
...▪︎OODEYE▪︎...
Keputusasaan Hanaya memuncak. Xavier hanya akan menjadi awal dari kehancurannya.
Mata pria itu yang berkilat membuat harapan Hanaya remuk padam tak bersisa.
"Terima kasih atas keadilannya Yang Mulia. Pertama sesuai janji, saya akan membuktikan ketidakpalsuan surat itu. Pengawal bakar cap pada kertas itu"
"Apa yang dia lakukan ?"
"Berusaha menghilangkan bukti ?"
"Jika ingin membuktikan mengapa harus membakar berkas aslinya ? Bukankah ini aneh ?"
"Atau ini trik untuk menghapus bukti ? "
"Pengawal lakukan" Hanaya tak bisa membantu selain semakin tertekan mendengar izin Javier. Jika saja Hanaya bisa membuat pria itu menolak. Tapi Javier telah berjanji. Dan kecurangan yang terjadi di hadapannya sebab hakim harus di tuntaskan.
Pengawal membakar ujung kertas tempat cap tertempel dalam sekejab api membesar menghanguskan seluruh kertas menjadi debu. Bangsawan dan Rakyat menyaksikan hal itu dengan khawatir begitu pula Hanaya.
"Dia membakarnya"
"Halaman pertama buktinya di hapuskan !"
"Selanjutnya pasti dia akan meminta membakarnya lagi !"
__ADS_1
"Mengapa Yang Mulia membelanya! Kesannya seperti beliau memihak padanya"
"Menuruti permintaan penjahat sama saja dengan menyiapkan jebakan sendiri"
"Cap itu palsu" satu kata yang membuat semua orang terdiam lalu kerumunan mulai menyelak lebih keras, terdistori kebingungan, ada pro kontra dalam opini mereka. Ada yang mempertanyakan kebenaran, ada yang mempercayai itu palsu dan beberapa menganggap itu bualan. Tetapi wajah Javier lurus dan teguh, seakan ini adalah kebenaran.
Tidak ada yang peduli pada kecurangan sebelumnya yang pria itu alami. Dia telah menjadi ancaman setelah sekian lama, namanya yang tercemar oleh noda kesalahan masa lalu tidak dapat di hapuskan hanya dengan satu kecurangan yang terjadi di depan mata. Orang hanya akan beranggapan ini adalah karma dari dewa. Kejahatan masa lalu Xavier jelas memicu kebencian yang membutakan. Setiap langkah atau tindakan Xavier menghasilkan praduga buruk tanpa henti. Tidak akan ada yang percaya tanpa bukti kuat.
Pengkhianatan sekali adalah noda yang sulit di hilangkan.
"Cap jendral telah di buat sejak awal, Utopia menggunakan elemen sihir di dalamnya dengan campuran bulu burung api kuno. Tanpa mantra khusus dari penyihir pertama, cap tidak akan dapat ditiru keasliannya"
Hanaya melupakan hal itu!
Sihir telah menjadi legenda dalam kehidupan rakyat Utopia sebab telah sirna sejak lama. Saat awal pembentukan Utopia(kerajaan) istri raja pertama yang misterius dengan surai putih menjuntai serta mata perak dan kulit seputih salju membawa masuk sihir yang dianggap sebagai keajaiban ilahi. Dia adalah pendeta pertama dari kuil Magia. Kejayaan sihir berkembang pesat dan akademi terbesar sihir di dirikan. Semua orang memuja lady Venica namun kejayaan runtuh dalam 2 dekade setelah menghilangnya sang Ratu. Di saat bersamaan murid-murid di akademi sihir mulai kehilangan energi secara tiba-tiba. Bagian mengenaskan adalah mereka semua menjadi debu setelah energi sihirnya musnah. Tahun yang di kenal sebagai tahun kegelapan. Tetua sihir yang selamat adalah orang yang memilih melepas sihir mereka. Berbagai penelitian tentang penyebab mengapa itu terjadi memunculkan satu kesepakatan; sang Ratu menggunakan sihir hitam. Merujuk pada praktik terakhir yang sang ratu lakukan, menggunakan tumbal. Semenjak itu, legenda sihir di Utopia tertutup rapat-rapat dan hanya merupakan mitos serta bualan.
"Pengawal buka borgolnya"
Hanaya yang terlalu ceroboh ! Dia melewatkan hal-hal sedetail ini. Dia pernah membaca mengenai hal itu ! Mantra yang di campur dalam cap kerajaan dan cap jendral untuk menghindari pemalsuan. Dia melewatkan kebenaran berbalut mitos. Xavier jelas telah menang sedari awal. Tidak ada yang dapat Hanaya lakukan.
