Odd Eye

Odd Eye
Part 46. Kesalahan yang di temukan.


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


"Saya harap Yang Mulia dan Ratu akan berkunjung ke Welsey nanti" ujar Frederick menjabat tangan Javier sebagai tanda perpisahan.


"Tentu. Dan saya berharap dengan adanya hubungan ini, kekaisaran akan semakin lebih dekat" balas Javier.


"Juga sampai ketemu di lain waktu Ratu" kecupan dan senyum genit Frederick mungkin akan menciptakan kesalahpahaman. Hanaya melirik Javier gugup, namun sepertinya pria itu baik-baik saja.


"Tentu Yang Mulia"


Lalu, Frederick naik ke kereta kuda istana sementara Xavier ada di samping dengan kudanya siap mengawal keselamatan pria itu.


"Xavier, ku serahkan padamu. Tolong antarkan Kaisar dengan selamat"


"Baik, Yang Mulia" kereta kuda itu melaju, di ikuti kereta barang yang memuat gandum yang di mintai Frederick.


Hanaya menyorot punggung Xavier tajam. Pria itu tak akan bodoh dengan membunuh Kaisar Welsey bukan? Dia akan menjalankan rencananya dengan mulus, maka dari itu Hanaya harus waspada. Ini hanya merupakan praduganya tetapi dalam balas dendam rencana apapun selalu memungkinkan.


Memiliki kepala Kaisar Welsey otomatis akan memindahtangankan kekuasaan pada Xavier, di sisi lain memicu kebencian pada Utopia yang di duga bermain curang dengan membunuh. Melempar dua burung dengan satu batu adalah hal yang hebat. Tapi bahkan jika itu berhasil, Xavier juga akan kehilangan nyawanya sebab perbuatan itu. Karena perjanjian aliansi telah di buat dan dengan alasan itu, Hanaya akan menyingkirkan Xavier, orang yang berpotensial mengacaukan tujuan akhirnya.


Satu serangga dapat dengan mudah di singkirkan menggunakan  jentikan jari. Tetapi di butuhkan jebakan. Dan pergerakan Xavier adalah jebakannya. Hanaya hanya perlu menemukan kesalahan besar yang dapat menyingkirkan sosoknya.


"Apa yang kau pikirkan?" Hanaya yang tersadar dari lamunan memberi senyum kecil dengan gelengan singkat "Tidak ada yang ku pikirkan. Hanya rencana bulan madu kita" maafkan kebohongan Hanaya, hanya itu alibi terbaik.


Javier terkekeh kecil mengecup mesra punggung tangan Viviana "Maaf, untuk sementara sepertinya itu akan di tunda"


"Tidak masalah. Lagi pula, kita harus berada sementara waktu di istana bukan? Ada beberapa masalah yang harus di urus. Dan pada musim berikutnya hari doa harus di laksanakan untuk pembuka awal musim, sebagai pemimpin bukankah kita harus ada di sana?"


"Kau benar" lalu, tatapan Javier membuat Hanaya merasa kikuk sebab begitu lekat.


"Ada apa? Ada sesuatu yang salah?"


"Tidak. Tidak ada yang salah. Hanya saja keputusanku mempertahankanmu memang benar, Ratu adalah pembawa berkat" Hanaya tersipu mendengar itu.


Hanya perlu menyingkirkan Xavier, dan segalanya akan menjadi happy ending bagi Hanaya.


***


"Yang Mulia kaisar, Baron Alex meminta bertemu dengan Ratu"


"Katakan padanya Ratu tak bisa di ganggu"

__ADS_1


"Baik Yang Mulia" pengawal itu beringsut pergi, segera memberi tahu perintah Javier tetapi tak berselang lama ia kembali lagi.


"Yang Mulia, Baron mengatakan ini adalah perihal yang penting dan ingin di bicarakan secara pribadi dengan Ratu"


Menarik nafas pelan, Javier menjawab dengan dingin "Sampaikan pada Ratu akan kehadirannya"


Viviana yang baru saja duduk dan menikmati teh harus bangkit menemui tamu. Sepertinya akhir-akhir ini kunjungan terus berdatangan padanya.


"Ada apa menemuiku baron Alex?" Tanya Hanaya dengan nada datar, tanda tak senang. Meski begitu raut wajahnya nampak begitu bersahabat.


"Saya hanya ingin mengucapkan selamat, berkat dewa mengalir sebab posisi Yang Mulia sebagai Ratu"


Benarkah ?


Sebelah alis Viviana terangkat penuh ketidakpercayaan dengan pandangan menyelidik. Merasa ada niat tersembunyi di balik kunjungan ini.


"Katakan saja niatmu yang sebenarnya baron"


Baron Alex menarik senyum, sementara matanya berkilat. Wanita ini menarik. Seperti permata yang di poles, semakin hari semakin berkilau sosoknya.


