Odd Eye

Odd Eye
Part 6. Surat Misterius


__ADS_3

...Hanya karena air tenang, bukan berarti tak ada bahayanya....


...Hati manusia sulit di selami jika hanya menilai berdasarkan perilaku...


... ...


...▪︎ODDEYE▪︎...


Tidak banyak yang Hanaya lakukan selain fokus membaca, meraih sebanyak mungkin informasi mengenai dunia ini.


Yah, di kediaman mewah keluarga Lances tentu hanya itu yang dapat ia lakukan. Dia ingin mengundang Rozetta dan Annette lagi, tetapi sepertinya tak mungkin mengingat baru dua hari lalu mereka bertemu.


Menatap keluar jendela sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan, mengusir jenuh seusai membaca.


Ada taman belakang keluarga Lances yang ditumbuhi berbagai macam bunga. Tapi hanya satu yang sangat Hanaya sukai, taman yang di penuhi bunga Lavender. Sekarang sedang musim semi, karena itu bunga bermekaran sangat banyak. Hanaya menarik nafas, sebelum akhirnya tersentak begitu jubah di pakaian padanya.


"Udara malam dingin, nona. Harap memperhatikan kesehatan anda lebih utama." seperti biasa, Brianna dan nada formalnya. Hanaya bertanya, kapan gadis ini menunjukan peringai aslinya. Hanaya ingin memiliki kedekatan lebih dengan Brianna-bukan sekedar pelayan dan tuan.


Terakhir kali ekspresi lain nampak di wajahnya hanyalah saat Hanaya sadar.


Mengeratkan jubahnya, Hanaya mengikuti Brianna memasuki ruangan, aroma teh menguar sementara Hanaya memejamkan mata menikmati aroma itu. Dia sendiri sudah terbiasa dengan perangai Brianna yang nampak acuh tetapi sebenarnya penuh kepedulian.


"Kau tak ingin bertanya apapun?" Ujar Hanaya, ingin membongkar kecanggungan diantara mereka. Dia bisa berada didalam suasana hening dengan yang lain, tapi tidak dengan Brianna. Hanaya ingin sekali dekat dengannya.


Namun, setiap kata yang gadis itu  keluarkan selalu membekukan seluruh percakapan "Privasi anda tak pantas saya ikut campuri lady." lihat? bagaimana Hanaya dapat memangkas jarak?


Mungkinkah ayahnya tak berhasil meruntuhkan tembok Brianna?


Akhirnya Hanaya memilih pasrah, menyesap teh. Membiarkan aroma teh merilekskan tubuhnya.


Gadis itu tersentak begitu mendengar bunyi keras benda bertabrakan. Brianna berlari menuju sumber suara, di ikuti Hanaya di belakang.


Disana ada seekor burung biru terluka dengan kertas di ikatkan di kakinya.


Siapapun yang menemukan ini harap membalasnya, ×


Maksudnya? Sebelum Hanaya mencerna maksud sederhana kertas itu, Brianna telah membawa burung itu pergi dan lekas mengobati hewan itu.


"Setelah burung ini sembuh, anda barulah bisa membalas suratnya, nona" Hanaya mengangguk paham.


Kasihan sekali.


"Menurutmu, × ini siapa?" Brianna menggeleng "Saya tak tau siapa itu nona"


Hanaya mengamati burung itu lekat-lekat. Sepertinya burung milik bangsawan. Terlihat terawat, bulunya sangat lembut dan ada gelang emas kecil melingkar di kaki kanannya. Hanaya menatapnya kasihan.


Hanya karena pemiliknya iseng mengirimi surat, burung seindah ini berakhir terluka. Bersyukur hanya ujung sayapnya yang patah. Mungkin butuh waktu sedikit lama untuk sembuh.


"Apa kau sudah mengirim undangan untuk lady Rozetta dan lady Annette?"


"Sudah nona, mereka menerima undangan anda." Yah, Hanaya mengundang mereka untuk minum teh lagi bersama. Mengusir rasa bosan yang menghantui.


***

__ADS_1


Hanaya menatap refleksinya di cermin. Berapa banyak kali pun ia berkaca, Hanaya akan selalu kagum sekaligus iri pada sosok Viviana.


Tanpa terasa satu minggu berlalu.


Hari ini dia akan ke istana, mengikuti perbincangan resmi dengan Javier. Rasanya ia tak sabar.


Kereta kuda akhirnya melaju. Seperti biasa, mengamati aktifitas dari balik kereta selalu membuat Hanaya merasa nyaman.


