
...If this story created from imagination, then i will change it become my true reality...
...▪︎ODDEYE▪︎...
Mata Hanaya terasa berat, namun di paksakan terbuka. Saat penglihatannya jelas, wajah haru nampak. Spontan Hanaya mengangkat tangan membuat gestur refleks melindungi tubuhnya "Jangan pukul aku lagi, tolong" nada suaranya bergetar.
Sementara gadis di depannya menekuk lutut, dengan lembut berujar "Saya adalah pelayan rendah mana mungkin saya memukul lady ?"
Sambil mengintip, Hanaya mencicit "Be-benarkah?"
"Iya. Sebentar, akan saya panggilkan tuan dan nyonya." gadis itu kemudian berlari meninggalkan Hanaya yang mengamati punggungnya hingga menghilang. Netra perempuan itu kemudian beralih mengamati sekelilingnya.
Pilar kokoh berwarna putih tersebar di setiap sudut kamar dengan dinding berwarna serupa. Luas kamar berlantaikan marmer ini bisa dibilang empat kali lipat besarnya dari rumah ibu tirinya.
Kasurnya bahkan sangat halus. Tapi gaya bangunan ini tak asing bagi Hanaya seakan- detailnya pernah di deskripsikan padanya.
Kemudian suara langkah kaki terdengar berderap.
Untuk sesaat Hanaya membeku, air mata merebak lalu tangisnya pecah kala presensi dua orang nampak.
"Sayang ada apa?" suara itu, lembut. Tatapan kekhawatiran dan sentuhan ini terasa nyata.
"Ada yang sakit? Katakan. Tolong jangan membuat kami cemas" di hadapannya tampak wajah yang sangat ia rindukan. Ayah dan ibunya.
"A-ayah, I-bu" tangkupan hangat di telapak tangan terasa nyata, mengukung rasa frustasi.
Ini bukan mimpi! Fakta bahwa keberadaan mereka nyata, hingga kesadaran Hanaya merebak liar.
"Ayah, ibu" tubuhnya bergerak lebih dulu merangkul keduanya. Hangat suhu tubuh sampai pada Hanaya, menyadarkan bahwasannya Ini nyata bukan mimpi.
Elusan lembut pada surainya membuat Hanaya kian merapatkan diri.
Jika ini ilusi atau hayalan selama ia koma, maka Hanaya bersedia terjebak selamanya. Oh, betapa ia merindukan ini. Suara, penghiburan dan sentuhan mereka. Ia mendamba segalanya.
Jika ini hanya ilusi, Hanaya bersedia menukar kebebasan menghirup udara untuk terjebak semakin dalam di sini.
"Viviana?" Hanaya menegang. Nama itu- Pelukannya terputus, keduanya menatap Hanaya lembut. Sementara pemikiran Hanaya berkelana.
"Biarkan dokter memeriksamu dahulu, ibu takut keadaanmu memburuk." Keduanya berhenti, tampak terkejut dengan respon Hanaya yang menahan mereka.
__ADS_1
"Ayah-ibu-
"Tak apa. Kami akan ada disini, mengawasimu." Hanaya enggan melepas. Hanya takut begitu terlepas kenyataan akan terlihat, ilusi ini akan hancur dan terseret kembali dalam kenyataan, lalu Hanaya akan mendapati dirinya yang menyedihkan masih hidup, -terjebak dalam kesengsaraan.
"Tenanglah, tak akan lama" Hanaya memandang keduanya. Takut tertarik lebih cepat oleh kenyataan, lalu ini hanyalah mimpi. Bunga tidur sekaligus penghiburan baginya.
"Nona Viviana baik-baik saja" lagi, nama itu meninggalkan jejak kebingungan.
"Nama-ku Viviana?" Gumannya kebingungan.
Kedua orang tuanya di liputi kepanikan lantas bersua dalam cemas "Dokter, apa putriku melupakan identitasnya?"
Meski terhibur, Hanaya masih berada diambang keraguan. Ribuan rasa bercampur aduk. Bingung, takut dan cemas semuanya mendominasi.