"Retoris. Jika saya bisa memberikan satu bukti dari sekian banyaknya orang yang di curigai, apa itu akan mengurangi kecurigaan Ratu pada kami?" Hanaya terkejut mendengar pernyataan Alex.


Dengan tujuan Faksi Rasial, mudah bagi Hanaya menaruh kecurigaan dengan menyematkan keinginan tersembunyi atas dukungan mereka, bukan?


"Saya tau, Ratu tak mempercayai kami. Karena itu, jika saya memberitahukan keberadaan satu diantara mereka semua maukah Ratu percaya pada kami? hubungan kerja sama tak akan terjalin tanpa dasar kepercayaan. Dan saya ingin membuktikan itu"


Menarik nafas pelan, Hanaya menyunggingkan senyum formal


"Sayangnya, itu tak akan cukup untuk mendapatkan kepercayaan saya. Kau tau harga pantas yang harus di bayar untuk itu"


"Jika Ratu menginginkan kepala saya, maka ini milik anda sekarang" Pergerakan baron Alex yang begitu cepat membuat Hanaya terkejut kala pria itu bersungkur di hadapannya dengan pisau kecil di arahkan tepat pada lehernya.


"Apa dengan kepala saya itu lebih dari cukup membuat anda yakin?" Terlalu terkejut hingga Hanaya bahkan tak dapat mengendalikan ekspresinya. Sementara Alex menatapnya dengan tekad.


"Nyawa kami ada ditangan Ratu. Dengan satu perintah saja, tak peduli seperti apa kebenarannya kami akan menjadi penjahat dimata semua orang. Itulah kekuatan posisi anda, Yang Mulia"


"Sekarang, katakan perintah anda dan saya bersedia memberi kepala saya pada Yang Mulia"


"Kau gila?" Suara Hanaya meninggi, di hempaskannya pisau di genggam Alex dengan ekspresi syok.


Menyerahkan nyawa sebagai imbal kepercayaan ? Betapa mudahnya baron Alex membicarakan kematian.

__ADS_1


Hanaya menatap pria itu dengan menderu. Marah sekaligus syok akan aksinya. Lantas berkata usai meraih ketenangan "Baiklah kalau begitu bersumpahlah sebagai ganti nyawamu. Kelak jika kecurigaanku benar adanya, aku sendiri yang akan merenggut nyawamu" ujarnya.


Dari matanya, tercermin karakteristik Baron Alex. Dia adalah seseorang yang nekat. Hanaya takut jika dia menolak percaya, pria itu akan mengorok lehernya sekarang.


Ekspresi keterkejutan Baron Alex berganti seringai, di kecupnya tangan Ratu hikmad "Tentu. Di depan Ratu, saya bersumpah setia. Jika kelak saya ingkar maka anda boleh mengambil nyawa saya"


Keterkejutan masih mencemari wajah Hanaya, sebelum akhirnya ekspresinya berubah tenang. "Berikan padaku buktinya dan katakan siapa yang kau curigai"


Alih-alih menjawab, Alex meletakkan amplop kecoklatan di meja dengan senyum misterius "Semua bukti jelas dan keterangan identitas pelaku ada disana. Saya yakin anda akan terkejut Yang Mulia"


"Kalau begitu, saya pamit undur diri. Semoga dewa memberkati Yang Mulia" tanpa mengindahkan undur diri Alex, mata Hanaya menatap lekat amplop itu lantas menyambarnya cepat. Dengan tergesa membuka isi amplop.


Pupilnya bergetar, diiringi kelopak mata yang membelalak kala melihat kata demi kata yang tertera disana.


Ini adalah bukti pengiriman barang. Buku keluaran terbaru Retoris, kehidupan glamor bangsawan adalah hasil perasan rakyat lemah.


Tidak hanya itu, catatan riwayat hidup bangsawan yang di ubah kebenarannya ada disana. Earl Noir. Data diri, riwayat hidup dan hal terperinci tertera di sana.


"Tidak bisa kupercaya" gumam Hanaya syok. Sedetik setelahnya tawa wanita itu menggema.


"Hahahaha! Aku menemukannya! Letak kelemahan Xavier!"


Matanya berkilat, sarat akan kebencian. Meski sebersit rasa sakit terasa ngilu kala melihat nama Xavier yang tercantum disana.


"Semuanya berakhir sampai disini Xavier. Aku akan melenyapkanmu"


Desisnya.


"Pelayan siapkan gaunku, aku akan menemui Kaisar"


"Dewa rupanya memihak kebencianku, Xavier"  desisnya penuh kebencian.


Ini adalah keberuntungan. Tak seberapa lama dari jarak waktu ia tau pelaku yang berniat menghancurkan dunia indahnya, dewa mengirim senjata untuk membinasakan sosok penghalang itu.


Hanaya akan meraih happy ending miliknya setelah menghancurkan penghalang terbesar. Xavier.


"Bersiaplah untuk kematianmu"


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Update052316CL

__ADS_1


__ADS_2