Kali ini dia menggunakan gaun biru tua dengan rambut yang di gerai. Hanaya turun, menatap gugup istana yang megah. Dalam beberapa bulan kedepan ini akan menjadi rumah barunya. Dunia pelengkap kebahagiaan Hanaya.


"Selamat datang nona Viviana, Putra Mahkota meminta saya mengantar anda, mari." Hanaya mengikuti pelayan istana dengan hati berdebar, sementara Brianna di tahan. Dia tidak di izinkan mengikuti nonanya maka gadis itu hanya mengikuti instruksi dengan patuh.


"Disini tempatnya nona" Hanaya membeku, pemandangan yang ia lihat  membuat nafasnya tertahan.


Javier dan seorang gadis yang lebih cantik darinya sedang berbincang. Tak ada yang spesial tetapi Hanaya merasa sedikit sensasi aneh. Lebih tepatnya takut- bahwa gadis yang di pikirkannya sebagai Madelin ini akan merebut posisinya.


"Yang Mulia, Nona Viviana telah tiba." Hanaya menarik senyum paksa senatural mungkin berusaha abai akan rasa hati.


Javier mendekatinya, mengecup tangannya, tetapi mata Hanaya hanya terarah pada Madelin yang tak menampilkan ekspresi apapun. Hanya senyum tipis kala mata keduanya bertemu.


"Selamat datang lady Viviana,"  Hanaya tersenyum kecil membalas sambutan Javier, pria itu menggandenganya menuju meja dimana Madelin telah berdiri.


"Perkenalkan, lady Madelin, sahabat saya." perempuan bersurai hitam dengan mata emerald indah itu membungkuk, penuh keanggunan, hingga Hanaya menatapnya penuh kekaguman.


Teringat akan perkataan Rozetta, pantas lady lain menirunya. Sikap dan tingkahnya seperti Ratu, namun sisi inilah yang membuat Hanaya merasa terancam.


"Salam saya, Madelin. Saya mendengar banyak tentang anda dari putra mahkota, anda sangat cantik" Hanaya tertegun, Javier menceritakannya pada Madelin? Itu artinya- pria ini telah jatuh hati padanya?


Mendapati suasana yang hangat ini, kewaspadaan Hanaya mengurai bagaikan uap air digantikan rasa syukur begitu sadar Madelin tak akan mengancam posisinya. Tentu sebab Javier sepertinya telah mencintainya.


Bagaimana pun alur yang di tulis tak akan berubah begitu saja bukan?


Meski pun karakter-karakter aneh terus bermunculan? Semoga saja.


"Kalau begitu saya permisi, Yang mulia." Ujar Madelin, yang sepertinya sadar akan kedekatan keduanya. Hanaya mencuri lirik, rupanya mata Javier tak teralih sedikitpun pada Madelin, sorot mata hangat itu hanya tertuju pada Hanaya menciptakan rona diwajahnya. Maka yakinlah Hanaya bahwa dia berharga.


Bahwa Madelin tidaklah mengancam.


Tak berselang lama alunan nada terdengar, Javier bangkit, bertekuk lutut dihadapannya "Bolehkah saya mengajak lady tercantik di Utopia berdansa, sebuah kehormatan bagi saya jika anda berkenan"


Hanaya tersipu. Merasa sangat  di istimewakan, tatapan hangat dan senyum lembut itu- akhirnya Hanaya dapat memastikan posisinya dengan teguh.


Diterimanya dengan penuh perasaan "Sebuah kehormatan bagi saya untuk berdansa dengan matahari Utopia" Javier terkekeh membuat Hanaya juga ikut terkekeh.


Dia tersentak begitu Javier menariknya, membuat posisi keduanya mendekati keintiman, Hanaya hanya menunduk, membiarkan Javier memimpin sepenuhnya. Degupan jantungnya meletup-letup dibuncahi rasa gugup dan bahagia berpadu.


"Lady, saya merasa sangat tersinggung sebab anda menatap tanah terus-menerus dibandingkan wajah saya" Ya Tuhan! Suaranya dan bahkan hembusan nafasnya membuat Hanaya merasa lemas.


Pesona ini terlalu kuat. Dia hanya terdiam begitu Javier mengangkat dagunya dengan lembut. Sentuhannya bahkan terasa dengan sangat.


Dan Hanaya kehilangan pasokan udara begitu tatapan mata pria itu terlihat, hanya ada figur Hanaya memenuhi netra hitamnya. Penuh damba, seolah pria itu berhasrat ingin memilikinya. Gelayar yang membuat seluruh punggung Hanaya merinding dan darahnya berdesir.


