Odd Eye

Odd Eye
Part 15. Kota budak


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Hanaya digiring menuju pusat Vilanc lebih tepatnya balai kota Vilanc. Mungkin hanya ini satu-satunya tempat yang sedikit megah dengan pilar besar dan gedung berwarna putih polos.


Halaman di sini sangatlah besar. Sementara hiasan memenuhi halaman rumah yang mengelilingi balai kota Vilanc. Karpet merah nan lembut di gerai di depan gedung. Lalu meja berisi hidangan berada diantara kedua karpet itu.


Ayahnya duduk di tengah, ada pula Xavier disisinya dengan baju serupa. Pakaian keduanya berbaur dengan pakaian masyarakat disini hanya Hanaya satu-satunya yang berbeda. Di balut gaun putih yang kusamnya tersamar akibat motif bunga matahari pada gaun itu.


Orang-orang menatapnya. Diantaranya ada empat gadis kecil itu. Hanaya di bawa menuju ke depan ayahnya. Setiap pijakan terasa bergetar sebab tatapan Xavier yang terasa membakar. Padahal pria itu sedang tak memasang ekspresi lalu mengapa Hanaya yang gugup? Lagi-lagi dia terintimidasi.


"Seperti yang kalian ketahui. Perjamuan ini diadakan untuk menyambut putri tuan Lances. Viviana!" Suara tuan Poli di sahut tepukan dan sorakan meriah.


Hanaya tersanjung sebab ini. Lalu seusai sesi makan bersama, musik di putar. Sementara Hanaya duduk betdampingan ayahnya, Javier berdampingan dengan tuan Poli. Tarian itu meriah dan hangat. Ada banyak tawa. Hanaya tersentak begitu anak-anak kecil menyeretnya.


Tawanya pecah kala berbaur dengan keramaian. Tarian kebersamaan. Saling menggandeng, lalu menepuk tangan dan berputar mengelilingi aspal yang di ukir lambang resmi Utopia, Matahari diapit dua singa.


Hanaya baru menyadari ini kala berjalan dengan anak-anak kecil tadi seluruh aspal di Vilanc di penuhi lukisan. Dengan berbagai objek. Terutama bunga matahari dan bulir gandum, begitu pun dinding rumah yang di ukir serupa.


Tak berselang lama Xavier, ayahnya dan tuan Poli di seret masuk dalam lingkaran. Mereka menari dan tertawa. Sementara anak-anak kecil membentuk lingkaran lain di dalam lingkaran orang dewasa. Awalnya sedikit sulit, tetapi gerakan sederhana ini membuatnya hafal dengan cepat. Lalu fokus Hanaya bertaut pada Xavier kala seseorang menyebut kelemahan pria itu.


"Rupanya anda masih tak pandai menari, tuan." kelakar itu berasal dari Anne yang berada di sisi Xavier. Hanaya sendiri bersebrangan dengan pria itu.


"Aku sedang berusaha, Anne" benar, ucapan itu bukan tipuan. Xavier benar-benar berusaha keras menghafal gerakan tari. Terkadang kakinya salah, lalu kadang tersandung kaki sendiri, saat semua orang menepuk tangan dua kali ia malah menunduk.


Sisi lain Xavier yang Hanaya ketahui dan terungkap- selain pandai merangkai bunga- pria itu penari yang buruk.


"Aku lelah"


Anne tertawa. Wanita tua itu masih bersemangat menari "Anak muda tak sebersemangat orang tua" kelakarnya. Sebab memang, kini setelah dua puluh menit kisaran menari, semua orang mulai lelah, duduk di karpet merah yang di gelar sembari minum menyaksikan tarian yang di dominasi orang tua.


"Bibi Anne memang selalu saja bersemangat" ucapan itu membuat Hanaya menoleh. Rupanya ini wanita yang menemani Anne untuk mencarikannya baju tadi.


"Bibi Beatrix. Itu namaku"


"Salam kenal ak-


"Aku tau siapa kau" sela Beatrix.


