
...▪︎OODEYE▪︎...
Tidak ada bulan madu.
Kesibukan berbagai urusan negara terutama delegasi bersama Basiley harus di laksanakan.
Hanaya tak punya waktu luang untuk mencari cara menyingkirkan Xavier atau sekedar menyurati ayahnya, maupun perbincangan teh bersama Rozetta dan Annette serta Brianna.
"Jika raja menyetujui hal ini, tentu Utopia akan dengan senang hati menerima Basiley"
Raja Basiley terdiam.
Ini, sepertinya kaisar benar-benar tak berniat memberinya pilihan.
Satu-satunya jawaban adalah Ya, Saya menerimanya.
Ini sebenarnya adalah keberuntungan bagi Basiley. Konotasi buruk mengenai kerajaan mereka tentu tak membuat kekaisaran manapun bersedia mengulurkan tangan. Belum lagi dengan kesombongan mereka. Utopia mengajukan delegasi di saat yang tepat.
Mereka berniat mengambil keuntungan dari Basiley! Begitulah pikirnya. Namun di sisi lain, ini perjanjian yang saling menguntungkan.
Tangannya mengepal, sementara matanya menghunus tajam pada Javier dengan terpaksa harus menerima pertolongan. Dia tak dapat mempertaruhkan ego dan kehilangan lebih banyak rakyat.
"Tentu, saya menerimanya" duke Nestra tidaklah kaget. Kebijakan yang Viviana berikan jelas adalah jalan buntu bagi Basiley yang telah di musuhi. Di tilik dari segala sisi, ini menguntungkan Utopia.
Ternyata memang benar adanya, ada seseorang di kekaisaran ini yang dapat melampaui putrinya. Madelin yang ia besarkan dengan susah payah. Yang tumbuh dengan sempurna sekarang terbuang.
Ah, betapa cepatnya dunia berputar. Kemarin adalah masa putrinya dan sekarang adalah masa Viviana. Gadis yang di juluki rahmat dari dewa. Dia tentu akan menjadi Ratu yang hebat.
"Selamat datang dalam keluarga besar Utopia"
Keluarga besar?
Sudut bibir raja Basiley tertarik sinis. Keluarga besar Utopia berarti dibawah Utopia, itu maksud tersiratnya bukan?
Namun dia tak punya apapun untuk menolak. Krisis menunggu jika egonya di tinggikan. Cukup sekali ia bodoh.
***
"Kau, melakukannya dengan baik" Hanaya mengulas senyum lebar.
"Terima kasih"
"Maaf, untuk soal bulan madunya. Seharusnya kita tengah melewatinya sekarang" pria itu mengecup tangan Viviana. Menatap dari pangkuan mata perempuan yang tengah memainkan rambutnya itu.
"Tidak masalah. Jika semuanya selesai bukankah kita bisa melewatinya dengan tenang?"
"Kau benar" ciuman lembut berubah menggebu. Viviana nyaris kehilangan kesadaran, jika saja ketukan di pintu tak terdengar.
Javier mengernyit tak suka. Mengganggu waktu pribadi.
"Ada apa" sahutnya. Sementara Viviana menetralkan deru nafasnya. Menduduk dalam ciuman seperti itu sulit membuatnya menarik nafas dengan benar.
"Baron Alex meminta pertemuan pribadi dengan Yang Mulia Ratu"
Dalam sekejab raut wajah Javier berubah dingin.
"Apapun yang di katakannya tolaklah, kau mengerti" ujarnya bagaikan peringatan.
__ADS_1
Viviana mengangguk.
Pemimpin faksi yang menolak peraturan kaisar, faksi yang di tolak keberadaannya, Faksi Rasial.
***
"Salam Yang Mulia. Semoga dewa memberkahi anda" ujar Baron Alex seusai mengecup tangan Viviana.
Wanita ini sebenarnya sangat cantik jika di lihat dari dekat. Surai perak yang di hiasi jepit bertahtakan permata sederhana, mata violet semempesona lavender. Viviana mengenakan pakaian santai. Gaun terusan panjang tunik bermotif, berwarna hitam.
"Duduklah Baron"
"Terima kasih" ujar Alex.
"Kedatangan saya kesini untuk mengajukan kesepakatan" imbuhnya tanpa basa-basi.
Sebelah alis Viviana terangkat.
Kesepakatan ?
Ah, faksi rasial berencana mendapatkan dukungan ratu, ya ?
"Jika ratu berkenan, faksi kami bersedia menjadi pendukung anda dalam pemerintahan" ujar Alex melanjutkan provokasi.
"Meski anda memiliki dukungan rakyat, tetapi dengan dukungan faksi posisi anda dalam pemerintahan akan mengakar kuat. Jumlah anggota faksi kami melebihi perkiraan Yang Mulia. Hampir keseluruhan bangsawan Utopia ada di pihak kami. Anda akan dapat mengontrol segala hal dengan bantuan kami"
Faksi bisa di katakan dukungan dari sebuah kelompok. Hubungan antara ini adalah timbal-balik. Hubungan yang seimbang. Saling menguntungkan.
Dan dengan nada provokatif, Alex berusaha mempengaruhi Viviana melalui siratan lain kalimat itu.
Jika diartikan bunyi lain dari mengontrol segala hal adalah 'kendali penuh dalam pemerintahan'
"Ya. Akan ku terima"
Diam-diam senyum puas tercetak diwajah Alex, tetapi runtuh kala ucapan selanjutnya Viviana terdengar
"Dengan syarat, perbaharuan faksi"
Perbaharuan faksi?
