Odd Eye

Odd Eye
Part 23. Penolakan yang di suarakan


__ADS_3

...▪︎OODEYE▪︎...


Tiga hari semenjak perbincangan dengan Xavier  Hanaya memfokuskan pemikirannya untuk berkembang dalam masalah politik.


Komunikasinya dan Javier membaik. Kemarin adalah hari terakhir. Hanaya sedang di dalam perpustakaan, berkutat dengan buku ketika pelayan berlari memberitahukan berita pada Viscount Lances.


"Tuan! Tuan! Pasukan kerajaan memasuki hall !" Viscount Lances terkejut. Bangkit, lantas berjalan keluar.


Bukan Putra Mahkota ralat Kaisar, melainkan Duke Nestra tangan kanan kerajaan. Viscount tak bodoh untuk tak paham akan kedatangan resmi dengan upeti berlimpah ini.


"Perintah kekaisaran!" Suara Duke  Nestra menggelegar membuat semua pelayan berlutut. Begitu pula Viscount Lances dan istrinya.


"Dimana lady Viviana?"


"Pelayan panggilkan Viviana"


Segera Brianna berlari memanggil nonanya. Raut wajah bahagia terpancar kala Hanaya mendengar perkataannya. Utusan kerajaan, Duke Nestra datang dengan upeti.


Sepertinya lamaran resmi.


Hanaya tiba, mengambil tempat di samping ayahnya. Duke Nestra mengambil nafas lantas berkata


"Yang Mulia Kaisar, Javier de Roughtys meminang lady Viviana de Lances. Calon keluarga di harap berdiri" dengan itu, seluruh anggota Lances bangkit.


Hanaya bangkit, menerima lamaran resmi berupa cincin serta upeti lainnya yang di serahkan padanya.


Akhirnya! Dalam dua bulan kedepan dia akan menjadi Ratu.


Utusan istana telah pergi. Para pelayan bergembira sama halnya dengan Viviana, nona mereka kecuali Viscount Lances. Pria itu sama sekali tak bahagia.


Nyonya Lances bahkan membagikan perhiasan sebagai bentuk rasa bahagia, serta bertandang ke kuil Utopi untuk mendoakan kelancaran penobatan dan pernikahan Viviana.


Brianna adalah satu-satunya yang netral emosionalnya.


Mengambil nafas Hanaya mendekati ayahnya, paham betul kesedihan dan ketakutan ayahnya.


Digenggamnya tangan ayahnya. Menatap lekat sosoknya yang kini mulai memasuki usia senja.


"Ayah, bukankah sudah ku katakan? Aku baik-baik saja. Pilihan ini tidaklah salah"


Tapi mengapa Viscount Lances tak merasa seperti itu? Dia malah merasa sebaliknya. Seolah menukarkan putrinya dengan kemewahan ini. Mungkin sebab pemikirannya terlalu jauh.


Namun itulah kenyataannya.


Viviana baru  berusia delapan belas tahun. Etiket, kerja dan status bagaimana putrinya yang masih belia mampu menanggung itu? Viviana tak di nikahkan dengan pemuda berstatus duke, melainkan Kaisar negeri ini. Ada tugas berat yang akan di embannya.

__ADS_1


Istana, tempat indah itu tak seperti yang terlihat! Meski Viscount Lances telah memastikan ketidakterlibatan Javier dalam setiap rumor buruk putrinya, dia masih merasa ragu. Ragu melepas gadisnya yang masih belia ini. Dan meski prediksinya terbukti meleset keraguan masih mendera.


Memang benar, pernikahan diusia muda setelah debutante adalah hal yang biasa, tapi baginya, bagi seorang ayah waktu 18 tahun hanya sementara.


Melihat genangan air mata di netra ayahnya menyulut kesedihan Hanaya, di tangkupnya wajah yang kini tak lagi setegas dahulu. Sekilas rasanya seperti kembali kemasa kecilnya dimana ayahnya di kehidupan sebelumnya menatapnya ketika ia sakit.


Itu tatapan ketakutan, takut kehilangan. Ayahnya berprasangka buruk terhadap istana dan segala hal terkait Javier.


"Ayah, sudah kukatakan aku akan baik-baik saja. Javier mencintaiku ingat? Ayah bisa melihat semuanya kan? Aku akan baik-baik saja"


Viscount Lances tak menjawab hanya menggenggam tangkupan tangan putrinya erat. Dia ingin sekali percaya, percaya sepenuhnya namun bagaimana jika kenyataan tak seperti yang di bayangkan putrinya?


Membuka mulut, Viscount Lances berujar dengan keterpaksaan. Keengganan sarat dalam nadanya


"Ayah, ayah harap kau bahagia. Selalu. Semoga tak ada hal buruk" doanya. Berharap itu akan terwujud.


***


Rupanya, berita mengenai lamaran ini segera meledak. Menjadi diskusi semua orang entah dalam perkumpulan kecil atau besar.


Anggota parlemen kekaisaran menerima sejumlah petisi. Dan ini menyebabkan kericuhan. Kontradiksi terjadi.


Kini, Javier sedang berada di ruang perkumpulan. Membahas perihal lamaran yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.


"Yang Mulia, terlepas dari latar belakangnya lady Viviana sama sekali tak pantas untuk posisi ini!"


