
...▪︎OODEYE▪︎...
Hanaya terbangun ditengah malam, sementara air putih di teko kaca di kamarnya habis, sebab itu dia turun untuk mengisi air. Bau anggur yang menguar menarik perhatian Hanaya, langkahnya terarah pada sumber bau.
Di ruang keluarga ayahnya, Viscount Lances duduk dengan sebotol wine.
"Ayah belum istirahat?" Suara Hanaya membuat Viscount Lances berbalik, memberi senyum kecil lantas berkata.
"Hanya tak bisa tidur"
"Ada sesuatu yang menganggu ayah?" Anggukan Viscount Lances membuat Hanaya menatap ayahnya itu terkejut. Mungkin, sebab selama berada di tubuh Viviana, yang selalu Hanaya lihat adalah pemikiran yang bebas, seolah tak ada gangguan sedikitpun.
"Apa itu yang mengganggu pikiran ayah?"
"Ayah memikirkan bagaimana rumah tanpamu" jantung Hanaya mencelos. Di titik ini dia baru menyadari harga yang dibayar untuk mendapatkan pelengkap kebahagiaan itu. Keluarganya, rumah hangat tempat pertama kali ia di terima dan dicintai.
"Ayah,"
"Viviana akan terus berkunjung. Ayah dan ibu bisa pergi menemui ku kapan saja"
Viscount Lances menggeleng "Ya, tapi akan ada yang berbeda. Istana bukan tempat dimana semua orang bebas masuk, Viviana. Ayah membayangkan bagaimana kesepiannya kau disana"
Hanaya terpekur.
Tak pernah berpikir sejauh itu. Yang ada di pikirannya adalah kebahagiaan yang menyambut. Hanaya terlena hingga melupakan satu hal, istana bukanlah rumah miliknya. Itu milik posisinya-Ratu.
Di genggamnya tangan sang ayah, diusapnya lembut. Berusaha menghilangkan semua pemikiran buruk ayahnya. "Semua akan baik-baik saja, Putra Mahkota mencintaiku. Aku akan baik-baik saja, percayalah ayah"
"Selama, hanya selama Putra Mahkota mencintaimu, nak" ralat Viscount Lances membekukan Hanaya.
Di usapnya surai putrinya lembut "Istana bukan tempat indah seperti kelihatannya. Semua orang tersenyum tapi saling menjatuhkan. Yang terkuat akan berkuasa, yang lemah akan di pakai. Menjadi Ratu tak semudah yang dibayangkan. Istana itu-
"Aku akan baik-baik saja ayah" Hanaya meyakinkan, berusaha mengusir keraguan yang mendera antara ia dan ayahnya.
"Aku akan berdiri di posisi itu sekuat mungkin ayah, Putra Mahkota tak akan menghianatiku. Lihat! Ini cincin pemberiannya, amethyst yang langka" sambungnya dengan senyum, memamerkan jemari manis dimana cincin berlian bertahtakan Amethys keunguan, bersinar indah.
Viscount Lances tersenyum pedih.
"Tidak semua bentuk cinta harus disamakan dengan permata, jika sebesar itu lalu mengapa banyak wanita yang tersakiti?" Hanaya terhenyak. Keraguan mengobrak-abrik dirinya namun Hanaya masih yakin akan akhir bahagia yang ia impikan.
"Percayalah padaku ayah. Bahkan-bahkan jika putra mahkota tak mencintai ku lagi-
Suara Hanaya tercekat. Sampai saat itu, apa yang akan dia lakukan ? Sanggupkah Hanaya berlapang dada?
"Aku akan terus mempertahankan posisiku. Aku akan tetap berdiri sebagai pemilik tahta" Nada miris terdengar, Hanaya tak akan sanggup. Membayangkan bagaimana tak sejalannya realita dan pemikirannya hanya akan membuat dia terluka, tapi ia mencoba yakin pada apa yang telah ia percaya.
Semuanya akan berakhir bahagia.
__ADS_1
Bukankah seperti itu akhir kisah dari cerita ini ?
