Odd Eye

Odd Eye
Part 28. Dalang dibalik rumor


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Mengubah air mukanya, Madelin dengan terpaksa membereskan setengah pekerjaan yang Viviana lempar padanya. Rupanya dia di pojokkan, dan serangannya di balik padanya. Memikirkan itu membangkitkan amarah di dalam dada meski tak sepenuhnya tercermin pada wajahnya.


Seringai dan mata yang berkilat memicu perasaan waspada Hanaya.


Kejutan apa yang membuat seringai kemenangan Madelin terpatri ?


"Belum adanya pelepasan status budak dan penerimaan sebagai warga Utopia resmi oleh kaisar. Maka, jika ada korban jiwa itu bukan tanggungan Kekaisaran melainkan Viscount Lances sebagai pemilik tanah" masih ada kesempatan untuk menyerang Viviana.


Itu memang benar.


Tahun ini, saat kaisar baru resmi di angkat ayahnya akan mengajukan daftar nama dengan data masing-masing lengkap untuk peralihan kependudukan dan perubahan status. Sebenarnya Viscount Lances telah mengajukan hal ini pada kaisar sebelumnya namun ditunda sebab Kaisar jatuh sakit.


Bukan berupa kartu di kehidupan sebelumnya. Melainkan nama yang di catat dalam buku besar anggota kekaisaran dalam masa kepemimpinan seorang Kaisar/Raja.


Pernyataan Madelin memang benar, terlalu benar hingga menyulut amarah Hanaya.


Meski belum memiliki status kependudukan bukankah mereka berdomisili disini? Sayangnya, hukum tetaplah hukum. Dan rakyat biasa apalagi seorang budak yang memiliki konotasi negatif di Utopia tentu menuai banyak hinaan.


Netra biru Xavier menatap tajam Madelin yang acuh tak acuh, semakin menjabarkan opininya.


"Bahkan sejak awal pertanyaan ini memiliki jawaban yang sederhana. Kekaisaran tak menanggung apapun. Rekonstruksi? Itu sepenuhnya hak Viscount Lances. Karena mereka tak memiliki status kependudukan maka dapat di katakan mereka pekerja kasar, bekerja tanpa status."


Hening. Hanaya tau itu. Dampaknya hanya akan berpengaruh pada pajak kerajaan milik. Kerugian atau apapun itu sepenuhnya milik Viscount Lances, ayahnya.


Pertanyaan kali ini sama sekali tak masuk dalam calon pemilihan sebab hanya berdampak kecil. Kini ia paham arti seringai Madelin.


Memang ada sabotase. Seseorang sengaja memasukan pertanyaan ini untuk menjebak Hanaya dalam rumor buruk lagi. Bersyukur dia berpura-pura bingung tadi. Meski hanya menurunkan sedikit.


Pengaruh Madelin sebesar ini?


Seberapa banyak dia terlibat dalam kegiatan amal hingga seluruh rakyat mencintainya?


"Pertanyaan pertama di menangkan oleh lady Madelin"


Diantara riuh tepuk tangan, pembelokan opini oleh Madelin mulai nampak dalam suara teriakan besar, menyuarakan praduga yang tersulut, lantas menyebar bagai kobaran api, menuntut jelas Kaisar.


"Tapi bukankah ini aneh? Pertanyaan itu, bahkan orang bodohpun tau yang Mulia berpihak pada lady Viviana! Mohon adil Yang Mulia"


"Benar! Ini haruslah kompetitif dan adil lalu mengapa seperti ini?"


"Itu artinya Yang Mulia memang dari awal sudah merencanakan kemenangan lady Viviana"


"Sri Paus! Kami rakyat menyetujui lady Madelin sebagai ratu!"


"Ya! Umumkan pemenang sekarang juga. Lady Madelin sebagai Ratu!"


"Hidup lady Madelin! Kekaisaran akan di berkahi dengan kebijakan!"


"Angkat lady Madelin menjadi ratu!"


"Tidak butuh putusan Paus, umumkan pemenang sekarang Yang Mulia!"


Keributan ini-


Ada yang merencanakannya. Madelin hanya mengambil apa yang di buang. Tujuan pertanyaan ini sejak awal untuk menjebaknya. Target sebenarnya adalah Viviana sendiri.


Xavier, pria itu.... apa tujuannya ?


Tak ada yang dapat di curigai selain Xavier yang jelas punya andil dalam kontes ini.


Jangan katakan semua rumor buruknya selama ini berasal dari pria itu?


Ah, mungkin saja bukan ?


Xavier orang yang di takuti, ia bisa saja mengutus siapapun melepas rumor buruk tentangnya, lalu meleyapkan bukti hidup.