"Mohon dengarkan kami Yang Mulia! Lady Viviana sama sekali tak berpotensial untuk posisi ini!"


Javier tersenyum dingin "Tak berpotensial? Kalian mendengar kebijakannya, dia lebih dari pantas untuk pendampingku"


"Itu hanya sekali. Dibandingkan lady Viviana, beberapa lady lain sangat berpotensial untuk posisi ini!"


"Rakyat bahkan tak menyetujui lamaran anda, mengirim sejumlah petisi berharap Yang Mulia meninjau hal ini!"


"Benar Yang Mulia! Ada banyak rumor buruk mengenai Lady Viviana. citranya secara umum telah tercemar! Seorang Ratu tak boleh memiliki cemar dalam status sosialnya"


"Semua itu hanya rumor dan bukan kebenarannya. Mengapa itu sangat mengkhawatirkan kalian?" Javier membalas sengit.


Tetapi parlemen dan gejolak amarah rakyat tak berhenti. Mereka menyerang dengan agresif.


"Yang Mulia, lady Viviana bahkan tak memiliki latar belakang akademis. Bagaimana seorang ratu dapat memimpin tanpa ini? Keputusan yang diambil haruslah tepat, bukan hanya pemanis tahta anda!"


"Sebagai perpanjangan tangan antara rakyat dan anda, Ratu bukan hanya sekedar figur dari kecantikan tetapi perpaduan dari intelektual serta citra yang baik! Sementara di debutantenya lady Viviana menuai banyak kontroversi. Mohon pertimbangkan lagi Yang Mulia!"


"Kami anggota parlemen tak berbicara untuk diri kami sendiri, kami menyuarakan suara rakyat!"

__ADS_1


"Lady Viviana belum memiliki nilai pantas sebagai Ratu, Yang Mulia!"


Javier menghela nafas. Pertentangan ini semakin sengit. Mereka tak akan berhenti memojokkannya hingga ia menarik lamarannya. Tapi dia membutuhkan Viviana, gadis itu ! kilatan dingin muncul di mata kaisar muda. Javier jelas tak dapat melepasnya begitu saja.


"Kalau begitu biarkan aku memberinya bimbingan, khusus"


Ujar Javier.


"Yang Mulia, lady Viviana bukan bagian dari tanggungjawab anda. Bahkan jika anda dan lady memiliki hubungan, tanpa status, apapun itu tak ada sangkut pautnya dengan anda"


"Benar! Kami hanya meminta anda menarik lamaran anda kembali! Anda harus mempertimbangkan beberapa Ratu dengan potensial tinggi Yang Mulia!"


"Kaisar dan Ratu sebelumnya memiliki riwayat hidup yang baik. Belum pernah sekalipun dalam sejarah, Utopia memiliki Ratu sekontroversial lady Viviana"


"Beliau hanya mencemarkan citra anda! Yang Mulia mohon pertimbangkan, rakyat mendukung anda sepenuhnya untuk membangun Utopia lebih hebat dari kekaisaran sebelumnya!"


Mendukung ?


"Jika kalian mendukungku, maka keputusanku adalah yang terbaik untuk kalian!" Sergah Javier.


"Justru karena kami mendukung anda maka untuk kebaikan Utopia ini adalah kebenaran yang harus anda terima. Lady Viviana jelas bukan pilihannya!"


"Bahkan lihatlah, tahta yang baru anda naiki telah terjadi pergolakan antara anda dan rakyat! Ini adalah pertanda yang buruk Yang Mulia!"


"Dewa sepertinya menolak pilihan anda! Dan pergolakan ini hanya akan melemahkan tahta anda, membawa pengaruh buruk!"


"Jika seseorang menggunakan situasi ini untuk mengadu-domba rakyat, menyebar desas-desus buruk, tahta anda akan lemah! Perpecahan antara rakyat dan anda akan menghancurkan Utopia!"


Xavier yang berdiri di sisi tempat duduk Javier, tau kearah mana ucapan itu. Mereka menyindirnya secara tersirat. Jelas, Xavier masih dianggap sebagai ancaman besar di sini.


"Yang Mulia! Tolong pertimbangkan ini! Ratu harusnya menyatukan! Citranya harus menyokong kekuasaan anda! Dia adalah orang yang akan menjadi penyokong dan penghubung anda. Penolakan seperti ini hanya alan menggoyahkan posisi anda"


"Harap pertimbangkan lagi Yang Mulia. Lihatlah kericuhan ini, ini adalah pertanda kehancuran! Istri yang hebat tak akan menciptakan keretakan seperti ini!"


"Baru beberapa hari anda resmi menaiki tahta, jika anda bersikeras menahan keinginan anda rakyat akan berbalik menyerang anda. Dan harus di ingat posisi anda di tujukan untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk kepentingan personal!" Kata-kata dari ketua parlemen, Grand Duke Apollio melesat layaknya sayatan pisau.


Ini adalah tugas Kaisar. Tugas suci dari dewa, mensejahterakan rakyat bukan untuk kesenangan pribadi.


Namun, haruskah ia melepas?


Javier membisu. Kata-kata ini membuatnya kalah telak. Namun mempertahankan Viviana adalah tujuannya. Apapun itu, akan dia kerahkan untuk mempertahankan wanita itu!


...▪︎OODEYE▪︎...


Note: Reupload232004CL

__ADS_1


__ADS_2