Odd Eye

Odd Eye
53. Akhir semua malam mimpi buruk


__ADS_3

...▪︎ODDEYE▪︎...


Rozetta pernah mendengar ini sebelumnya. Teriakan penuh penghakiman dan tatapan membunuh, seolah hendak merobek. Bagaimana kerumunan berubah bagaikan monster haus darah dengan Rozetta sebagai mangsa adalah sebuah Deja vú baginya.


10 tahun yang lalu, perempuan dengan surai kemerahan di giring disini dalam sebuah ketidakberdayaan. Mata yang sayu penuh permohonan namun tersirat tekad, gaun tidur yang sobek dan ternoda serta surai yang kacau. Rozetta kini paham seperti apa rasanya berdiri untuk sesuatu yang kau bela.


Rasanya seperti dihadapkan pada jurangan paling dalam nan kelam dimana tidak ada jalan balik selain terjun. Namun bukankah dengan begitu dia dapat menerima kematiannya dengan lapang?


Fakta bahwa dia tidak sendiri adalah sesuatu hal yang menenangkan disaat seperti ini. Rasanya seolah-olah ibunya sedang bersamanya.


Mata Rozetta menyorot Javier tajam kemudian beralih pada sosok Xavier.


Untuk setiap hal yang di perjuangkan selalu ada harga untuk itu. Dan inilah harga yang harus Rozetta bayar untuk setiap kebenaran yang dia percayai.


Untuk kebenaran yang belum tersingkap dan untuk setiap tetes darah, air mata dan penderitaan. Bukankah kebenaran dan hidup sedemikiannya berharga hingga patut di perjuangkan? Sebab di dalam kebenaran yang tertutupi ada noda dalam nama yang perlu dihapus.


Sejak awal memilih, Rozetta menyadari resiko terbesarnya adalah kematian- lebih buruknya membawa nama yang tercemar. Dan dia bergantung pada Xavier untuk hasil akhirnya.


Lebih baik mencoba dibandingkan pasrah tanpa berjuang bukan?


Netra Rozetta menatap langit yang biru, nampak begitu jernih di hiasi kabut tipis awan putih. Dia harus meminta maaf pada ayahnya karena mengambil langkah tanpa sepengetahuannya meski menyadari resiko sebesar ini.


Ayah pasti akan marah padaku. Tapi sekali lagi, maafkan aku ayah.


Rozetta tidak bisa hidup dengan nama ibunya yang tercemar. Bagaimanapun keadilan harus di tegakkan.


Keramaian ini menakutkan dengan semua teriakan, umpatan dan senjata yang diangkat. Rozetta bagaikan tempat sampah.


Sejak awal reputasi adalah hal yang mudah dinodai. Seseorang yang berbakat, putri dari keluarga besar dengan ayah berstatus tinggi, menjadikan segala hal tentang Rozetta adalah kemewahan tanpa cela. Sayangnya, dia masih manusia. Tidak peduli seberapa tinggi orang memandangnya, Rozetta punya kelemahan.


Satu fakta yang dia tutupi bagaikan bayangan yang mengikuti- bahwa mimpi buruk menerornya kemanapun dia pergi, malam-malam panjang yang di isi keheningan terdistori rasa sakit dan penderitaan ibunya. Jeritan kesakitan ibunya kala terbakar benar-benar menjadi mimpi buruknya. Rozetta hidup dalam kepalsuan- bahwa dia baik-baik saja.

__ADS_1


Tapi sekarang, dia akan mengakhiri semua malam dalam mimpi buruknya. Bukan karena dia takut atau tak lagi mampu, Rozetta hanya ingin keadilan bagi ibunya dengan bonus mimpi buruknya berakhir.


Lelucon yang bagus untuk meredakan ketakutan akan kematian.


Kain hitam menjadi penutup matanya dengan wajah sedih Viviana sebagai pemandangan terakhir begitu menyayat hatinya, namun ini pilihan Rozetta. Setidaknya Annette yang cengeng tidak ada disini, gadis itu akan mati syok jika melihat kepalanya terlepas dari tubuhnya.


Sensasi dingin berpadu kasar tempat pembaringan kepalanya membuat utas senyum Rozetta tertarik miris.


Setidaknya- dia tidak merasakan bagaimana sakitnya kematian mendatangi. Tidak pula merasakan kobaran api yang menghanguskan seluruh daging dan tulangnya atau tidak melihat bagaimana mata penghuni dunia ingin mengirimnya ke neraka.


Dia akan mati dengan cepat dengan rasa sakit yang sesaat. Meski jantungnya bertalu seakan hendak meledak, ini adalah kematian yang singkat dengan rasa sakit yang sekejab pula.


Maaf untuk semua orang yang Rozetta tinggalkan dalam ketidakpastian dan luka, sayangnya ini adalah perannya sebagai bidak sekaligus perjuangannya meraih kebenaran dalam pandangannya.