"Apa pestanya menyenangkan?" Senyum cerah Hanaya tersungging sebagai afirmasi, 'Ya' bagi pertanyaan Beatrix.


"Sangat menyenangkan. Ini pesta paling meriah untukku" meriah dalam arti limpah kebahagiaan. Tak seperti pesta debutante yang kaku sebab terikat etiket. Vilanc dapat dikatakan wilayah bebas etiket. Tak perlu formalitas, selama saling menghargai. Mungkin sebab mayoritas disini adalah keluarga berkecukupan serta area yang dipimpin Viscount.

__ADS_1


"Boleh aku bertanya?"


"Ya, silahkan."


"Ini- mungkin akan sedikit menyinggung privasi. Jika bibi tak ingin menjawab, tak apa."


"Silahkan katakan anakku"


Hanaya menelan ludah. Rasa penasaran mengenai hal ini menggorogoti sedari tadi, mendesak keluar setiap melihat Anne.


"Apa- bibi Anne pernah punya anak?" Setelah di selidiki dari 4 gadis cilik, rumah itu milik bibi Anne, tapi mereka berempat sama sekali tak tau kemana anak bibi Anne.


"Dia, meninggal. Dua minggu setelah kami sampai disini" Hanaya tertegun. Mata dan ekspresi Beatrix menggambarkan duka yang mendalam.


Dua minggu setelah tiba disini. Apa maksudnya? Apa mereka berpindah ke area ini? Lalu karena apa? Luapan pertanyaan merebak. Sebelum sempat bertanya, Beatrix memaparkan jawaban mengejutkan.


"Kami adalah budak. Semua disini adalah budak termasuk empat gadis kecil itu."


Budak? Itu sebabnya pakaian sederhana dan interior serta tatanan tanpa etiket ini datang.


Hanaya menatap ngeri luka cambuk di lengan Beatrix kala lengan bajunya tersingkap. Luka itu mengering, meninggalkan bekas kulit yang tumbuh lebih kasar.


Tentu, bagi budak di pandang sebagai manusia adalah sebuah anugerah.


"Tak berapa lama, populasi disini terus bertambah. Praduga ku melesat tak searah." sambungnya tertawa parau.


"Praduga?"


"Ya, aku berpikir ayahmu memperlakukan kami baik untuk meraih hati kami, lalu memerintah kami semaunya. Aku juga berpikir kami hanya akan dimanja sesaat lalu dicampakkan lebih kejam. Tapi, Anne benar. Ayahmu berbeda." sehelai kemarahan melesat tinggi, meski Hanaya mewajarkan hal itu, namun kemarahannya tak dapat di cegah.


Bagi budak yang hidup dalam kegelapan, cahaya adalah kemustahilan seperti ilusi di balik mimpi indah. Sama seperti anggapan awalnya mengenai dunia ini. Butuh waktu, kepercayaan, dan luka yang sembuh untuk percaya akan kehidupan yang berbeda. Yang lebih indah dari hidup mengerikan masa lampau. Atau neraka kehidupan.


"Kau pasti marah. Aku tau itu. Kau boleh memukulku." Raut wajah Beatrix yang di dominasi rasa bersalah begitu tulus hingga menggugah hati Hanaya. Di sisi lain dia paham asal praduga itu.


"Tidak. Setidaknya aku mengerti," Mata Hanaya mengamati kerumunan, wajah-wajah bahagia ini adalah orang yang pernah merasakan neraka dunia. Baru menyadari bekas luka yang nampak dibagian tertutup.


Kata budak merupakan hal paling mengerikan bagi Hanaya. Konteksnya tak sesederhana yang di bayangkan. Mungkin penggambaran tepatnya adalah neraka dunia.


"Namanya Mariatte," suara Beatrix memecah konsentrasi Hanaya teralih padanya.


"Dia anak dari tuan kami. Anne adalah korban pelecehan, mungkin anak itu akan menjadi milikku jika Anne tak menyembunyikan ku di lemari setiap kali pria itu mabuk" nada getir penuh rasa bersalah menghunus hati Hanaya, memecah emosi disana.

