
...▪︎OODEYE▪︎...
Seperti yang telah Viviana pikirkan sebelumnya. Dia menjadi pusat perhatian, setiap tindak-tanduknya benar-benar diawasi bagaikan penguntit.
Berita mengenai pembubaran dan pembaharuan faksi realis nyatanya cukup menghebohkan dan mengangkat nama Viviana, lagi.
"Ratu itu, luar biasa"
"Ya! Bahkan baru dua hari dan dia berhasil memperoleh semua dukungan bahkan mengubah dan membaharui faksi realis. Beliau sangat pekerja keras"
"Itu sebabnya kita sangat di berkati"
"Kaisar benar-benar tak salah memilih ratu. Dan juga julukan itu benar adanya. Ratu adalah wanita yang di berkati dewa! Kekaisaran terus menerus menyingkirkan penghianat!"
"Hebat sekali! Jika mengingat masa lalu itu membuatku merasa bersalah kita benar-benar berdosa menuduh ratu dengan prasangka yang tak berdasar"
Sementara di istana, perbincangan mengenai bulan madu yang tertunda di bicarakan
"Tidak ada agenda apapun dalam bulan ini. Tetapi saya khawatir turunnya salju akan menunda hal ini lagi, Yang Mulia" ujar duke Nestra.
"Tidak perlu menundanya. Aku sendiri sudah punya tempat untuk di tuju"
"Dimanakah itu Yang Mulia?"
"Suatu tempat di Utopia. Kemana dan dimana itu adalah sebuah rahasia. Persiapkan saja kepergian kami" mutlak Javier.
Hanaya mengikuti pria itu. Mengernyit kala Javier memberi isyarat pengusiran pada semua penjaga di lorong.
Pria itu berbalik, mengulurkan tangan padanya "Ingin bergandengan?"
Hanaya terkekeh kecil. Lalu uluran tangan Javier bersambut. Pria itu mengandengnya, menuntun keduanya dalam langkah mantap.
Istana mungkin adalah tempat dimana masalah tak akan berhenti. Atau tempat yang menakutkan dan berbagai macam lainnya yang di pikirkan ayahnya dan Brianna. Tapi bersama Javier, segalanya terasa seperti mudah.
Seolah, memang begitu seharusnya.
Mungkin pula sebab status kaisar yang pria itu dapatkan, segalanya terasa mudah.
"Seperti apa tempat itu Yang Mulia?"
"Tidak perlu seformal itu. Hanya ada kita berdua. Itu bagian perjanjian rahasia kita" perjanjian yang dibuat saat kencan tersembunyi di pasar.
Hanaya terkekeh
"Maaf, akan sangat tak sopan jika terdengar orang lain"
Javier menatapnya
"Istana ini adalah daerahku. Semua yang terjadi adalah dengan seizinku. Bahkan jika tembok mempunyai telinga, hanya dengan ucapanku mereka akan menutup kuping."
Hanaya terbahak.
Dibalik wajah dingin sepanjang waktu, ada kehangatan yang disisakan hanya untuknya. Viviana seorang.
"Ya, kau adalah yang paling berkuasa" ujar Hanaya, menyindir.
Javier mengabaikan itu memunculkan jawaban atas pertanyaan Viviana di awal "Sebuah daerah kecil. Kau akan tau"
"Apa itu indah?"
Seindah Vilanc ?
"Ya, jauh dari keramaian. Tempat yang tenang untuk menenangkan diri. Kau butuh hiburan untuk semua kerja kerasmu bukan?"
"Yah, jika kau memberinya dengan cuma-cuma tentu itu bukanlah masalah" balas Hanaya berkelakar.
Javier tertawa, lalu kecupan ringan melayang di dahinya membekukan Hanaya, jantungnya bahkan berdebar keras.
Ini ciuman pertama di dahi.
Javier menyeringai melihat itu
__ADS_1
"Akhirnya kau kalah juga"
Hanaya menatapnya kesal.
"Rupanya kau hanya ingin mengisengiku"
"Tak perlu marah. Esok akan ada tempat indah untuk meredakan amarahmu"
"Jika kau berbohong apa gantinya?"
"Apapun yang kau inginkan. Selama itu adalah hal yang bukan masalah maka, Ya."
Hanaya tertawa.
Ayah, kau salah.
Javier tak akan berubah.
Penilaian ayah dan Brianna mengenai istana sepenuhnya salah. Ini adalah tempat pelengkap kebahagiaanku.
Kini Viviana telah menuai apa yang menjadi balasan untuk semua kesulitannya. Cinta tak terbatas milik Javier.
Diabaikannya semua prasangka yang menakutkan mengenai cinta pria itu. Tidak ada yang perlu diragukan. Tidak ada Hanaya. Ini imbalanmu, balasan atas kerja kerasmu.
Pagi itu, persiapan mulai di lakukan. Tanpa pengawalan, sementara kusir telah duduk di kuda menunggu mereka. Penghormatan pelayan istana di lakukan.
"Semoga membuahkan hasil"
Hanaya merona mendengar itu.
Mereka ingin dia mengisi di usia muda?
Aneh, namun mendebarkan.
Akan seperti apa Javier memanjakannya jika ia hamil ?
Mungkin keluarga kecil mereka akan sangat bahagia.
Memikirkan itu membuatnya bersemu. Apa yang lebih indah dari mimpi yang dimanifestasikan kedalam realita? Tidak ada yang lebih indah dari itu.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita memiliki bayi. Aku hanya membayangkan itu, akan seperti apa keluarga kecil kita?"
"Bayi? Kita tidak akan memilikinya sekarang" ini hanya kesalahannya dalam mendengar ataukah apa? Mengapa suara Javier terdengar dingin? Seperti tak suka dengan pernyataannya.
