
...▪︎OODEYE▪︎...
Kereta kuda berhenti. Hanaya bergerak turun dari sana dengan bantuan sang ayah. Matanya membelalak begitu melihat ini, sementara orang banyak berbondong-bondong menghampiri mereka. Berusaha lebih dekat pada ayahnya.
"Selamat datang tuan. Sudah lama sekali anda tak berkunjung ke sini"
"Tuan, ini ada sedikit hadiah"
"Kami juga punya kue yang terbaru"
"Tuan Lances berkunjung ke rumah saya dahulu!"
"Sebaiknya ke rumah saya saja tuan. Keluarga kami punya teh terbaik"
"Tuan, tolong datang ke rumah kami" keributan datang dari segala arah. Suara teriakan saling bersahut, sementara mereka merempet pada dia dan ayahnya. Hanaya mengernyit, ini bukan menjilat (memanfaatkan orang berkuasa dengan pujian)- ini berbeda.
"Tolong tenanglah," Hanaya terkejut. Dampak satu suara menghentikan segala pergerakan. Hening meliputi, Hanaya dapat melihat segan di mata banyak orang itu ketika menatap ayahnya.
Tidak! Ini bukan ketakutan, melainkan rasa segan penuh kehormatan. Hanaya tak menyangka ayahnya dapat di tatap penuh sanjung seperti ini.
"Terima kasih telah mendengar ku. Maaf baru berkunjung lagi. Beberapa waktu ini ada sedikit insiden-
"Masalah? Anda bisa meminta bantuan kami, tuan!" sela seorang pria.
"Benar! Kami akan membantu anda!"
"Tuan, jika anda perlu bantuan kita siap membantu!" Selaan pria itu memicu ledakan keributan lagi.
"Benar! Cukup katakan saja apa kesusahan anda, tuan!"
Hanaya tersenyum kaku kala sang ayah menatapnya dengan pandangan lelah "Ayah selalu membuat keributan setiap datang kesini" bisiknya penuh rasa bersalah.
Namun Hanaya dapat memaklumi itu. Sepertinya bagi orang-orang ini Viscount Lances adalah raja.
"Tidak. Hari ini ada sesuatu yang harus ku katakan" sekali lagi hening. Semua mata menatap ayahnya. Mendengar dengan saksama.
"Putriku untuk pertama kalinya datang ke sini, perkenalkan Viviana de Lances" Dengan kikuk Hanaya tersenyum. Jujur saja ia merasa kikuk begitu menjadi pusat perhatian banyak orang.
Tapi, ini langkah lain untuk menjadi Ratu. Kala menyandang posisi itu-dia, apapun yang ia lakukan, kemana pun langkahnya mengarah, dia adalah poros sorotan.
Membungkuk penuh hormat Hanaya berujar "Saya Viviana, putri Viscount Lances. Senang bertemu kalian"
Keheningan itu memicu praduga negatif, bahwa ia tak di terima. Tetapi justru sebaliknya. Teriakan kebahagiaan mendengung beberapa saat kemudian, sementara pujian bergema diantara kasak-kusuk lautan manusia ini.
"Ah, dia mirip ibunya, pantas saja hanya rambutnya yang mirip dengan ayahnya"
"Pohon yang baik, menghasilkan buah yang baik! Nona Lances sesantun orang tuanya!"
__ADS_1
"Jika begitu bukankah kita harus mengadakan pesta?" Saran seorang wanita tua dengan baju kecoklatan membuat semua mata mengarah pada wanita itu, lantas beramai-ramai menyetujui saran itu.
"Benar! Pesta sambutan untuk putri tuan Lances!"
"Kita punya banyak persiapan mulai dari sekarang, ayo" Hanaya tersentak begitu dua wanita berbeda usia menyeretnya seusai mendapat izin dari ayahnya, menggiringnya ke sebuah rumah sederhana.
"Ah, kita tak punya gaun bagus. Tidak ada yang seindah permata, bercahaya bagai matahari atau semanis gula" keluh seorang dari keduanya.
"Jika menjahitnya akan butuh waktu lama. Sementara nona mungkin akan kembali malam nanti." sahut yang lain.
Dengan ragu Hanaya menyela "Maaf, tapi dengan gaun ini saja sudah cukup" Hanaya memperlihatkan gaun sebiru langit yang ia kenakan.
Tetapi kedua wanita itu saling berpandang sedih "Kesan pertama kita tak sebaik itu untuk nona"
Hanaya menyadari ini. Tidak ada gaun mewah, rumah dengan warna terang, interior mewah atau air mancur maupun taman. Rumah di sini saling berdekatan dengan interior kayu dan warna dominan coklat. Hanya berbatas pagar kayu. Tapi....kehangatan, keramahan dan cinta lebih pekat dibanding kota. Ada dinding kekeluargaan di sini, sesuatu yang sulit di temukan diantara gemerlap indah bangunan kota di kerajaan.
"Kakak-"
"Hm?" Hanaya menoleh. Astaga ! Anak gadis setinggi pinggang dengan surai emas dan mata emerald menatapnya penuh harap. Pipinya yang gempal memerah kala Hanaya menatapnya.
Hanaya berusaha sekuat mungkin mengendalikan diri untuk tak mengunyel pipi montok itu.
"Kami membuatkan ini" lalu, mahkota dari rangkaian bunga matahari tersodor ke arahnya. Beberapa anak dengan kondisi fisik yang sama mengintip dari jendela bangunan. Hanaya mendapati mereka begitu lirikannya tertuju kesana.
