
...▪︎OODEYE▪︎...
Dua minggu telah berlalu. Meski begitu jarak diantara Hanaya dan Javier telah berkurang. Pria itu telah mengirimkannya surat rahasia. Mereka berkomunikasi selama tiga hari belakangan ini.
Dan dua hari lalu melakukan Kencan-dalam bahasa masa depan tersembunyi. Menjelajahi pasar dengan cadar dan penyamaran hanya untuk tertawa lepas.
Javier menjelaskan alasan dari kurangnya komunikasi mereka.
"Maaf telah membuatmu bimbang, dengan tak memberi kepastian. Tapi percayalah, aku hanya tak ingin menambah rumor buruk tentangmu" itulah kata-kata manis yang mengobati lukanya.
Utopia sedang bersukaria atas acara yang di gelar. Sepanjang jalan Utopia di hias dengan mewah. Lentera kaca dengan lukisan
Lambang Utopia digantung di setiap rumah. Ini adalah pembicaraan yang menghebohkan. Tepat di usia kedua puluh, Putra Mahkota resmi naik tahta.
Hanaya sendiri juga sangat senang. Dia menyulam sutra dengan nama pria itu sebagai hadiah. Sudah selesai, dan seluruh kerajaan diundang untuk pesta penobatan oleh Sri Paus.
Kuil dewa terbesar di Utopia menjadi tempat pelantikannya.
Prajurit menjaga di setiap sudut. Sementara rakyat, berdiri di luar kuil yang megah. Menyaksikan setiap langkah Kaisar muda nan berbakat yang akan memimpin negeri ini setelah tahun-tahun sebelumnya di habiskan tanpa pemimpin.
Sri Paus berdiri di depan kuil dalam balutan jubah putih panjang, serta mahkota suci dan tongkat suci yang terbuat dari emas murni bertahtakan permata biru bulat, berbicara "Setelah sepuluh tahun tanpa pemimpin, hari ini dewa memberkati kekaisaran kita dengan mengutus pemimpin. Orang yang akan memajukan kekaisaran kita"
Javier melangkah. Pemuda itu berbalut pakaian resmi berwarna putih, dengan lambang kekaisaran dikanan, serta tiga bintang dan beberapa lencana tersemat di kiri.
Berlutut dihadapan Sri Paus. Pelepasan jubah oleh Sri Paus di lakukan, lalu meletakan tongkat suci di bahu kanan Javier lantas mengucap sumpah.
"Javier de Roughtys, bersediakah engkau mengangkat sumpah setia di hadapan dewa, di saksikan seluruh rakyat Utopia untuk setia mengemban tugas mulia, mensejahterakan Utopia dibawah kepemimpinan mu hingga akhir masa hidup mu?"
Javier menunduk menjawab dengan lantang "Dengan izin dewa, saya bersumpah, menjalankan tugas dan tanggung jawab saya sebaik mungkin"
Tongkat emas itu diletakkan di bahu kirinya "Bersediakah engkau mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi dan bersikap adil dalam kepemimpinan?"
"Dengan seizin dewa, saya bersedia. Bersikap adil dalam segala situasi sebagai pemimpin"
"Berbangun dan berbaliklah"
"Dengan ini, saya sebagai Sri Paus dibawah pengamatan dewa menyerahkan jubah kekaisaran sebagai milik Pangeran Javier"
Tepuk tangan menggema, sementara jubah merah ypang terbuat dari bulu domba murni yang di warnai di sematkan pada Javier.
Lalu mahkota emas bertahtahkan permata yang di letakan pada bantalan merah terbuat dari kapas terlembut di pindahkan keatas kepala Javier.
"Mahkota ini adalah lambang kemuliaan. Dewa telah memilih mu sebagai pemimpin kekaisaran ini"
Terakhir penyerahan tongkat perak dimana simbol Utopia ada di puncak tongkat yang di ukir dalam huruf Utopia yang berarti 'penyertaan dewa. Kaisar adalah tangan dewa, kepemimpinannya adalah mata dan telinga dewa' menjadi penutup dari segalanya.
"Statusmu bukan lagi Putra Mahkota melainkan Kaisar negeri ini. Sampaikan ucapan pembukamu"
__ADS_1
Javier berdiri, matanya memandang sekelilingnya. Seluruh lorong kecil di samping kuil di penuhi rakyat Utopia. Semua mata menatapnya penuh kagum, sorakan menggema memenuhi seluruh atmosfer udara.
Jadi begini rasanya menjadi Kaisar ?
Darahnya menggelegak, kekuatan serasa mendobrak sel-sel tubuhnya. Euforia ini berbeda. Beban serasa terangkat. Negeri ini adalah miliknya ! Kekuasaan berada di bawah kakinya ! Javier adalah pemimpin sekarang !
Namun matanya terhenti pada seseorang. Viviana, dalam balutan gaun kuning. Meski terlampau jarak dua puluh tangga dengan ukuran 1 meter, Javier dapat melihat senyum di bibir gadis itu -wajah bangga.
"Dengan keadilan dewa dan dengan penetuannya, Saya Javier de Roughtys di hadapan kuil suci Utopi bersumpah untuk menaikkan kemakmuran Utopia!"
"Hidup Kaisar Javier!"
"Hidup Kaisar Javier!"
"Hidup Kaisar Javier!"
"UTOPIA TELAH DI BERKATI DEWA!"
"KEMAKMURAN MENYERTAI UTOPIA!"
