
...▪︎ODDEYE▪︎...
"Apa kau harus bergerak sejauh itu?" Suara Alexander memicu kernyitan di dahi Xavier. Panah kemudian di lepas, melesat mengenai rusa dibalik semak.
"Jangan mengasihaniku" nada dingin penuh intimidasi itu memicu senyum di bibir Alexander. Yah, cukup lama mengenal Xavier membuatnya tau- harga diri adalah bagian terpenting di dalam hidup Xavier.
"Bukan mengasihani. Hanya saja tidak kah kau memikirkan resiko di balik ini?" Netra Alexander bertemu netra Xavier- seakan bertukar pikiran melalui tatap.
"Viviana akan membencimu lebih dari apapun, bagian terburuknya kau akan menjadi ketakutan terbesarnya" sesuatu seakan mencekik lehernya. Pergerakan Xavier terhenti sesaat.
Dia telah memikirkan hal itu sejak awal. Membayangkan resiko-resiko itu dan berusaha secara rasional menerima semuanya. Umumnya orang akan membenci hal yang menghalangi tujuan mereka dan akan ketakutan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dibanding mereka. Awalnya dia membuat sosoknya dibenci dan sekarang dia mengubah citranya sebagai sesuatu yang kejam dalam hidup perempuan itu. Hantu yang membayangi hidupnya.
Xavier pikir karena dia telah berbesar hati menerima semua itu, dia tidak akan merasa sakit kala seseorang menyinggungnya. Sayangnya, Xavier salah.
Senyum sinis terukir di sudut bibir Xavier "Sejak awal aku tidak berharap kami berakhir bersama."
Alexander menarik nafas. Dalam hal menutupi perasaan Xavier jelas hebat namun Alexander mengenalnya begitu lama- jauh lebih lama dari semua rencana-rencana ini. Bukan hanya kelemahan terbesar Xavier- Viviana adalah mimpi terbesarnya, sebuah kemewahan yang Xavier dambakan. Perempuan itu bagaikan warna di dalam hidup Xavier yang suram. Menempati seluruh ruang di hati Xavier bahkan menempati rasionalitas pria itu.
"Yah, sudah ku duga kau akan tetap mengelak. Tapi apa kau pernah membayangkan kemungkinan lain dari ini?"
Tukikan tajam di kening Xavier menandakan ketidaksukaan yang jelas. Tanda bahwa Alexander harus berhenti.
"Kalau-kalau Viviana tidak akan datang padamu setelah semua ini-
"Alexander-
"Kalau-kalau diatas semua kebencian dan rasa takut ada penghinaan besar terhadapmu-
"Jangan ucapkan sepatah katapun Alexander jika kau tak ingin berakhir-
"Kalau-kalau dia akan mengakhiri hidupnya begitu
"Tutup mulut sialanmu!" Panah melesat, menimbulkan keterkejutan dimata Alexander. Rasa perih di telinga kanannya menjadi penyadar kebekuannya. Alexander mengusap ujung telinga yang berdarah sebab tergores panah sementara netranya menatap Xavier yang berkilat dalam amarah.
"Jangan memancingku melakukan sesuatu yang lebih buruk, Alex. Aku benar-benar akan menguburmu hidup-hidup" kecam Xavier tajam.
Utas senyum terlukis dibibir pria itu, menatap punggung Xavier yang berlalu "SELALU ADA KEMUNGKINAN UNTUK SEGALA HAL, XAVIER- KAU TAU ITU LEBIH DARI SIAPAPUN!"
Lalu ucapan berikutnya bagaikan putusan hukuman mati di telinga Xavier- menyedot semua rasionalitas dan prinsip-prinsipnya.
"Dia hanya perempuan biasa. Apa menurutmu dia akan mampu menahan semua itu? Dalam kasus terburuknya kau akan kehilangan dia selamanya, Xavier."
Saat berada dalam tekanan, mentalitas manusia menyusut jika tak menemukan harap. Viviana akan berakhir membunuh dirinya sendiri- konsep terburuk yang tak pernah Xavier pikirkan. Konsekuensi paling buruk yang pernah ada.
Kepalan tangannya menggenggam busur erat, melampiaskan frustasi paling dalam dan untuk pertama kalinya genangan air memenuhi netranya. Sebab dengan satu kalimat akhir, Alexander membuat Xavier menyesali semua yang dia lakukan sejauh ini.
"Bahkan jika aku menyesal kelak, tidak akan ada jalan kembali" Jawaban yang keluar dari bibir Xavier begitu dingin, namun begitu pilu di telinga Alexander, memicu sesal sebab menyinggung sejauh itu.
__ADS_1
Sebagai sahabat, Alexander hanya ingin Xavier memiliki momen paling bahagia di dalam hidupnya. Dia melalui begitu banyak dan hidupnya hanya diisi tekad hitam yang kental, Viviana adalah akses paling potensial membawa Xavier pada kebahagian.
Namun akankah semua itu terwujud? Sebab segalanya- dan hubungan mereka terlihat jauh lebih buruk.
***
"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia, namun saya rasa ini waktunya berhenti" Xavier menolak secara tegas. Ini adalah langkah paling tepat yang dia lakukan setelah sejauh ini.
"Bukan karena saya merasa tersinggung atas masalah ini, hanya saja ini saatnya untuk berhenti"
Helaan nafas Javier terdengar, di susul senyum paksa "Bahkan jika aku memaksamu kau akan tetap berhenti bukan?"