Ragu kalau ini nyata, dan takut jika ini hanyalah mimpi. Lalu nama familiar yang padanya Hanaya menyimpan rasa dengki, menciptakan labirin kebingungan.
Dimana dia? Tempat apa ini? Lalu apakah ini ilusi ataukah mimpi? Apa tubuh aslinya masih dalam keadaan koma? Apakah ini Viviana yang ia baca?
Mengulas senyum simpul, sang dokter berkata "Tuan dan nyonya Lances tak perlu khawatir nona mungkin hanya terguncang. Dia baik-baik saja"
Lances? Itu nama keluarga Viviana dari novel 'Odd Eye' yang ia baca?
Keduanya menghampiri Hanaya memastikan lagi keadaan putrinya yang masih nampak linglung. Seakan kehilangan jati dirinya.
Tergesa-gesa ia memacu tungkai menuju cermin. Hanaya membeku begitu melihat pantulan pada cermin. Garis wajah yang halus, mata bulat dengan netra berwarna keunguan, hidung mancungnya yang mungil tertarik begitu ia berkerut. Surainya keperakan menjuntai bergelombang, menyampir hingga punggung. Dan meski rona pucat mendominasi, wajahnya masih sangat indah. Bulu matanya panjang dan melengkung, melentik indah kala berkedip. Demi Tuhan ! Ini sangat berbanding dengan Hanaya. Tubuh Ini ringkih tetapi posturnya tegap. Tak seperti Hanaya di kehidupan lampau. Ia yang kumal, bau dan bungkuk serta surai hitamnya yang kering terbakar panas sebab tak diurus. Kuku gadis ini lentik, tekstur kulitnya halus seolah kesalahan setitik saja akan merusak keindahannya. Hanaya menyadari kenyataan lain begitu refleksi lain nampak di cermin, air mukanya terdistori kecemasan dan bingung.
Rambut ayahnya ke perakan, tidak kecoklatan seperti dalam ingatannya. Garis wajahnya masih sama tak ada yang berubah hanya keriput yang mulai menampakkan diri di sekitar mata, tanda penuaan. Lalu satu hal yang berbeda dari ibunya ialah netra keunguan yang memikat, sepekat lavender.
Ini nyata. Hanaya memasuki dunia novel yang ia impikan. Dunia penuh kebahagiaan.
***
Hanaya bergegas ke ruang makan. Gaun berenda hingga mata kaki ini menyulitkan langkahnya. Meski indah Hanaya merasa kaku. Matanya beralih pada ayahnya begitu sebuah tangan terulur padanya "Perlu bantuan?"
Dengan segera Hanaya menerimanya.
Ini seperti dunia impiannya. Keluarga yang harmonis, pusat cinta serta kedamaian dunia yang tak disangkanya terwujud. Meski dalam relung hatinya masih dihantui rasa takut akan fakta-bahwa ini hanyalah ilusi atau mungkin hayalannya.
"Makanlah yang banyak. Apa tidurmu tak nyenyak? Ada yang sakit? Mengapa tak membunyikan bel di samping ranjangmu?" Nyonya Lances bertanya khawatir. Meneliti wajah Hanaya, sebab kantung matanya menghitam bagai arang.
__ADS_1
"Apa kakimu terasa sakit? Ayah akan menyewa dokter yang lebih baik jika kau merasa sakit" dadanya bergetar hebat dengan buncahan emosi. Perhatian ini lebih berharga. Bahkan jika ia terlahir miskin, asal dengan keluarga sehangat ini Hanaya bersedia.
Menggeleng, Hanaya menjawab
"Aku baik. Hanya saja kakiku sedikit kaku. Mungkin karena tak sadar selama sebulan" tukasnya beralasan, dengan nada sedikit bergetar.
Hanaya sebenarnya tak dapat tidur selaman. Meski ia telah memaksa Brianna menceritakan apa penyebab terbaringnya Viviana. Hanaya akhirnya hanya mendapati bahwa ini adalah bagian utama dari halaman di novel itu. Akan tetapi keraguan masih merayapi. Kesadaran akan tersakiti membuat Hanaya takut memejamkan mata, resah ini hanya bunga tidur.
