
...Part 35. Sambutan...
...▪︎OODEYE▪︎...
Pemikirannya masih bercokol dengan kemungkinan seberapa besar presentase Rozetta ikut berpartisipasi.
Sementara kelompok ini menuai banyak kebencian di kalangan anggota kerajaan. Mungkin seluruh keluarganya akan di hilangkan untuk mencegah timbulnya dendam terhadap pewaris kekaisaran.
"Upacara penerimaan sebagai anggota keluarga kerajaan" Hanaya tersentak kala Xavier telah mengulurkan tangan padanya.
Pria itu dalam balutan resmi pakaian kemiliterannya. Hitam, dengan lencana memenuhi dada kiri dan selendang sutra kuning yang menyampir miring mulai dari pinggang kiri, berpuncak pada bahu kanan dimana lencana lambang Utopia (matahari di apit dua singa) terbuat dari emas murni sebagai penyelaras.
Berbanding dengan Javier dalam balutan pakaian berwarna gold dengan jubah bulu domba berwarna merah serta mahkota dan tongkat. Sementara Hanaya dalam balutan warna senada dengan gaun berkerah yang menyampir hingga mata kaki, serta selendang bulu domba putih.
Melihat sosoknya membuat Hanaya kian menaruh benci. Tetapi bagaimana pun, ini adalah tradisi. Suka atau tidaknya dia harus melaksanakannya.
Upacara pembukaan. Penerimaan bagi istri kaisar atau raja di Utopia. Biasanya di lakukan oleh ayah kaisar atau raja sebelumnya namun kaisar telah berpulang maka Xavier selaku anak tertualah penggantinya.
Ada seberkas rasa aneh kala tangan pria itu bertengger di pinggangnya atau kala jemarinya melingkupi telapak tangannya. Ini masih sama, sentuhan yang dingin tetapi familiar. Mungkin sebab belakangan ini Hanaya telah terbiasa dengan sentuhan ini.
Dan sebelum lagu berakhir, bisikan dingin menyentaknya "Selamat datang" keduanya secara bersamaan memberi penghormatan. Sementara Hanaya menatap Xavier yang berlalu dengan degup jantung bertalu.
Bagaimana pun, Hanaya tak boleh merasa nyaman. Pria itu adalah musuh yang harus dilenyapkan.
Ingat Hanaya ! Xavier adalah pengancam di kehidupanmu. Jangan biarkan dia menganggumu lagi ! Jangan pernah terbiasa atau nyaman dengannya !
Namun meski lubuk hati memberi kecaman mengapa Hanaya merasa kehilangan? Mengapa? Dan dari mana rasa aneh ini muncul?
Bukankah dia selalu merasa terintimidasi? Lantas mengapa rasanya salah saat tangan pria itu terlepas darinya?
Mengapa Hanaya merasa salah harus menarik benang permusuhan diantara keduanya?
Seolah membenci Xavier yang menghancurkan kehidupannya adalah sebuah kesalahan terbesar.
Membisikkan sesuatu pada Javier, Hanaya pamit undur diri. Dia membutuhkan cermin untuk menguatkan tekad.
Melewati lorong dan sampai pada tempat penginapan kerajaan, ia memasuki kamar tamu. Setelah melewati jalan panjang penuh sapaan dan sudut bibir yang membeku sebab seringnya menarik senyum, mata violet itu terjatuh pada refleksi dicermin.
Menepuk kedua pipi, menyadarkan diri. Hanaya menatap lekat refleksinya sembari memberi ultimatum pada kalbu.
Bahwa, tak ada rasa apapun.
Mungkin hanya terbiasa akibat seringnya terlibat, atau mungkin pula nurani pengasihan. Tidak lebih.
"Seharusnya kau tak melarikan diri hanya karena hal sekecil ini Hanaya. Kau adalah Ratu. Dan tempatmu disisi Javier. Lalu mengapa bertindak sepengecut ini?" Menarik nafas gusar, Hanaya menuju balkon.
Dari atas sini dapat terlihat olehnya di depan hall istana betapa bersukacitanya rakyat biasa. Melakukan tarian, tertawa, dan makan dengan bebas. Andaikan hal yang sama berlaku di aula.
Jujur, formalitas membuat segalanya terasa kaku. Mungkin sebab pengaruh kehidupannya yang selama ini tak di isi formalitas. Maka itu saat menjadi ratu, rasanya canggung dan aneh.
__ADS_1
Hanaya harap dia dapat menyelinap kesana.
Tiba-tiba saja ia teringat kedua orang tuanya. Mereka belum bertukar sapa. Viscount dan Viscountess pasti merindukannya.
Akhirnya Hanaya kembali ke aula istana dengan menarik senyum formal yang membekukan sudut bibirnya.
Disana, sudah ada ayah dan ibunya berbincang bersama Javier
"Maaf ada sedikit masalah tadi"
"Ayah ib-
"Memberi salam pada Yang Mulia Ratu" sapaan keduanya membekukan gerak Hanaya.
Ah, benar. Formalitas.