Rumor di mulai setelah kedekatan Hanaya dengan Javier saat hari debutantenya.


Mata Hanaya membelalak.


Xavier, pria itu mengawasinya dan Javier malam itu !


Lalu rumor di pasar itu-

__ADS_1


Semua orang disana tau itu insiden, namun segala kebenaran melenceng akibat rumor yang lepas saat itu juga. Bisa saja, di saat mereka berpisah Xavier melepas rumornya.


Hanaya menggertak gigi. Merasa sangat tertipu.


Jika begitu, setelah dia berhasil memenangkan kompetisi ini akan ada rumor baru.


Calon ratu, melakukan pertemuan rahasia bersama jendral di desa Vilanc.


Lalu akan ada asumsi.


Viviana adalah wanita yang serakah. Dia berniat memonopoli kekaisaran secara penuh. Baik dalam kerajaan maupun kemiliteran.


Lalu apa tujuanmu?


Apa tujuanmu Xavier?


Apa yang kau raih dengan mencemarkan namaku?


Mata Hanaya terasa panas. Marah sekaligus terkhianati menggerogotinya.


Sisi lain Xavier, mungkin semua itu hanyalah tipuan. Hatinya sesak, sesuatu seakan membakar jantungnya.


Dia telah di perdaya.


Bahkan Xavier sama sekali tak merasa bersalah. Tatapan dingin tak tersentuh itu....


Tidakkah Xavier merasa tergugah dengan tatapan Viviana yang penuh kebencian?


Harusnya, harusnya dari awal aku tak mengubah pandanganku terhadapmu.


Seharusnya, jika begini Hanaya tak akan merasa terkhianati hingga hampir menangis rasanya.


Pria yang berdiri di hadapannya ini adalah iblis! Lalu cerita menyedihkan itu, Apa Xavier menggunakannya untuk melemahkan hati Hanaya?


Sangat pandai.


Hanaya ingin tertawa di depan pria itu sekarang juga, tertawa lepas, memberi selamat sebab telah berhasil.


Mungkin niat tersembunyi Xavier adalah untuk menghancurkan Javier melalui wanitanya. Sebab patah hati adalah luka yang sulit di sembuhkan dan membekas seumur hidup. Intrik rendahan yang tak patut seorang bangsawan rencanakan. Namun balas dendam tak mengenal kehormatan bukan?


Sekembalinya, Hanaya akan meminta ayahnya memutus kerja sama untuk Vilanc.


Dia tak membutuhkan pria tak berhati yang memanipulasi segalanya!


Manipulatif! Harusnya Hanaya meneriaki itu di depan wajahnya dan bukan di dalam hati. Sayangnya situasi dan tempat tak sesuai. Memaksanya menekan gejolak api amarah nan emosional.


Pria itu memanfaatkannya. Ini hanyalah praduga, tetapi semua kejadian yang terlalu berkaitan memaksanya percaya, menaruh benci dan dendam.


Xavier benar-benar tau caranya menempatkan posisi, di adalah musuh di dalam selimut! Dan Hanaya terlambat menangkap sinyalnya.


Hari ini, kepercayaannya lenyap atas Xavier.


"Pertanyaan ini bukanlah keberpihakan! Di hadapan kuil dewa agung, melakukan hal itu sama seperti dosa terkutuk! Sebagai kaisar aku bersumpah atas namaku sendiri! Ini adalah pertanyaan pembuka, nilainya tak di hitung" suara Javier yang tenang dan kuat menarik suasana keributan.


Sumpahnya yang kokoh dan tegas itu melenyapkan keraguan.


Sebagai saudara, ini adalah insting melindungi. Rupanya pria yang Hanaya cintai sedang melindungi saudara busuknya.


Jika hal ini di siasati, kepala jendral utama manipulatif ini mungkin akan di gantung sebagai hiasan tembok kekaisaran.


Tapi setelah menjadi ratu, hal pertama yang akan Hanaya singkirkan adalah Xavier, pria yang akan menghancurkan cinta dan hidupnya.


Lalu, kerumunan itu menunduk meminta maaf atas kelancangan.


Bagaimana reaksi Xavier?


Hanaya penasaran.


Mungkin sedang berusaha keras menahan emosinya. Penipu ulung!


"Maaf atas kesalahan saya juga Yang Mulia. Ini sepenuhnya kesalahan saya"


"Tidak perlu. Sejak awal, kontes pemilihan ratu memang selalu sensitif" ujar Javier. Dengan menumpu pada fakta itu Javier melindungi Xavier.


Apa Javier tak tau siapa yang sedang mencoba menusuknya?

__ADS_1


Hanaya harus meraih posisi ini demi kehidupan orang yang ia cintai!


