
... ▪︎OODEYE▪︎...
Hanaya hendak beranjak pergi, menenangkan hati. Meski ia telah yakin Javier akan menjadi miliknya sebab serangkaian tantangan ini, menghadapi penolakan publik secara langsung cukup memukul telak rasa percaya dirinya.
Jika begini, harus semakin kuat pula sosoknya.
Tindakan melarikan diri ini urung kala Javier berada di hadapannya. Berlutut untuk kedua kalinya hanya untuk mengajaknya berdansa.
"Bolehkah saya berdansa dengan lady cantik ini?"
Segera saja, kerumunan menjadi hening. Mungkin, satu-satunya gadis yang dapat membuat kaisar bertekuk lutut adalah Viviana. Orang yang akhir-akhir ini menjadi pusat gosip seluruh Utopia.
Kenyataan ini cukup untuk memperlihatkan seberapa berharganya gadis ini dimata Kaisar.
Meski hendak menghindar, Hanaya tak mungkin mempermalukan Javier hanya karena suasana hatinya buruk atau menimbulkan kesenjangan lain dalam hubungan mereka dan memicu opini buruk.
"Sebuah kehormatan bagi saya" dengan memaksakan senyum, Hanaya bersedia di giring.
"Maaf" itu yang Javier katakan pertama kali.
"Kau pasti marah dengan yang tadi. Tapi itu di luar kekuasaanku. Itu peraturan mutlak kekaisaran"
Hanaya tertegun. Meski telah mengetahui itu, dia tak dapat mencegah dirinya untuk cemburu. Sebagai seorang wanita yang berkekasih bukankah itu wajar?
"Aku cemburu" dengan wajah merah padam ia mengakui. Reaksi tubuh Javier yang menegang membuat Hanaya kian malu. Menundukan kepala dalam, membiarkan pria itu menuntunnya.
"Kau cemburu?" Tanpa di duga senyum lebar Javier tersinggung.
"Wanitaku cemburu rupanya. Yakinlah, tak ada yang lain selain kau" senyum Hanaya merekah.
Ya, tak akan ada yang lain. Setelah serangkaian halangan pelik di singkirkan, Hanaya akan meraih kebahagiaan. Membuktikan pada ayahnya bahwa pemikiran ayahnya salah.
Lalu, pasangan dansa berganti. Sentuhan dingin di pinggang yang menjalar hingga tulang punggung. Hanaya menegang, spontan sadar siapa pria ini, Xavier.
Tak peduli apa yang dikatakan atau bagaimana suasana hati pria itu, Xavier adalah saudara Javier dan patut merayakan penobatannya.
Hanaya mendongak, hanya untuk mendapati wajah dingin Xavier. Kali ini pria itu mengenakan pakaian berwarna putih dengan baret dan dua bintang yang menandakan pangkatnya, Jendral utama kekaisaran.
Dengan keraguan dalam nadanya sebab takut menyinggung, Hanaya bertanya "Kau, maksudku Jendral baik-baik saja?"
Xavier menatapnya lekat. Lalu seperti ilusi Hanaya melihat tarikan lembut di kedua tepi bibirnya. Tak ada jawaban. Mengerjab Hanaya membatin itu mungkin ilusi. Lalu berujar dengan penuh penyesalan "Maaf, tak seharusnya saya menyinggung hal itu"
"Seperti yang lady lihat. Saya baik." bersamaan dengan jawaban itu, tubuh Hanaya di putar lalu kembali dalam pelukan Xavier, kedua tangan pemuda itu melingkarinya erat menciptakan riuh gugup dan debaran bertalu.
__ADS_1
"Ap-apa masuk anda?"
"Seperti yang anda lihat. Saya baik-baik saja, lady. Terima kasih telah mengkhawatirkan saya." hembusan nafas hangat di telinganya mengirim getar hingga setiap saraf tubuh Hanaya. Kakinya bergetar, hampir kehilangan kendali sebelum Xavier merentangkan tangannya, memisahkan jarak keduanya. Lalu menarik tubuh Hanaya lagi kembali pada posisi semula.
Kali ini tak ada lagi pelukan depan yang intens. Melainkan sentuhan lembut di pinggang serta tangan yang saling bertaut. Bahkan perut Hanaya masih merasakan panas sentuhan Xavier yang menerpa.
Dimata semua orang, keduanya serasi. Gaun abu-abu polos Viviana berkibar bagaikan kilauan awan musim panas dimalam hari menyelaraskan busana hitam Javier bagaikan kelamnya langit malam. Berpadu serasi.
Setelah ketenangannya kembali, Hanaya membuka suara "Saya pikir anda penari yang buruk"
"Ya, saya memang penari yang buruk. Tapi sebagai mantan pewaris, ini adalah keahlian khusus yang wajib di ketahui" Hanaya menegang. Terkejut Xavier mengungkapkan dirinya semudah itu.
"Kau- maaf menyinggung anda"
"Tak masalah. Ini hal yang biasa. Semua orang tau masa lalu saya."
Hanaya menelan ludah.
Tak percaya akan terlibat percakapan sejauh ini dengan Xavier. Pria yang selalu dingin setiap waktu, bahkan saat mereka berbincangpun.
