
...▪︎ODDEYE▪︎...
"Yang Mulia, Ratu meminta bertemu" Javier yang tengah sibuk dengan dokumen mempersilahkan.
"Izinkan Ratu masuk" Hanaya dengan segera melangkah masuk, yang langsung di sambut oleh Javier.
"Ada sesuatu mengganggumu?" Senyum Hanaya tertarik melihat kepedulian pria itu serta cara dia menyambutnya. Hanaya bahkan berbinar kala Javier menuangkan teh padanya, mengambil tempat di sisinya.
Tidak akan ada yang menghalanginya bahagia. Tidak akan dia biarkan tragedi yang sama terjadi padanya pada dunia ini. Hanaya bersedia mempertaruhkan segalanya demi menciptakan akhir bahagia.
Dulu, di kehidupan sebelumnya segalanya berjalan buruk karena Hanaya tak punya tekad melawan. Untuk meraih akhir bahagia, dia tak bisa berpangku tangan dan berharap semuanya akan berakhir indah hanya berdasarkan tulisan belaka.
Dia harus memperjuangkan kebahagiaannya !
"Ku dengar Baron Alex meminta bertemu, apa dia mengatakan hal buruk atau merusak suasana hatimu? Katakan, aku akan menyingkirkannya"
Senyum Hanaya kian mengembang mendengar itu.
Firasat ayah tak akan terjadi. Javier sangat mencintaiku. Andai ayah melihatnya aku yakin ayah akan menerima kenyataannya. Javier tak akan berpaling dariku ayah.
Berapa banyak Hanaya menyayangkan kalimat yang sama? Mungkin ribuan atau ratusan kali sebab merasa sangat beruntung.
"Kenapa kau terus menatapku? Apa suasana hatimu seburuk itu hingga aku terlihat buruk di matamu?"
"Tidak. Maaf mengganggu waktumu. Seharusnya aku melayanimu bukan sebaliknya" Hanaya berujar penuh penyesalan.
"Tidak perlu di ambil hati. Jadi katakan apa yang menganggumu?" Hanaya tercenung. Mata Violetnya menatap Javier sejenak.
Javier mungkin akan kecewa dengan hal ini, tetapi inilah tujuannya. Menyingkirkan penghalang kebahagiaan mereka.
"Apa kau punya waktu luang?"
"Selama untukmu, akan selalu ada" jawaban manis dengan kecupan itu membuat Hanaya menarik senyum tipis.
"Jika.... seandainya Xavier adalah orang yang mengancam tahtamu apa yang akan kau lakukan?"
Perubahan signifikan terjadi di wajah Javier, matanya menyorot dingin "Apa yang kau maksud?"
"Kau paham maksudku, Javier"
"Menurut ketentuan, dia akan tetap di hukum"
"Pendapat pribadimu, aku menanyakan itu"
Helaan nafas gusar terdengar, bibir Javier mengurva tanpa memperlihatkan sedikitpun emosional "Aku tentu akan sedih. Namun jika itu kesalahannya dia tetap harus menanggung akibatnya bukan?"
__ADS_1
Hanaya sebenarnya tak ingin membuat Javier terpuruk, tetapi jika Xavier tak disingkirkan, tujuan yang di tetapkan tak akan tercapai. Semua hanya akan menjadi angannya semata.
"Ini. Kau harus melihatnya" dokumen yang sama yang di serahkan pada Viviana, Hanaya berikan pada Javier.
Pria itu terlihat terkejut kala membaca isinya.
"Xavier, adalah salah satu anggota kelompok itu" lirih Hanaya, meneliti ekspresi wajah Javier. Kaget dan tak dapat mengelak.
Maaf, tapi untuk bertahan hidup pilihan harus di tentukan. Dan membuang sumber utama masalah tentu adalah hal yang pasti.
"Kau- apa Baron Alex yang memberimu ini?" Javier bertanya ada kebencian di dalam nadanya. Perasaan pria itu terlukis pada wajahnya.
