
...▪︎OODEYE▪︎...
Hari yang di nanti pun telah tiba. Kuil dewa seperti biasa di penuhi kerumunan. Tiga gadis berbeda usia berdiri di pertengahan tangga. Di pilar kiri, terdapat meja memanjang di tempati anggota parlemen dengan pakaian resmi mereka; jubah berwarna hitam berselendang sutra berwarna hijau sebagai juri. Di depan pintu kuil kursi kayu kecoklatan ditempati Javier berdampingan dengan Sri Paus dalam balutan jubah putih dan tongkat emas serta mahkota iman di atas kepalanya.
"Rakyatku sekalian dengan di saksikan dewa di hadapan kuil dewa, kekaisaran akan menggelar pemilihan ratu. Di saksikan oleh rakyatku agar tidak ada kecurangan-
Sudut bibir Hanaya tertarik.
'Kecurangan itu sendiri ada, berbalut juri di samping anda Yang Mulia' namun kepada siapa suara batin itu dapat sampai selain menggaung dalam benaknya sendiri?
"Sebelum itu, apa permintaan kalian?" Suara Javier terjatuh membuat Hanaya dan Rozetta bertukar pandang.
Madelin membungkuk lantas berujar hikmat "Yang saya inginkan adalah berkat dewa untuk keputusan akhir pemilihan ratu"
Sungguh harapan yang menggugah.
"Yang Mulia, saya menginginkan putusan hasil akhir oleh Sri Paus" suaranya memicu riuh. Barisan rakyat di penuhi pergolakan. Sosok Viviana memang tak dapat lepas dari kata pembuat sensasi yang disematkan padanya.
"Yang Mulia! Ini adalah penghinaan terhadap juri! Lady Viviana meragukan otoritas kami dan mencurigai kami berkomplot"
Sudut bibir Hanaya tertarik, benar-benar penggiringan opini yang baik. Dengan mengutarakan maksudnya dan memanfaatkan rumor buruk Viviana yang menghebohkan, dia berniat-
"Mohon mendiskualifikasikan lady sebab penghinaan terhadap kaki tangan negara! Yang Mulia jangan biarkan penghinaan terhadap citra anda terjadi di depan Sri Paus!"
-Anggota parlemen berniat membuang Viviana dalam sekali dayung. Jika Viviana yang sudah dapat di pastikan mendapat pemihakan kaisar tersingkir, maka Rozetta juga hanya akan menjadi penghias.
Terlepas dari fakta bahwa Madelin dapat dengan mudah menang atas dukungan duke Apolio, Viviana tetap tak dapat di remehkan kenyataan bahwa kaisar muda mendesak mempertahankannya adalah sebuah ancaman bagi parlemen.
Riuh kerumunan dengan sumpah serapah membuat Hanaya sadar itu. Penolakan rakyat yang di suarakan di hadapan Sri Paus akan langsung di tindaki. Parlemen berniat memojokan Javier dan memaksanya membuang Viviana sebagai sebuah pilihan.
Memang benar, lidah adalah pedang yang tajam dan kata-kata adalah racun mematikan. Wajah Javier yang membeku menandakan keterpojokan, dia tak dapat menahan Viviana lagi.
Ini juga akan menyebabkan retaknya hubungan mereka sebab terlukanya perasaan Viviana, jika salah paham akan situasi maupun pilihan Javier.
Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Sungguh siasat yang terencana.
Sayangnya, Hanaya bukanlah Viviana. Dia tidak sebodoh itu. Tujuannya untuk membuat akhir bahagia haruslah terwujud !
Dia telah bersusah payah memperoleh keyakinan bukan untuk di hancurkan !
"Anggota parlemen sengaja menggiring opini. Saya Viviana de Lances bersumpah di hadapan kuil dewa dengan Sri Paus sebagai saksinya bahwa tak ada niat atau pemikiran untuk menghina, Yang Mulia. Adakah kata-kata saya yang menunjukan dengan gamblang penghinaan, Yang Mulia?"
Skakmat. Wajah membeku ketua parlemen Apollio, orang yang Rozetta ceritakan nampak.
__ADS_1
Sumpah adalah hal tersakral yang dengan nyawa adalah taruhannya. Kepercayaan yang kuat mengenai dewa mendorong hal-hal sakral sebagai kepercayaan yang mendalam. Hanaya rela mempertaruhkan itu untuk menunjukan seberapa murni niatnya. Ini akan mengusir keraguan rakyat, tetapi meningkatkan kewaspadaan anggota parlemen.
Dimasa depan, jika Hanaya menjadi ratu mereka akan mengincarnya serta waspada. Dia dianggap sebagai musuh atau ancaman. Bukankah sejak awal memang demikian?
Lihatlah, mata melotot itu. Mata penuh kebencian. Orang yang haus kekuasaaan. Mereka menganggapnya sebagai penghalang kerakusan mereka.
Menjijikan !
Utopia berangsur berubah. Tak seindah dalam gambaran. Disini, segalanya di pertaruhkan.
Maka, Hanaya tak akan kalah ! Sudah selesai masa keraguannya !
Mata Rozetta berkilat. Senyum puas tercetak. Viviana sejak awal pertemuan memberikan kesan rapuh, dan jiwa yang mudah berputus asa namun disisi lain menyimpan ambisiusme. Matanya memperlihatkan kecemerlangan. Sebab itu Rozetta tertarik dekat dengannya.