"Ya-Yang Mulia-

__ADS_1


"Saya ingin membuat sebuah pengakuan, maaf jika saya mencela anda dengan tak sopan. Mohon dengarkan dengan baik"


Letupan jantungnya kian meningkat seolah akan merombak seluruh rusuknya jatuh, melebur ke tanah saking kuat dan liarnya.


"Saya menyukai lady, sejak awal pesta debutante anda. Jika berkenan terimalah cincin ini sebagai bukti, terlalu cepat memang tapi perasaan ini tak dapat di sangkal" Hanaya merasa di terbangkan dengan tinggi dalam sekejab.


Permata amethys yang langka berkilauan diatas cincin berlian itu, sementara musik mengalun dan Javier bertekuk sekali lagi di depannya penuh pengharapan. Taman bunga yang mengelilingi menjadi latar yang kian meromantisasi suasana ini, merasuk hingga pikiran terdalamnya. Tak terpikirkan bagi Hanaya untuk merasakan visualisasinya secara langsung. Ini lebih menggetarkan dibanding saat membaca.


Mengulurkan tangan, Hanaya berkata "Apa saya terlihat seperti akan menolak anda? Saya rasa tidak" akan tetapi wajah Javier yang berubah tiba-tiba membuat Hanaya mencelos.


"Jika lady tidak menyukai saya maka lupakanlah hal ini. Saya tak ingin membuat anda merasa tak nyaman jika hanya perasaan sepihak" Hanaya membeku, tetapi tubuhnya merespon lebih cepat sebelum otaknya mencerna, dia mendapati dirinya telah mencium Javier.


Pria itu membeku. Ada jeda diantara keduanya, sebelum pria itu menginvasinya lembut. Hanaya terbuai, dengan ragu-ragu membalas dapat ia rasakan sudut bibir pria itu tertarik.


Hanaya yakin setelah ini dia akan sangat-amat malu.


***


Putra Mahkota mengantarnya, berbanding dengan Hanaya yang menunduk malu, pria itu nampak biasa saja seolah tak terjadi sesuatu.


"Yang Mulia, ada yang harus saya bicarakan dengan anda. Ini mengenai daerah di barat" semua rasa malu menghilang digantikan keterkejutan. Pria ini- suaranya membuat Hanaya gementaran.


Jantungnya mencelos begitu Xavier, pria dengan tampilan secerah siang tetapi suram auranya itu tak terusik hadirnya sedikitpun. Seolah, hanya ada mereka berdua.


Hanaya sepenuhnya terabaikan. Dia tak tau mengapa rasanya sesedih ini. Tubuhnya spontan menegang begitu Xavier meliriknya sesaat. Lantas berlalu.


Merasakan respon tubuh Hanaya membuat Javier bersua


"Xavier memang seperti itu, tapi dia bukan orang yang kejam, dia hanya tak tau caranya berekspresi"


Hanaya memasang senyum paksa lalu mengangguk.


Hendak menaiki kereta, saat Javier mengecup keningnya membuat semua orang membeku.


"Sampai dirumah dengan selamat, ya?" Hanaya mengangguk malu, sementara Brianna menatap interaksi itu sulit diartikan.


"Tolong jaga dia dengan baik" Brianna yang sadar kemana arah tujuan itu mengangguk.


"Baik, Yang Mulia"


Kereta kuda bergerak keluar dari halaman istana sementara Hanaya masih si liputi rasa malu dan bahagia sebelum kata-kata Brianna terdengar.


"Beliau melamar anda?" Hanaya menegang, mengusap cincin di jemari tengahnya refleks.


"Ya-ya, begitulah"


"Nona, apa anda yakin ingin masuk ke istana?" Dibawah tatapan penuh keseriusan Brianna, Hanaya mengangguk. Itu adalah takdir hidupnya bukan?


Hanaya hanya menjalaninya dengan mengubah sedikit dari Viviana yang asli, untuk menguatkan keberadaannya.


Helaan nafas terdengar. Lalu kata-kata peringatan seperti tempo hari terjatuh lagi. Menggoyahkan keyakinan Hanaya.


"Tak semua yang terlihat seperti kelihatannya. Hanya karena air tenang bukan berarti tak ada bahaya. Hati manusia bukanlah sesuatu yang dapat di selami menurut tindakan, Nona"

__ADS_1


...▪︎ODDEYE▪︎...


__ADS_2