Odd Eye

Odd Eye
Part 8. Kunjungan yang tiba-tiba


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Sudah mendengar rumornya?" Ujar lady Rozetta.


Rumor? Tentang apa ?


"Rumor mengenai apa?"


"Lady Viviana tak tau, ya? Jendral Xavier menangkap orang yang menyusupkan budak lebih tepatnya penipu" timpal Annette menjelaskan.


Jadi, yang kemarin mereka kejar adalah penyelundup budak ?


"Tapi hukumannya sangat mengerikan"


"Mengerikan? Apa maksud lady Annette?" Gumam Hanaya bertanya.


"Jendral Xavier menyarankan memotong lidah dan mencongkel matanya lalu di gantung di pusat kota sebagai peringatan" mata Hanaya melotot, sementara seluruh bulu kuduknya berdiri.


Pria itu memang benar-benar berhati dingin.


"Meski mengerikan itu setimpal dengan perbuatannya. Dia menipu rakyat  lalu menjual mereka pada negara lain dengan harga tinggi. Jendral Xavier menyelidiki pergerakannya selama setahun, semua bukti sangat akurat- tapi pemimpinnya belum di temukanv" timpal Rozetta menjelaskan.


"Itu bahkan dimuat dalam pemberitaan resmi kerajaan" sambungnya.


Hanaya mengangguk paham


"Meski caranya kejam,  aku setuju dengan pendapat lady Rozetta. Itu adalah perdagangan manusia dan termasuk ilegal dalam hukum Utopia, dia benar-benar amoral !" ya, Hanaya rasa itu hukuman yang setimpal sekaligus pelajaran bagi yang lainnya, meski terbilang kejam.


"Ah! Dan ada seorang gadis, gadis bangsawan yang di ikutsertakan dalam pengejaran itu, ku dengar jendral Xavier sendiri yang membawanya!" Seru Annette tiba-tiba dengan menggebu, membuat Hanaya hampir tersedak teh yang ia sesap.


It-itu adalah dirinya!


Ya Tuhan! Hanaya harap tak ada yang tau jika itu dirinya! Hanaya tak ingin terjebak rumor apapun dengan Xavier. Dia ingin tetap bersih hingga posisinya resmi sebagai Ratu.


"Anda baik-baik saja lady ?" Tanya keduanya khawatir, Hanaya memberi senyum paksa.


"A-aku baik"


"Tapi ada sesuatu yang ingin kami pastikan" ujar Rozetta diangguki Annette. Dari raut wajah keduanya Hanaya yakin pembicaraan ini pasti serius.


"Tentu, apa itu?"


"Ada kabar yang beredar, Putra Mahkota melamar seorang lady dua hari yang lalu dan itu adalah anda benar bukan?" Hanaya membeku tak menduga beritanya akan beredar secepat ini.


Menghela nafas pelan, ia mengangguk. Tak ada yang dapat di rahasiakan, keduanya sudah Hanaya anggap teman, meski baru saja dekat.


"Ya-ya itu memang benar" mata Annette menyorot Hanaya berbinar


"Hebat! Ah, beruntungnya! Sudah ku duga bahwa Putra Mahkota  menyukai anda! Banyak rumor mengenai anda setelah Putra Mahkota mengajak anda berdansa saat debutante anda. Tapi rumor lain mengatakan bahwa anda juga terlibat hubungan gelap dengan jendral Xavier, saudara Putra Mahkota" dan begitu celutukan Annette terjatuh, Hanaya terkejut hingga terbatuk hebat.


"Apa?"

__ADS_1


"Ya, semenjak insiden dansa itu nama anda semakin besar. 'Putri Viscount Lances mendapat perhatian spesial Putra Mahkota' sejak itu banyak lady lain membicarakan anda. Apalagi anda tak selalu hadir dalam pertemuan  bangsawan yang di gelar sebulan sekali. Anda tak berpikir tak ada yang mengenal anda kemarin bukan?" Meringis Hanaya mendengarnya.


Dia pikir dia tak dikenali, rupanya dia salah.


