat untuk berburu makanan.
Nyawa orang-orang ini sedang terancam !
"Javier, kita harus membangun tembok! Kirimkan pesan sekarang juga atau-
"Tidak perlu khawatir, daerah ini memang di kelilingi pengunungan tapi prajurit terlatih ada di pos-pos tertentu mereka akan menolong"
"Tapi apa itu cukup? Bagaimana pun mereka hanya manusia, kita melawan hewan buas! Akan sulit-
"Tidak perlu khawatir! Luded telah lama seperti ini dan belum ada kasus penyerangan hewan buas selama ini, mereka semua aman Viviana"
__ADS_1
Penjelasan yang tak dapat di terima oleh nalar Viviana. Di kelilingi pegunungan bagaimana bisa tak ada satupun hewan buas yang masuk saat musim dingin atau kemarau? Sementara saat musim ini hewan bermigrasi ketempat yang mudah menemukan makanan. Bisa-saja ini mungkin kuasa dewa. Batin Hanaya.
"Utopia telah di lindungi. Kita akan aman. Percayalah dan hilangkan ketakutanmu. Sekarang mari beristirahat." ucapan itu membuat wajah Hanaya memerah.
Jika di ingat lagi, mereka belum melakukan malam pertama.
Matilah !
"Aku-aku akan mandi, kau sudah selesai bukan? Istirahatlah." dan dengan alasan itu dia berhasil melarikan diri.
Malam pertama ?
Rasanya begitu gugup saat memikirkan ini.
Hanaya berdiam diri begitu lama. Bukan niatnya melarikan diri, dia hanya belum siap melakukan hal itu. Meski itu kewajibannya sebagai istri juga.
Hanaya bersyukur pelayan tak di izinkan di sini. Mungkin Javier ingin waktu pribadi untuk keduanya.
Mengintip, Hanaya akhirnya keluar. Dia berpikir Javier sudah terlelap. Rupanya, dia salah.
Pria itu tak lagi mengenakan baju tidur, melainkan mantel dan pakaian resmi.
Sorot matanya menunjukkan permintaan maaf.
"Yang Mulia, kereta kuda telah di siapkan" itu suara George yang berasal dari balik pintu. Terdengar sopan.
Tak butuh waktu lama bagi Hanaya untuk tau ada masalah.
Pria itu mengecup tangannya lantas berkata "Maaf, aku harus membatalkan rencana kita lagi, kaisar Welsey mengunjungi Utopia"
Terkejut, Hanaya menatap Javier melotot. Kaisar? Dan bukan seorang utusan?
Firasat buruk menghinggapinya.
Jangan katakan ini mengenai perihal surat tempo hari !
"Kalian bantu ratu berpakaian." ujar Javier pada kedua pelayan yang entah sejak kapan ada di dalam kamar penginapan mereka.
Seusai pria itu berlalu, dia di pakaikan pakaian musim dingin, dengan segera berjalan turun.
Javier yang melihat sosok Viviana di atas tangga, bergerak menyambutnya, menggandengnya mesra. Lalu mengecup tangannya lagi penuh penyesalan.
"Maaf, membuatmu kelelahan. Tapi ini mendesak." ujarnya.
Suasana romantis ini dan bagaimana cara Javier memperlakukannya tak lantas mengalihkan kekhawatiran Hanaya.
"Tak apa. Kita punya urusan yang lebih penting. Kedepannya akan ada banyak waktu luang." Hanaya memaklumi meski begitu jantungnya bertalu-talu sebab firasat buruk yang menggelayuti.
"Maaf, akan ku pastikan kali berikutnya akan jauh lebih baik"
Hanaya hanya tersenyum mendengarnya "Ya."
Semoga bukan hal buruk apalagi perihal surat.
Semoga.
Hanaya tak ingin kisah bahagianya berakhir secepat ini. Itu haruslah berlangsung seumur hidup!
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Reupload: 052308CL.