Odd Eye

Odd Eye
Part 44. Ketenangan yang terusik.


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Tuan, Anda memiliki tamu?"


Kernyitan nampak di dahi Xavier. Emosi dingin dimatanya tidaklah berkurang "Siapa itu, Amos?"


"Lady Adelle, adik Baron Alex"


"Suruh dia masuk"


"Baik tuan" Amos berlalu menuju ruang depan, mempersilahkan Adelle masuk.


"Tunggulah sebentar lady, tuan akan datang menemui anda" ujar Amos.


Adelle mengangguk, dengan dingin menggunakan libasan tangan mengusir Amos. Pelayan itu yang paham tentu segera beringsut pergi.


Amos, budak yang di angkat menjadi pelayan pribadi Xavier sejak kecil. Mungkin hanya satu-satunya pelayan di kemegahan kediaman jendral muda itu. Mata Adelle meneliti kediaman Xavier. Warna abu-abu mendominasi sesuai dengan warna lantainya. Terdapat potret besar kaisar terdahulu dan istrinya, Ratu Marine, terpampang besar di dalam ruang tamu. Di sampingnya ada potret Xavier dalam balutan pakaian militer. Pedang warisan Kaisar terdahulu di pajang di sudut ruangan, di dekat jam kayu kuno.


Hanya kesuraman yang Adelle rasakan setiap kali bertandang kesini. Siapapun jelas tak betah dengan suasana kediaman ini. Memang mewah, tetapi begitu suram dan mengintimidasi. Satu-satunya warna cerah adalah gaun hijau tua yang di kenakannya.


Xavier datang dalam balutan pakaian santai. Sementara Amos menyajikan teh, Adelle meneliti penampilan pria itu.  Harus diakui, terlepas dari seluruh kontroversinya sosok Xavier jauh lebih unggul segala hal di banding adiknya.


Jika saja tidak ada kesalahan di masa lalu, mungkin Kaisar terkini adalah Xavier. Itu adalah satu-satu hal yang di sayangkan semua orang darinya.


"Apa kau hanya akan menatapku dengan berbagai pemikiran mengasihani? Sungguh memuakkan." Adelle tak terkejut. Xavier pandai membaca pemikiran orang. Dan terlibat bersamanya tak lagi membuat Adelle takut. Dia telah terbiasa.


"Apa rencana pembaharuan faksi ini, tak di dasarkan hal sepele?" Ujar Adelle langsung pada intinya. Hanya karena Xavier memiliki posisi tinggi tak lantas membuat Adelle menaruh hormat baginya atau rasa segan. Mereka saling membutuhkan. Dan untuk Adelle rasa hormat hanya di tujukan pada sosok yang tepat. Seseorang yang ia segani sepenuh hati.


"Mempertanyakan sesuatu adalah kebiasaanmu tetapi jawabannya adalah keputusanku" ujar Xavier tak berminat memberi tahu apapun. Tidak ada gunanya menjelaskan hal yang tak akan di pahami orang lain. Prasangka tidak hilang hanya dengan penjelasan, di butuhkan bukti nyata untuk itu.


"Saya hanya ingin tau, rencana ini tidak di dasarkan pada masalah pribadi anda bukan? Saya tak sebodoh orang lain, anda menyimpan rasa pada Ratu itu" todongnya.


"Memang benar itu" aku Xavier menciptakan keterkejutan di wajah Adelle. Tak di sangka pengakuan akan meluncur sebebas ini.


"Tapi, atas mata ini aku bersumpah tak akan membiarkan perasaan menghalangi tujuan" ujarnya bersungguh-sungguh.


Dia memang menyimpan rasa, tetapi Xavier punya batasan atas segala hal. Perasaan adalah hal paling melemahkan yang manusia  miliki. Bahkan ksatria terhebatpun bertekuk karenanya. Kekuatan cinta memang sedahsyat itu. Namun tak akan di biarkannya itu menghalangi tujuan akhirnya- Menyingkirkan Javier.


"Ucapan adalah hutang. Saya harap tuan menepatinya"


"Tentu" Adelle memutuskan untuk percaya. Xavier adalah pria dengan tekad kuat. Tipekal orang pemegang janji.


***

__ADS_1


Hanaya menarik nafas, menatap dingin merpati balasan ini. Merpati ini jelas telah di ganti. Meski merpati istana memiliki kesamaan corak, tetapi merpati itu telah di tandainya. Ada noda kuas cat merah tipis pada bagian dalam bawah ekornya


Benar dugaan Brianna. Ada yang menyabotase suratnya dan Xavier adalah orangnya!


Dia harus mencari seseorang untuk menyelidiki pria itu! Bisa saja dia telah merencanakan kudeta yang kedua kalinya!


Tetapi siapa? Tidak ada yang dapat ia percaya di sini! Brianna satu-satunya kepercayaan Hanaya tak ada di sini. Bahkan jika dia menyelidiki itu, Javier akan melindungi saudaranya.


Perlu bukti dan saksi yang cukup untuk menjatuhkan Xavier! Jika dia menggunakan opini rakyat, selama Javier berusaha mempertahankan Xavier, semuanya akan sia-sia.


Menarik nafas, Hanaya memijat keningnya. Semua hal yang belum di selesaikan ini membuatnya merasa tertekan. Dan lagi terhubung benang merah bersama Xavier.


Mungkin, berjalan-jalan di taman belakang akan membantu meredakan suasana hatinya atau mungkin, ke rumah kaca istana? Musim dingin membuat salju menutupi tanaman, Rumah kaca mungkin pilihan yang tepat.


"Ratu ingin kemana?" tanya pelayan kala melihat Viviana keluar dari kamarnya. Hari sudah petang apalagi musim dingin, tentu suhu naik di saat seperti ini.