Alasan dia menerima titah kerajaan bukan seperti yang Viviana pikirkan. Keluarganya tak pernah ikut andil dalam urusan pribadinya. Semua keputusan diambil olehnya atas kepentingan pribadi. Alasan dia hadir disini untuk melihat sisi lain Viviana. Sisi liar yang gadis belia ini sembunyikan.
Sisi yang tak pernah di sangka siapapun.
Kau benar-benar istimewa Viviana.
Orang bodoh hanya akan melihat tanah sebagai material murah, tetapi mata orang cerdas melihatnya seperti harta karun.
Viviana adalah batu permata yang belum tampak kilauannya, semakin di poles semakin terlihat keindahannya.
"Bahkan jika itu bukanlah kebenaran kata-kata tetap harus di pertanggung jawabkan. Di hadapan semua orang, anda melayangkan tuduhan tanpa bukti. Jika itu bukanlah sebuah kebenaran? Lalu harus saya sebut apa ucapan anda sementara semua saksi hidup mendengar tuduhan anda" Viscount fostor tangan kanan Duke Apollio, memucat.
Tidak ada langkah lain bagi Duke Apollio.
Tidak ada pilihan lain selain-
"Yang Mulia, maafkan anggota saya atas keributan yang terjadi. Sebagai gantinya saya bersedia dia di hukum sebagai gantinya."
Memotong bagian yang tak berguna.
Fostor hanya akan menjadi penghalang, dalam kasus terburuk menyeret mereka semua dalam lubang yang sama.
"Memfitnah calon ratu di hadapan kuil dewa dan menggiring opini publik menuju kebencian pada calon ratu adalah penghinaan. Prajurit dengan ini sebagai kaisar saya menyatakan hukum cambuk sebagai hukuman!"
"Yang Mulia! Yang Mulia mohon maafkan saya, saya bersalah! Mohon ampuni saya, lady Viviana tolong-"
Hanaya menarik senyum dingin, mengamati bagaimana pria yang semula congkak ekspresinya kini bersimpuh dengan wajah memohon.
"Tak ada orang yang senang di injak harga dirinya, Viscount"
__ADS_1
Lalu, dua prajurit menyeret anggota parlemen lemah yang dibuang itu. Bidak catur tak lagi berguna jika tak di butuhkan dalam medan catur.
"Insiden ini mencemarkan kuil dewa. Maka kaisar dengan ini menyatakan hak keputusan akhir berada dalam keputusan Sri Paus" ucapan Javier di setujui rakyat. Sementara wajah keras duke Apollio membuat Hanaya menarik senyum puas.
Jadi begini rasanya menghukum tangan-tangan kejahatan? Perasaan lega ini menyenangkan.
Safir biru Xavier yang berdiri di samping kursi Sri Paus menyorot Hanaya dalam. Gadis polos ini menunjukan pengaruh yang berbeda. Mata violet itu, adalah mata dengan api ambisi, membara dan berkilat.
Viviana tak sesederhana yang ia ketahui. Ada, sangat banyak hal yang tersembunyi dalam dirinya.
"Dengan anugerah dewa, saya sebagai Sri Paus berharap dapat memilih penerus yang tepat" ujar Sri Paus.
"Lalu, apa permintaanmu, lady Rozetta"
Rozetta menarik senyum simpul "Saya- ingin mundur Yang Mulia."
Jawaban yang mengejutkan semua orang. Hanaya menatap Rozetta penuh tuntutan. Namun gadis itu hanya tersenyum kecil melanjutkan ucapannya.
"Saya memiliki kekasih, tetapi tak dapat menolak titah kerajaan sebab itu, jika Yang Mulia mengizinkan mohon cabut hak partisipasi saya " Rozetta- apa yang dia katakan ? Hanaya sama sekali tak mengerti kemana arah pemikiran gadis itu.
Bukankah seminggu yang lalu, Rozetta menyatakan tak akan mengalah? Bahwa dia menginginkan posisi yang sama, lalu mengapa sekarang tingkahnya berbanding?
Dia bahkan menggunakan kata-kata yang menarik emosional semua orang. Kekasih ?
Tak tahukah Rozetta bahwa ini membawa pengaruh pada keluarga dan pendukungnya? Mereka akan menyalahpahami ini! Meski Hanaya pikir Rozetta memang terpaksa di seret kesini.
Namun mempermalukan nama keluarga secara tak langsung juga bukan hal yang baik!
Sesaat kemudian Hanaya menyadari sesuatu. Itulah sebabnya Rozetta memintanya seminggu yang lalu untuk mengajukan permintaan ini.
Sepertinya Rozetta memang hanya ingin bebas dari perlombaan ini. Dan menggunakan pengabulan istimewa mungkin akan membuatnya selamat dari kecaman keluarganya.
Hanaya menghembuskan nafas pelan sekali lagi menatap Rozetta dengan pandangan bertanya. Dia sama sekali tak dapat menebak pemikiran Rozetta.
" Dengan ini sebagai kaisar, saya mencabut hak partisipasi lady Rozetta"
"Selanjutnya dengan ini saya kaisar Utopia, Javier de Roughtys meresmikan perlombaan integritas ratu!"
Tunjukan kemampuanmu, Viviana
Akan ku lakukan semua yang terbaik, Javier.
...▪︎︎OODEYE▪︎...
__ADS_1
Note: Reupload232304CL