
...▪︎OODEYE▪︎...
Keheningan ini malah membuat Hanaya panik. Mungkinkah pemikirannya sangat buruk hingga orang-orang sulit untuk berkata?
Ta-tapi ini bukanlah bidangnya!
Prok-prok-prok
"Hebat, sangat hebat! Jika lady memiliki waktu, mohon hadiri undangan saya, kita dapat membahas banyak hal" Hanaya terkejut kala Madelin menatapnya dengan senyum simpul.
Ekspresinya tenang dan anggun.
Tapi, di puji oleh orang dengan sepak-terjang menakjubkan cukup banyak membuatnya tersanjung.
"Dengan senang hati, lady "
Sementara riuh tepuk-tangan memenuhi ruangan. Mata Hanaya bertaut dengan Javier. Senyum bangga di bibir pemuda itu membuatnya memerah namun atmosfer berubah beku kala netranya bersibobrok dengan Xavier.
Dingin dan kelam. Hanya itu yang Hanaya tangkap. Mungkin tempat Xavier dapat mengekspos diri sedikit saja adalah di Vilanc. Disana, Hanaya melihat banyak sisi lain pemuda itu. Setidaknya, dengan pemikiran itu, hawa dingin di sekitarnya menyurut.
Xavier hanya sulit mengekspresikan diri, seperti halnya Brianna.
***
Segera, berita mengenai kebijaksaan Viviana dalam Podium Discussion pertamanya merebak luas. Menjadi perbincangan semua orang menuai banyak pujian dan keterkejutan. Itu cukup berpengaruh untuk menghancurkan rumor buruk mengenainya.
Ayahnya bahkan membuat jamuan malam khusus mereka. Rozetta dan Annette mengajaknya bertemu hari ini.
Begitu presensinya nampak, pelukan hangat di susul pekikan riang membuat Hanaya terkejut. Tetapi berangsur menyunggingkan senyum "Selamat! Rozetta menceritakannya pada ku, kau hebat sekali! Pantas Putra Mahkota jatuh hati"
Hanaya tersipu mendengarnya.
Rozetta juga menyapanya memberi selamat. Mereka terlibat pembicaraan menyenangkan lagi, setelah sekian lama.
"Ah, aku penasaran seperti apa Podium Discussion berlangsung. Pasti menyenangkan" celutuk Annette membayangkan.
"Yang pasti itu bukan ajang pamer" Annette cemberut mendengar sindiran itu.
"Ini sedikit melenceng dan melanggar privasi, maaf sebelumnya tapi bagaimana hubunganmu dengan Putra Mahkota?" Pertanyaan itu membuat gerak Hanaya membeku. Menarik nafas lantas mengumbar senyum.
"Baik." mana mungkin diumbarnya kurangnya komunikasi diantara mereka? Mungkin saja ada rumor mengenai dinginnya hubungan mereka sebab itu Rozetta khawatir.
"Lalu bagaimana dengan lamarannya?" Tanya Annette bersemangat.
Hanaya tersenyum kikuk. Bagaimana mengatakannya, ya?
"Itu-
"Sudahlah, kau berlebihan Annette" beruntung Rozetta peka dengan keadaannya.
"Ada yang ingin ku tanyakan"
"Apa itu?"
"Menurutmu pesta teh macam apa yang di gelar lady Madelin?"
"Rupanya dia mengundangmu" perkataan Rozetta lebih terdengar seperti pertanyaan "Itu hanya pesta teh biasa. Yang membuatnya berlebihan adalah bertukar ideologi dan membicarakan beberapa masalah yang naik" Hanaya tiba-tiba saja merasa rendah.
Sifat itu-seperti Ratu. Ratu yang di dengar rakyatnya. Madelin benar-benar berpotensial menjadi Ratu. Madelin mungkin-
"Apa ada sesuatu yang menganggumu?" Hanaya mengumbar senyum. Mengubah air muka secepat mungkin.
"Tidak, aku baik"
"Beberapa hari lagi, akan ada pesta minum teh di kediaman lady Madelin. Datanglah jika tak sibuk. Ini kesempatan yang bagus untuk mengumpulkan pendukungmu " perkataan itu memicu semangat Hanaya.
