Odd Eye

Odd Eye
Part 60. Egoisme yang tidak pernah salah


__ADS_3

...Part 60. Egoisme yang tidak pernah salah....


...•ODDEYE•...


"Salam yang mulia!" Amos memberi hormat dengan bersujud. Hal yang membuat Hanaya mengernyit tak nyaman.


"Berdirilah"


"Dimana tuanmu?"


"Saya akan memanggil tuan kesini, maaf membuat anda menunggu" mata Hanaya menilik sekelilingnya.


Merinding merayapi bulu kuduknya kala dia menyadari betapa suramnya tempat ini. Sama seperti ekspresi suram di wajah pria itu.


Sekelebat ekspresi lembut pria itu muncul dibenaknya. Membuat Hanaya tersentak.


Dia tidak seharusnya mengingat masa lalu pria keji itu! Itu hanya citra palsu yang dipakai memerangkapnya !


Degup jantungnya berpacu sangat kencang. Seakan hendak meledak. Hanya dengan berada di ruangan suram milik Xavier cukup untuk mengintimidasinya.


Merapatkan jemarinya. Hanaya menarik nafas, menenangkan diri. Ini adalah kesempatan untuk menghilangkan rasa takut terhadap pria itu.


Intimidasi yang membuat Hanaya kehilangan kekuatan.


Utas senyum tipis muncul dibibirnya. Dia tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki dan secara tidak langsung memohon pada Xavier- pria yang menghancurkan dunianya. Yang merenggut semua miliknya.


Sungguh sebuah ironi bahwa kata-kata Brianna sekali lagi terwujud Yang lemah adalah bidak bagi yang berkuasa.


Kalimat yang mengingatkan Hanaya akan hasrat semu yang dia kumandangkan. Membasmi semua ketidakadilan di dunia ini.


Nyatanya posisi tempatnya berdiri tidak memiliki kuasa sebesar itu. Sebaliknya dia harus bertarung untuk mempertahankan apa yang dia miliki.


"Jadi, setelah mengutuk saya sekarang anda datang untuk memohon?" Suara dingin nan akrab membuat Hanaya tersentak. Tanpa sadar jemarinya bergetar.


Xavier jelas telah menjadi mimpi buruk baginya. Mimpi buruk yang tertancap erat dalam alam bawah sadarnya hingga semua refleks tubuhnya mengakui dengan jelas.


Menarik nafas diam-diam, Hanaya berusaha tenang. Menekan paksa rasa takutnya.


"Sebagai rakyat biasa cara bicaramu sangat tidak sopan" teguran yang membuat senyum sinis muncul dibibir Xavier.


Senyum yang mengingatkan Hanaya akan belenggu intimidasi serta hadiah pembuka dalam sidang.


Pria terkutuk yang harus mati sekarang berbalik menjadi seseorang yang dia butuhkan.


"Kalau begitu maafkan kelancangan saya, Yang Mulia" cemohan dalam nada yang tidak disembunyikan membuat Hanaya mengepalkan tangan erat.


Di depan Xavier Hanaya sepenuhnya tidak berdaya. Dia membenci kebenaran itu namun pria itu adalah satu-satunya akses bagi Hanaya untuk mendapatkan kesempatan dari Javier. Kesempatan untuk menguatkan posisinya.

__ADS_1


"Kau tentu sudah mendengar tentang keributan yang suku Basilik lakukan. Aku ingin kau ikut serta ke sana" ada hening yang mencengkram kuat, atmosfer mengerikan yang seakan mengoyak isi perutnya. Hanaya mengigit bibir, berusaha mempertahankan ekspresi tenang yang dia pasang.


"Apa yang anda lakukan jika saya menolak?" Kegelisahan merayapi. Hanaya jelas tidak tahan berhadapan dengan pria ini. Dengan statusnya, dia bahkan tidak mampu mengendalikan presensi Xavier. Ironi yang akan terus ada, tidak peduli berapa banyak dia berusaha menutupi.


Aroma teh Lavender yang disajikan bahkan tidak cukup untuk menenangkan Hanaya kegelisahan Hanaya. Sebab meski ketersinggungan melintas sedikit, trauma yang tertanam belum sepenuhnya hilang.


"Sebagai ratu, selain raja perintahku adalah keharusan" sebelah alis pria itu terangkat, seiring hina dimatanya berganti dingin.


Hanaya benci berada dalam situasi ini. Situasi bersama Xavier.


Sentuhan dingin ditangannya menusuk hingga jantungnya. Hanaya tersentak kala kecupan ringan mendarat di tangannya.


"Sesuai yang anda katakan, Yang Mulia" menarik tangannya, Viviana berdiri tanpa kata- melaju meninggalkan Xavier yang menatap punggung wanita itu.


Seperti yang dia duga- Viviana baik-baik saja.


Namun kata-kata Alexander terlintas dibenaknya. Helaan nafas kasar keluar, sementara Xavier mengernyit tajam.


Dia berhasil menciptakan jarak seperti yang dia inginkan- namun mengapa rasanya jauh lebih berat ?


Daun lavender dalam teh yang hangat mengingatkan Xavier akan mata wanita itu, netra mempesona yang membuatnya terjerumus- Mengepalkan tangan, Xavier mendesis tajam.