"Lupakan soal rumor itu. Ku yakin itu bukan kebenarannya. Lady Viviana tak seperti itu. Benar, kan?" bantah Annette. Hanaya bersyukur kriteria bersemangat nan positif ada pada diri Annette. Jika gadis itu tak ada mungkin dia akan merasa canggung.


"Jika begitu tak ada yang ingin anda bicarakan? Saya tau kita masih sangat asing untuk membicarakan permasalahan pribadi, tapi bagi saya dan Annette anda sudah seperti sahabat. Saya hanya ingin mendengar klarifikasi langsung dengan begitu saya tak perlu khawatir dengan rumor yang beredar" aku Rozetta jujur. Dia mencemaskan Viviana sejak rumor mengenai kekasih gelap jendral Xavier beredar luas, nama gadis itu kian buruk di kalangan bangsawan.


Rozetta takut akan ikut tercemar dengan hal itu. Rumor buruk bisa saja mempengaruhinya dan menilai Viviana tanpa kebenaran yang pasti.


Hanaya akui kejujuran Rozetta memang benar. Ia tak dapat membiarkan citra Viviana tercemar di depan orang terdekatnya.


Maka gadis itu mulai menceritakan yang sebenarnya, memberi klarifikasi jelas mengenai kejadian kemarin sekaligus membenarkan lamaran Putra Mahkota. Rozetta tak menuntutnya menceritakan proses lamaran itu, sebab menurutnya itu melanggar privasi Viviana. Sementara Annette yang ingin mendengar serangkaian kejadian lamaran itu harus urung sebab penegasan privasi.


"Huh, ku harap aku bisa mendengar kisah romansa itu" gerutu Annette sedih tak dapat mendengar spesifik lamaran Putra Mahkota.


Hanaya terkekeh, mengedipkan satu mata lalu berkata dengan nada menggoda "Maaf sekali lady, ini privasi" lalu ketiganya tertawa entah sebab apa.


Viscount tersenyum, mengamati kehangatan itu dari jendela lantai atas yang mengarah tepat pada taman depan. Matanya mengarah pada Brianna yang berdiri tak seberapa jauh dari meja ketiganya dengan menunduk. Seolah patung. Gadis itu bahkan tak terusik sedikitpun. Viscount bertanya kapan dinding yang dibangunnya akan runtuh?


Seperti halnya Viviana, Viscount menyadari dinding yang Brianna bangun. Memang benar bahwa batas antara pelayan dan majikan ada dan sangat di junjung tinggi, tetapi dalam kedekatan fisik seringkali banyak bangsawan dekat dengan pelayan mereka- lebih seperti teman. Berbeda dengan Brianna yang membatasi segalanya.


Entah tembok apa sebenarnya yang gadis itu bangun. Brianna seolah tak ingin berbaur dengan apapun, seolah ingin berada dalam dunianya sendiri. Tindakannya memberi batas akses orang lain untuk mendekatinya.


Loyalitasnya terdengar sangat mengagumkan tetapi bagi Viscount Lances itu sangat mengerikan, seakan Brianna pasrah pada kehidupannya.


Ia tersentak kala usapan lembut dibahu berupa penenang di susul suara sang istri, seakan paham keraguannya "Tak apa, seiring dengan waktu percayalah Brianna akan meruntuhkan batasannya"


***


"Siapa?"


"Jendral Xavier" Hanaya spontan menegang. Xavier? Bagaimana jika Rozetta dan Annette berpikiran jauh tentang kunjungan ini?


"Ada apa lady ? Anda terlihat cemas? Ada sesuatu yang mengganggu anda?" Tanya Rozetta.


"Jika begitu saya dan Annette akan pergi jika anda merasa terganggu" Hanaya buru-buru menggeleng, mengulas senyum canggung "Tak masalah, saya hanya harus mengurus sesuatu, boleh menunggu sebentar?"


"Baiklah. Kami akan menikmati tehnya sambil menunggu anda"


"Cepatlah kembali lady ! Sangat tak seru jika anda tak ada" timpal Annette riang.