Dia hanya harus fokus pada dirinya sendiri. Dan lagi, bukankah selama Javier mencintainya segalanya akan mudah?
Ya, selama.
__ADS_1
Hanya selama Javier mencintainya.
Pemikiran ini menuntunnya pada ingatan tempo hari.
Kekhawatiran ayahnya.
Hanaya harap tidak akan begitu.
Dia hanya perlu bertahan sampai mereka menikah. Meski alur perlahan berubah masih ada beberapa yang sama, itu artinya akhir bahagia belum berubah bukan ?
***
"Lady, akhir-akhir ini anda sering murung. Ada hal yang menganggu pemikiran anda?"
Harusnya, keberhasilan kemarin memicu semangat nonanya tetapi Viviana malah murung.
Hanaya menatap Brianna, apa yang akan dia lakukan tanpa gadis ini ?
Tidak ada.
Kepercayaan diri Hanaya kuat, tetapi rapuh disaat bersamaan bagaikan debu yang menghilang hanya dengan sapuan angin kecil. Tanpa kata-kata penenang Brianna, mungkin itu akan di lahap api keputusasaan .
Hanaya, kau benar-benar bergantung pada Brianna.
"Madelin, bagaimana menurutmu tentangnya?"
Brianna menatap Hanaya lekat-lekat. Tau apa yang menjadi kegelisahan nonanya "Dia punya pengaruh kuat, pencipta tren, ribuan pengagum dan pengikut. Orang yang di gadang-gadang pantas menempati posisi Ratu"
"Ah, begitu ya" Hanaya tak dapat menahan kegetiran dalam nadanya. Bahkan Brianna pun mengakui itu.
Bahkan jika Hanaya sempurna, orang-orang tetap akan mendukung Madelin.
"Tapi itu bukan berarti dia pantas. Yang Mulia telah memilih anda, pantas atau tidaknya anda jauh lebih berpeluang" Hanaya mengulas senyum tipis. Suasana hatinya membaik hanya dengan mendengar ucapan Brianna.
"Sebaiknya anda istirahat nona" Hanaya mengangguk. Lantas merebahkan diri, menutup mata setelah Brianna keluar. Entah mengapa suasana hatinya selalu membaik begitu mendengar ucapan Brianna
***
Begitu matanya terbuka, Hanaya berjengit kaget, refleks menjauh dari kepala kasur kala wajah burung biru nampak dimatanya.
"Kau mengagetkan ku!" Omel Hanaya. Wajah polos dengan mata cemerlang yang tengah menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan itu melenyapkan kemarahan Hanaya.
"Bagaimana kau tiba-tiba disini?"
Hanaya meringsut mendekat, mengajukan pertanyaan bodoh.
Mana mungkin burung bisa berbicara? Hanaya kau bodoh!
"Dan bagaimana caramu masuk?"
Ah, Hanaya baru menyadari bahwa jendela memang sengaja ia buka.
Dengan ragu-ragu tangan Hanaya terulur, menyentuh burung itu. Bulunya halus. Brianna sepertinya merawatnya dengan baik.
"Siapa namamu? Dan siapa pemilik mu? Apa luka di sayapmu sudah sembuh?" Meski tau takkan ada yang menjawab Hanaya tetap saja berbicara.
Tiba-tiba burung itu terbang, mengepakkan sayap mengelilingi ruang kamarnya.
Hanaya takjub.
Ini pertama kalinya dia melihat burung secantik ini. Warna biru terang. Ukurannya cukup besar. Sayapnya merentang, menandakan kegagahan.
"Cukup-cukup hentikan" burung itu menurut, mendarat di bahunya membuat Hanaya terkekeh lagi.
"Kau sangat pandai. Katakan siapa nama tuanmu. Aku bisa mengirimnya pesan dan meminta peralihan kepemilikan" lagi, tak ada jawaban.
Hanaya menghela nafas, merasa semakin lama berinteraksi dengan burung itu semakin gila pula pemikirannya.