Ternyata memang sedalam itu perasaan sayang seorang saudara yang pria itu miliki. Tapi sekali lagi, rasa sayang pada seseorang yang salah. Orang dengan niat menghancurkan Javier sendiri. Saudara sepertalian darahnya, Xavier.
"Ya. Buktinya tertera jelas. Aku mengerti kecemasaanmu, tapi menyembunyikan masalah ini hanya akan menjadi malapetaka untuk tahtamu Javier. Kita harus menyingkirkannya. Masa depan kita harus di tata tanpa masalah"
Hembusan nafas Javier terdengar gusar. Sepertinya sulit mempercayai bukti dihadapannya, bahwa saudara sedarah mengkhianatinya. Jendral tertinggi masuk dalam kelompok yang mengecam pemerintahan.
"Kita harus menyelidikinya. Bisa saja dokumen-dokumen ini palsu. Tidak ada bukti hidup dan saksi mata, bagaimana bisa ini di sebut penghianatan?" Bahkan, Javier masih berusaha melindungi Xavier ketika ia terpojok. Namun Hanaya tak berbesar hati layaknya Javier, penghalang terbesarnya harus di singkirkan.
"Putri Earl Noir sendiri saksinya. Aku sudah meminta pelayan mengirim mereka kemari, juga kepala pelayan Earl Noir, lady Penelope. Kau harus mengambil tindakan saat kejelasan mereka sampai, Javier."
Xavier akan berakhir dalam kematian yang malang. Dan Hanaya mempertaruhkan apapun untuk melihat kepala pria itu terpenggal. Hanya sampai saat itu, segalanya akan tetap mengancam jiwanya. Tidak ada ketenangan selama presensi Xavier masih tersisa.
"Nathan, bawa pengawal geledah seluruh kediaman Xavier. Temukan naskah aslinya. Surat perintah atas namaku milikmu" ditilik dari gelagatnya, Javier masih larut dalam keterkejutan dan Hanaya yang menggebu-gebu untuk menyingkirkan masalah terbesarnya tak boleh menunda.
"Baik, Ratu"
"Berhenti. Kita takkan mengambil tindakan apapun, tidak sampai Xavier kembali!" Hanaya mengepalkan tangan, berusaha menekan tekanan membantah yang menggebu. Javier syok, dan tentu dia tak boleh terlihat begitu terobsesi dengan perkara ini.
Di dekatinya Javier, mengusap bahu pria itu, menyalurkan kata-kata menenangkan. Melancarkan serangan persuasif, yang tentu mendukung niat buruknya. Yang dapat membantu tercapainya hasrat Hanaya.
"Kau tak bisa mempertahankannya. Masalah ini mungkin sudah beredar luas. Cepat atau lambat, semua orang akan menuntutmu"
"Kita tidak sedang mengulur waktu, Viviana!"
"Aku paham. Kau tak sedang mengulur waktu, tetapi siapapun akan menduga seperti itu. orang-orang mungkin akan berpikir kau berpihak pada Xavier"
"Ini bukan keberpihakan. Aku hanya menunggu kejelasan darinya!"
"Tidak ada pelaku kejahatan yang berniat memberitahukan kejahatannya setelah rencananya berhasil. Kejelasan apa yang kau tunggu? Pengakuan Xavier? Dan mengabaikan semua bukti?"
"Viviana, aku tak sedang ingin berdebat"
"Aku tidak mendebatmu. Nadaku tak setinggi itu untuk kau anggap afirmasi perdebatan"
__ADS_1
"Viviana..
"Aku mengerti kegusaranmu. Tapi anggap saja ini penyelidikan mendetail. Kita bisa memastikan ketidakterlibatan Xavier, jika semua informasinya palsu kita bisa mencari cara menyingkirkan semua ini dan menyelamatkan saudaramu tanpa diketahui siapapun."