Hanaya sepertinya akan sedikit sulit beradaptasi dengan itu.
"Pernikahannya di rencanakan dengan sangat baik. Bahkan melibatkan rakyat juga" ujar ibunya.
"Terima kasih atas pujiannya"
Biar bagaimana pun, Hanaya tak lagi berstatus putri melainkan ratu. Disaat terlibat kerumunan ramai ini, formalitas adalah kepatuhan. Saat hanya ada mereka bertiga, mungkin saat itu akan sedikit longgar untuk mengurangi etiket.
"Ah, dan kami memiliki hadiah Untuk Yang Mulia Ratu dan Kaisar. Mohon di terima"
Hanaya sebenarnya ingin sekali membuka hadiahnya. Sayangnya sekali lagi, sikap dan etiket harus di utamakan.
Sebab sibuknya Viviana membuat jarak diantara mereka sebagai ayah dan anak terasa jauh. Mungkin hanya pertemuan di dalam kuil tadi. Sisanya, Viscount Lances berserta sang istri hanya dapat mengamati dari kejauhan.
Pergantian statusnya begitu cepat membuat Viscount sendiri tak siap dan takut. Namun semuanya terlanjur terjadi. Satu hal yang dapat ia lakukan adalah menjadi penyokong.
"Tentu. Kapanpun, kedatangan kalian akan selalu di terima di istana ini. Silahkan berkunjung sesering mungkin. Terlepas dari statusnya, Viviana tetaplah putri Viscount dan Viscountess." ujar Javier.
Sementara itu, waktu berlalu dengan cepat sebab banyaknya terisi perbincangan dengan perwakilan negara. Hingga tiba di penghujung acara, survenir di bagikan.
Hanaya menarik nafas merebahkan tubuh.
Demi Tuhan, dia tak pernah selelah ini.
Besok adalah hari dimana barang-barangnya akan di pindahkan dan perpisahan secara keluarga akan di lakukan.
Membayangkan itu hanya membuat matanya memanas.
Meski dia tak siap ini adalah pilihannya.
Istirahatlah Hanaya, esok adalah hari yang sibuk.
Dengan begitu matanya terpejam sempurna.
__ADS_1
Sayup-sayup Hanaya merasa seseorang melepaskan gaunnya, tetapi ia terlalu lelah untuk membuka mata.
Dia bahkan dapat merasakan gaun tidur satin lembut di pakaikan padanya lalu tubuhnya terangkat. Memaksa membuka mata, sayup-sayup dalam gambaran buram yang semakin jelas sebab kerjapan mata, sosok Javier nampak.
"Tidurlah. Kau kelelahan" dan bagaikan mantra, mata Hanaya tertutup seketika, tenggelam dalam kegelapan.
***
"Anda sudah bangun Yang Mulia?" Hanaya yang baru saja kembali kesadarannya membeku.
Kepala pelayan berdiri di sampingnya dengan senyum.
Bukankah semalam dia ada di kamar tamu? Lalu mengapa tiba-tiba dia ada disini?
"Yang Mulia silahkan cuci muka anda" baskom emas dengan air wewangian di sodorkan ke arah Hanaya yang masih mengais ingatan, mencari tau siapa yang membawanya kemari.
Javier!
Astaga! Semoga Hanaya tak mengiler! Itu kebiasaan buruknya saat terlalu lelah.
Secara refleks berkaca pada air di baskom Hanaya menarik nafas lega saat mendapati kedua sudut bibirnya tak menampakkan bekas saliva yang mengering.
"Siapkan air mandiku" titah Hanaya mengabaikan rasa aneh sebab banyaknya jumlah pelayan yang ada di kediaman ini.
Beranjak, Hanaya terperangah melihat interior kamar ini. Dinding dengan warna emas, bak mandi yang dibuat dari emas, serta lantai marmer putih mengkilap.
Astaga ini bahkan berkali lipat mewah di banding kamar mandinya. Luasnya bahkan lebih besar.
Dengan segera ia di layani.
Di lepaskan baju tidurnya dan berendam dengan pijatan dan olesan masker.
Mandinya telah usai. Hanaya beranjak keluar di ikuti pelayan hanya untuk kian terperangah dalam hati kala melihat interior kamar ini.
Astaga betapa mewahnya kamar ini!
Segera deretan pelayan berbaris, menunjukkan gaun koleksi terbaik yang semuanya berkilauan.
Sebenarnya kemewahan macam apa ini?
Gaun di urutan pertama berwarna kuning. Dengan kerah dan motif bunga, lengkap dengan sarung tangan putih bermotif sama dan topi kecil dengan bulu burung berwarna kuning.
Gaun kedua merupakan terusan wol merah mudah lembut, hingga mata kaki dan masih ada banyak, lagi.
Matanya menjelajah, lalu jatuh pada gaun sederhana berwarna kuning. Ini cocok dengan suasana rumah.
-Cerah- penuh senyum dan kebahagiaan serta semangat.
...▪︎OODEYE▪︎...
__ADS_1
*Note: Reupload*022305