Viviana berniat mengubah faksi rasial menjadi faksi yang baru?
Wanita ini...
Alexander de Grante menatap Viviana "Reformasi?"
"Ya" sahut Viviana tenang
"Jika saya menerima kesepakatan dengan anda, sama saja dengan menghancurkan posisi saya. Faksi rasial punya reputasi buruk. Menerima dukungan kalian tak akan berdampak dalam hal apapun"
Benar, Viviana benar.
Mereka berniat menggunakan ratu lemah yang baru menaiki tahta untuk mencapai tujuan. Membentuk ulang sistim kasta di Utopia. Parlemen mungkin akan menggunakan ini untuk menentangnya meski seluruh bangsawan di sana adalah penganut rasialisme. Dan Javier tak punya pilihan lain selain mengasingkannya. Sebab Viviana secara sengaja merusak citra kaisar terdahulu.
Ini juga akan memicu pertentangan antara ia dan rakyat.
"Jika Baron bersedia melakukan pembaharuan faksi, maka saya bersedia menerima anda"
__ADS_1
Mata Alexander menghunus tajam.
Viviana punya pemikiran yang cerdik. Dengan membangun ulang faksi paling kontroversial dia akan memiliki seluruh dukungan. Baik dalam maupun luar pemerintahan di tambah cinta kaisar. Wanita ini benar-benar akan menguasai segalanya.
Menarik nafas, pria itu tersenyum kecil "Jika saya menerimanya itu sama saja dengan bunuh diri, ratu"
Viviana menarik senyum formal
"Pengajuan Baron sejak awal memang sudah berat sebelah. Citra buruk faksi anda tak akan dapat menguatkan posisi saya. Jika Baron tak menerima ini, masih banyak faksi lain yang dapat membantu saya"
Viviana sadar tujuan sebenarnya tawaran ini. Tidak hanya berniat menonjolkan diri, faksi Rasial berniat menunjukan presensi nyata, menggunakan Viviana untuk meraih tujuan yang sebenarnya menggulingkan kaisar dan menciptakan perpecahan.
Mudah untuk tau.
Sesuai arti nama mereka 'rasial' tentu menyimpan kebencian terhadap pemerintahan kaisar sebab ideologi mengenai persamaan derajat Utopia.
"Baik. Saya akan menerimanya" Viviana tertegun sesaat mendengar itu. Prediksi awalnya adalah penolakan, tetapi ini di terima?
***
"Anda menerimanya?" Respon penolakan adalah yang di terima Alexander.
"Semuanya tenang" satu suara dingin yang menggema memicu keheningan di pusat perkumpulan anggota faksi.
Ekspresi pria itu berubah.
Senyumnya mengembang "Terima kasih mau mendengarkan. Beliau meminta menerimanya"
Satu suara yang menciptakan keterkejutan.
"Tuan Xavier memintaku menerimanya" pengulangan lebih jelas membuat semua orang terdiam.
Xavier secara teratur dan tanpa di ketahui mengambil peranan besar dalam politik. Faksi kontroversial adalah miliknya. Siapa yang dapat menyangka hal itu?
Awalnya Alexander menolak, tetapi ucapan Xavier selanjutnya membuatnya menurut.
"Jika ingin mendapatkan perhatian, tunjukan keahlian dan jika ingin di percayai perlihatkan kesungguhan. Terkadang ilusi berupa tindakan sangat menggugah di banding ucapan. Itu yang beliau ucapkan" ujar Alexander misterius
"Artinya, tuan meminta kita mengikuti keinginan ratu untuk sementara?" Tanya Adelle tak percaya
"Apa yang dikatakan Baron benar adanya. Pertama-tama kita harus meraih hati ratu, setelah mendapatkan kepercayaan kita akan mencari cara memutar balik pemikirannya" sahut Bella paham ucapan Alex.
"Benar. Seperti yang dikatakan Duchess Bella, pertahanan paling mudah di robohkan dari dalam. Kita hanya memerlukan waktu yang tepat untuk menyerang"
"Tapi bukankah itu akan sangat bertentangan dari tujuan kita?"
Sela Adelle menyuarakan ketidaksetujuan anggota lainnya.
"Benar. Itu melenceng dari tujuan kita. Jika mengubah idealis faksi itu artinya kita bersedia menundukkan diri pada rakyat jelata!"
"Kita hanya melakukan perbaharuan, bukan pengubahan pemikiran" ralat Rissa menyeringai "Kalian tak perlu khawatir akan tujuan kita. Itu tetaplah ada, hanya di samarkan. Kita akan berhasil mewujudkan tujuan kita, mengembalikan Utopia yang semula di bawah kekuasaan yang pantas. Bukankah itu tujuan kita mendukungnya? "
"Lady Rissa benar, Tuan Xavier tak akan menyarankan ini tanpa rencana jelas. Lagi pula, anggap saja ini perbaikan citra di depan rakyat."
Dan dengan itu, mengatasnamakan Xavier selaku pemimpin kelompok semua orang mulai percaya.
Bahwa ini adalah langkah awal dari keberhasilan. Memulihkan Utopia berdasarkan martabat seperti dulu. Kesenjangan antara rakyat dan bangsawan harus tetaplah ada!
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Update062305