Dia masih kelemahan terbesarnya. Viviana masih tetap di posisi yang sama- kemewahan sekaligus kelemahan yang akan menghancurkannya.


***


Telapak tangannya mendingin bagaikan es, sementara wajahnya pucat pasi di penuh keringat. Mata Violet yang memerah menarik perhatian Falentin.


Ada kemarahan yang tidak bisa didefinisikan disana.


Hanaya menarik nafas kasar. Udara dingin diluar ruangan seakan mengusir atmosfer tajam dari Xavier. Rasanya seperti nyaris tenggelam dalam lautan tak berdasar.


Seluruh tulang dalam tubuhnya bergidik sebab trauma yang mendalam.


Hanaya menatap telapak tangannya dengan kebencian.


Pria itu seharusnya tidak menyentuhnya setelah semua yang dia lakukan!


"Falentin, kita harus kembali" ujarnya setelah hening dalam deru nafas.


Dalam kebingungan dengan berbagai pertanyaan pelayan itu memapah Viviana.


Apa yang terjadi didalam sana ?


Tubuh nyonyanya seakan memperlihatkan ketakutan namun netranya terbakar amarah. Jika memang ada pertengkaran- Falentin seharusnya bisa mendengarnya dari gerbang sebab jarak dengan ruang utama tidaklah jauh namun dia tidak mendengar apapun. Lantas apa yang terjadi didalam sana ?


Xavier tidak mungkin melakukan hal-hal tak sopan pada Viviana. Nyonya yang dia layani adalah seorang Ratu. Ratu ! Bahkan Xavier tidak layak menyentuhnya. Lalu situasi apa yang tepat untuk menebak yang terjadi dalam pertemuan itu ?

__ADS_1


"Tetaplah diam (jaga mulut) dan bersikaplah seperti anjing yang patuh" kalimat dingin itu menyentaknya. Falentin menatap Viviana penuh keterkejutan.


"Lancang!"


"Maafkan saya Yang Mulia!" Seru Falentin spontan berlutut kala disadarinya posisinya.


Apakah ini hanya firasatnya ataukah memang terjadi sesuatu pada Viviana?


Wanita yang dia layani tidaklah seperti ini sebelumnya. Meski baru sehari,  Falentin mengenalnya sebagai wanita polos nan baik hati. Sekarang dia nampak begitu dewasa dan terlalu tegas.


Sepertinya memang terjadi sesuatu pada nyonyanya- seperti yang dikatakan tuannya.


"Perhatikan gerak-gerik Viviana. Rasanya ada sesuatu tentangnya yang berubah"


Tuan Javier memang benar, ada perubahan terhadap istrinya. Namun apa penyebabnya dan siapa dalangnya masihlah menjadi misteri.


Viviana menarik nafas, memandang keluar kereta. Berusaha mengalihkan pikiran yang berkulat dengan Xavier. Pikirannya tiba-tiba mengingat lagi bagaimana awalnya segalanya terasa begitu sempurna baginya.


Orangtua yang lengkap, hidup yang sempurna dan pendamping yang ideal. Hanaya hanya perlu memperbaiki sedikit kecacatan dalam diri Viviana, setitik nila yang dia anggap merusak keindahannya. Siapa sangka itu awal ambisinya dimulai.


Sejumput sesal yang semula tenggelam muncul di permukaan, bagaikan batu yang jatuh kepermukaan air- sesal meriak keseluruh batinnya.


Jika dia tidak terobsesi- jika hasratnya tidak begitu egois, Hanaya masih memiliki semuanya. Keluarga, Brianna dan kehidupan hangat yang perlahan menghilang.


Hanaya pernah berpikir, tidak apa jika dia tidak berakhir bersama Javier, dia masih tetap memiliki rumah tempatnya pulang. Satu-satunya tempat dia akan berbahagia selama sisa hidupnya. Sayangnya sekarang dia kehilangan rumahnya.


Obsesi pada Javier membawanya berujung kehilangan.


Senyum miris muncul disudut bibir, sekarang dia mengerti yang dikatakan orang dengan 'ketamakan membawa kemalangan'


Karena tidak ada yang sempurna didunia ini. Sementara Hanaya menginginkan keberlimpahan dalam cinta yang tak rasional.


Tidak ! Itu bukan salahnya !


Xavier adalah batu yang memicu riak dalam hidupnya. Pemuda yang berangsur-angsur menjadi nyata sosoknya. Karakter sampingan yang menghancurkan segalanya ! Hanaya tidak patut mempersalahkan dirinya !


Xavierlah yang bertanggungjawab atas segala kekacauan dalam hidupnya !


Jika dia tidak muncul- jika dia tidak mengacaukan segalanya Hanaya akan menggenggam kehabagiaan lengkap yang dia idamkan !


Hanaya memang egois tetapi keberadaan Xavier bagaikan burung hitam diangkasa. Setitik nila yang merusak citra hidup yang ingin dia wujudkan !


Xavier, pria itulah yang seharusnya disalahkan! Hanaya tidak boleh menyesali apapun! Tidak boleh !


...•ODDEYE•...


Note:Update20230827CL

__ADS_1


__ADS_2