Akan tetapi kala bangun pagi ini dan mendapati suasana tergambar persis seperti didalam novel sadarlah ia bahwa Hanaya memang memasuki dunia novel.
Logikanya bertanya, bagaimana itu mungkin? Kisah ini bisa saja hanya fiktif dan khayalan dari penulis. Tak mungkin ia berpindah tubuh kedalam sosok yang tak nyata keberadaannya. Bahkan transfromasi jiwa masih di pertanyakan kenyataannya oleh para ahli. Tetapi disinilah Hanaya sekarang. Makan melalui tubuh indah milik Viviana.
Selain itu- netranya beralih menatap kedua orangtuanya. Bagaimana mungkin ada orang yang sama persis dari dunia fiksi dan nyata? Ayah dan ibunya bukan orang terkenal yang dapat dipakai sebagai inspirasi sebuah tokoh bangsawan.
Teori dunia paralel belum tentu benar. Jika ini dunia paralel, adik dan ibu tirinya masih ada namun dengan sikap yang sedikit lebih baik atau ibunya masih hidup tanpa perubahan fisik apapun.
"Ayah akan ke kota hari ini. Ingin sesuatu?" Suara Viscount Lances menarik Hanaya dari praduganya, menyeret pikirannya untuk memikirkan sosok Viviana.
Biasanya, Viviana yang asli akan meminta permata terbaru yang di lelang. Gadis periang yang ceroboh itu menggilai permata. Namun, bagi Hanaya yang mendamba cinta keluarga, tentu keselamatan Viscount Lances adalah yang utama. Meski kesadaran akan ini hanyalah dunia ilusi ciptaan seseorang tertanam, dan kemungkinan bahwa dapat berakhir kapanpun dan dimanapun menghantui.
Namun Hanaya telah terjebak didalamnya. Jadi ilusi palsu ini akan ia wujudkan, sebagai kehidupan miliknya sendiri, dengan takdir indah yang ditulis melalui imajinasi orang lain.
"Ayah kembali dengan selamat jauh lebih berarti bagiku"
Keterkejutan nampak diwajah kedua orangtuanya. Hanaya sedikit paham mengingat tabiat Viviana asli yang tak mementingkan apapun-selain permata.
Pelukan hangat melingkupinya lalu kecupan mendarat didahi yang tertutup poni perak "Ayah harap kau berubah seperti ini selamanya"
Nyonya Lances tanpa di duga ikut bergabung. Pelukan hangat keluarga yang bahagia ini akhirnya terasa nyata. Hanaya ingin selamanya seperti ini. Terjebak di dunia asing ini. Hidup memakai identitas Viviana dan menjalani takdirnya yang berakhir bahagia. Egois memang tetapi inilah impiannya. Hanaya akan berdoa dan meminta agar ini tak akan pernah menjadi mimpi indah yang tercipta hanya sebagai tempat pelariannya.
Bahwa tempat ini, hanya tempat bersinggah bukan menetap.
Hanaya menginginkan kebalikannya. Bahwa ilusi karangan dari imajinasi seseorang ini menjadi tempatnya menetap, menghabiskan setiap menit dengan bahagia hingga hayat menutup.
Sebab itu, untuk pertama kalinya, Hanaya yang hidupnya sengsara mengukir sebuah ke egoisan dan mengakarkannya dalam hati- Ia adalah Viviana de Lances. Gadis cantik, ceroboh dan bodoh yang menikahi pangeran serta menghabiskan seluruh hidupnya dengan bahagia -bukanlah hasil dari imajinasi seseorang, melainkan riwayat kehidupan yang nyata. Dan akan di wujudkan serta di abadikan dalam ingatannya.
Mulai kini hingga nanti, kehidupan bahagia ini adalah milik tubuh Viviana, tetapi jiwa Hanaya yang akan menikmati setiap tetesan kebahagiaan -sebagai ganti kesengsaraannya dimasa lampau.
Kisah ini akan dikenal sebagai kisah asli berdasarkan sudut pandangnya.
__ADS_1
...▪︎ODDEYE▪︎...
Note: Reupload230322CL.