Odd Eye

Odd Eye
Part 54. The beggining of nightmare


__ADS_3

...▪︎ODDEYE▪︎...


Crash.


"Uhuk !"  darah memercik, membasahi baju, mengaliri pedang perak dengan ukiran lambang utopia. Netra hitam yang terbelalak, perlahan-lahan sayu.


Rasa tidak percaya melintasi netra sekelam malam tercemar rasa sakit pengkhianatan.


"Xavi-


"Aku adalah pemenangnya." Nadanya begitu dingin, disertai netra biru membara menusuk pada Hanaya, menyobek sesuatu yang dia percayai.


Lalu adegan paling mengerikan di putar. Diatas sosok Javier yang terbaring lemah dengan darah yang terus mengalir, tawa kemenangan melengking begitu nyaring, bagaikan tawa iblis dalam neraka.


"Javier ! Javier dengarkan aku! Buka matamu ! Tolong buka matamu !" Hanaya ada disana, namun tubuhnya seolah mati, bagaikan dirantai sesuatu. Dalam tangis yang pedih, dia berusaha meraihnya.


Sentuhan dingin nan kasar membuat wajahnya tertoleh, sosok Xavier dalam seringai bengis begitu menakutkan.


"Apa yang ingin kau lakukan ? Dia sudah kalah. Atau kau ingin melihat hal yang lebih keji dari ini ?"


Ada apa dengan dirinya? Mengapa kepalanya tak dapat menggeleng ? Suaranya bahkan tercekik, seakan seseorang merusak pita suaranya.


Tidak ! Tidak ! Jangan ! Jangan lagi ! Aku tak ingin melihatnya !


"Ya, kau ingin melihatnya, Viviana. Kau ingin tahu seberapa besar kekuatanku, bukan?" Mata biru itu berbinar polos namun tersiratkan ancaman.


Tidak, tidak ! Aku tak mau ! Seseorang tolong selamatkan Javier ! Siapapun ! Tolong !


"Kenapa menangis ? Kau memintanya bukan ?"


Tidak ! Viviana tidak pernah memintanya ! Tidak sekalipun! Kecuali Hanaya ! Hanayalah yang memintanya.


"Mana pun itu tetaplah sebuah permintaan. Aku akan mengabulkan permintaan terdalammu-" Javier yang terbaring begitu mengkhawatirkan, namun Hanaya penuh ketidakberdayaan seolah Xavier merantainya! Memaksanya menyaksikan semuanya.


Bisikan samar terdengar, bagaikan hasutan iblis dalam kebimbangan, mendorong Hanaya menemui jurang terdalamnya.


"Akhir yang menyedihkan !"


"Tidak !" Terlambat ! Dalam sekejab suasana dan situasi berganti.


Pangeran yang dia impikan, tergantung  pada utas kayu, luka memenuhi seluruh wajahnya. Sementara wajahnya pucat pasi. Netra hitam yang selalu berbinar penuh harapan nampak begitu pupus bagaikan langit malam tak berbintang. Begitu menyedihkan.


Tidak ! Tolong jangan lakukan ini padaku Xavier, aku mohon. Tolong.


Namun seringai di bibir pria itu bagaikan kunjungan malaikat kematian. Menjawab semua ketakutan Hanaya.


"Aku memberimu banyak kelonggaran, banyak pengecualian. Sayangnya Kau tak pernah mendengarkan. Orang yang keras kepala harus dihukum bukan ?"


Senyum dingin menggores bibir Xavier, menambahkan dingin dalam setiap kata-katanya. Netra birunya terdistori cemoohan berhasratkan mutlak.


"Ini adalah hadiah sekaligus hukumanmu, Viviana."


"Arggghhh !"


Tidak !


Panah menembus tepat di lengan Javier, menggores luka yang berdarah. Xavierlah yang melontarkan panah.