"Sejak kapan anda mengenal Vilanc?" Hanaya bertanya, meski sudah tau jawabannya. Ini adalah pengalihan topik yang bagus untuk kecanggungan sepihak yang ia rasakan.
"Lima tahun yang lalu"
"Anak-anak itu apa mereka juga budak?" Pertanyaan Hanaya menciptakan kegelapan di ekspresi Xavier yang kian pekat.
Itu menjelaskan perilaku Allen yang tertutup. Anak itu tak dapat melepaskan diri dari trauma.
Xavier meneruskan ceritanya.
"Saat menemukan mereka tiga tahun lalu Allen satu-satunya dengan kondisi terparah" cengkraman di pinggangnya mengerat, Hanaya dapat merasakan kemarahan Xavier.
Anak sekecil itu!
Itu artinya, Allen baru berusia lima tahun! Lima tahun! Ya Tuhan! Bagaimana seseorang dapat menjadi sekeji itu?
"Tanpa berpikir panjang, rumah itu dibakar setelah pelakunya di bunuh. Dan ingin tau bagian menyedihkannya?"
Ada genangan kesedihan bercampur amarah di netra Xavier. Rahangnya mengeras, dengan gemelatuk. Hanaya bahkan tak dapat bereaksi lebih selain merasa terpuruk demi anak-anak itu.
"Ada lebih dari sepuluh korban. Beberapa meninggal didalam penjara bawah tanah, dibiarkan membusuk tiga orang lainnya mengalami kekurangan darah sebab siksaan yang tak kunjung berhenti, kami terlambat menolong mereka. Keparat!"
Genangan panas menyelimuti netra Hanaya menetes sempurna. Harusnya pesta dansa ini membawa kebahagiaan tetapi fakta mengenai empat malaikat kecil yang lucu itu membuatnya merasakan sakit teramat.
__ADS_1
Fokusnya tak lagi pada pesta dansa ini, atau keduanya yang menjadi pusat perhatian. Pikiran Hanaya melayang pada anak-anak kecil itu terutama Allen.
Pantas dia tak berniat membuka diri. Allen takut kejadian yang sama terulang. Usianya terlalu muda dan itu mengguncang psikisnya. Bagaimana seseorang dapat bertindak sekeji itu ?
Sungguh tak berhati !
Hanaya tak dapat membayangkan seperti apa dunia lain di balik Utopia. Sekeras apa dunia itu dan sekeji apa orang-orang yang tak berasas. Mengerikan !
Perbudakan benar-benar terkutuk!
Ternyata di balik tawa dan tingkah yang polos terdapat kisah kelam yang menyedihkan.
Dunia tak seindah yang terlihat. Terkadang hanya ilusi yang di perlihatkan. Kata-kata Brianna yang lain mendengung di kepalanya. Membuat Hanaya menyadari kenyataan ini.
***
"Nona-
"Brianna, apa dunia dibalik Utopia sangat mengerikan?" Brianna yang paham gelagat nonanya menjawab dengan tenang.
Nonanya ini tak melakukan apapun sekembalinya dari pesta dansa. Yang Brianna ketahui, Viviana berdansa dengan Yang Mulia, pria yang dia cintai- dimana harusnya ia bahagia. Rupanya ada penyulut lain di balik pergolakan emosional nonanya ini.
Menarik nafas lantas menjawab sembari menambahkan wewangian dalam air mandi nonanya.
"Bagi orang yang kehidupannya tenang, dunia adalah tempat terindah. Berkebalikan dengan orang yang punya kehidupan buruk- dunia adalah neraka. Sayangnya hukum yang dibangun dengan tujuan memberi keadilan terlalu tumpul untuk yang lemah, dan sangat tajam bagi yang berkuasa,"
"Uang, kekayaan, status sosial adalah penyokong segalanya. Selama memiliki itu, orang berpikir memiliki surga. Dan memang benar itulah yang terjadi. Hukum dibeli dengan uang bukan dengan keadilan," Ada jeda panjang dalam ucapan Brianna yang memicu riuh degup jantung Hanaya.
"Siapa membayar lebih dia pemenangnya."
Dunia seperti ini- betapa mengerikannya. Hanaya menyadari tak adanya perbedaan dengan zaman hidupnya terdahulu. Meski perbudakan telah dilegalkan tetapi tindak kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan masihlah sangat kental. Meski dengan adanya bantuan sosial media, hukum bahkan belum di berlakukan secara sempurna sebab latar belakang pelaku.
Bagaimana dapat mengatasi itu semua? Satu-satunya cara adalah berkuasa!
Dan mungkin, sisi terburuknya adalah Utopia yang damai ini, diantara bangsawan kaya dan berkuasa mungkin memiliki alat pelampiasan emosi. Perbudakan yang di sembunyikan serapat mungkin.
Hanaya bertekad untuk meraih kekuasaan itu. Tahta, dan memperluas Utopia, menumpas segala perbudakan. Dengan cara ayahnya.
Hanaya harap dia berhasil.
Namun, selalu ada penolakan untuk segala hal baik, bahkan dalam konteks lain semua pemikiran baik dan rancangan yang baik tetap memiliki sisi buruk. Dampak negatif yang tak terlihat.
Hanaya tidak menyadari itu. Emosinya bergolak hingga pemikiran naif yang terdengar indah muncul tanpa memikirkan dampak lain.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload231904CL