Odd Eye

Odd Eye
Part 49. Kejanggalan masa lalu


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Masuk" ujar Hanaya kepada pelayan di pintu kamar tanpa melepas pandang dari jendela.


Obor api yang di junjung tinggi beramai-ramai orang menyebarkan cahaya di segala penjuru, memantulkan bayang prajurit istana pada dinding kerajaan. Orang ramai ini menuntut hal yang sama, kelenyapan Xavier.


Suara teriakan bercampur amarah mengaung untuk satu tujuan.


Hanaya pun menginginkan hal itu, Xavier lenyap. Sayangnya hukum tetaplah hukum dan darah keluarga kerajaan tak dapat di sangkal, Xavier harus diadili.


Ini hanya menambah kecemasan Hanaya. Berbagai asumsi buruk menghantuinya. Bagaimana jika Xavier lolos? Atau jika pria itu punya rencana penyelamatan diri sendiri? Bukankah semuanya akan sia-sia ?


Malam ini terasa lebih panjang dan Hanaya di liputi praduga buruk serta kecemasan. Meski bukti dan saksi telah di amankan, keadaan dapat berubah kapan saja, bukan? Hanaya takut jika dalam semalam Xavier berhasil menemukan celah untuk menyelamatkan diri.


Dia benar-benar frustasi menunggu kedatangan mentari. Memulai persidangan Xavier dan mendapat kemenangan, meski sedikit rasa sakit terasa di bagian terdalam hatinya, Hanaya memilih abai.


"Nona"


"Brianna?" Hanaya memeluk gadis itu spontan.


"Ayah dan ibu bagaimana keadaan mereka? Ada surat atau pesan untukku?" Tanya Hanaya.


"Tuan dan nyonya baik-baik saja. Mereka hanya mencemaskan anda. Tuan takut anda tak dapat beristirahat dengan baik"


Hanaya tiba-tiba saja di liputi rasa rindu. Jika bisa dia ingin berkunjung kerumah di saat seperti ini, menenangkan kegelisahannya.


"Anda terlihat cemas. Ada sesuatu yang menganggu anda" Hanaya menghela nafas mendengar itu.


Dia tidak mungkin menceritakan seberapa khawatirnya ia tentang pengadilan Xavier. Tentang bagaimana ketakutan dan praduga buruk menghantui kalau-kalau Xavier berhasil lolos. Tentang obsesinya menyingkirkan pria itu. Brianna pasti akan curiga. Viviana tak pernah tau siapa Xavier selain interaksi mereka belakangan ini. Dan tanpa sebab kini membenci pria itu? Sangat tidak masuk akal.


Brianna bukan orang yang mudah Hanaya kelabuhi.


"Aku- baik. Hanya sedikit cemas mengenai sidang pertamaku besok"


"Apa yang kau bawa? Apa ibu membuatkan sesuatu untukku? Atau ayah mengirim sesuatu yang baru lagi?" Hanaya bertanya gelisah. Keterdiaman Brianna serta tatapan menyelidiknya benar-benar memicu rasa tak nyaman.


Brianna mengintimidasinya secara psikis dan kegelisahan Hanaya semakin tak dapat di pendam.


"Anda berbohong. Ada hal lain yang menganggu anda bukan?"


"Apa maksudmu? Istana terlalu berisik saat ini jelas aku terganggu" kata Hanaya menghindari tatapan Brianna. Gadis itu dan kepekaannya benar-benar sesuatu yang terkadang menyulitkan Hanaya.

__ADS_1


"Maafkan kelancangan saya nona. Tuan dan nyonya hanya ingin saya memastikan anda baik-baik saja" Brianna jelas tak bisa mendesak nonanya. Kegelisahannya menganggu Brianna tetapi Viviana tak ingin menunjukkan apa yang menjadi dalang kegelisahannya.


Nonanya menyembunyikan sesuatu. Sama seperti sebelumnya. Namun Brianna dan statusnya tak dapat memaksa untuk mengetahui urusan pribadi nonanya itu.


"Nyonya hanya memberikan ini, teh herbal. Dan tuan ingin anda berkunjung sesekali jika memang sempat" sambil berkata, Brianna meletakkan teh herbal yang di berikan sang nyonya padanya.


"Ah, baiklah"


Ada keheningan panjang diantara keduanya. Hanaya sadar Brianna menunggu kejujurannya.


Tetapi apa yang bisa Hanaya katakan? Dia takut Brianna berpaling begitu mendengar pengakuannya. Tentang siapa sebenarnya Hanaya, impiannya, akhir bahagia dan obsesi terhadap kelenyapan penghalang terbesar, Xavier. Bahwa- dia bukan siapa-siapa selain pencuri.


Bahwa Hanaya mencuri semua milik Viviana yang asli dan mengubah kepemilikannya.


"Kembalilah Brianna. Ini perintah, kau tau apa yang harus kau katakan pada ayah dan ibuku" maka dengan statusnya, Hanaya mendorong Brianna menjauhi kebenaran.


Tak ada yang dapat Brianna lakukan bukan? Dan lagi, statusnya mengharuskan Brianna hidup dalam ketidaktahuan. Brianna hanya menjalankan perintah. Begitulah tugas sebenarnya seorang pelayan.


"Baik nona"


***


"Brianna apa Viviana baik-baik saja?"


