Odd Eye

Odd Eye
part 55. Penyangkalan yang tak benar


__ADS_3

...▪︎ODDEYE▪︎...


Setelah semua tangisan, curhatan panjang penuh rasa frustasi tak lantas menyurut kegusaran Viviana. Dia bahkan tak dapat berkeliaran bebas di istana karena takut bertemu Xavier. Pria itu benar-benar menjadi momok baginya.


Dia bahkan mengalami mimpi buruk di setiap malamnya. Dan itu membuatnya menjadi lebih sensitif.


"Ratu-


"Keluar!" Satu suara Viviana dibalas pengunduran diri. Beberapa hari ini wanita itu begitu mudah tersulut. Falentin bahkan melihatnya mengerang dan berteriak seperti orang gila di dalam mimpinya. Bahkan suaminya pun tak dapat menenangkan wanita itu.


Satu-satunya saat dimana dia terlihat begitu tenang adalah selepas kunjungan ibunya, Viscountess Lances. Mungkin ada hal yang tak dapat diceritakan Ratu pada suaminya dapat di dengarkan oleh ibunya.


Falentin menarik nafas begitu melihat sosok lady Annette. Dia harus menerima teriakan Viviana lagi.


"Salam Ratu-


"KU BILANG KELUAR! APA KAU TAK PAHAM UCAPANKU?"


"Lady Annette datang menemuimu, Yang Mulia." Nama yang terucap bagaikan guyuran air dingin. Menyadarkan Hanaya dari keterpakuannya.


Annette, apa yang harus dia katakan padanya? Terlarut dalam kekalutan membuatnya lupa segalanya. Dia masih memiliki Annette untuk di jelaskan.


"Annette-


"Kau boleh keluar." ujar Annette dingin. Dia dapat melihat kemarahan yang berkobar di netra perempuan itu.


Hanaya tidak berada dalam posisi untuk membela diri.


"Jadi, katakan padaku kenapa ini harus terjadi pada Rozetta? Kau ada disana, aku mendengarnya. Kau berdiri disana tanpa mencoba membela. Jadi apakah dia benar-benar bersalah? Apa yang membuatmu yakin?"


"Annette-


"Kau mengenal Rozetta. Dan aku yakin kau paham seperti apa wataknya. Rozetta tidak pernah tertarik pada hal-hal seperti ini. Bagaimana itu mungkin?"


"Dengar-


"KAU YANG HARUS MENDENGARKAN!" Bentakan Annette menggelegar. Dadanya bergemuruh, di susul air mata yang menetes. Untuk pertama kalinya, sosok polos Annette menghilang. Penampilannya yang polos terdistori emosi, meluap dalam tampilan fisiknya.


"SEBELUM MENJADI RATU, KAU ADALAH SAHABATNYA! KAU MENGENAL ROZETTA LEBIH DULU! DIA BAHKAN MEMBANTUMU MERAIH KEMENANGAN DENGAN MUDAH!"

__ADS_1


"AKU MEMANG BODOH DAN LAMBAN TAPI BUKAN BERARTI AKU TAK PAHAM WATAK SEPUPUKU! ROZETTA MEMBANTUMU DENGAN SENGAJA BERTINDAK SEPERTI ITU!"


"JADI KENAPA KAU BERTINDAK SEKEJI ITU? APA MENGORBANKAN ROZETTA TAK CUKUP BAGIMU! KAU BAHKAN MENCABUT-


"AKU TAK PERNAH MENGORBANKANNYA!"


"Hah, tidak mengorbankan? Apa setelah mencari pengasihan dengan berpura-pura syok, kau bahkan ingin menghindar sekarang?" Sarkasme Annette menusuk tepat di suatu tempat di hatinya. Hanaya dalam sekejab lupa bernafas.


"Aku tak-


"Biar ku tebak kau sengaja menutup mulut karena tak ingin namamu tercemar bukan?"


"Tidak! Bu-bukan seperti itu"


Bentak Hanaya menderu. Netranya memerah tercemar air mata.


Bahkan meski dia menyangkali hal itu, mungkin itu benar adanya. Bahkan di akhir hidupnya, Hanaya tidak memikirkan Rozetta. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.


Dia bahkan takut akan kemungkinan bahwa namanya tercemar.


"Bahkan sikapmu mengakui itu" sinisme Annette menembus telinganya. Hanaya membeku dalam penjara es tatapan gadis itu.


"Annette-


"Maafkan sikap kasar ku Yang Mulia. Jika aku menyinggungmu hukumlah aku" Annette berujar dengan cemooh diwajahnya "Apa kau berpikir hanya karena statusmu aku akan berlutut di hadapanmu? Kau pasti gila"


"Annette-


"Mulai sekarang kita bukan lagi sahabat- aku tak ingin jadi sebodoh Rozetta" suara akhir Annette memenuhi ruangan meninggalkan atmosfer sepi yang dalam.