"Dengan mengirim prajurit secara terang-terangan? Sama saja memberi petunjuk bahwa ada yang salah! Secara tak langsung kau membuat semua orang mengungkit masa lalu Kakakku!" Nada tinggi Javier membuat Hanaya tersentak. Perpecahan terjadi diantara mereka untuk pertama kalinya sebab Xavier, dan tanpa dapat di elakan.
Hanaya yang ingin menyingkirkan dan Javier yang berusaha melindungi. Betapa lemahnya hubungan ini.
Memalingkan wajah, Hanaya menghembuskan nafas pelan. Kepalan tangannya yang mencengkram sisi gaun melampiaskan emosi yang bergaung. Marah, terkejut, sedih dan menggebu-gebu.
Dia menyadari batas rapuh yang terpetak pada hubungan ini. Xavier, secara langsung mengambil alih seluruh hidup Viviana hingga menjadi pembatas kebahagiaannya.
Namun tentu, menyerah hanya karena luapan emosi sesaat tidaklah etis. Hasratnya telah mencapai titik dimana harus terlampiaskan. Dan ketidakpuasaan, perasaan dihantui, kegelisahan, serta frustasi yang akhir-akhir ini mendera haruslah menjemput titik akhir. Dia harus mencapai puncak kepuasan untuk menghapus semua perasaan-perasaan yang menggerogoti. Yang mengambil bagian sebagai saraf mati dalam tubuhnya.
Menarik senyum kecil, Hanaya mendekati Javier dalam pengendalian diri terbaiknya.
Satu serangan lagi. Satu rayuan paling masuk akal dan efektif, titik lemah Javier akan berhasil ia renggut.
Maka, dengan tekad serta pengendalian diri, Hanaya mengusap bahu kokoh pria rapuh yang tengah di dera frustasi, tampak putus asa dibalik topeng wajah dinginnya. Melancarkan serangan akhir.
"Maafkan aku karena sangat menyinggungmu. Aku hanya merasa perlu mendapat kepastian. Jika kau merasa keberatan, kita bisa mengutus Nathan. Dia akan menemukan apa yang harus di temukan" tak adanya respon tak lantas menyurut ego Hanaya.
"Aku tau, aku salah. Hanya saja aku berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Aku melakukan semuanya untukmu. Aku tak ingin terjadi apapun padamu " -dan berimbas pada impianku.
Nada lembut, usapan menenangkan serta pengakuan paling tulus tentu dapat memenangkan hati seseorang dengan mudah.
Javier menyetujui dengan helaan nafas pelan, nyaris tak terdengar. Raut wajahnya terdistori penyesalan "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu. Itu hanya kekeliruan"
Menyunggingkan senyum terbaiknya Hanaya menjawab "Tidak masalah. Aku seharusnya tidak memicu emosimu seperti tadi. Ini juga salahku."
"Nathan, pergilah sendirian. Bawa surat izin atas namaku, selidiki perkara ini tanpa di ketahui" ujar Javier pasrah.
Hati adalah bagian paling lembut milik manusia. Dan Hanaya memanfaatkan perasaan Javier kepadanya sebagai topeng untuk mencapai tujuan.
Terdengar kejam sebab Hanaya seakan mendorong Javier memilih atau bahkan menelan kenyataan pahit yang nampak sulit pria itu terima. Tetapi sekali lagi, Xavier adalah ancaman, bencana dan penghalang besar bagi impian indahnya.
Hanaya tau dia egois. Dan bahkan sekarang terdengar sangat manipulatif, tetapi untuk bertahan hidup bukankah dia harus berjuang ? Impiannya bukanlah hal semu yang di impikan tanpa perjuangan nyata.
Pria itu, harus di singkirkan.
Dan dengan masalah ini, Hanaya akan memastikan keegoisannya membuahkan hasil.
Dia harus meraih happy endingnya !
...▪︎OODEYE▪︎...
__ADS_1
Note:Update052317CL