
...Prinsip hidup itu sederhana, berputar layaknya roda. Akan ada saat diatas dan ada saatnya dibawah. This about time. Right time to shine...
...▪︎OODEYE▪︎...
Butuh waktu bagi Hanaya untuk dapat menyesuaikan diri dengan korset ketat serta gaun mengembang dan tata krama atau etiket. Sulit baginya untuk tau sebab jarang di jelaskan dalam novel aslinya-dikarenakan sifat asli Viviana yang terbilang jauh dari anggun. Hanaya bukanlah Viviana, dia tak ingin mempermalukan nama yang disandangnya. Meski kehidupan yang ia jalani adalah milik Viviana tapi bukan gadis itu yang menjalani. Dia tak akan seperti Viviana yang mencemarkan nama keluarga Lances lantaran tingkah tak beretiketnya.
Itulah sebabnya kehebohan terjadi di mansion selama lima bulan belakangan ini. Sebab keinginan Viviana yang berjiwa bebas untuk mendalami tata krama, serta berusaha bersikap anggun, dan menghentikan kebiasaan kekanak-kanakkan. Yah, mudah saja bagi Hanaya yang lembut, sopan dan sedikit penakut untuk merubah sifat Viviana. Dia hanya perlu menerapkan sifat aslinya yang cukup memuaskan, meski pelajaran etiket terbilang amat sulit. Hanaya sedikit kaget kala ia berhasil membaca tulisan dalam huruf di zaman ini. Pikirnya ini adalah refleks tubuh Viviana yang telah terbiasa.
Dulu kesan pertama saat membaca karakter dan penampilan Viviana adalah tak dapat di terima. Dengan paras yang seindah perak, bagaimana mungkin tingkahnya sekacau coretan abstrak ? Bahkan dulu Hanaya merasa karakter lain berupa budak didalam novel lain yang jauh lebih dapat di terima dibanding deskripsi Viviana.
Tetapi sekarang dengan penyesuaian sifat asli Hanaya penampilan dan karakter Viviana sejalan. Gadis lemah-lembut seperti penampilannya yang seindah untaian perak.
Seluruh pelayan bahkan menyukai sifat barunya. Tak apa bukan Hanaya menerapkan karakter aslinya ? Itu tak akan mempengaruhi alur cerita yang telah di tentukan awal dan akhirnya. Dia akan terus bahagia.
"Nona, nyonya ingin berbicara dengan anda." Hanaya mengangguk, memacu langkah menuju ibunya yang tersenyum.
Menikmati indahnya kasih sayang berasas ilusi ini. Sifat nyonya Lances mengingatkan akan ibunya.
"Ada apa ibu?"
"Dua bulan lagi debutantemu. Kau lupa? Ibu ingin kau memilih gaunmu. Kita akan pergi ke perancang" perasaan bahagia membuncah dihatinya. Dua bulan lagi adalah hari dimana keduanya bertemu.
Putra mahkota Utopia. Lalu tak berselang lama Hanaya akan menjadi calon dari salah satu matahari Utopia. Orangtuanya akan semakin bersinar. Meski Hanaya tau, Viscount Lances yang rendah posisinya merupakan salah satu pilar terkuat Utopia. Viscount Lances adalah dalang yang memimpin pasukan perang di saat panglima yang merupakan adik kaisar terdahulu, tewas.
Dalam kepemimpinannya Viscount Lances berhasil menguasai 10 daerah. Sebab itu meski rendah gelar, posisinya tak dapat diabaikan. Utopia berutang kelimpahan dari Viscount Lances sebab wilayah itu menjadi milik Kerajaan. Dimana menurut peraturan Utopia, wilayah itu haruslah menjadi milik Viscount Lances, sebab ia memimpin tanpa gelar. Dimana resiko dari kegagalan ini adalah tercemarnya nama keluarga Lances serta kemungkinan turunnya posisi-tak dapat di hindari.
Viscount Lances di beri satu wilayah kekuasaan dan kenaikan posisi menjadi duke sebagai penghargaan, tetapi di tolaknya atas alasan yang tak di ketahui. Itulah sebabnya Viscount Lances merupakan satu-satunya dan Viscount pertama dalam sejarah Utopia yang mendapat hak istimewa serta gelar kepahlawanan-bentuk penghargaan tertinggi dari kaisar.
Asal-usul yang jelas, nama keluarga yang baik serta kepribadian yang bersahaja. Hanaya memiliki semua komponen penting untuk menyandang posisi Ratu. Meski Viviana sendiri kurang dalam segi akademik. Tetapi seiring dengan waktu Hanaya pasti akan berkembang dalam tahapan itu bukan? Di tambah lagi, dia punya kecepatan memahami sesuatu. Jadi ini akan mudah.
Betapa bahagianya dia.
"Apa yang di pikirkan putriku sampai begitu bahagia?"
__ADS_1
Hanaya menggeleng malu.
"Kau bersemangat karena gaunnya?" Hanaya mengangguk. Hanya itu alibi paling masuk akal. Mana mungkin diceritakannya isi pemikirannya, Hanaya bisa di cap gila dan berimbas pada pertunangan dengan Putra Mahkota. Tak ada yang menginginkan Ratu cacat yang mencemarkan sejarah Utopia.
"Baiklah. Ayo akan ibu antar kau ke perancang, kita akan membahas rancangan gaunmu." dengan hati berbunga Hanaya mengangguk.
***
Utopia dalam deskripsi tertulis tak seindah yang disaksikan langsung. Hanaya tersanjung masuk sangat dalam hingga visualisasi novel ini, ralat Kehidupan barunya.