Hanaya terkekeh pelan, bagaikan menertawakan dirinya sendiri.


Jadi inilah ironi yang sebenarnya dalam hidup Viviana- Hanaya bukan pengendali segalanya.


***


"Dia terlihat kacau" suara Viscountess menggema, Xavier menatap wanita itu dingin.


"Kau pasti memukulnya telak. Keadaannya sangat menyedihkan, aku bahkan harus mencegah suamiku mengetahui kabarnya"

__ADS_1


Tidak ada jawaban, sementara netra biru Xavier menatap wanita tua itu tanpa emosi. Seolah pembicaraan ini sama sekali tak menarik.


Meletakkan cangkirnya, Viscountess berkata "Tidak ku sangka kau sekejam ini. Sepertinya Viviana akan trauma padamu"


Memejamkan mata, suara tanpa emosi Xavier keluar "Jika tidak seperti itu, dia tidak akan pernah datang padaku"


Viviana meski begitu kokoh, perempuan itu nyatanya begitu keras kepala. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan mundur sampai mendapatkannya.


Senyum simpul tertoreh di bibir Viscountess "Begitulah putriku. Lantas apa yang membuatmu begitu tertarik padanya? Jangan katakan sesuatu yang klise apalagi tentang perasaan"


Semua orang yang bersekutu dengan Xavier tau bagaimana pemuda itu menyimpan rasa pada Viviana. Bahkan sekalipun dia tidak mengakui itu, atau bertingkah sebagai saudara yang baik- Viviana tetaplah hal paling menarik dimatanya.


Pria yang mencinta bisa dibutakan apa pun. Sama seperti wanita, mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan wanita itu- bahkan jika harus menghancurkannya. Bukan tidak mungkin Xavier bertujuan seperti itu. Meski telah lama mengenal, Viscountess tak dapat membaca jalan pikiran Xavier. Dia terlalu suram dan terlalu kabur untuk di jejali. Namun demi kelancaran segalanya- bukankah dia harus mendapatkan kejelasan?


Senyum tipis melintasi bibir Xavier. Kelemahannya adalah Viviana. Dan dia tidak akan berpura-pura tentang itu. Sebab itu orang-orang di sekitarnya takut dia akan melupakan segalanya, memburu perempuan itu dalam kegilaan. Nyatanya bahkan diatas semua perasaan yang menggebu, ada satu hal paling dasar yang menarik Xavier. Dia pion paling penting dalam rencananya. Kenyataan itu menyadarkan perasaannya, bak alarm dalam alam bawah sadarnya. Walaupun sulit mengendalikan hasrat kala menatap perempuan itu.


Viviana sejak awal begitu menarik dimatanya. Dia dan segala ketidaksempurnaannya adalah hal paling menarik yang Xavier temui.


"Dengan mata yang sama dan nyawa saya berani bersumpah, bahkan sekalipun perasaan ku begitu dalam- Viviana tidak akan pernah menjadi hambatan paling besar." Viscountess terkejut kala pemuda itu mengambil sumpah atas hidupnya.


"Ka-kau tidak perlu melakukan itu"


"Sayangnya keraguan Viscountess akan tetap ada, bukan?" Itu memanglah kebenaran, karenanya Xavier bersumpah. Sumpah begitu sakral di utopia dan pengucapnya akan terus memaksa mematuhi itu.


Semua orang di sekitarnya memerlukan jaminan. Dan tidak peduli berapa banyak dia menjelaskan- keraguan atas setiap keputusannya akan terus ada. Dia perlu menunjukkan itikad yang memaparkan kesungguhannya.


Bahkan sekalipun rasanya begitu besar, keinginannnya jauh lebih kuat.


Xavier bergerak sejauh ini untuk akhir Javier dan bukan untuk mendapatkan Viviana.


Dia paham konsekuensi yang akan dia hadapi jika Xavier berniat mendapatkan Viviana- dia akan berakhir kehilangan segalanya. Wanita itu atau keinginan terbesarnya. Sebab Xavier telah melihat begitu banyak pria hebat yang kehilangan segalanya hanya karena mengejar satu wanita.


Sebuah keberuntungan baginya, bahwa wanita itu adalah pion lain paling penting di dalam rencananya.


Viviana punya nilai, di dalam dirinya terselip sesuatu yang sangat Xavier hargai. Prinsip-prinsip dalam hidupnya. Bahwa Viviana memiliki nilai tukar yang pantas.


Dia bukan hanya wanita yang Xavier cintai tetapi pion paling penting dalam rencanannya.


...▪︎ODDEYE▪︎...

__ADS_1


Note: Update230605CL.


__ADS_2