"Tidak! Saat itu terjadi, pastikan kalian harus berpisah, ayah akan melakukan apapun untuk melepaskanmu dari pria itu!" Hanaya mengangguk, tetapi rasa miris terlukis di bibir dan mata.
Saat itu terjadi, tak akan ada jalan keluar. Sayangnya, Utopia memiliki hukum pernikahan tunggal dan akan terus berlangsung selamanya. Yang artinya, Hanaya harus bersedia hidup dalam rasa sakit sebab perselingkuhan Javier, yang mungkin akan menyiksanya seumur hidup.
***
"Nona, jika anda merasa tak enak badan saya bisa mengirim pesan pada lady Annette. Beliau akan mengerti" Hanaya menggeleng dengan senyum simpul terurai.
Tak disangka pembicaraan semalam akan resiko dibalik mimpi indahnya akan membuat Hanaya sedih sepanjang hari ini.
"Tidak, aku sudah berjanji pada Annette. Dia akan kecewa jika aku tak hadir" benar, kemarin saat pulang berbelanja dengan Viscountess rupanya Hanaya sudah menerima undangan minum teh dari Annette. Dia juga punya janji yang harus dilunasi.
Hanaya tau bagaimana sakitnya janji yang tak di tepati. Sebab memberi janji sama saja dengan memberi harap.
"Aku akan tetap pergi. Jika terjadi sesuatu padaku bukankah ada kau?" Ujarnya
Brianna mengangguk, tak ingin memaksa keputusan nonanya.
"Nona kereta kuda sudah siap, anda ingin berangkat sekarang?" Tanya pelayan pria dari luar pintu kamar.
"Ya, nona akan segera keluar" dan dengan itu, Hanaya memacu langkah di ikuti Brianna.
"Hati-hati di jalan sayang" Hanaya mengangguk
"Tak usah khawatir soal itu. Ibu akan mengurusnya, sekarang bersenang-senanglah"
Keduanya naik kereta kuda yang menuju kediaman lady Annette. Dan Hanaya seperti biasa mengintip kehidupan luar melalui kereta kuda. Biasanya itu akan selalu di penuhi rasa takjub dan senang, namun sekarang pikirannya melayang pada perbincangan semalam.
Hanaya berharap tidak begitu !
Dia tak ingin patah hati sebab kenyataan tak sejalan dengan yang ia pikirkan dan yakini.
"Nona, kita sudah sampai" ucapan Brianna menyadarkan Hanaya. Ia mengangguk lantas turun dengan bantuan Brianna.
Memasuki halaman rumah keluarga Annette, keduanya terus melangkah hingga disambut tepat di depan pintu kediaman Annette.
"Selamat datang di kediaman Bartand lady, ijinkan saya Annette menyambut anda" nada formal Annette memicu senyum geli Hanaya. Pemikiran buruk terlupakan sekejab.
Mengikuti langkah Annette, Hanaya mengagumi struktur rumah gadis itu. Tak lebih mewah dari rumahnya, cukup indah dengan interior berkelas kuno. Keduanya tiba di taman belakang, Hanaya menatap kagum rumah kaca kecil yang di penuhi berbagai jenis mawar; putih, merah muda, hijau dan biru. Sangat cantik.
"Silahkan duduk" mempersilahkan Hanaya yang disambut senyum oleh Rozetta. Annette menyajikan teh, aromanya membuat Hanaya memejamkan mata nikmat.
"Ini teh apa lady ? "
"Teh *butterfly pea "
__ADS_1
"Benarkah?" Annette mengangguk.
"Teh ini sedang populer di kalangan bangsawan" ujar Rozetta memberitahu.
"Hebat. Memang rasa tehnya yang khas dan aromanya juga sangat wangi. Ini menenangkan. Siapa pembuatnya?"
"Ekhem-ekhem" deheman Annette membuat Hanaya menatapnya cemas, pikirnya gadis itu sedang sakit. Nyatanya tidak. Annette rupanya sedang menyombongkan diri.
"Itu buatan keluarga Bartand" kata Rozetta melirik Annette. Hanaya melongo kagum. Terkejut juga sebenarnya. Jadi itu alasan ekspresi bangga Annette?