"Siapa yang membuatnya?" Pipi anak itu kian memerah "It-itu aku dan teman-temanku kakak."
Ada empat orang. Pipi mereka semerah serta semontok gadis bersurai pirang ini. Hanya menggunakan gaun sederhana dan tak mengenakan alas kaki.
"Elisia, Fanesh, Digitha dan Allen! Jangan menganggu nona, pergilah bermain, kembali lah setelah membersihkan diri. Kalian akan mengotori gaun nona!"
Elisia si pirang berujar dengan wajah tak enak "Maaf, kami hanya ingin melihat kakak cantik ini"
"Rambutnya seindah perak, dan dia sangat terang dari kejauhan" timpal Gadis yang bersurai hitam.
"Itu sebabnya kami kemari" sahut Fanesh
Wanita tua yang menggenakan baju kecoklatan menghela nafas, menghampiri mereka untuk dinasehati "Kalian boleh datang kemari setelah membersihkan diri. Tak sopan menyapa tamu dengan keadaan kotor."
"Tidak perlu bibi. Saya senang dengan kedatangan mereka." sela Hanaya, menenangkan. Dia memang senang melihat mereka, anak-anak kecil itu menggemaskan. Apalagi binar dimata mereka kala mendengar ucapannya.
"Tapi nona-
"Untuk masalah gaun, bagaimana jika menambah motif bunga matahari? Bibi bisa meminta seseorang menyulam salah satu gaun disana." tunjuk Hanaya pada lemari bercat coklat yang mungkin sudah cukup tua usianya.
Kedua wanita itu tersenyum cerah. Lantas membuka lemari cepat, menampilkan semua gaun dengan warna kusam.
"Menurut nona mana yang jauh lebih baik?" tanyanya. Ada biru, kuning, hijau, ungu bahkan merah. semua gaunnya polos sama seperti gaun semua wanita yang tadi menyambut dia dan ayahnya.
__ADS_1
Meski nampak miskin, di telah secara fisik mereka sehat dan bahagia. Tak seperti di kota, ada sedikit banyak perbedaan. Meski kota pusat Utopia sangatlah indah bagaikan emas yang setiap sisinya di taburi permata, tetapi kebahagiaan seperti ini sangat sedikit di temukan. Hanaya bersyukur dia terlahir kembali untuk di takdirkan bahagia.
"Putih, jauh lebih cocok" kata Hanaya
"Tapi, warnanya sedikit-
"Tak masalah, sulaman bunga matahari akan mempercantik gaunnya. Motif itu cocok" Hanaya menyakinkan.
Wanita tua itu mengangguk menatap wanita paru baya yang kurus "Panggil Emelda kemari. Dia bisa menyelesaikan sulaman lebih cepat untuk nona. Selepas itu bergabunglah dengan yang lain di rumah tuan Poli. Kita akan mempersiapkan jamuan"
"Baik Anne."
"Nona ikutlah dengan saya, kita akan ke balai kota tuan pasti ada di sana. Nona bisa menunggu hingga pesta jamuan siap" kata wanita tua yang bernama Anne.
"Jika berkenan, boleh aku mengikuti mereka?" Hanaya sadar, anak-anak ini ingin menghabiskan waktu dengannya. Sepertinya mereka tertarik padanya.
"Tapi nona, gaun anda akan-
"Jika bibi mengizinkan aku bisa memakai satu dari jejeran gaun disana," wajah Anne berubah cerah, senyumnya merentang hingga matanya terbenam. Wanita itu terlihat bahagia atas jawabannya.
"Boleh-boleh! Saya justru sangat senang jika anda memakainya!" wanita itu bersemangat hingga membantu Hanaya berpakaian serta mengikat rambutnya.
Begitu Hanaya keluar dari bilik ganti, empat anak itu menatapnya kagum. Dia kini dalam balutan gaun ungu kusam dan sepatu senada sementara surai peraknya menjuntai searah diikat kuda.
"Wah, kakak ini benar-benar cantik" ujar Elisia, gadis bersurai pirang.
"Iya! Bahkan gaun kusam pun terlihat bercahaya saat dipakai kakak ini" Anne tertawa keras mendengar itu, sementara Hanaya merona malu.
"Ingat! Jangan bawa nona ke kaki bukit atau pie apel tidak tersedia untuk kalian!" Ancam Anne.
Gadis dengan surai violet bermata sepekat tinta kehitaman mendengus, balik berkacak pinggang seakan menantang Anne "Bibi Anne hanya mengancam! Saat kita memasang wajah memelas bibi pasti luluh" tukasnya.
Membalas sengit Anne menjawil hidung gadis itu "Kali ini tidak lagi, anak nakal!"
"Sudahlah Fanesh. Kakak cantik akan bosan jika kita terlalu lama" lerai Digitha.
"Maaf untuk ketidaksopanan Fanesh bibi. Tapi kalau nona ingin kesana kami mungkin akan tetap membawanya" sambung Elisia. Di nilai dari gelagat mereka, Elisa adalah yang paling santun, Digitha tegas lalu Fanesh keras kepala dan gadis yang sedari tadi menunduk dengan surai abu-abu ini pastilah Allen- si pemalu.
"Yah, jika itu keinginan nona, tapi jika kalian yang memaksa maka kalian tau apa akibatnya bukan?"
"Kami paham bibi"
"Kembali sebelum matahari terbenam!"
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Reupload230304CL
__ADS_1