Sentuhan dingin di wajahnya membuat Hanaya menatapnya horor, berbalut ketakutan dan permohonan nampak di dalam matanya.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya mati secara perlahan agar kau menikmati hadiahmu, Viviana"


Jangan-jangan ! Tolong jangan !


Namun tak peduli seberapa banyak suara batinnya menggaung itu tidak akan pernah sampai pada Xavier.


Panah menembus bahu Javier, lalu tertancap pada pahanya menghasilkan jeritan pilu yang memicu tangis tak bersua Hanaya.


Hentikan ! Hentikan ini xavier ! Tolong.


"Arggh !" Lambungnya berdarah, mengeluarkan darah begitu banyak.


"Hadiah selanjutnya akan lebih meriah" lalu panah api di tembakkan, dalam sekejab membakar sekeliling Javier.


Mata Hanaya bergerak liar, sementara jeritan Javier terdengar memilukan. Tidak peduli berapa banyak dia berusaha lepas, cengkraman itu semakin kuat. Memaksa Hanaya melihat pria itu terbakar hingga lenyap.


Secara perlahan, kulitnya mulai terkelupas, meninggalkan bekas yang menggumpal. Pemandangan mengerikan yang membuat Hanaya merasa mual. Seluruh daging di tubuhnya terlihat ! Sementara Javier masih terus menjerit.


"Lihatlah, kau menyukainya ?"


"Buka matamu dan lihat bagaimana bentuk pangeranmu. Sesuatu, memaksa kelopak matanya terbuka, lalu pemandangan tak berdaya Javier dalam kondisi mengenaskan membuat Hanaya gementaran.


"TIDAK!" Mata Hanaya bergerak meliar seiring deru nafasnya yang tak beraturan. Gelayar dingin yang kuat masih membekas di seluruh tubuhnya, seolah itu nyata.


"Ratu anda baik-baik saja?" suara pelayan membuatnya menoleh namun dalam sekejab seringai Xavier terlintas memicu histeria Hanaya.


"PERGI! MENJAUH DARIKU KAU IBLIS! PERGI!"


"Yang mulia, Yang Mulia ini saya, Falentin, pelayan anda!"


"LEPASKAN AKU! LEPAS! KAU IBLIS!"


"JANGAN SENTUH AKU! LEPASKAN TANGAN MENJIJIKKAN MU!"


Plak.


Kepala Hanaya tertoleh, histerianya dibungkam dalam satu tamparan. Meninggalkan bekas kemerahan berjejak panas yang menarik akal sehatnya. Dengan netra berlinang, Hanaya menatap pelayan barunya itu.


"Maafkan saya Ratuku! Hukumlah saya!" Ujar Pelayan itu bersujud.


"Keluar" suara dingin tanpa emosi Viviana membuat pelayan itu menatapnya.


"KELUAR!" lalu satu bentakan yang datang membuatnya bergegas keluar. Kala bunyi pintu tertutup menggema, tangis Hanaya pecah.


Dia masih mengingat setiap detail mimpi itu. Rasa ngeri dalam mimpi masih mencengkramnya erat. Ruang kamar yang begitu megah dalam sesaat terasa begitu menakutkan. Seakan mengucilkannya.


"Aku ingin pulang. Ayah, ibu aku rindu rumah. Hiks-hiks, Brianna tolong bawa aku."  tubuh ringkih Hanaya merapati kepala kasur, membungkus tubuhnya dalam satu pelukan, berusaha melindungi diri dari mimpi buruknya.


Itu hanya mimpi buruk. Batinnya


Mimpi buruk yang sangat mengerikan.


Xavier, begitu mengerikan. Sangat mengerikan hingga hanya dengan satu pukulan telak dia mengirimkan ratusan mimpi buruk padanya. Menyergap Hanaya dalam ilusi yang keji.


Kepalanya terasa kosong, di isi bayangan mimpi buruknya. Di dalam kamar yang megah, Hanaya merasa dia telah kehilangan segalanya.