Tapi, wajahnya yang tersenyum dan mata yang hangat lalu suara yang lembut nan menggetarkan ini membuat Hanaya yakin dia salah mendengar "Aku hanya ingin menghabisikan waktu berdua denganmu"
Hanaya lagi-lagi bersemu.
Opsi ini tak buruk juga.
"Tapi semua orang menginginkannya?"
"Kau masih muda. Akan ada banyak kesempatan di masa depan. Kita punya banyak waktu, sayang" Javier benar.
"Sepertinya aku terlalu terburu-buru"
"Tak masalah, mendengar kau bersemangat memiliki anak dariku itu menggetarkan, tapi aku hanya takut perhatianmu akan beralih dariku"
"Astaga, mengapa pemikiranmu sejauh itu?" Hanaya melongo tak percaya. Pria yang cemburu pada anaknya sendiri ? Anak yang bahkan presensinya belum ada!
Wajah yang dingin. Javier sepertinya benar-benar takut. Mungkin hanya Hanaya seorang yang pandai mengartikan ekspresi pria itu.
Hanaya memeluk pria itu. Meletakkan dagu diatas bahunya yang tegap "Kita bahkan belum memilikinya, tapi kau sudah setakut ini. Bagaimana jika dimasa depan kita memilikinya?"
Pelukan Javier mengerat.
Sementara matanya dibalik bahu mungil Viviana menajam "Jika begitu jangan memilikinya. Untuk sekarang, Kau harus fokus pada ku."
Dinginnya nada pria itu bukan membuatnya takut. Hanaya terkekeh, menepuk punggung Javier menangkan "Ya, ya, ya seperti keinginanmu. Kita lakukan pilihanmu. Aku hanya akan fokus padamu"
Tanpa dimintapun, fokus Hanaya hanya tertuju untuk Javier seorang. Jika tidak bagaimana dia begitu berambisi dengan mempertaruhkan ketakutan terbesar dan seluruh hidupnya untuk meraih status ratu ? Bahkan sampai menentang ayahnya, dan melepaskan Brianna, sang penopang.
__ADS_1
Kereta kuda berhenti, lalu suara kusir terdengar "Yang Mulia, jendral meminta bertemu"
Xavier ?
Apa yang pria itu rencanakan ?
Ketakutan itu membuat refleks Hanaya mencegat Javier yang hendak menemui saudaranya itu.
Javier memberi senyum lembut, menepuk puncak kepalanya
"Tidak akan selama itu. Apa yang kau takutkan? Jika begitu turunlah bersamaku"
Hanaya menurut, mengikuti Javier.
Dia harus waspada terhadap Xavier, bisa saja dia merencanakan pembunuhan bukan?
Xavier memberi hormat lantas berujar tegas. Seperti sebelumnya, mengabaikan keberadaan Viviana.
"Ada apa?"
"Yang Mulia ini mengenai masalah itu" terlihat Javier menatap Hanaya, lalu mengisyaratkan keduanya menjauh.
Masalah apa ?
Entah apa yang di bicarakan, ekspresi Javier memberi isyarat bahwa ada hal buruk.
"Kami menemukan komplotan lain dari penyelundup budak itu, Yang Mulia"
Kernyitan muncul di dahi Javier "Kalau begitu, paksa dia berbicara dan kirim laporannya padaku"
"Baik, Yang Mulia"
"Jangan sampai lalai seperti sebelumnya, Xavier."
"Baik, Yang Mulia"
"Pastikan itu tak menyebar atau di ketahui siapapun"
Setelahnya Xavier berlalu sebelum memberinya hormat.
Javier menghampirinya, ekspresi kemarahan memudar begitu saja di ganti senyum.
"Sepertinya ada masalah? Apa itu?"
"Tidak perlu khawatir. Xavier ada untuk menanganinya"
"Tidak! Kita harus melihatnya. Katakan padaku apa masalahnya?" Desak Hanaya khawatir.
Javier menarik nafas "Sudah kukatakan bukan? Tak perlu khawatir Xavier akan mengurusnya"
"Sebaiknya kita batalkan perjalanan ini saja" ucapan itu mengubah ekspresi Javier.
"Apa yang membuatmu khawatir? Mengapa kau terlihat tak mempercayai Xavier? Dia telah bersumpah di depan kuil dewa, Xavier pasti menyayangi nyawanya. Dia tak akan berkhianat"
Melihat ucapan kepercayaan itu membuat Hanaya kian khawatir.
Sumpah tak akan menjadi jaminan bagi orang seperti Xavier. Dia pernah melakukan kudeta dan bukan tak mungkin merancangkannya lagi. Apalagi dengan kepercayaan yang Javier berikan.
"Hey. Cukup fokuslah padaku" ucapan dan tangkupan tangan kekar yang menjejak hangat di wajahnya, mempertemukan mata keduanya.
"Ini adalah waktu baik. Dan bukankah kau berjanji akan fokus padaku saja?"
Memaksakan senyumnya Hanaya mengangguk, benar adanya. Namun Hanaya tak akan pernah tenang jika ada bahaya yang mengincar Javier. Terutama Xavier.
"Dengar, jangan biarkan apapun mempengaruhi suasana hatimu. Biarkan waktu hanya berjalan untuk kita berdua"
Javier benar, namun meski memaksakan ketenangan, nalarnya tetap berpikiran buruk.
Xavier, dia tak sesederhana itu. Hanaya salah menebaknya dan harus terus-menerus waspada. Pria itu jelas-jelas bencana !
Membicarakan keburukan Xavier pun tak lantas membuat Javier percaya. Suaminya itu pasti akan membuat banyak alasan untuk menyelamatkan reputasi kotor Xavier. Kasih sayang pada orang yang salah. Dan Hanaya terjebak di situasi seburuk ini.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Update052307