"Apa harus ku kirimkan pesan balasannya sekarang. Tapi ini sudah-
__ADS_1
Kepakan sayap dan suara burung itu menggelegar mengagetkan Hanaya. Dia bingung awalnya, tapi kemudian dengan cepat sadar.
"Sepertinya kau rindu rumah. Diamlah dan akan ku tulis surat balasannya sekarang" lagi, Hanaya takjub kala burung itu diam, bertengger di kursi di hadapan mejanya. Menatap Hanaya dengan mata bulatnya.
Maka dengan cepat Hanaya menulis balasan.
Siapapun anda, harap jangan mengirim surat acak lagi. Burung anda terluka dan saya telah mengobatinya. Jika berkenan alihkan kepemilikannya pada saya.
Burung itu terbang, melesat jauh. Sementara Hanaya menatapnya dari jendela. Tak berapa lama, ketukan pintu terdengar.
"Masuklah Brianna"
"Nona, burung itu hilang"
"Tidak, dia ada di sini. Sudah ku lepas, sepertinya dia rindu rumah" Brianna menatap Hanaya lekat lantas mengangguk.
"Tapi apa kau membuka kunci sangkarnya?"
Brianna menggeleng "Tidak. Kunci sangkarnya telah lepas. Saya mencarinya dan berpikir telah hilang, tapi sepertinya tidak"
"Dia sangat cerdas asal kau tau. Dia paham setiap ucapanku" Brianna tak kaget mendengar itu. Banyak burung yang di latih untuk paham ucapan manusia.
Tapi dari cerita nonanya, sepertinya burung ini memang dilatih khusus untuk perang.
"Burung perang"
Burung perang?
"Jenis burung yang di latih khusus untuk militer. Mereka dilatih untuk dapat membedakan lambang perang. Di tilik dari ukurannya, sepertinya itu memang burung perang"
Tapi siapa yang mengirim burung seperti itu? Mungkinkah musuh? Apa itu Welsey?
"Apa ada warna khusus burung kemiliteran milik Utopia?"
"Ada, hitam"
"Lalu apa warna burung kemiliteran Welsey?"
"Biru" kala jawabannya terjatuh air wajah keduanya berubah. Hanaya dilanda lemas seketika, jika ia didapati berkomunikasi dengan Welsey, tuduhan pengkhianatan akan dijatuhkan dan kepalanya akan di pacung.
Sementara Brianna terkejut. Tak terpikirkan olehnya mengenai asal-usul burung itu selama beberapa hari memeliharanya. Dia mendatangkan malapetaka pada nonanya tanpa disadari!
Terkutuklah kau Brianna!
Meski masih dalam masa gencatan senjata, ini akan menjadi boomerang bagi nonanya jika ada yang tau. Viviana akan dicap sebagai pengkhianat dalam kasus terburuk seluruh keluarga Lances akan di lenyapkan.
"Tak perlu cemas nona, hanya saya yang tau keberadaan burung itu"
"Tapi aku-
"Tidak masalah. Jika dia kembali lain waktu, berikanlah surat kosong sebagai balasan. Anda belum memberitahu nama anda bukan?"
Hanaya mengangguk dengan wajah memucat.
"Kembalilah beristirahat, tak perlu khawatir lady, saya akan menyingkirkan semua jejak keberadaan burung itu"
Meski begitu Hanaya tak dapat tertidur nyenyak.
Pemikirannya berkelana. Apa ini siasat salah satu orang Welsey untuk menggali informasi dari Utopia?
Astaga,
Baru selesai yang lain kini timbul masalah lain. Tapi, ini hanya akan membantunya tenang. Bukankah didalam cerita novel atau dongeng kisah cinta yang bahagia harus melalui perjuangan pelik?
Ya, dengan ini Hanaya yakin. Akhir bahagia akan menjadi miliknya ! Dia tak lagi harus takut tentang segala sesuatu yang tak sesuai pada tempatnya. Selama Javier ada bersamanya, Hanaya rasa dia sudah cukup pasti dengan akhir bahagianya!
Pemikiran aneh disaat yang tidak tepat, tapi setidaknya itu dapat meredakan ketakutan Hanaya.
...▪︎OODEYE▪︎...
__ADS_1
Note: Reupload231504CL