__ADS_1


"Dia juga korban kekerasan seksual dan korban pelampiasan emosi, kami selalu di cambuk saat pria itu kesal pada sesuatu. Dia- dia bahkan menjual kami sebagai budak s*** teman-temannya" Hanaya tercekat. Sesuatu tak kasat mata menusuk disana.


Dia tau konteks sesungguhnya budak, bahkan membayangkannya.  Tetapi kenyataannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terlalu mengerikan.


"Anne selalu menggantikanku untuk semua itu. Dia punya luka sobek mengerikan di perut, karena mencoba melindungiku saat majikan kami ingin memukulku"


"Bahkan Anne melahirkan Mariatte sendirian. Ini sudah dua puluh tahun berlalu sejak saat dimana ayahmu datang. Pria yang kemudian menjadi cahaya kami. Tak seberapa lama, tuan muda Xavier datang, menambah jumlah pelindung kami. Beliau yang mendanai panti asuhan di Vilanc.


"Anne itu sangat kuat. Jika itu aku mungkin aku akan gila" siapa yang dapat menahan siksaan seperti itu?


Hidup tanpa harga diri, dijadikan pelampiasan hasrat dan samsak pelampiasan emosional. Seperti bukan manusia.


Hanaya juga akan gila jika-jika ia adalah Anne.


"Anne bahkan tak pernah menyalahkanku. Kata pertama yang selalu dia katakan untukku adalah semua akan baik-baik saja. Dan terus menjadi tamengku gadis kecil yang tak punya ikatan darah"


Hanaya membeku. Fluktuasi emosi lenyap. Tanpa ikatan darah dan- dan Anne mempertaruhkan satu nyawa rapuh yang akan hilang di bawah kekejaman kapan saja untuk satu nyawa lain?


"Lalu Mariatte lahir. Sulit untuk hidup dibawah perbudakan dengan bayi yang di sembunyikan. Tapi saat berganti tuan, budak yang lain sangat baik, dan membantu merawat Mariette. Saat beranjak dewasa, kami melarikan diri saat ada kesempatan"


"Apa Mariette tak pernah di ketahui keberadaannya?" Bodoh! Pertanyaan yang bodoh! Tak ada bangkai yang dapat di simpan saat bau menyengat tajam. Serapat apapun rahasia tetap memiliki celah.


"Tidak. Kau tau itu jawabannya. Keberadaan Mariette di temukan saat 20 tahun dia di paksa kerja, lalu disiksa terus-menerus. Puncaknya saat penyiksaan terakhir. Malam itu hujan tapi Anne menemukan celah agar kami melarikan diri. Memapah tubuh lemah Mariatte yang penuh bekas cambukan kami hampir saja gagal jika ayahmu tak menemukan kami dan membeli kami saat suruhan tuan menemukan kami. Mariette meninggal setelah dua minggu kami disini. " Hanaya merasa sulit bernafas. Sekeji itu? Bahkan hewanpun masih di hargai.


Tenggorokannya terbakar. Terasa kering hanya dengan penuturan singkat Beatrix. Selama berkuasa dunia adalah kepunyaan, tetapi yang tak memiliki sekepingpun adalah onggokan sampah, menjelma bagai hiburan orang berkuasa.


"Be-berapa usianya?"


"Tahun ini empat puluh satu tahun."


Itu artinya, Anne hamil di usia muda? Ya Tuhan! Bagaimana gadis semuda itu mampu menyikapi semua masalah seberat ini?


"Itulah sebabnya aku sangat menghargainya. Semua orang di desa juga menganggapnya sebagai tetua yang patut di hormati" Ya, seperti yang ia ketahui. Anne adalah ibu atau nenek tertua di Vilanc. Meski begitu fisiknya masih bugar begitu pula pikirannya.


60 tahun usia Anne sementara Beatrix 45 tahun seusia dengan ayahnya.


Hidup memang semengerikan itu. Seperti dua sisi koin. Dibalik keindahan selalu ada kejutan tak terduga. Seperti itulah hidup patut di deskripsikan.


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Reupload230504CL

__ADS_1


__ADS_2