"Ya"
"Kalau begitu dengan resmi ku tarik jabatanmu."
"Terima kasih Yang Mulia"
Ketukan pada pintu membuat Javier dengan segera mempersilahkan. Sosok Falentin yang muncul menarik perhatian Xavier.
Dia pelayan Viviana.
Apa terjadi sesuatu pada perempuan itu?
Jejak kecemasan memenuhi netra dingin pemuda itu. Lalu suara yang jatuh membuat seakan memukul jantungnya.
"Yang Mulia, masih tidak ingin makan"
"Kau boleh pergi Xavier. Ku harap kau menghabiskan sisa waktumu dengan baik."
"Tentu, Yang Mulia"
Kepalan tangan Xavier menggerat. Lalu kata-kata Alexander melintas dibenak.
"Dia hanya perempuan biasa. Apa menurutmu dia akan mampu menahan semua itu?"
"Dalam kasus terburuknya, kau akan kehilangan dia selamanya."
"Kalau-kalau dia akan mengakhiri hidupnya-
Tidak. Tidak akan ada yang terjadi pada Viviana. Fakta bahwa dia berhasil bertahan sejauh ini adalah kebenaran. Xavier tidak mengambil langkah tanpa memprediksinya. Itu pastilah hanya syok sesaat. Dia akan bangkit lagi. Bukankah Viviana selalu seperti itu?
"Selalu ada kemungkinan untuk hal, Xavier"
Kata-kata berbalut kebenaran itu adalah mutlak adanya. Sama seperti dia kehilangan segalanya.
Selalu.
__ADS_1
Apakah Viviana akan-
Tidak! Tidak akan terjadi! Bukankah dia begitu kokoh. Xavier hanya memberinya sesuatu- sebuah alasan untuk mendatanginya. Sejak awal dia tidak memiliki niat untuk melenyapkannya.
Viviana tidak akan mati karena Xavier tidak pernah melancarkan semua serangan itu dengan tujuan melenyapkan. Itu hanya untuk melumpuhkannya- membuat Viviana datang padanya.
Namun seperti yang di katakan Alexander. Selalu ada kemungkinan untuk setiap hal.
***
"Nona"
Suara Brianna mengalun lembut namun tak cukup untuk mengusik Viviana dari lamunannya.
Jendela kastil yang besar nan megah memperlihatkan langit biru yang luas.
Jadi, apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Mengapa rasanya Hanaya kehilangan kepercayaan diri untuk melangkah?
Xavier dan seringainya membuat Viviana merasa gamang. Semua kepercayaan diri untuk melenyapkan ciut dalam sesaat. Bahkan sekalipun dia memikirkan Javier yang akan di lukai, itu tak cukup kuat sebagai alasan untuk berdiri.
Membayangkan kejutan apa yang akan terjadi padanya begitu dia melangkah keluar dari sini benar-benar mengirim gelayar dingin keseluruh tubuhnya. Dia bahkan merasa lemas.
"Nona-
Viviana menoleh horor. Tatapan mata perempuan itu serta rautnya membuat hati Brianna merasa sakit. Dia belum pernah melihat nonanya sekecil ini.
Pasti ada hal yang mengguncang nonanya. Sangat mengguncang hingga dia ketakutan. Mata yang memerah nampak begitu bengkak- seakan dia telah menangis dalam waktu begitu lama. Kantung mata yang menghitam adalah tanda tidurnya terganggu. Viviana begitu pucat seolah dia akan mati kapan saja. Dan itu benar-benar menyakiti hatinya.
"Brianna aku-
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, pelukan hangat meruntuhkan pertahanan Hanaya. Tangis perempuan itu pecah, terdengar begitu pilu. Seakan dia telah menahannya begitu lama.
"Brianna hiks- maaf
"Tidak perlu berkata apapun. Menangislah sepuas anda" tepukan pelan pada punggungnya bagaikan pendorong untuk melepaskan semua perasaan yang membelegu.
Wajah Rozetta yang muncul didalam mimpi. Suara teriakan Annette yang mempersalahkannya bergema di telinga sepanjang waktu, membuat gendang telinganya nyaris pecah. Diatas semua itu seringai serta ucapan Xavier yang selalu membayangi membuat Hanaya begitu sensitif akan setiap hal- takut dia akan dibunuh oleh pria itu kapan saja bagian terburuknya di paksa menyaksikan hal-hal mengerikan yang tak pernah dia bayangkan.
Rasa bersalah, kalut, kecewa bersarang dan menumpuk setiap detik kala wajah ketiganya terbayang, bagaikan film panjang tanpa henti di benaknya menciptakan rasa tidak aman berpadu gelisah.
Beberapa hari ini, dia bahkan mengalami ilusi. Membayangkan bahwa setiap orang yang menemukannya adalah orang yang di kirim untuk menyeretnya.
Nyatanya, Hanaya jatuh pada titik terapuh yang tak pernah dia bayangkan.
Di dalam kamar yang luas- suara tangisan Viviana adalah satu-satunya yang menggema, membuat Brianna merasakan perasaan perempuan itu.
Viviana merasa tidak aman dan ketakutan sepanjang waktu.
__ADS_1
...▪︎ODDEYE▪︎...
Note: Update230608CL