"Jika di tambah perasan lemon warnanya akan berubah" Hanaya terkagum kala warna teh kebiruan berangsur ungu. Nampak begitu cantik, serasi dengan warna putih cangkir. Mengingatkannya akan lavender, bunga kesukaannya.
"Maafkan tingkahnya yang seperti anak kecil, lady " suara Rozetta yang terdengar membuat Annette melipat bibir kesal.
"Aku bahkan lebih tua dari kalian berdua" eh ? Hanaya terkejut. Dari segi wajah, penampilan serta sifat, Annette benar-benar menipunya!
Ia terlihat jauh lebih muda dari Hanaya dan Rozetta, aslinya malah lebih tua?
"Be-benarkah? Ku pikir lady Annette jauh lebih muda"
"Yang benar saja? Apa wajahku tak terlihat dewasa?" Gerutunya tak percaya. Rozetta menggeleng sebagai jawaban "Wajahmu bahkan jauh lebih muda dari kami begitu pun sifatmu, itulah sebabnya paman tak ingin kau berbaur dengan orang lain, beliau takut kau di manfaatkan" kata Rozetta jujur.
Yah, Hanaya telah menyelidiki keduanya melalui Brianna. Rozetta merupakan putri tunggal dari Baron Arches, gadis itu pandai dalam sastra dan pandai tiga bahasa. Rozetta seperti pembawaannya, dia tegas dan anggun meski kata-katanya jujur dan tajam. Rozetta juga terkenal di kaum bangsawan lainnya, tapi entah prinsip apa yang ia terapkan hingga tak banyak yang menjadi teman dekat. Hanya Annette, yang ayahnya merupakan sepupu jauh ayah Rozetta. Bahkan Annette terbilang merupakan satu-satunya sahabat Rozetta.
Lalu Annette merupakan anak bungsu dari Duke Bartand pemilik pelelangan legal terbesar. Garis keturunan mereka juga terbilang sangat tinggi, keturunan Bartand memegang posisi sebagai penghasil Ratu terbanyak. Putra pertamanya Roberth, memiliki posisi tertinggi sebagai panglima angkatan laut Ophelia. Lalu anak lelaki keduanya Raymond, merupakan dokter termuda Ophelia. Annette sendiri anak bungsu yang berpotensial sebagai calon Ratu, akan tetapi sifat polosnya tak mungkin cocok disana. Hanaya mengerti mengapa dari kata-kata Rozetta, Annette begitu di jaga oleh ayahnya. Gadis itu akan dapat di manfaatkan jika berteman dengan seseorang yang salah.
"Bisakah kau tak terlalu jujur? Itu menyakitkan" Annette sedih sebab tak memiliki kelebihan seperti halnya Rozetta ataupun Viviana. Secara harfiah dia hanya bergantung pada ayahnya.
Rozetta menghela nafas, tau dia berlebihan, ditepuknya punggung Annette menghibur "Meski kejujuran menyakitkan itu jauh lebih baik dibanding berbohong"
"Benar, dan kudengar lady Annette sangat pandai melukis dan menjahit itu sebuah bakat juga" ujar Hanaya menambah penghiburan.
"Benarkah? Aku tau aku hebat!"
Hanaya dan Rozetta saling bertatapan bertukar senyum kecil.
Lihat? Annette benar-benar seperti anak kecil. Dia marah dan sedih hanya dalam sesaat, setelah adanya penghiburan gadis itu akan melupakan segalanya.
Hanaya iri, berharap dia seperti Annette. Dengan begitu meski tak memiliki cinta Javier atau tak menjadi Ratu, Hanaya akan tetap bahagia dengan keluarganya.
Sayang sekali bahwa dia terlalu mendamba kesempurnaan dalam dunia buatan ini.
...▪︎OODEYE▪︎...
*Butterfly pea (disebut bunga Telang dalam bahasa indonesia) adalah tanaman yang memiliki pohon merambat dan bunga yang berpasangan. Bunga telang terdiri dari 3 warna: biru, putih dan merah muda. Bunga telang (biru) berubah warna sebab air lemon mengandung asam yang mengubah tingkat keasaman (ph) dalam minuman bunga telang.
Note: Reupload230330CL
__ADS_1