Xavier mengeluarkan cap kerajaan. Begitu cap di bubuhkan sesuatu seperti nyala api muncul sesaat pada pola di dalam cap. Kertas di bakar dan hanya bagian cap yang selamat, tetap utuh. Keheningan memenuhi seluruh ruangan.
Stampel jendral milik Xavier menunjukkan kebenaran mitos sihir raja pertama. Stampel itu asli dan Javier juga memiliki stampel yang sama dibuat dari emas murni dengan bentuk lambang Utopia. Milik Xavier keperakan dengan bentuk yang sama pula.
Stampel itu membuktikan bahwa sihir pernah ada di Utopia selama dua dekade sebelum menghilang tanpa jejak. Lady Venica bukanlah mitos belaka, kebenaran tentangnya masih tersimpan hingga kini. Jika begitu- buku sihir miliknya tersimpan di suatu tempat.
__ADS_1
"Yang Mulia juga memiliki stampel dengan sihir yang sama. Anda bisa mengenalinya bukan?"
"Ya. Itu bukan tiruan" Javier membenarkan. Sejak awal Hanaya telah kalah. Obsesinya tidak akan terwujud. Penghalang terbesar tidak akan di singkirkan.
Dia harus memikirkan rencana lain. Tapi apa yang harus di lakukan untuk menyingkirkan Xavier. Jika dia ketahuan berusaha membunuh pria itu, posisi yang telah ia amankan dengan perjuangan tanpa henti akan menjadi kesia-siaan belaka. Namun melihat mimpi indahnya hancur secara perlahan, di dominasi bayangan hitam Xavier juga bukan pilihan yang tepat. Hanaya benar-benar terjebak dalam jalan buntu! Tidak ada pilihan yang benar-benar dapat menyelamatkan posisinya.
Tumpah riuh ruangan tak mempengaruhi Hanaya. Pikirannya memikirkan solusi dari hal ini, mengabaikan segala hal di sekitar.
Apa penyelesaian yang tepat ? Apa ? Berdiam dan menunggu Xavier menghancurkan mimpi indahnya adalah hal memuakkan yang pernah Hanaya pikirkan. Nyatanya pemikiran awal Hanaya mengenai keberhasilan impiannya setelah menikah dengan Javier, masihlah tanda tanya dengan kehadiran Xavier.
Pria itu adalah pembatas yang harus Hanaya robohkan untuk dapat bersama Javier, tenggelam dalam kebahagiaan seumur hidup. Namun bagaimana Hanaya dapat maju jika mata pedang berada pada lehernya? Merancangkan pembunuhan pada Xavier hanya akan membawa malapetaka baginya. Tidak ada kemungkinan lebih dari 70% bahwa keberhasilan akan menjadi miliknya. Pilihan manapun itu memiliki presentase sama, 50:50-resikonya adalah kehancuran impian dan hasrat Hanaya.
Pikirkan matang-matang Hanaya, mari berandai. Jika kau hanya berdiam diri dan menutup mata, Xavier dapat menyerang kapan saja tanpa pradugamu. Yang artinya mulai hari ini hingga nanti akan ada semakin banyak mimpi buruk dan kewaspadaan. Xavier akan terus membayangimu. Menjadi ancaman yang merenggut kebebasan jiwa dan pikiranmu. Itu akan menjadi seperti neraka bagimu.
Jika kau memilih mengancungkan pedang dan menyerang balik dengan rencana pembunuhan, kemungkinan besar berhasil dan tidak di ketahui adalah 50 banding 50. Tapi kubu mana yang akan Javier pilih adalah penentunya. Dan menilik bagaimana Javier melindungi Xavier, kau tentu tidak termasuk dalam hitungan.
Memikirkan itu hanya membuat Hanaya merasa sakit. Di depan Xavier, Viviana tidaklah lebih berharga darinya. Persaudaraan mereka jelas lebih kuat. Kebencian yang menyulut dalam hati Hanaya terhadap Xavier tumbuh semakin kuat dan mengakar kian dalam dengan pemikiran itu.
Untuk tetap hidup semua orang butuh pertahanan diri bukan ? Dan membunuh Xavier adalah bentuk pertahanan hidup Hanaya.
Viviana dan akhir bahagianya harus terwujud!
Tanpa di sadari Hanaya jatuh terlalu jauh dalam kebencian terhadap Javier, hingga memakai prinsip bertahan hidup sebagai pembenaran terhadap rancangan jahatnya. Semakin banyak dia mengetahui posisinya, semakin berambisi pula dirinya.
Nyatanya Hanaya, tanpa di sadari berubah secara perlahan.
__ADS_1
...▪︎OODEYE▪︎...
Note: Update230601