Seruan menggema. Meski bukan dirinya, Hanaya tak dapat menahan eurofia meledak-ledak. Dia pun ikut berseru.
Hari ini, Utopia telah meresmikan mataharinya. Cuaca cerah seakan mendukung penobatan Javier.
Namun kala netranya beralih pada sisi Kardinal, sosok Xavier meruntuhkan senyumnya.
Jika saja tak ada tindakan bodoh itu. Tiga tahun lalu, Xavier telah resmi menjadi kaisar. Pria itu sangatlah hebat. Auranya begitu agung hanya terbungkus ekspresi suram, ternoda pengkhianatan di masa lalu.
Kuil ini, tempat yang sama. Tempat dimana sepuluh tangga dari pijakan Viviana, tepat di pertengahan dari posisi berdiri Javier, Xavier mengikat sumpah dengan dewa. Hidupnya yang bebas kini bergantung pada seutas tali tipis yang kapan saja akan putus.
Jika seseorang memfitnahnya lagi, menyebarkan rumor palsu maka tak peduli bagaimana Javier menyayangi saudaranya, dia tetap harus membunuhnya menurut prosedur yang ada.
Betapa rapuhnya hubungan ini.
Dari bawah sini, keduanya sangat berbalik. Semua mata mengarah pada sang cahaya, Javier. Sementara kegelapan di lupakan akibat kebencian.
Meski banyaknya kontribusi dan besarnya namanya sosok Xavier tak di segani layaknya pahlawan, semua orang segan hanya sebab kekuatannya.
Di antara sorak-sorai dan keramaian ini, Hanaya merasa Xavier sepenuhnya terlupakan.
Bertanya dalam hati, apa yang Xavier rasakan kala melihat posisi yang seharusnya miliknya di isi orang lain?
Tak rela, benci atau dendam ?
Opsi manapun itu Hanaya harap tak ada satupun diantara mereka. Karena jika itu terjadi, keberadaan Xavier yang rapuh akan menghilang dengan label terkutuk 'Pengkhianat'
Namun pertanyaan lain tertimpa padanya, apa yang membuat Xavier tergesa melaksanakan kudeta di saat posisi itu jelas akan menjadi miliknya?
__ADS_1
Tak ada asap tanpa api. Ada alasan khusus mengapa ini terjadi. Alasan yang tak dapat Hanaya perkirakan meski keraguan pada sosok Xavier masih mendera.
***
Istana yang biasanya menjadi tempat yang sulit di sentuh rakyat biasa kini terbuka lebar. Luasnya halaman di penuhi seluruh rakyat. Bangsawan berbaur dan saling berbicara seusai tadi mengikuti prosesi Javier. Pemuda itu berkeliling kekaisaran dengan kuda, menyebar lambaian tanda resmi menjadi kaisar.
Melihat Javier yang duduk di tahta membuat Hanaya merasa bangga. Matanya melirik kursi kosong disamping.
Sesuai surat terakhir Javier.
Setelah penobatan, lamaran resmi akan di langsungkan dan kursi di samping akan menjadi miliknya.
Dansa adalah sesi selanjutnya. Hal yang tak pernah luput dari pesta manapun.
Hanaya berdebar. Akankah Javier memilihnya ?
Namun semua itu sirna kala presensi Madelin yang berdiri di samping tahta, mengundang dengan lembut Javier.
"Jika berkenan, berikan saya kesempatan berdansa dengan Kaisar yang baru. Sebuah kehormatan bagi saya jika Yang Mulia bersedia"
Memang, di Utopia dalam pesta penobatan apapun itu, wanita tak dapat mengajukan diri sebagai partner. Hanya pengecualian saat hari penobatan Kaisar.
Semua mata menatap keduanya. Dengan gaun hitamnya Madelin membuat dirinya serasi dengan Javier. Tak peduli kebenaran rumor tentang hubungan keduanya, status Hanaya belumlah resmi. Sementara dalam penobatan, dansa pertama Kaisar haruslah bersama orang dengan status terdekatnya.
Dan Madelin yang merupakan Putri Duke Nestra pemimpin sementara kekaisaran ini lebih berhak. Hanaya tak dapat meminta lebih dulu, ayahnya lebih dekat dengan kaisar terdahulu bukan putranya.
Jadi Hanaya hanya berdiri disini, mematung dengan rasa cemburu. Membiarkan itu semakin mendominasi kala mendengar pujian yang di lantunkan, apalagi sampai menyindirnya.
"Dari segi manapun, Kaisar jauh lebih cocok bersama lady Madelin"
"Diamlah! Kaisar punya pilihan tersendiri!"
"Yah, tapi semua orang telah mengakui keduanya. Akan hebat jika Utopia memiliki Ratu seperti lady Madelin"
"Tetap saja, Yang Mulia menginginkan Lady Viviana"
"Pembuat onar itu? Dia mungkin berubah untuk menarik perhatian Kaisar!"
"Tapi ku pikir dia cukup mampu"
"Hanya melalui satu pertarungan menurutmu itu cukup? Bisa saja lady Madelin mengalah"
Hati Hanaya terasa panas terbakar seperti matanya. Meski banyaknya pasangan dansa yang bergabung, pusat perhatian kali ini adalah Kaisar baru Javier serta putri Duke Nestra yang bijaksana, lady Madelin.
Wanita mana yang tak cemburu mendapati hal seperti ini terjadi, apalagi ditambah dukungan orang-orang sekelilingnya.
Sepertinya jalan terjal Vivian belumlah usai.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload231604CL