
...▪︎ODDEYE▪︎...
Dua minggu kemudian.
"TUAN! TUAN! TUAN! ADA BERITA PENTING!" Teriakan Amos yang terdengar panik menjadi sambutan kepulangan Xavier kala kudanya tiba di depan gerbang kediaman.
Seringai pria itu tertarik.
Jadi sudah sampai ? Alex memang selalu dapat diandalkan.
"Ada masalah apa?"
Dengan wajah khawatir Amos berujar "Tuan, setelah kepergian anda beberapa jam berikutnya tuan Nathan datang bersama dua prajurit mengeledah kediaman tuan. Mereka bahkan membawa sesuatu dari laci tersembunyi milik anda. Ada sesuatu yang terjadi tuan! Sesuatu yang membahayakan anda!"
"Begitu ya?" Respon santai Xavier kian memicu kepanikan Amos.
"Tuan, mengapa anda sesantai ini? Bagaimana jika semuanya terbongkar? Anda akan terlibat masalah! Jadikan Amos kambing hitam dalam masalah ini. Rencana anda tak boleh gagal, tuan."
Tepukan di bahu, menghentikan kepanikan Amos. Matanya menatap sang tuan bingung bercampur cemas "Semua akan baik-baik saja. Tidak perlu cemas"
Tiba-tiba suara tapak kuda terdengar, berderap dengan langkah kaki yang lebih dari 4 orang, sangat banyak. Amos menatap prajurit istana yang di utus dengan mata membelalak.
"Tuan-
"Jangan melakukan apapun Amos. Ini perintah!" Amos bungkam mendengar hal itu. Kepalan tangannya mengerat menyaksikan prajurit menodongkan senjata pada tuannya.
"Jendral Xavier, Kaisar memerintahkan kami menahan anda atas tuduhan anggota retoris. Kalian tahan Jendral"
"Tidak perlu" sergah Xavier kala dua prajurit hendak menyentuhnya "Meskipun statusku menjadi tahanan sementara saat ini, aku tetaplah seorang jendral. Datang dengan senjata sebanyak ini hanya membuatku terlihat seperti musuh" Ujarnya dingin.
"Mohon kerjasamanya Jendral. Izinkan kami bertugas" balas kepala prajurit tegas, mengabaikan ucapan Xavier.
__ADS_1
Xavier mengangguk, memberi akses untuk penahanannya. Sebelum itu, ia sempat berpesan pada Amos.
"Jangan lakukan apapun, Amos. Diammu akan sangat membantu."
Dan dengan itu, sang Jendral di tahan dan di giring menuju sel. Tempat penahanan sementara bagi penjahat sebelum memasuki ruang sidang.
Sebenarnya, dalam kasus Retoris ini tidak di perlukan keputusan resmi hakim negeri. Biasanya prosedur pemenggalan kepala secara resmi akan di lakukan begitu bukti di dapat. Namun karena status Putra Kaisar dan Jendral utama, Xavier harus di adili.
Pria itu tak berekspresi, hanya diam menatap ke sekeliling sel. Biasanya dia akan menggiring penjahat kesini namun sekarang dia pula yang merasakannya.
Ruangan dingin tanpa suhu yang didominasi kegelapan. Penjara yang terletak di dalam tanah. Tempat paling tersembunyi, tempat dimana penjahat paling berbahaya di kurung.
"Sama. Seperti masa lalu" matanya meniliti sekeliling, hanya ada tumpukan jerami di sudut sebagai tempat beristirahat. Kilatan nostalgia nampak bercampur ironi, sedih, marah dan rasa sakit.
Jeritan terngiang di telinganya. Raungan kesakitan menggaung, kilasan bayangan lelaki muda di cambuk dengan kedua kaki dan tangan terantai teralis besi menyatu dengan dinding penjara yang lembap. Bekas darah mengering, beberapa bekas cambukan begitu dalam memperlihatkan daging di tubuhnya.
Seringai pedih nampak hanya sesaat, bagaikan sambaran petir secepat kilat berganti tekad yang membakar netra biru "Kali ini tidak lagi. Tidak akan ada akhir yang sama."
Viviana pasti telah menerimanya. Sebab itu dia di seret bagaikan penjahat.
***
Kegemparan telah terjadi saat kembalinya sang jendral yang berujung di giring dari kediamannya, dalam konteks penjahat di mata rakyat.
Asumsi publik benar-benar meledak di hari yang sama. Menerka motif atau kejahatan apa penyebab penggiringan ini. Meski sebagian besar di dominasi oleh kisah masa lalu Xavier. Berujung pada satu asumsi paling memungkinkan Xavier merencanakan kudeta untuk yang kedua kalinya dan Ratu menemukan buktinya.