Hanaya mengangguk hendak menemui Xavier, tetapi keberadaan pria itu tepat di jalan membuatnya membeku. Sementara Rozetta dan Annette terkejut, sebelum buru-buru memberi salam.


"Jendral Xavier, salam dari kami. Saya lady Rozetta"


"Dan saya lady Annette"


"Salam. Apa kedatangan saya tidak tepat?" Tanyanya tak berekspresi, membekukan suasana.


Rupanya Xavier menyadari kecanggungan dari kemunculannya.

__ADS_1


"Saya memiliki sedikit keperluan dengan lady Viviana, jika berkenan bolehkah? Anda sekalian bisa melanjutkan perbincangannya nanti." Rozetta dan Annette tercengang. Apa Xavier yang terkenal keji baru saja meminta izin dengan wajah dingin dan suara tanpa emosi?


Rozetta buru-buru mengangguk, dengan cepat mengendalikan keterkejutannya


"Tak apa tuan. Saya dan Annette juga akan menunggu"


Hanaya memberi senyum kikuk pada keduanya "Sebentar, ya?"


"Tak masalah." baru saja meneruskan langkah kedalam seruan pelayan terdengar.


"Putra Mahkota mengunjungi lady Viviana" Hanaya memejamkan mata, pasrah. Kian rumitlah masalah ini!


Javier bisa saja salah paham!


Rozetta dan Annette saling berpandangan terkejut, sebelum memberi hormat pada Javier yang melangkah masuk.


"Xavier ada yang perlu kau jelaskan?" Suara dingin Javier menggema. Xavier memberi hormat sopan, lantas menjelaskan.


"Ya, saya kesini hanya untuk meluruskan perihal dengan lady Viviana" jawabnya cepat dan tegas.


Tak ada udang di balik batu dalam kunjungan ini. Murni asas perihal kemarin- dimana ia tak sempat mengucap terima kasih.


Tetapi dari raut wajah Javier, membuat Hanaya yakin pria itu marah. Sementara Annette menatap ketiganya dengan binar lantas berbisik "Sepertinya akan ada perebutan. Kisah cinta segitiga itu akan terealisasikan!"


Rozetta menyenggol lengan Annette, gadis ini benar-benar tak tau melihat situasi!


"Jaga ucapan mu Annette! Kita tak tau apa yang akan Putra Mahkota lakukan padamu jika dia mendengar"


Tak ingin situasi kian buruk, sebab aura permusuhan Javier mengudara sangat pekat, Hanaya menyela "Maaf, Brianna tolong antarkan Jendral dan Putra Mahkota kedalam. Aku harus berbicara dengan lady Annette dan Rozetta dulu"


Brianna mengangguk, menuntun dua pria berkuasa itu kedalam.


"Maaf, untuk acara kali ini-


"Tak apa, kami mengerti. Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Lady harus meluruskannya, wajah Putra Mahkota tak terlihat baik" Rozetta maklum.


"Ah, aku masih ingin melihat perebutan kisah cinta, tapi sepertinya tak memungkinkan" gumam Annette lesu.


"Akan ku ceritakan pada kalian nanti, maaf sekali lagi" Hanaya tak enak hati harus mengakhiri perbincangan hangat mereka.


"Tak apa. Tenangkan saja kekasih lady hanya sedang cemburu" Celutuk Annette jenaka, menepuk bahu Hanaya.


"Hush ! Pelankan suara mu!" Tegur Rozetta yang dibalas cengiran Annette.


"Kalau begitu kami permisi lady. "


"Kapan-kapan kita harus minum teh dirumahku juga! Aku punya rasa teh baru!" Seru Annette riang. Ucapan terakhir dari perpisahan.


Namun, kata-kata Annette tadi membuat Hanaya bersemu. Kekasih ? Bisakah Hanaya menyebut Javier seperti itu? Lalu apa tadi? Cemburu ? Yang benar saja!


Hanaya sepertinya akan terus bahagia hingga sisa hidupnya.

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Reupload230328CL


__ADS_2