Banyak bangunan mewah disepanjang kota dengan berbagai warna cat tembok. Kereta kuda melalui pasar yang ramai. Tak ada pakain lusuh di sepanjang pengintipan Hanaya, semua seperti yang di tulis dalam novel.
Utopia merupakan kerajaan termakmur yang berhasil mengakarkan kemakmuran hingga posisi terendah dalam masyarakat. Sebab itu Utopia menjadi kerajaan pertama yang di pimpin Kaisar, disusul kerajaan lain. Utopia juga memiliki larangan unik yang melarang akan pembelian budak semenjak kemenangan dalam perang. Sebab dinilai mencemarkan hakikat manusia.
Seperti yang di ketahui, budak berarti menyerahkan hidup dan mati kepada tuannya. Bahkan jika ia dinodai, dibuang atau di jual kembali budak tak dapat melawan. Begitulah cara mereka hidup. Mereka bahkan dipandang rendah dan di sandingkan harganya dengan jumlah koin pada transaksi pembelian.
Mengerikan.
"Tingkahmu seperti tak pernah melihat keramaian kota saja," kalimat yang sampai pada telinganya berdenging seperti alarm peringatan. Tubuh Hanaya refleks menegang.
"Nona baru saja keluar setelah lima bulan terkurung nyonya, tentu melihat dunia luar adalah kebebasan tersendiri" bersyukur Brianna, pelayan pribadinya itu melayangkan pembelaan yang masuk akal.
Hanaya kembali larut dalam pemandangan sekitar, membiarkan Viscountess menghujaminya dengan tatapan penuh kasih atau pengawasan mata elang Brianna.
Dalam keterkagumannya terhadap interaksi manusia dibalik tirai kereta, Hanaya bertanya bagaimana indahnya istana nanti ? Rasanya ia tak sabar menjejalkan kaki disana.
Dua bulan lagi. Dua bulan lagi! Dunia pelengkap kisahnya akan ia masuki dengan balutan status resmi 'Ratu' nikmat apa lagi yang harus ia abaikan dari serangkaian kebahagiaan ini? Tak ada. Sebab disini adalah tempat dimana Hanaya akan mengucap syukur setiap kali membuka mata.
"Untuk warna, anda menginginkan warna apa nona?" Hanaya mengerut kening. Bukan di liputi bimbang pada pemilihan warna gaun, tetapi sedang mengingat warna kesukaan Putra mahkota.
'Kau selalu cantik dengan gaun merah' Benar, didalam novel Putra Mahkota kian jatuh cinta pada gaun merah yang di kenakan Viviana pada hari pertama pertemuan mereka, dimana merupakan akhir kisah bahagia mereka.
Setetes rasa iri menyelimuti hati Hanaya, tetapi dengan cepat lenyap kala sadar akan kondisi.
__ADS_1
Dia adalah pengendali tubuh Viviana, maka kehidupannya didalam kendalinya juga.
Toh, posisi itu akan dirasakan olehnya dan bukan Viviana yang asli.
"Merah-merah! Put-
Hanaya merutuk begitu sadar hampir keceplosan. Semakin banyak memikirkan Putra Mahkota semakin membuatnya jatuh hati pula.
Aneh. Apa ada orang yang dapat jatuh cinta melalui imajinasi tanpa pernah bertemu sebelumnya? Sedang ia hanya berbekal deskripsi novel yang kini menjadi kehidupannya.
"Putih? Kau ingin tambahan putih pada pita pinggangnya?" Dengan terpaksa Hanaya mengangguk, takut menolak yang berujung kecurigaan.
Hanaya ingin semakin mengesankan putra mahkota, menanamkan pesonanya semakin kuat dan dalam pada pria itu. Sebab itu haruslah ia nampak mempesona. Lagi pula, surai peraknya akan sangat cocok dengan warna gaun. Menciptakan kombinasi sempurna.
Hanaya yakin akan dapat memikat Putra Mahkota dengan pesona tersendirinya bukan atas takdir tulisan tangan manusia lain. Meski dasarnya memang seperti itu. Takdirnya di bentuk atas dasar tulisan.
Hanaya menatap Viscountess dan Viscount Lances, sang suami yang baru saja tiba. Rona bahagia nampak diwajah keduanya sembari menatap puas kertas berisi gambar rancangan gaun Viviana.
"Putriku akan jadi yang tercantik di dunia dengan gaun ini." Hanaya tertawa kecil, merona mendengar pujian itu. Sekali lagi mengaitkannya dengan penulis novel ini. Bukankah Viviana merupakan lady tercantik se-Utopia? Sebab itu meski tingkahnya kacau ada banyak lamaran datang padanya begitu debutantenya terlaksana.
Debutante sendiri merupakan tanda kedewasaan. Dimana seorang gadis untuk pertama kalinya berbaur dengan dunia secara formal. Yang artinya etiket dan formalitas akan menyokong naiknya reputasi. Semakin besar namanya, semakin disanjung pula tingkahnya.
Itu bukanlah tujuannya, tetapi merupakan pembangun kriteria. Hanaya perlu itu untuk menguatkan akarnya.
Dia akan mencapai segala kesempurnaan dan berakhir dalam kebahagiaan tak berujung. Berbalik dengan kehidupan lampaunya, dimana ia gagal mencapai kesempurnaan dan berakhir dalam duka tak berujung.
Teringat lagi kata-kata orang banyak. Hidup seperti roda yang terus berputar selama bergerak, semua sisi akan mengenai tanah hanya berbeda timing-nya.
Dulu, Hanaya dibawah dan sekarang kehidupan barunya menjunjungnya dalam kebahagiaan.
...▪︎ODDEYE▪︎...
Note: Reupload230323CL
__ADS_1