Dia harus berhasil!


Tidak ada waktu untuk merasa terkhianati!


Kontes di lanjutkan setelah drama yang di ciptakan wanita kontroversial, Viviana, beralih pada pertarungan yang sesungguhnya. Opini yang paling mengagumkan akan memenangkan suara terbanyak.


"Delegasi antara kekaisaran dan kerajaan Basiley seperti yang semua orang ketahui menuai banyak penolakan. Basiley menginginkan beberapa wilayah Utopia yang berdekatan untuk suplai makanan mereka"


Basiley, kerajaan tentangga yang beriklim panas dan daerah yang ke seluruhannya di penuhi pasir. Tentu akan sulit mendapat makanan di tempat seperti itu. Basiley memiliki wilayah yang luas. Dan dalam Delegasi sebelum penobatan bahkan jauh sebelum pertemuan nya bersama Javier. Basiley menuntut syarat.


Jika Utopia ingin beraliansi beberapa daerah harus di serahkan sebagai Upeti perdamaian.


Namun yang menjadi Kontradiksi adalah daerah yang di minta sendiri merupakan pusat pangan Utopia. Yaitu: Rothe, daerah penghasil beras yang bersebelahan dengan Dorth. Sert, daerah penghasil rempah. dan Vilanc, daerah penghasil gandum.


Hal ini menyebabkan kemarahan menyulut di antara rakyat. Ini sama saja dengan membunuh jantung Utopia! Jika kekaisaran menyetujui hal ini sama halnya dengan berpasrah untuk mati.


Memang benar, Basiley kerajaan kecil yang memiliki pertahanan dan kemiliteran mumpuni akan sangat menguntungkan bila bergabung, namun syarat yang di ajukan seperti pisau yang menyayat pembuluh nadi Utopia.


Tentu kekaisaran harus meninjau hal ini. Penasihat kaisar lama di kumpulkan, rapat bersama bangsawan tercerdas untuk mendapatkan solusi sia-sia sebab suara rakyat yang menyuarakan perang mempengaruhi segalanya. Emosi memuncak, mengacaukan pengambilan keputusan.


Utopia adalah negara berdaulat yang telah makmur lama. Syarat ini sama saja dengan menginjak harga diri kaisar. Seolah Basiley berisyarat Utopia membutuhkan kami, bukan sebaliknya.


Arogansi tersirat yang memicu emosi semua orang. Petinggi dan yang lainnya menyarankan hal yang sama-perang.


Menghina Kaisar terdahulu sama saja dengan menghina tangan dewa. Apalagi beliau telah berpulang. Tentu ini menimbulkan percikan api dimana-mana.


Perwakilan Basiley pun terancam nyawanya.


"Pertanyaannya, jika Utopia mengajukan banding apa yang harus di ajukan?"


Ini, sedikit rumit.


"Viviana meminta tempat untuk menjawab" jelas, semua orang terkejut lantas melayangkan ucapan buruk sangka dilayangkan.


"Dia berniat mencari muka"


"Sepertinya jawabannya hanya asal-asalan saja"


"Dia berpikir satu kali keberuntungan akan terjadi di lain waktu"


Acuh. Itu respon Hanaya.


Setelah mendapat afirmasi Hanaya berujar.


"Banding yang harus di ajukan adalah pembagian hasil, sama rata"


Hening, lalu ricuh penuh hujatan menggema di udara. Kemarahan terpicu cepat dan meledak-ledak tak mengindahkan latar tempat kuil suci dan di saksikan Sri Paus.


"APA YANG WANITA INI KATAKAN?"


"BAGAIMANA MUNGKIN MEMILIKI RATU DENGAN CARA PANDANG SEPERTI INI?"


"DIA HANYA AKAN MENGHANCURKAN KITA!"


"DIA MENYURUH KITA MENJADI BUDAK? JANGAN BERCANDA!"


"SETELAH KITA BEKERJA KERAS HASILNYA HARUS DI BAGI DUA?'


"JAWABAN ASAL-ASALAN YANG BODOH!"


"WANITA INI! RATU TAK AKAN BERPIKIR SERENDAH ITU!"


"HANYA UNTUK MENDAPAT KEUNTUNGAN MILITER RAKYAT KITA  DI HARUSKAN BEKERJA PAKSA? SIALAN!"


Lalu, suara tepukan tangan mengalihkan perhatian kerumunan yang bergejolak.


Hanaya menatap mereka tajam lalu kata-katanya yang jatuh membekukan orang banyak itu.


"Tak sopan"


Desisan yang membekukan suasana seketika.


...▪︎OODEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Reupload232504CL


__ADS_2