Banyak hujatan yang di layangkan bahkan seluruh rakyat mencapai kesepakatan untuk melenyapkan sosok Xavier, tanpa melalui persidangan.
"Bukankah ini sudah jelas? Dia merencanakan kudeta! Seharusnya Kaisar melenyapkannya tanpa harus di adili!"
"Ratu pasti meminta agar ia di adili"
__ADS_1
"Apa tujuan baiknya? Bagaimana jika seseorang menyabotase persidangan dan membuatnya lepas dari kesalahannya? Lebih baik melenyapkannya sekarang disaat kesempatan terbuka!"
"Prosedurnya memang seperti itu. Meski melakukan kudeta dan statusnya sebagai Putra Mahkota telah di cabut, darah keluarga kerajaan tak dapat berubah. Berharap saja kali ini akan jadi saat terakhirnya."
Alexander menarik senyum tipis, menyesap teh. Bar di Gorthe ini adalah tempat gosip terbaik di seluruh Utopia. Di sampingnya, Adelle menatapnya penuh tuntutan.
"Apa yang sebenarnya di pikirkan olehnya?" Tanya Adelle terlihat jelas kebingungan. Semua anggota faksi terkejut dengan berita penangkapan Xavier. Ditilik dari seringai, ekspresi lepas tanpa kebingungan serta kepanikan Alexander, Adelle sadar kakaknya adalah satu-satunya orang yang tau rencana ini, kemungkinan besar- turut andil.
"Beritanya menyebar cepat, ya?" Alih-alih menjawab, gumaman pelan itu afirmasi lain dari pertanyaan Adelle yang tak diungkap. Alex terlibat.
"Kalian merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan anggota faksi? Bukankah itu keterlaluan?!" Suara Adelle sedikit meninggi. Merasa di singkirkan dari rencana kali ini.
"Pelankan suaramu, dik. Meski ramai dinding punya telinga." Adelle menghembuskan nafas mendengar terguran tersirat kakaknya.
Mereka berdua berbeda pendapat dalam segala hal. Apa yang menurut Alexander benar, adalah ketidakbenaran bagi Adelle. Meski sepanjang waktu terlibat dalam permusuhan, ada saat dimana garis musuh melebur dan persaudaraan nampak.
Ada banyak hal yang memicu garis permusuhan ini. Adelle jelas tak ingin kalah dari Alexander. Sejak dulu Alexander punya kemampuan lebih untuk menarik perhatian. Meski keluarga mereka mengidamkan anak perempuan, eksistensi Adelle terlupakan sebab Alexander terlalu bersinar. Cerdik, pandai dan kuat. Adelle jelas tak dianggap. Sebab itu bergabung dengan faksi yang sama memudahkannya meniru kebijakan Alexander. Namun seberapa banyak Adelle berusaha meniru, tidak ada celah baginya. Alexander seolah terlalu sempurna. Selalu selangkah di depannya.
Kepalan tangan Adelle mengepal.
Dia harus berusaha lebih untuk melampaui kakaknya!
"Sekarang istana kacau. Kau tau demostrasi besar-besaran terjadi di sana. Lalu apa tujuannya? Javier bukan target kali ini, benarkan?" todong Adelle setelah berhasil menenangkan diri. Jika memang itu Javier, Xavier tak akan mengekspos dirinya dan kehilangan posisi terbaik seceroboh ini. Ada orang lain yang di incar. Tapi siapa ?
"Meski kau bodoh harus ku akui kau selalu peka. Itu kelebihan mu." seringai Alexander mengembang "Viviana, pion selanjutnya" Adelle terkejut mendengar bisikan saudaranya itu.
Riuh kerumunan tak lantas menyurut pendengaran Adelle. Kebenciannya merangsang setiap sel tubuhnya menjadi peka terhadap Viviana. Sang ratu rendahan.
"Kenapa harus dia?" Adelle bertanya. Suaranya di penuhi emosional. Dia percaya pada tekad Xavier. Pria itu bukan pembohong. Tapi mengapa harus Viviana ? Apa yang membuatnya menjadi sangat khusus dalam tujuan mereka?
"Kau tidak akan melihat kilau permata sebelum itu di poles. Kebencianmu membutakan matamu, Adelle. Viviana tidak sesederhana yang kau pikirkan. Ada banyak hal tersembunyi miliknya yang akan membuatmu takjub. Hidup selalu penuh kejutan dan sifat sebenarnya manusia tersembunyi di dalam dirinya, adikku."
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Update052319