***


"Yang Mulia-" suara Nathan membuat Javier menoleh dengan sebelah alis terangkat. Sosok Falentin masuk dalam wajah cemas.

__ADS_1


"Salam Yang Mulia. Saya tak tau kenapa tapi sepertinya Ratu mengalami mimpi buruk. Dia begitu histeris kala melihat saya." Suara yang jatuh membuat Javier bangkit dalam langkah lebar menuju pada Viviana.


"Viscountess meminta izin menemui Ratu Yang Mulia" suara penjaga gerbang menyambut Javier kala dia keluar dari ruang kerjanya.


"Bawa dia menemui Ratu."


Viscountess mungkin dapat meredakan perasaan kacau Viviana.


"Baik, Yang Mulia"


"Salam Yang Mulia" ujar Viscountess menyapa formal kala melewati Javier.


"Sepertinya Viviana sangat terpukul atas kejadian tadi, dia bahkan sampai pingsan. Saya harap Viscountess dapat menenangkannya." Ujar Javier.


Viscountess tersenyum lembut, matanya di penuhi kesedihan "Ya, mereka sangatlah dekat karena itu Viviana pasti sangat sedih. Untuk itu saya datang kemari."


"Saya sangat berterima kasih atas pengertian anda, Viscountess"


"Sudah sewajarnya sebagai seorang ibu, bukan?"


"Ya."


"Kalau begitu saya permisi."


Dia penasaran, seperti apa rupa putrinya itu.


Derit pintu yang terbuka membuat Viviana mengangkat tatap. Air matanya mengalir kala sosok ibunya nampak.


"Ibu!" Viviana berlari di dalam pelukannya. Sementara seringai Viscountess tertarik.


Ah, seburuk itukah pukulan yang Xavier berikan? Viviana bahkan terlihat mengerikan. Penampilannya seperti mayat hidup dengan mata memerah di hiasi kantung mata hitam, serta wajah yang pucat.


Mengapa gadis ini begitu lemah?


Viscountess merasa terhina melihatnya seperti ini.


"Ibu- ibu"


"Tidak apa, semua akan baik-baik saja" ujar Viscountess lembut, menepuk punggung Viviana penuh kasih. Berbanding terbalik dengan netranya yang berkilat tercemar kepuasan.


"Aku bermimpi buruk. Xavier- jendral akan menghancurkan segalanya! Dia akan membunuh Javier, ibu! Apa yang harus ku lakukan? Kenapa seperti ini? Bagaimana dengan gelarku? Apa usaha untuk memulihkan segalanya akan sia-sia?" Di dalam pelukannya, Viviana berseru putus asa, kehilangan hasrat dendamnya. Memicu seringai di bibir Viscountess.


Ini bahkan baru permulaan. Hanya hidangan pembuka dan hasilnya begitu dashyat mengguncang Viviana. Dia bahkan sampai terbawa mimpi, melupakan prioritas dan sahabatnya. Lantas bagaimana dengan yang selanjutnya ?


Gadis ini mungkin akan berakhir bunuh diri. Menyedihkan.


Dimana gadis bersemangat yang selalu dia lihat? Gadis dengan netra penuh tekad yang menatap Xavier penuh permusuhan? Apa hanya sampai disini saja tekadnya?


"Lalu, kau ingin menyerah?" Pertanyaan yang keluar terasa mencekik Hanaya.


Ada keheningan panjang diantara mereka. Dan tanpa perlu di jawab, Viscountess tau apa jawabannya. Viviana ingin menyerah, dia mengetahui seberapa lemah dirinya.


Sayang sekali, Xavier tidak akan berhenti. Dan dia menyukai keputusan pemuda itu.


Viviana akan tetap terperangkap, sampai dia memutuskan pilihannya. Dan pilihan itu hanya memiliki satu opsi- bergabung bersama Xavier.


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Update230604CL.

__ADS_1


__ADS_2