Cipratan darah yang menyebar membasahi lantai eksekusi menumpahkan air mata Hanaya. Kepala Rozetta dibawah tajamnya pacul terlepas dari tubuhnya.


Pemandangan itu mengerikan namun menyedihkan disaat yang bersamaan bagi Hanaya. Rozetta yang selalu mengagumkan ternyata punya sisi yang seperti ini. Sisi gelap yang tak pernah dia ketahui. Namun diatas semua itu, perasaan terkhianati begitu menusuk.


Hanaya tidak bisa mengerti! Dia tau dia tak pernah bisa memahami jalan pikiran Rozetta! Namun bukankah pikirannya terlalu naif? Melepas semua kemegahan dan berakhir menyedihkan seperti ini? Apa yang sebenarnya dia pikirkan?


Seringai yang sama tersungging di bibir Xavier kala Hanaya menatapnya dengan mata memerah, terdistori perasaan terkhianati yang dalam.


Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya ?


Kata-kata tanpa suara yang keluar dari mulut Xavier, membuat Hanaya mengepalkan tangan. Perasaan tidak berdaya semakin menggerogoti, membuat kakinya terasa lemas. Ini adalah Xavier yang sebenarnya. Kekuatan monster dalam mimpi buruk Hanaya.


Dia- dia akan kehilangan segalanya ! Segalanya !


Mata dingin yang begitu indah, yang pernah memesona Hanaya kini nampak begitu mengerikan. Pupil biru yang indah bermanifestasi menjadi laut dalam yang tak dapat dia selami.


Perasaan sesal sebab melangkah terlalu jauh menyeruak, bagaikan tangan tak kasat mata yang mencekik jantungnya. Tubuhnya bergetar tak terkendali, sesuatu seakan meremat paru-parunya, hendak menghancurkannya berkeping-keping. Perasaan kalut yang begitu kuat dibawah intimidasi netra biru Xavier, menelannya utuh. Rasanya seperti tenggelam di laut luas dan terseret semakin dalam.

__ADS_1


Seringaian itu bagaikan tangan hitam yang menariknya kedasar laut yang kelam.


Seseorang, tolong Hanaya. Dia tidak pernah merasa tercekik hingga seperti ini.


Lalu satu kalimat yang keluar memukul telak Hanaya. Dia jatuh tak berdaya disamping Javier, bagaikan pengelana putus asa mencari jalan keluar.


"Viviana, kau baik-baik saja?"


"Kau terlihat pucat! Katakan sesuatu padaku!" Suara khawatir Javier bagaikan hening di telinga Hanaya. Seluruh benaknya memutar ulang gerak bibir Xavier.


"Hadiah pembuka"


Jadi, akan ada berapa banyak kejutan yang akan dia terima? Berapa banyak hal mengerikan yang akan dia alami?


Rasanya seperti undangan untuk memasuki mimpi buruknya.


Selama ini Hanaya berpikir dia telah melewati hal-hal buruk dan dia pantas ralat, lebih dari sekedar pantas menerima akhir bahagia. Itulah mengapa kala Xavier datang sebagai penghalang, Hanaya menghalalkan segala cara. Semua kemenangan itu nyatanya hanyalah kamuflase. Hanaya tidak pernah, bahkan seujung kuku pun benar-benar menyentuh, Xavier.


Mengapa dia baru menyadari ini ?


Bahkan dengan statusnya, dia tidak dapat mengecam Xavier.


Mata pria itu seakan mencemoohnya. Seakan menyampaikan bahwa Viviana dengan segala kebenciannya bukanlah tandingannya. Bahwa dia tidak akan pernah bisa menyingkirkan Xavier. Presensi pria itu akan terus ada. Bahwa satu-satunya orang yang akan kalah adalah Viviana de Lances. Bahwa dia tidak akan pernah menggapai hasrat terdalamnya.


Bahwa ketakutannya benar adanya. Semua mimpinya adalah semu. Dan dia tidak pantas berjuang, bahkan setiap perjuangannya tidak akan mengubah apapun. Hanaya tidak akan pernah tenggelam dalam kebahagiaan selama sisa hidupnya.


Dikelilingi banyak orang tak lantas membuat Hanaya merasa tenang. Fakta bahwa intimidasi Xavier dapat menembus dan tertanam begitu dalam padanya adalah kebenaran lain, sebuah afirmasi bahwa sejak awal Hanaya bukan tandingan Xavier.


Lantas apakah tidak ada harapan untuk akhir bahagia ? Apa dia akan kehilangan segalanya ?


Lalu, apakah cemoohan akan datang padanya karena semua ini ? Apa usahanya untuk memulihkan nama baiknya akan tercemar ? Apa gelar Ratu pada namanya akan tercoreng ?

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Update230603


__ADS_2