"Ke rumah kaca. Tidak perlu di ikuti, aku hanya ingin sendiri" ujar Viviana berlalu. Menenangkan diri sendiri tanpa gangguan itu yang dia butuhkan.


Lantas tanpa di awasi Hanaya melangkah, kakinya menelusuri jalan belakang istana yang mulai di penuhi salju. Sinar Matahari berwarna jingga yang jatuh pada taman yang tertutupi salju nampak begitu indah.


Sedikit ketenangan akan membuatnya jernih kembali.


Baru saja merasakan ketenangan, seolah takdir tak ingin, sosok Madelin muncul dari sisi lain jalan.


Kernyitan muncul di dahi Hanaya.


Hanaya benar-benar kehabisan tenaga dengan semua pemikirannya. Belum lagi jika bertemu, mereka hanya saling melempar pisau tersembunyi.


Namun tak mungkin dia menolak. Pelayan hanya akan menafsirkan sebagai kebencian atau dendam masa lalu pada sosoknya yang merupakan sahabat dekat Javier.


"Salam Ratu. Maaf menganggu waktu anda"


Menarik senyum paksa Hanaya berujar "Tak masalah. Apa tujuan lady ke sini? Kaisar sedang sibuk" meski tau tujuan Madelin kesini adalah untuk mengusiknya, Hanaya tetap saja bertanya, demi formalitas.


"Saya ingin menemui Ratu. Anda pasti ingin ke rumah kaca bukan? Jika anda berkenan izinkan saya ikut, saya tau tempat terbaik di sana" ujar Madelin


"Rasanya seperti rumah lady saja" sarkasme itu tak di ambil hati Madelin. Wanita itu terkekeh pelan.


"Mungkin karena saya sudah terbiasa di tempat ini, mohon tidak tersinggung Ratu"


Hanaya menarik bibir lembut


"Sama sekali tak tersinggung, lagi pula pengunjung berbeda dengan pemilik. Dan dimanapun itu pemilik selalu lebih tahu di banding pengunjung." kepalan tangan Madelin mengerat. Berusaha meredam emosi.

__ADS_1


Viviana benar-benar berlidah tajam! Berapa banyak kata yang di gunakan untuk membungkam Madelin dalam sekali slak?


"Ya, Yang Mulia Ratu memang benar adanya"


Keduanya memasuki rumah kaca. Disini terdapat dua lantai dengan ukuran yang cukup besar. Di penuhi tanaman. Bunga berbagai ukuran dan warna. Lantas naik ke lantai dua, dimana meja di sediakan.


Pelayan yang melihat kedatangan Ratu buru-buru mempersiapkan teh dan camilan.


"Jadi, apa tujuan lady menemui saya?"


"Beredar kabar di kota, Ratu orang yang membuat perdamaian antara Welsey dan Utopia. Beberapa hari lalu bahkan mereformasi faksi paling kontroversial, faksi Realis, sungguh hebat. Saya ingin memuji Ratu secara langsung"


Memuji? Kesannya seperti mencari muka.


"Terima kasih, tapi itu adalah tugas saya. Mendapat hadiah atau tidaknya bukanlah masalah"


"Begitu ya" dan hening mengisi, sementara pelayan menyajikan teh keduanya asik meneliti rumah kaca.


Hanaya sendiri melakukan itu untuk menghindari terjadinya perbincangan apapun dengan Madelin. Terlalu lelah meladeninya. Akan sangat menyenangkan jika disini Rosetta atau Annette. Dia bisa mendengarkan pertengkaran kecil mereka sebagai penghiburan atau suara ayah dan ibunya atau nasihat aneh Brianna.


"Kabar di kota beredar anda memiliki hubungan dengan kaisar Welsey sebelum aliansi ya? hubungan seperti apa?"


"Maaf, tapi privasi tetaplah privasi. Dan saya tak bisa menceritakannya. Mohon di hargai"


"Ah, begitu. Maaf atas kelancangan saya Ratu, mungkin karena saya sudah terbiasa membicarakan hal-hal pribadi dengan Yang Mulia Kaisar, saya pikir Ratu juga menganggap saya sebagai seorang teman"


Eh ?


Madelin berniat memprovokasinya dengan memaparkan seberapa banyak kedekatakan keduanya.


Meski sedikit merasa dongkol, ekspresi Viviana setenang air.


"Saya tak pernah menganggap lady sebagai teman. Apa sikap saya tak menunjukkan itu? Kita hanya terjebak karena formalitas. Dan lagi lady berniat menjadi duri dalam daging dengan menyerang saya?" Kali ini Hanaya tak segan lagi. Dia menunjukkan ketidaksukannya secara langsung.


Air wajah Madelin berubah, kepalan tangan di gaunnya mengerat "Ratu, ucapan bisa menjadi berkat atau malapetaka. Bagaimana anda menodong saya seperti itu?"


"Jika lady mengerti batasan, maka anda seharusnya tau kapan tak mengungkit kedekatan dengan Yang Mulia di depan istri sahnya. Bukankah wanita mana pun juga akan salah paham jika sahabat wanita suaminya mengumbar kedekatan mereka?" Hanaya menyerang ganas. Beradu argumen dengan Madelin membuat kepalanya panas, tak masalah mengintimidasi wanita itu dengan fakta.


Istri sah dan Ratu adalah Viviana  bukan Madelin.


"Rubah berpikir menunjukkan taring untuk mengintimidasi singa akan menakutinya, lucunya dia lupa siapa raja rimba." ejekan itu membuat wajah Madelin berubah kaku.


Hanaya yakin dia berusaha mengendalikan ledakan amarah. Wanita ini rupanya tak setenang yang dia pikirkan.

__ADS_1


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Update052313


__ADS_2