Tidak mungkin bagi Brianna untuk mengatakan alasan nonanya mengenai kegugupan persidangan pertamanya. Itu hanya akan menjadi celah kegusaran bagi Viscount Lances. Sebab Kaisar dan Ratu hanya turut andil dalam menyaksikan yang mana hanya formalitas dan bukan seorang hakim yang jelas punya andil besar dalam persidangan.


Kekhawatiran tuannya pada sang nona telah melampaui batas. Dan Brianna tak mungkin menambah kekhawatiran itu pula.


"Kenapa kau tidak disana, memastikan Viviana terlelap tanpa gangguan baru kembali?"


"Maaf tuan. Tapi nona memerintahkan saya kembali. Jika ada pelayan lain melihat saya masuk istana tanpa sepengetahuan kaisar atau prajurit istana tentu nama nona akan tercemar. Saya tak bisa ada di sana- meski saya ingin "


Viscount Lances menarik nafas mendengar itu. Permasalahan tanpa henti ini membuat kekhawatirannya terhadap sang putri makin meningkat. Viscount Lances takut Viviana tertekan.


"Baiklah. Kembalilah Brianna, terima kasih telah membantu"


"Tidak masalah tuan. Itu sudah tugas saya" Viscount Lances termenung di jendela kamar.


Pemikirannya tertuju pada Xavier. Rumor mengenai bagaimana pria itu berusaha menariknya kepihaknya begitu menganggu pemikiran sang Viscount. Meski begitu entah mengapa keyakinannya tak surut terhadap pemuda itu.


Dia mengenal Xavier sejak pemuda itu kecil. Cerdas, kuat dan bersahaja. Tentu sulit bagi sang Viscount untuk menerima kudeta yang di lakukan anak muda itu. Ada sesuatu yang salah mengenai kudeta itu. Entah tempat, waktu atau orangnya. Namun seberapa banyak ia berusaha menggali tidak ada yang dapat di temukan.

__ADS_1


Edward memiliki keyakinan yang sama. Untuk apa Xavier merancangkan kudeta jika tahta itu akan menjadi miliknya ?


Kejadian itu kembali terputar di benaknya.


Di tengah malam, keheningan melanda. Edward, kaisar pertama dan sang Viscount duduk memainkan permainan catur, sambil membahas beberapa masalah.


Tiba-tiba saja seseorang menerobos masuk. Prajurit yang berlumuran  darah dengan luka tusuk dalam tepat di perut.


"Ya-Yang Mulia, putra mahkota menyerang ra-ratu ba-" belum selesai ucapannya prajurit itu telah roboh di lantai. Meninggal.


Edward dan dirinya berlari menerobos. Pemandangan paling mengerikan yang pernah Viscount Lances lihat nampak, mayat prajurit berterbaran di mana-mana. Darah memenuhi lantai kerajaan. Pemandangan akrab yang tak pernah lagi ia lihat. Kematian tragis manusia dalam medan perang.


"Ahh" teriakan mengaung. Berasal dari kamar kaisar di susul dengan bunyi benda terjatuh.


Keduanya menerobos cepat hanya untuk mendapati Xavier berdiri disana dengan pakaian putih di penuhi darah. Bercak darah memenuhi wajahnya, pedang ksatria yang di anugrahkan padanya mengalirkan darah dari peraknya, menetes mencemari lantai. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sang ratu dengan wajah pucat tersimpuh di lantai.


"XAVIER !" teriakan itu jelas membuat pemuda 18 tahun itu terkejut. Pedangnya terjatuh ke lantai, berdenting nyaring menambah getar ketakutan sang ratu.


Viscount Lances melihatnya, wajah terkejut Xavier. Dan tangannya yang di penuhi darah bergetar hebat sembari menatap terkejut sang ratu.


Sayangnya sebelum mendapat kejelasan dari putranya, prajurit bayang telah menahan gerak Xavier.


"Ayah, ak-aku"


"Putra Mahkota di tahan atas dasar melakukan kudeta !" Itu suara perdana menteri Duke Egrat.


Ada yang salah dengan waktu itu. Wajah terkejut Xavier, kemunculan prajurit bayang yang tidak pada tempatnya dan perdana menteri Egrat jelas menciptakan puzzle-puzzle aneh yang tak dapat Viscount Lances rangkai tujuannya.


Jika Edward tak bersih keras memberi pengampunan pada Xavier, maka putra sulungnya tentu akan lenyap.


Viscount Lances memijat kepalanya yang terasa sakit. Sekian tahun mencari bukti nyatanya tak membuahkan hasil. Semua orang yang terlibat telah mati. Egrat perdana menteri meninggal sebulan setelah kejadian itu, dan prajurit bayang utama mengundurkan diri setelah kematian duke Egrat. Bukankah sangat aneh?


Seakan semuanya di rancangkan.


Lantas siapa dalangnya ?


Dan mengapa peristiwa ini terkubur begitu dalam hingga tak di temukan sedikitpun bukti yang mengarah pada rancangan? Jika hanya berdasarkan praduga, kata-kata Viscount Lances tentu tak akan di percaya.


Ada yang salah. Firasat Viscount Lances mengatakan seperti itu. Dan dia yakin, Xavier tidak terlibat. Dia hanya pion yang di manfaatkan.


...▪︎OODEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Update052327


__ADS_2